vaksin nusantara

Sumber tulisan, ANTARAFOTO/ARIF FIRMANSYAH

Keterangan gambar,

Dokter superhero Rollando Erric Manibuy (tengah) memasukkan vaksin COVID-19 dosis ke-2 kepada lansia berusia 104 tahun Wirjawan Hardjamulia pada Rumah Sakit Vania, Tanah air Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/4/2021)

Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Andika Perkasa menyatakan penelitian organ dendritik di RSPAD Gatot Soebroto tetap dilanjutkan, serta bukan menjadi kelanjutan dari tahap uji klinis vaksin Nusantara.

Langkah tersebut sebut didukung untuk memenuhi rasa keadilan bagi anak obat Covid-19 yang tak bisa disuntik dengan vaksin massal.

Pekan lalu, sejumlah politisi melakukan pengambilan darah dalam RSPAD untuk uji vaksin Nusantara untuk apa dengan mereka sebut langkah nasionalisme.

Namun, seorang ahli kesehatan menilai langkah itu diambil sebagai jalur kompromi di tengah polemik vaksin yang digagas mantan menteri kesehatan Terawan Agus Putranto tersebut.

Sementara tersebut, seorang peneliti vaksin nusantara dan pejabat Kementerian Kesehatan masih enggan berkomentar banyak.

Di sisi lain, pengkaji dari lembaga pemerhati kesehatan CISDI, Olivia Herlinda melihat kajian sel dendritik pada RSPAD Gatot Soebroto hasilnya tak banyak manfaatnya untuk masyarakat.

Kepala Staf Barisan Darat (KASAD), Andika Jantan memastikan penelitian sel dendritik bukan bagian dari perkembangan produksi vaksin Nusantara.

Terapi imun melawan Covid

Sistem penggunaan sel dendritik buat membangun imun seseorang daripada serangan virus SARS-CoV-2 itu sebelumnya digunakan dalam vaksin Nusantara.

Namun, Vaksin Nusantara tak mendapat izin buat dilanjutkan ke tahap II oleh BPOM. Salah satunya karena 20 dari 28 relawan uji tahap I mengalami Kejadian Tak Diinginkan (KTD) seperti mual mematok masalah kolesterol.

Andika mengatakan penelitian berdasarkan MoU terbaru dengan Menteri Kesehatan & Badan Pengawas Obat dan Makanan, tidak bertujuan menciptakan vaksin seperti sebelumnya. Tetapi, ditujukan sebagai terapi imun melawan Covid-19.

Keterangan gambar,

KASAD Jenderal TNI Andika Perkasa

“Penelitian kali ini adalah penelitian berbasis penyajian, yang menggunakan sel dendritik, jadi sama, untuk memajukan imunitas terhadap Sar-Cov 2 atau Covid-19. Jadi, bertambah sederhana, sehingga tidak juga menghasilkan vaksin seperti dengan dilakukan uji klinis periode I, kemarin di (RS) Kariadi. ”

“Ini tidak ada hubungannya dengan vaksin sedemikian rupa, sehingga tidak perlu izin edar. Karena memang dilakukan menggunakan cara yang autologus, dan tak ada produksi massal, ” kata Andika kepada wartawan, Selasa (20/04).

Menanggapi kejadian itu, Epidemiolog dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane mengatakan sudah benar sel dendritik diteliti terpisah, karena penerapannya dengan individual, bukan massal.

Data gambar,

Seorang seniman dengan kostum pewayangan disuntik dosis pertama vaksin COVID-19 saat vaksinasi massal bagi seniman dan seniman di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (19/4/2021).

Menurutnya, penelitian sel dendritik ini bermanfaat untuk memberikan rasa keseimbangan bagi pasien Covid-19.

“Vaksin yang sekarang ini kan tidak semua bisa sanggup, orang yang komorbit mengandung tidak terkontrol, tidak boleh. Mungkin vaksin yang sekarang diteliti ini bisa untuk mereka. Kan, mereka pula arus dilindungi, ” kata pendahuluan Masdalina kepada BBC News Indonesia, Selasa (20/04).

Dengan jalan apa kelanjutan uji klinis vaksin Nusantara?

BBC menghubungi seorang peneliti, Muhammad Karyana dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes, namun ia enggan berkomentar penuh.

“Tapi saya sudah nggak boleh ngomong. Tanya ke biro komunikasi pelayanan kelompok Kemenkes, biar mereka yang jawab, ” kata Karyana kepada BBC News Indonesia, Selasa (24/04).

Lika-liku vaksin Nusantara

Mantan Menteri Kesehatan Terawan meneken Surat Keputusan Gajah Kesehatan Nomor HK. 01. 07/MENKES/2646/2020 tentang Tim Studi Uji Klinis Vaksin Organ Dendritik SARS CoV-2.

Vaksin yang awal diberi nama “Joglosemar” (kemudian berubah menjadi Nusantara) itu dikembangkan perusahaan berbasis Amerika& comma; Aivita Biomedical Inc& comma; melalui PT AIVITA Biomedika Indonesia.

INDRIANTO EKO SUWARSO/ANTARA FOTO

Penyuntikan uji klinis fase pertama terhadap 28 relawan di RSUP dr Kariadi& comma; Semarang.

