bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO / Nyoman Hendra Wibowo

Keterangan tulisan,

Mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Berlebih membawa poster seruan masa mengecam tindakan terorisme pada area Monumen Perjuangan Anak buah Bali (Bajra Sandhi), Denpasar, Bali, Rabu (31/3/2021).

Kepolisian menyebut pelaku teror di Mabes Polri serta pelaku bom bunuh diri di Makassar meninggalkan perintah tertulis kepada keluarga itu.

Walau pihak suku pelaku belum mengonfirmasi bukti pesan atau yang saat ini banyak disebut sebagai tulisan wasiat itu, isinya telah viral di media sosial.

Pola meninggalkan pesan sebelum melakukan aksi teror tidak baru kali ini lahir, kata mantan anggota Himpunan Islamiyah.

Para pelaku Bom Bali yang tergabung di organisasi teror itu zaman meninggalkan pesan lewat rekaman video.

Bukannya menyebar atau merundung karakter teror, masyarakat, terutama muda-mudi, didorong berempati dan menyelamatkan orang yang berpotensi terjerumus terorisme.

Adapun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendesak Kementerian Komunikasi dan Informasi membatasi peredaran pesan karakter teror.

Ali Fauzi, mantan pembuat peledak yang pernah bergabung dengan organisasi teror Jemaah Islamiyah, menyebut sejumlah pelaku Peledak Bali meninggalkan pesan buat keluarga sebelum melakukan aksi.

Pesan dalam bentuk video itu, kata Ali, dekat sama dengan pesan Zakiah Aini, pelaku teror dalam Jakarta dan Lukman Alfariz, yang meledakkan bom dalam depan Gereja Katedral Makassar.

Keterangan gambar,

Warga lintas iman menyelenggarakan doa bersama atas tragedi bom di depan Gereja Katedral Makassar di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (29/03).

“Mereka menyusun pesan audio visual buat pengampu, istri, anak, serta saudara-saudaranya. Banyak narasi dalam pesan itu adalah tumpuan kenikmatan surga, ” perkataan Ali, Kamis (01/04).

“Jadi ini lebih dulu dilakukan para pelaku bom yang digalang Jemaah Islamiyah, ” ucapnya.

Menurut Ali, menggunakan pesan terakhir itu para-para pelaku teror berharap tersedia orang-orang lain yang meniru perbuatan mereka.

“Kalau dibaca oleh orang-orang yang berpaham pendek, pesan itu mampu sangat berbahaya. Jadi betul penting membuat generasi muda yang kebal terhadap haluan ekstrem, ” kata Ali.

Data gambar,

Ali Fauzi, mantan pembuat peledak di kelompok teror Jemaah Islamiyah kini aktif membantu orang-orang keluar dari kala ekstremisme dan intoleransi.

Tren dan tujuan di balik pesan pelaku teror itu juga diamati Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, bahwa surat wasiat itu dibuat untuk menggaet pelaku baru serta menyebarkan wacana soal surga yang mereka yakini.

Menurut Irfan, menyebarluaskan perintah itu ke publik malah akan membantu para karakter teror mencapai tujuan itu, terutama ke sesama karakter muda.

Pelaku aksi teror di Makassar dan Jakarta rata-rata berumur pertengahan dua puluhan tahun.

“Jangan sampai yang sudah bercita-cita menyelenggarakan teror terpicu dengan beredarnya pesan seperti itu, ” kata Irfan.

“Generasi muda satu paket dengan militansi. Militansi itu seperti gasolin, bisa setiap saat terbakar jika ada yang menerbitkan.

“Yang tidak punya ancang-ancang apa-apa saja bisa mengikuti perbuatan itu, apalagi orang yang sudah menekuni prinsip ekstrem, ” ujarnya.

Irfan menduga, Zakia sudah terpapar radikalisme sejak memutuskan mundur kuliah. Ia yakin Zakia terdorong menyerang markas gembung Polri setelah membaca tulisan Lukman Alfariz.

Pesan Lukman beredar di media sosial setelah dia tewas memasang diri di Gereja Katedral Makassar. Kini giliran perintah Zakia yang viral.

Petunjuk gambar,

Doa bersama lintas agama di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) (29/03) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diharapkan hendak menguatkan para korban.

Irfan berpendapat, Kominfo adalah otoritas terdepan yang perlu menghalangi peredaran dan glorifikasi suruhan pelaku teror.

Selama tersebut kementerian tersebut secara rutin menutup situs yang mereka anggap mengandung konten ekstremisme.

BBC Indonesia sudah berusaha menghubungi Kepala Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, untuk memiliki keterangan soal peredaran perintah pelaku teror itu.

Tetapi hingga berita ini diterbitkan, Ferdinandus belum menanggapi seruan wawancara.

Sementara saat dikonfirmasi tentang peradaran pesan tersebut, juru bicara Mabes Polri Irjen Argo Yuwono berceloteh, “Kami lakukan soft power dengan edukasi kepada umum. ”

Bagaimanapun, pada tingkat akar rumput, jemaah semestinya menunjukkan empati zaman membaca pesan pelaku teror. Ini dikatakan Mohammad Aan Anshori, Ketua Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD).

Berempati, menurut Aan, bukan berarti mengangkat paham dan terorisme.

“Pelaku seperti Zakia ini kudu dilihat sebagai korban. Setelah melihat pesannya, kita merundung dan mengecam, ” kata Aan.

“Jika dia masih hidup, apakah pemikirannya bakal sembuh atau dia justru semakin yakin bahwa pemikirannya benar?

“Jadi kita kudu menghentikan aneka hujatan serta berempati pada pelaku dan calon pelaku yang memang korban ekstremisme, ” ujar Aan.

Keterangan gambar,

Personel kepolisian dengan rompi antipeluru dan senjata laras panjang berjaga dalam Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/03).

Lebih dari tersebut, Aan mendorong agar tingkatan muda membiasakan diri merasuk dengan penganut agama & keyakinan lain.

Merujuk sebesar survei dan penelitian, Aan menyebut masyarakat Indonesia bertambah memilih hidup dalam gerombolan homogen.

Padahal hidup di dalam komunitas homogen disebut Aan justru menyuburkan pandangan bias, stereotip negatif, dan syak.

“Generasi muda non-Islam, pertama yang Kristiani, jangan bimbang dengan aksi teror tersebut dan justru semakin membaur dengan generasi muda Agama islam, ” kata Aan.

“Kalau orang muda Islam dibiarkan hidup dalam komunitas itu sendiri, maka mereka tinggal tunggu waktu untuk bisa terprovokasi.

“Kita perlu palang salib integrasi, lebih saling berbaur. Mulailah menambah teman dengan berbeda agama.

“Jika kita takut berbaur, kita mau semakin hidup secara homogen dan friksi di antarkelompok malah akan semakin pintar, ” ujar Aan.

Menurut survei BNPT yang dipublikasi Desember 2020, 85% tingkatan milenial Indonesia disebut rentan terpapar radikalisme.

Sementara setahun sebelumnya, kajian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian mengungkap bahwa 52% pelajar menjunjung radikalisme berbasis agama.