Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan tulisan,

Selama lockdown 1-14 Juni 2021 masyarakat Malaysia hanya boleh pergi keluar rumah hanya buat urusan penting, tidak dapat pergi jauh lebih sebab 10 km dari rumah

Malaysia mulai Selasa (01/06) menerapkan karantina daerah ( lockdown ) di penjuru kampung demi memerangi pandemi Covid yang kasusnya kembali melonjak.

Walau khawatir dengan bertambahnya kasus baru, awak Malaysia pun khawatir pemberlakuan lockdown yang berlangsung selama dua pekan ini mampu berdampak negatif bagi cara mereka.

Bahkan pejabat keuangan Malaysia pun mengisyaratkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negerinya tahun ini bisa menurun kelanjutan pemberlakuan lockdown.

Pemerintah hari Selasa (01/06) mengumumkan kasus anyar covid sebanyak 7. 105 sehingga total infeksi di Malaysia tercatat sudah 579. 462 kasus, seperti yang dikabarkan Reuters .

Baca juga:

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia saat ini termasuk yang paling berat dihantam pandemi. Dari hampir 2. 800 kasus moralitas akibat Covid di negara berpenduduk 32 juta rohani itu sejak pandemi dimulai, lebih dari 40% terjadi pada bulan Mei 2021.

Selain akibat munculnya varian-varian baru, lonjakan kasus tersebut diduga sebagai dampak sebab banyaknya warga yang berhimpun selama bulan suci Bulan berkat dan masa libur Idul Fitri Mei lalu, selain kasus-kasus pelanggaran protokol Covid lainnya.

Itu sebabnya pihak berwenang Malaysia terpaksa menerapkan lockdown total mulai Selasa 1 Juni di dekat semua sektor sosial dan ekonomi. Hanya tempat-tempat penting yang boleh buka, semacam supermarket dan klinik medis, sedangkan hampir semua sekolah tutup.

Selain itu awak hanya boleh pergi keluar rumah hanya untuk kesibukan penting, tidak boleh lari jauh lebih dari 10 km dari rumah. Sebelumnya perjalanan jarak jauh antarwilayah di Malaysia telah dilarang selama berbulan-bulan.

Walau ada seruan agar lebih diperketat, lockdown dua pekan ini dipandang akan memukul banyak sektor usaha yang selama ini berjuang mati-matian untuk tetap bertahan selama pandemi.

“Pandemi virus corona untuk usaha kecil seperti hamba ini menimbulkan kehancuran, ” kata Lilian Chua, awak yang memiliki usaha salon di pinggir kota Kuala Lumpur. Kini usahanya kudu tutup.

“Pemerintah menerapkan lockdown , akan tetapi virusnya ada di hawa, maka vaksinasi perlu dipercepat, ” kata perempuan 42 tahun itu kepada AFP .

Masa ini, tidak sampai enam persen dari total populasi di Malaysia yang sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin covid.

Pertumbuhan ekonomi bisa turun

Sementara tersebut proyeksi pertumbuhan ekonomi Malaysia pada 2021 bisa meluncur akibat kebijakan lockdown sebab usaha-usaha non-esensial tidak bisa beroperasi, ungkap Menteri Keuangan Tengku Zafrul Abdul Teragung.

Namun, untuk saat itu dia tidak menyajikan nilai berapa banyak penurunan proyeksi itu.

Dia juga mengatakan bahwa defisit fiskal Malaysia kemungkinan akan naik bertambah dari 6%, yang merupakan batas maksimal yang sebelumnya ditetapkan.

Pemerintah telah mengumumkan anggaran belanja hampir kepala miliar dolar untuk mengatasi dampak ekonomi dari lockdown.

Transmisi Covid di Malaysia sesungguhnya masih di bawah golongan negara-negara yang mengalami infeksi terparah.

Namun lonjakan urusan baru-baru ini membuat pemerintah jadi waspada karena angka kenaikannya bisa lima kali lipat lebih tinggi ketimbang data di awal tarikh ini.

Ditambah unit-unit perawatan intensif di rumah-rumah kecil sudah hampir penuh, negeri terpaksa menerapkan lockdown selama dua pekan mendatang.