“Setiap kali saya memejamkan mata, sebuah pertanyaan muncul di benak saya. Siapa saya sebenarnya?”

Amar Alfikar didiagnosis dengan gender dysphoria, suatu kondisi di mana seseorang merasa bahwa gendernya tidak selaras dengan identitas gendernya.

Ayahnya adalah seorang Kyai yang memimpin sebuah pesantren. Tanpa diduga, ayah dan ibunya menerima transformasi Amar.

Dari penerimaan ayah dan ibunya, Amar belajar lebih banyak tentang Islamnya.

“Keyakinan saya tumbuh bahwa saya juga memiliki hak untuk menyatakan diri saya seorang Muslim, sebagai trans, dan melanjutkan hidup saya.” kata Amar.

Kakak Amar yang sebelumnya menentang akhirnya menerima.

“Saya ingin mengubahnya. Saya berdoa untuknya, saya mengundangnya ke psikolog dan sebagainya. Kami melakukan segalanya sejak awal,” kata Abdul Muis, kakak laki-laki Amar, yang kini mengaku bangga dengan adiknya.

“Kalau memang kehendak Tuhan, dan itu benar-benar bertentangan dengan kehendak-Nya, lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Itu kehendak Tuhan,” kata KH Marzuki Wahid, rektor Institut Islam Fahmina.

Video produksi: Famega Syavira dan Dwiki Marta