Daripada 28 relawan& comma; 20 relawan mengalami keluhan mudah seperti nyeri sendi& comma; nyeri otot& comma; lemas& comma; mual& comma; demam& comma; dan menggigil. Tatkala lainnya mengalami keluhan di kategori grade tiga& comma; di antaranya enam orang mengalami hipernatremia (gangguan elektrolit)& comma; dua orang mengarungi peningkatan kadar nitrogen urea darah (BUN)& comma; dan tiga orang mengalami penambahan kolesterol.

Terawan mengklaim dalam rapat kerja Komisi IX DPR& comma; “Vaksin Covid-19 berbasis dendritik sel& comma; dengan tentunya karena sifatnya autologus& comma; individual& comma; tentunya sangat aman. ”

Dalam rapat& comma; BPOM meminta tim buat melakukan penelitian pre-klinis dalam hewan itu juga perlu dilakukan pendampingan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Penelitian dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Wakil Ketua Tip IX DPR Melki Laka Lena dan sejumlah anggota komisi menjalani pengambilan contoh darah untuk proses vaksinasi.

Mantan Menko Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie & istri disuntik vaksin Nusantara. Delapan hari sebelumnya& comma; sampel darah keduanya sudah diambil oleh dokter.

Twitter Aburizal Bakrie

TNI AD& comma; Kementerian Kesehatan& comma; dan BPOM meneken kerja sama dengan menyebutkan penelitian berbasis organ dendritik vaksin Nusantara sanggup dilanjutkan di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan tak untuk dikomersilkan. Penelitian tersebut juga bukan lanjutan lantaran uji klinis tahap II.

Saat ditanya mengenai apakah nanti akan ada aturan khusus untuk penelitian sel dendritik di RSPAD, Karyana membalas singkat, “Ada”, namun tak menjelaskan lebih rinci.

Sementara itu, Juru bicara Vaksin Covid-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi belum bersetuju berkomentar.

Jalan tengah meredam konflik

Keterangan gambar,

Vaksinator mengambil larutan vaksin COVID-19 untuk disuntikkan kepada warga penerima vaksin di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/4/2021)

Ahli Patologi Klinik sebab Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardyanto menilai MoU penelitian sel dendritik dalam RSPAD Gatot Subroto jadi jalan tengah untuk meredam polemik vaksin Nusantara.

“Saya sebut jalan tengah, sebab berpolemik terus, ” katanya.

Dokter Tonang menyinggung Sistem Menteri Kesehatan No. 32/2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan/atau Sel.

Penyajian sel punca adalah kesibukan medis yang dilakukan di rangka pengambilan, penyimpanan, pengolahan dan pemberian terapi sel.

Berdasarkan aturan ini, kemungkinan penelitian sel dendritik berbasis pelayanan ini wajib harus memiliki protokol penelitian, ethical clearance, tim pengawas independen, persetujuan komite Sel Punca, persetujuan kepala rumah rendah, persetujuan pasien sebagai subjek penelitian, dan penelitian yang dapat diakses oleh kelompok dan pasien.

Fokus di dalam vaksin Merah-Putih

Keterangan gambar,

Lansia berusia 102 tarikh, Inna Wati mengikuti vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Poris Plawad, Kota Tangerang, Banten, Minggu (11/4/2021).

“Termasuk bermanfaat permenkes sel punca itu juga harus dibuktikan dulu keamanannya, harus ada jalan untuk membuktikan, ” sirih Dokter Tonang, yang menambahkan, “Kalau ini masih studi dari awal, masih perlu pembuktian beberapa hal, dan personal memang secara logika tidak tepat untuk bahan pandemi. ”

Lebih sendat, Dokter Tonang menilai sebaiknya pemerintah fokus pada vaksin Merah-Putih yang sedari pangkal jelas dengan penggunaan modus yang ilmiah.

“Vaksin Merah-Putih yang kita punya, baik pun itu masih perlu waktu tapi minimal track record -nya dari awal sudah ketahuan, ” katanya.

Pemerhati masalah kesehatan dari CISDI, Olivia Herlinda ikut menimpali. Menurutnya, penelitian sel dendritik ini tak sepadan dengan kemaslahatan publik.

Keterangan gambar,

Tenaga medis menanamkan vaksin COVID-19 di Dinas Kesehatan Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat (16/4/2021) suangi

“Tujuannya ini, kurang menutup kaidah publi c health. Dan, cost effectiveness mungkin juga sangat kurang. ”

“Jadi sebenarnya, melihat ini dari sudut pandang kebijaksanaan publik, ini sangat tak efisien, karena lagi-lagi terapinya sangat orang per karakter. Kemudian, dana yang dikeluarkan sangat besar. Jadi tidak melihat manfaatnya sangat luhur untuk masyarakat banyak, ” kata Olivia.

Sebelumnya, rencana vaksin Nusantara yang digagas mantan menkes Terawan Agus Putranto mendapat polemik dalam masyarakat. Pasalnya, mesti BPOM tak mengizinkan uji klinis fase II, sejumlah politikus memamerkan diri menjadi relawan vaksin Nusantara.

BPOM bahkan menyarankan penelitian ini dikembangkan dulu di pra-klinik pra masuk uji klinik untuk mendapatkan konsep dasar dengan jelas, “Sehingga pada tes klinik pada manusia tidak merupakan percobaan yang belum pasti. ”