• Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

VAKSINASI

Keterangan gambar,

Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada karyawan hotel penerima vaksin di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Selasa (02/03).

Setahun setelah kasus pertama Covid-19 terdeteksi, Indonesia masih menghadapi kemungkinan meningkatnya kasus trojan corona hingga mencapai 20. 000 per hari, berdasarkan ahli pemodelan matematika. Rendahnya capaian vaksinasi dan penelusuran kasus yang belum mumpuni disebut sebagai penyebab.

Dalam refleksi satu tahun Covid-19 di Indonesia yg disiarkan melalui YouTube Kemenristek/BRIN (02/03), Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut penanganan penyakit ini pada Indonesia akan makin susah.

Ia merujuk pada ditemukannya varian computer virus corona baru, B117, yang pertama kali terdeteksi pada Inggris. Varian ini disebut lebih mudah menyebar di masyarakat.

“Artinya kita jadi menghadapi pandemi ini dengan tingkat kesulitan yang semakin berat, ” ujarnya.

Ia pun mengakui masih banyak pekerjaan rumah (PR) pemerintah terkait vaksinasi hingga penelusuran kasus, sesuatu yang menurut pemerintah maka akan terus dibenahi demi pengendalian wabah.

Capaian vaksinasi rendah

Hingga (02/03), menurut information Satgas Penanganan Covid-19, pemerintah baru melakukan vaksinasi dalam sekitar 1, 9 juta orang dari target sebanyak 181, 5 juta masyarakat.

Itu berarti, capaiannya masih sekitar 1%, dan masih jauh dari target Presiden Joko Widodo untuk memvaksinasi 900. 000 hingga one juta orang per hari.

Keterangan gambar,

Karyawan mal saat mengikuti vaksinasi COVID-19 massal tahap kedua di Mal Tangerang Town, Tangerang, Banten, (01/03)

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai capaian vaksinasi saat ini tak maka akan berpengaruh pada pemodelan matematika yang dibuatnya, yakni Indonesia masih bisa mencatat hingga 20. 000 kasus for each hari pada tahun terkait.

“Kalau dari sisi modeling, tidak berpengaruh karena jumlah yang divaksin, ” kata Nuning.

Timnya memperkirakan puncak kasus dapat terjadi pada 4 Agustus 2021. Hingga akhir 2021, tim juga menilai kasus baru for each harinya bisa lebih dari 10. 000 kasus.

Hal itu dapat terjadi, kata Nuning, karena orang-orang yang jenuh bepergian saat libur panjang dan lebaran, juga orang-orang yang semakin lengah dengan protokol kesehatan dikarenakan keberadaan vaksin.

“Ahli epidemiologi berpendapat bahwa dia [vaksinasi] akan punya makna jika yang divaksinasi antara 70-80 persen.

“Kondisinya sekarang penyebarannya masih sangat tinggi dan jumlah vaksinasinya sangt terbatas sehingga tak berpengaruh terhadap kondisi puncak, ” ujarnya.

Iqbal Elyazar, kolaborator ilmuwan LaporCovid-19, mengatakan proses vaksinasi terlalu “lambat”.

“Jika target pemerintah menyelesaikan vaksinasi ini sampai akhir tahun 2021, maka intensitas vaksinasi seharusnya sekitar 520. 000 orang for each hari, ” ujarnya.

Ia mencatat, rata-rata harian vaksinasi Indonesia dalam satu minggu belakangan adalah sekitar 68. 000 orang perhari.

“Kenaikan kecepatan vaksinasi yang amat signifikan amatlah diperlukan buat mempercepat pengurangan beban kesehatan di masyarakat dan faskes.

“Misalnya jika kapasitas vaksinasi kita hanya 100. 1000 orang per hari, oleh target 181, 5 juta orang, maka diperkirakan butuh waktu lima tahun tersebut melakukannya. Terlalu lama, ” kata Iqbal.

Mengapa capaian rendah?

Juru bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito, menyebutkan salah satu tantangan melaksanakan vaksinasi masif adalah jumlah vaksin.

“Tantangannya saat terkait ialah memastikan jumlah vaksin yang tersedia sesuai dengan jumlah target vaksinasinya, inch ujarnya.

Keterangan gambar,

Pekerja cargo menurunkan Envirotainer berisi vaksin COVID-19 Sinovac dari pesawat Garuda Indonesia setibanya dari Beijing pada Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Selasa (02/03).

Sejauh ini, pemerintah sudah menerima vaksin Sinovac dari China and taiwan sebanyak 38 juta dosis. Sebanyak 35 juta di dalam bentuk mass (bahan baku) dan tiga juta di dalam bentuk vaksin yang telah jadi.

