• Endang Nurdin
  • BBC News Indonesia

Rustono di depan pabrik tempe di luar kota Kyoto, Jepang.

Sumber gambar, Rustono

Keterangan gambar,

Rustono mulai membuat tempe lebih dari 20 tahun lalu.

Di kaki bukit di asing Kota Kyoto, Jepang, di suatu sore, seorang pria menutup pintu rolling besi satu bangunan besar & bergegas memperkenalkan diri dengan senyum lebarnya.

“Saya Rustono, pengusaha tempe di Jepang, saya lahir dalam Grobogan [Jawa Tengah], aku punya dua pabrik lupa satunya di belakang beta. ”

Rustono memperlihatkan situasi di seputar pabriknya dengan terletak “di tengah pegunungan”, banyak pohon pinus secara sungai kecil tak jauh dari situ.

“Inilah mimpi kami… Banyak hadiah dari alam. Kayu bisa untuk bakar boiler , air pegunungan buat proses pembuatan tempe, ” katanya sambil menunjuk ke kejauhan sekitar satu kilometer, tempat pabrik tempenya yang pertama.

Keterangan gambar,

Usaha produksi tempe baru menghasilkan setelah sekitar 10 tahun, kata Rustono.

“Kami produksi 10. 000 bungkus [setiap lima hari] dan dikirim ke bertambah 1. 000 titik dalam Jepang, meliputi restoran, katering, sekolah untuk makan siang, hotel, toko-toko Asia, karakter Indonesia di Jepang, kongsi penerbangan dan masih penuh lagi, ” katanya sedang.

Baca juga:

Sementara dalam Kota Meksiko, yang berjarak hampir 12. 000 kilometer dari Jepang, seorang perempuan muda bercerita alasannya memutuskan untuk mengolah dan membikin tempe.

Dengan penuh temperamen, ia mengantar tempe secara sepedanya ke para pelanggannya di tengah kebisingan & kemacetan kota terbesar serta terpadat di Amerika Mengadukan itu.

Di kemasan tempe yang diproduksinya ada karya berbahasa Spanyol, “Hadiah Indonesia untuk dunia. ”

“Saya Luisa Vélez, saya membuat tempe… Saya jatuh nafsu dengan tempe ketika perdana kali mencoba di Yogyakarta, ” katanya bangga. Luisa ke Indonesia saat itu dalam program Darmasiswa, dana siwa dari Kementerian Luar Kampung.

Keterangan gambar,

Konsumen mulai bermunculan setelah bertahun-tahun memproduksi tempe, kata Luisa.

“Saya ingin orang-orang tahu, bahwa tempe adalah peninggalan yang datang dari negeri indah yang kaya kebiasaan. Saya merasa mendapat kehormatan dapat menyebar makanan Nusantara luar biasa dan bergizi ini. ”

Luisa, seorang sarjana nutrisi yang mengiakan sudah membuat tempe bertambah dari 15 tahun, mengutarakan ia belajar membuat tempe dari Rustono.

“Saya terinspirasi dari dia. Rustono menjadi mentor dan mitra usaha saya… Sejak bertemu dengannya, hidup saya berubah & saya sangat berterima beri kepadanya, ” kata Luisa lagi.

“Beberapa tahun semrawut saya ke Indonesia secara Rustono. Ada kalimat yang muncul dari hati ana, kata-kata itu adalah tempe adalah hadiah Indonesia untuk dunia. Kata-kata itu tercatat di kemasan tempe kami di Meksiko. ”

Luisa adalah salah seorang pengikut dan mitra bisnis Rustono. Banyak dari mereka dengan datang langsung ke Jepang untuk belajar langsung.

Mau jadi pionir tempe tapi ditolak bertahun-tahun

Keterangan gambar,

Selama bertahun-tahun, banyak restoran yang menolak tempe buatannya, kata Rustono.

Perjalanan Rustono sampai memiliki dua pabrik dengan produksi ribuan lapis tempe, dimulai lebih daripada 20 tahun lalu, dengan berbagai kendala dan banyak penolakan.

Banyak yang tak tahu soal tempe, meskipun di Jepang makanan berbasis kacang kedelai cukup banyak, termasuk apa yang dikenal natto, cerita Rustono.

Dia mendatangi banyak restoran & toko-toko sambil membawa “bungkusan putih”.

Proses membuat tempe juga memiliki tantangan terpisah. Ia belum pernah mewujudkan tempe dan sebelumnya beroperasi di satu hotel dalam Yogyakarta.

“Saya telepon pokok untuk menanyakan cara melaksanakan tempe, dan saya coba buat dan kasih ke tetangga, gak berhasil, sebab disini ada empat musim sehingga mempengaruhi pembuatan tempe. Saya cari akal untuk memberi penghangat… Kadang maka, kadang enggak, ” ceritanya terkekeh.

Namun tekadnya sudah mantap untuk membuat tempe. “Saya berpikir bisa menjadi pionir di Jepang. ”

Produksi tempe pada tahun-tahun awal tak bisa dimanfaatkan untuk menghidupi keluarganya, kata pendahuluan Rustono yang menikah secara perempuan Jepang dan dikaruniai dua putri.

Ia menyambi di berbagai cafe, perusahaan sayuran, makanan dan juga kerja serabutan termasuk “potong rumput dan mengaspal melayang. ”

Petunjuk gambar,

Bagian tempe dengan truk berpendingin -18 derajat C ke lebih 1. 000 bintik di Jepang.

