Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Yossi Cohen menyelenggarakan Mossad selama lebih sejak lima tahun.

Yossi Cohen, yang baru sekadar pensiun dari posisinya sebagai kepala badan intelijen Israel, Mossad, telah membeberkan operasi mata-mata negaranya terhadap Iran melalui sebuah wawancara dengan media.

Menurut Cohen, Mossad melancarkan aksi penyamunan dokumen-dokumen program nuklir Iran di sebuah gudang dalam 2018. Operasi tersebut lulus memindahkan puluhan ribu salinan dari Iran ke Israel.

Dia juga mengindikasikan kalau Israel terlibat dalam pecahan fasilitas nuklir Iran dalam Natanz serta pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Iran.

Cohen menjabarkan hal ini pada wartawan Ilana Dayan pada program dokumenter Uvda dengan disiarkan stasiun televisi Israel Channel 12.

Cohen sendiri pensiun sebagai kepala Mossad pekan lalu.

Baca juga:

Cohen diangkat jadi kepala Mossad pada simpulan 2015 oleh Benjamin Netanyahu yang saat itu sedang menjabat perdana menteri. Netanyahu baru saja dilengserkan oleh politikus Naftali Bennett dan koalisi sayap kanan.

Cohen bukan orang baru pada badan intelijen Israel. Tempat bergabung dengan lembaga tersebut pada 1982 setelah mengenyam pendidikan sarjana di London, Inggris.

Dalam wawancara dengan Ilana Dayan, Cohen mengesahkan punya “ratusan paspor” semasa kariernya.

Penuturan terpenting Cohen saat diwawancara adalah menimpa pencurian arsip-arsip program nuklir Iran.

Isi arsip-arsip tersebut pernah disinggung Netanyahu di jumpa pers pada 2018. Saat itu dia mengklaim dirinya punya bukti bahwa Iran berupaya menciptakan senjata nuklir secara rahasia seraya mempertahankan pengetahuan tersebut rapat-rapat—tuduhan yang kemudian dibantah Iran.

Keterangan video,

Pada 2018, PM Israel Benjamin Netanyahu meminta dirinya punya bukti kalau Iran berupaya menciptakan senjata nuklir secara rahasia.

Belakangan, sewaktu diwawancara, Cohen mengatakan perlu dua tahun untuk merencanakan berdiam pencurian puluhan ribu dokumen program nuklir Iran.

Secara keseluruhan terdapat 20 penyalur Mossad yang dikerahkan di lapangan—tiada seorang pun dari mereka yang berkewarganegaraan Israel, sebut wartawan Ilana Dayan.

Bos mata-mata Israel tersebut menyaksikan dari markas instruksi di Tel Aviv ketika para agen menerobos menghunjam ke dalam gudang dan membongkar lebih dari 30 lemari besi. Saat foto-foto temuan muncul di layar, “kami semua luar piawai gembira, ” kata Cohen sebagaimana dikutip Times of Israel.

Semua agen lapangan terlepas dan dalam kondisi baik, tambah Cohen, walau tersedia yang harus dijemput daripada Iran.

Wawancara dengan luar biasa rinci

Raffi Berg, Editor BBC News Online bidang Timur Tengah

Sebenarnya bukan hal aneh bagi mantan kepala Mossad untuk diwawancara atau menyampaikan pandangan pada topik tertentu. Bagaimanapun, penuturan Yossi Cohen luar biasa dalam hal rincian yang tempat beberkan.

Karena itu, Times of Israel menyebut ramah itu “menakjubkan [dan] mencerahkan”.

Menyimak penjabaran Cohen ibarat membaca wacana novel yang menegangkan. Contohnya, ketika dia menuturkan bagaimana para agen menjebol lemari-lemari besi, mengangkut berton-ton sertifikat program nuklir Iran, serta membawanya keluar negara tersebut sembari dikejar.

Cohen serupa mengindikasikan keterlibatan Mossad pada operasi lain yang periode digosipkan sebagai hasil pekerjaan agen-agen Israel.

Penjabarannya situ dekat menuju pengakuan kalau Israel mensabotase fasilitas nuklir Iran yang dirahasiakan.

Meski demikian, isi wawancara itu terukur dan sudah sah telah disetujui sensor tentara Israel.

Perilisan dokumenter itu juga menarik. Sebab, ramah tersebut mengemuka seiring secara bakal dimulainya perundingan nuklir Iran di tengah kabar adanya kemajuan.

Di samping itu, wawancara itu menjelma semacam wanti-wanti terhadap musuh-musuh Israel bahwa Mossad berpunya beraksi di belakang coreng depan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.

Israel sebelumnya telah berbicara dengan terbuka mengenai niat itu mengambil ribuan dokumen program nuklir Iran.

Dalam ramah itu, Cohen juga berbahasa mengenai fasilitas nulir Iran di Natanz.

Iran mengatakan bahwa aksi sabotase menerbitkan kebakaran di lokasi pengayaan uranium pada Juli 2020. Kemudian sehari setelah mengungkap peralatan baru pada April tahun ini, para pejabat mengklaim fasilitas itu lagi-lagi disabotase dan mengalami kerusakan besar. Iran menuduh Israel melakukan “terorisme nuklir”.

Keterangan gambar,

Natanz adalah wahana pengayaan uranum yang terletak sekitar 250km sebelah selatan ibu kota Iran, Teheran.

Cohen mengaku kepada kuli Ilana Dayan bahwa dia mengenal fasilitas di Natanz dengan sangat baik. Bahkan, Cohen mengklaim bisa menganjurkan Dayan ke ruang “tempat mesin pemutar sentrifugal berada”.

Dia menambahkan: “Mesin-mesin tersebut yang dipakai untuk menyesatkan [uranium]. Kini ruangan itu tidak nampak bagaikan kondisi sebelumnya”.

Menyuarakan juga:

Lebih lanjut, Cohen menyenggol soal Mohsen Fakhrizadeh, sarjana nuklir Iran yang dibunuh di jalan di luar Kota Teheran, November 2020 lalu. Iran secara nyata menyalahkan Israel atas perihal itu.

Mantan kepala Mossad itu tidak membenarkan atau membantah keterlibatan agen-agen intelijen Israel dalam kematian Fakhrizadeh. Dia justru menekankan sarjana tersebut adalah target “selama bertahun-tahun” dan pengetahuan ilmiahnya merisaukan Mossad.

“Jika adam itu punya kemampuan dengan membahayakan warga Israel, keberadaannya harus dihentikan, ” kata pendahuluan Cohen.

Namun, tambahnya, seseorang bisa luput dari pembunuhan “jika dia siap mengubah profesinya dan tidak melukai kami lagi. ”

Keterangan gambar,

Mohsen Fakhrizadeh ialah ilmuwan Iran yang dibunuh pada November 2020.