Bahan baku itu selanjutnya diproses di REHABILITATION Bio Farma menjadi vaksin jadi. Hingga kini, tercatat sekitar tujuh juta vaksin jadi yang sudah beredar di masyarakat.

Pemerintah mengatakan akan menerima total 185 juta dosis Sinovac, seraya berupaya mengadakan vaksin lain, seperti Pfizer, Astra Zeneca, dan Novavax.

Yang menjadi prioritas vaksinasi pemerintah hingga saat ini adalah tenaga kesehatan, pekerja publik, lalu warga lansia. Sementara tersebut, vaksinasi lansia, baru dapat dilakukan di ibu kota provinsi saja.

Keterangan gambar,

Capaian vaksinasi pada Indonesia adalah sekitar 1% (data 02/03).

Wiku mengatakan pemerintah akan membuat vaksinasi lebih fleksibel ke depannya.

“Pemerintah terus berupaya menjadikan vaksinasi ini lebih fleksibel dengan menambahkan titik pelayanannya, yaitu diperluas tidak sebatas di ibukota provinsi, ” ujarnya.

Di sisi lain, Iqbal Elyazar, kolaborator ilmuwan LaporCovid-19 menyorot masalah bureaucratic yang menghambat pelaksanaan vaksinasi.

“Ada eksekusinya juga yg harus menunggu perintah dahulu, lalu ada perubahan eksekusi prioritas orang-orang yang dapat vaksin di daerah-daerah, ” ujarnya.

Perubahan prioritas tersebut, katanya, terjadi dalam kasus pemberian vaksin pada tahanan KPK dan keluarga anggota DPR.

Bagaimana mempercepat vaksinasi?

Pemerintah berupaya mengejar target vaksinasi dengan melakukan vaksinasi yang disebut ‘gotong royong’, meski program ini dikritik lantaran dikhawatirkan membuka pintu komersialisasi vaksin.

“Untuk percepatan vaksin, khususnya kepada pekerja publik, maka upaya terkini yang disusun pemerintah adalah vaksin gotong royong yaitu vaksin yang prosesnya maka akan dilakukan oleh swasta, namun tetap di bawah pengawasan pemerintah.

“Perlu ditekankan bahwa vaksin gotong royong tidaklah vaksin mandiri sehingga tetap gratis untuk target penerimanya, yaitu para pekerja, ” kata Wiku Adisasmito.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan maka akan memakai data Pemilu yg dihimpun Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memperlancar proses vaksinasi.

Keterangan gambar,

Penyerahan akses data pemilih untuk program Vaksinasi Lokal dari KPU kepada Kemenkes (02/03).

Dalam penandatanganan MOU antara kementerian dan KPU (02/03), Menteri Kesehatan Budi Gunadi membeberkan proses vaksinasi pada tenaga kesehatan yang sempat terhambat data domisili yang belum termutakhir.

Sesuatu itu terjadi pada tenaga kesehatan yang alamatnya tercatat di Yogyakarta, tapi kini berdomisili di Jakarta.

“Jadi jatahnya dikasih ke Yogyakarta, begitu mau disuntik mereka ngomel karena tinggal pada Jakarta kok disuruh pulang ke Yogya.

“Itu adalah contoh issue pertama dikarenakan data tidak update , ” ujarnya.

Penelusuran dan tes

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengakui masih melimpah pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah terkait vaksinasi.

Namun, dia mengatakan program vaksinasi pun tak maka akan berhasil tanpa pelaksanaan protokol kesehatan, yang disebutnya 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan), juga peningkatan 3T (testing, tracing, treatment) .

“Vaksinasi akan gagal kalau proses tracing dan testing tidak kuat, ” ujarnya.

Terkait penelusuran, pemerintah telah berupaya menambah jumlah petugas pelacak kontak hingga thirty kontak dalam satu kasus, sesuai standar WHO.

Keterangan gambar,

Petugas medis memberikan penanganan kepada seorang pasien yang mengalami reaksi saat simulasi pemberian vaksin Covid-19 Sinovac di Puskesmas Kelurahan Cilincing I, Jakarta, Selasa (12/1).

Dante mengatakan pemerintah akan fokus membenahi kekurangan di bidang penelusuran ini.

“Kita gunakan tracer (penelusur) yang lebih banyak lagi. Kira-kira 80. 000-100. 000 Babinsa, Bhabinkamtibmas, kader-kader puskesmas untuk membantu proses ini di hulu [untuk] mencari kontak erat jamaah yang belum terdiagnosis, ” kata Dante.

Menurutnya, sesuatu itu penting untuk mendeteksi orang terinfeksi yang belum mengalami gejala berat, sehingga angka mortalitas pun jadi berkurang.