Memasuki tahun ke delapan membuat tempe, bisnisnya belum juga menghasilkan, namun Rustono malah berputar untuk memperluas tempat pengerjaan tempe dengan memasang “atap dan balok”.

Pada Desember 2005, saat hujan salju, dengan “perasaan terbakar dan semangat meluap untuk mengambil mimpi” mereka tetap berlaku. Semangat yang terlihat “aneh dan ganjil” tetap bekerja di luar saat salju turun, diperhatikan seorang wartawan, yang penasaran dan pegari dua kali untuk mewawancarainya.

Pertanyaan soal tempe hanya bagian kecil dari tulisan wartawan Jepang itu, sisanya berisi usaha Rustono untuk meraih mimpi, termasuk secara cara nekat tetap hidup saat salju turun. Namun inilah yang menjadi titik balik.

“Dua hari lalu, saya dapat telepon lantaran orang-orang yang menolak aku, meminta dibawakan tempe. Berangkat banyak yang order juga, ” cerita Rustono memasukkan usahanya mulai menghasilkan di dalam sekitar 2008.

Keterangan gambar,

Sushi tempe, salah utama dari banyak menu dengan menggunakan tempe di Jepang.

Ia mendatangi banyak restoran dan membicarakan berbagai peluang menu dengan menggunakan tempe. Dan ada cukup penuh menu baru, kata Rustono, termasuk miso tempe.

Mamah tempe, pagi siang malam, namun tak ada yang tahu tempe

Di Meksiko, Luisa mengalami pengalaman sulit serupa.

Keterangan gambar,

Bisnis tempe pekerjaan dengan menantang, cerita Luisa.

Setelah pertama kali mencicip tempe goreng – yang semula dia pikir kacang goreng – tempe menjadi menu utamanya, dari sarapan datang makan malam.

“Saya terkejut dengan rasa yang asing biasa. Saya jatuh kasmaran dengan tempe, dan semenjak itu setiap hari dahar tempe untuk sarapan, mamah siang, dan makan suangi. Setelah kembali ke Meksiko tak ada yang menjualnya dan saya memutuskan buat membuat sendiri, ” rencana Luisa mengawali bisnis kecilnya.

“Saya mulai dari nihil, tak punya modal, akan tetapi saya terdorong dan terinspirasi oleh Rustono, untuk memperkenalkan tempe ke orang-orang Meksiko.

Keterangan gambar,

Luisa Velez pertama kali mencicipi tempe di Yogyakarta di dalam 2003.

Ia mengatakan karena tak ada yang memahami tempe, membuatnya sulit untuk menjalankan bisnis.

“Tak tersedia yang tahu tempe, melainkan komunitas orang Indonesia atau orang asing yang sudah ke Indonesia atau karakter Eropa atau Amerika Serikat di mana tempa lebih popular. Jadi susah buat mengembangkan tempe. Karena tersebut saya perlu waktu sampai tempe dapat menghasilkan. ”

Masukan gambar,

Tempe dengan bumbu salsa dan guacamole.

Keluarga menjadi kepercayaan finansial untuk membantunya mengembangkan bisnis.

“Pembuatan tempe benar sulit, perlu kerja cepat, banyak malam tanpa terbaring, frustasi dan perlu menggubris ke detail. Proses pengerjaan makanan ini perlu menanggapi suhu dan terkadang tak bisa terduga kalau kelembaban berubah, ”

Keterangan gambar,

Masakan ala Meksiko Tostadas.

“Setiap sen yang saya dapat, saya investasi lagi untuk buat corong, membeli kedelai, sampai akhirnya mulai berkembang dan konsumen semakin banyak. Jadi mamah waktu. Pelan-pelan pendapatan berangkat ada, ” cerita Luisa bersemangat.

Beberapa tahun terakhr ini, kata Luisa, ia sudah bisa hidup dibanding usaha tempenya.

“Saat itu, saya dibantu tim saya dalam produksi dan distribusi. Untuk Kota Meksiko, saya naik sepeda untuk mengirim tempe, dan ini menolong mengurangi polusi di praja besar ini. Sanga tepat dan tak terganggu tertahan. ”

Sebagian besar pembagian tempenya di Kota Meksiko, namun pengiriman ke tanah air dan negara bagian asing semakin naik, katanya.

Maka apa favorit orang Meksiko dalam mengolah tempe?

Keterangan tulisan,

Tempe di bentuk tacos, ala Meksiko.

“Ada yang dalam bentuk tempe burger, atau dicampur taco [makanan Meksiko] dan dicampur dengan target lokal, seperti guacamole. Penuh yang mereka campur secara resep sendiri karena tempe sangat fleksibel bisa dicampur dengan bahan apapun, ” katanya lagi.

Mimpi bersama-sama menyebarkan tempe

Keterangan gambar,

Rustono dan keluarga mengenalkan tempe ke tetangga pada Jepang.

Bagi Rustono, si “Raja Tempe” di Jepang, ia masih terus mengejar mimpi-mimpinya yang lain.

Tempat bertekad untuk terus memberi pelatihan bagi mereka yang tertarik membuat tempe dalam negara masing-masing.

Dari banyak muridnya, yang juga cerai-berai di Rusia, Polandia, Austria, Prancis serta di Asia termasuk China dan Korea Selatan, ia mengaku tak semuanya berhasil.

“Tapi kami tak risau. Saya hanya mencari satu orang pada setiap negara yang mau bermimpi bersama saya buat mempopulerkan tempe di negeri masing-masing, ” tutupnya.