Yoshiro Mori

Keterangan gambar,

Mori, 83 tahun, mengatakan bahwa ‘perempuan terlalu banyak bicara’. Pernyataannya memicu kecaman luas, baik dalam maupun di luar Jepang.

Nama Yoshiro Mori, presiden Olimpiade Tokyo, dikecam luas setelah mengeluarkan pernyataan dengan dianggap “merendahkan perempuan”. Kontroversi itu mendorongnya untuk meminta maaf & “mengundurkan diri” dari posisi sebagai presiden Olimpiade Tokyo.

Pernyataan itu dikeluarkan Mori beberapa waktu morat-marit saat menghadiri pertemuan virtual para-para pejabat senior komite Olimpiade Tokyo.

Mori — yang berusia 83 tahun — mengatakan bahwa “perempuan sungguh-sungguh banyak bicara”.

“Perempuan punya rasa persaingan yang kuat. Jika satu karakter mengangkat tangan untuk bicara, yang lain merasa harus pula ikut kata. [Akhirnya] semuanya merasa perlu untuk bicara, ” introduksi Mori, seperti dikutip media pada Jepang.

Mori juga dikutip mengatakan, “Jika kita ingin menaikkan direktur perempuan, kita harus menetapkan ada pembatasan lamanya mereka berbicara, mereka sulit berhenti, suatu kejadian yang menjengkelkan. ”

Pernyataannya tersebut memicu kecaman yang meluas, baik dalam maupun di luar negeri.

Pada keadaan Rabu (10/02), gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengatakan dirinya akan memboikot pertemuan pekan depan yang dihadiri oleh Mori, menteri olahraga Jepang, dan presiden Komite Olimpiade Global, Thomas Bach.

“Melihat situasi yang tumbuh, saya kira hadir di pertemuan tersebut akan mengirim pesan dengan salah, ” kata Koike, gubernur perempuan pertama Tokyo.

Mori diperkirakan hendak mengundurkan diri dari posisi presiden Olimpiade Tokyo, setelah sebelumnya sempat menegaskan dirinya tetap berniat menduduki posisi tersebut.

Media di Jepang mengatakan “pengunduran diri Mori disampaikan hari Jumat (12/02) di pertemuan dewan eksekutif panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo”.

Kepada Nippon TV, Mori mengatakan bahwa dirinya akan menjelaskan kontroversi ini di pertemuan tersebut.

“Saya harus meminta maaf, ” kata Mori kepada Nippon TV, hari Kamis (11/02).

“Saya tak bisa membiarkan kasus ini berkepanjangan, ” imbuhnya.

‘Pukulan besar’

Keterangan gambar,

Olimpiade Tokyo sepatutnya digelar pada pertengahan 2020, namun ditunda karena pandemi Covid-19.

Kantor berita Jepang, Kyodo, dengan mengutip sejumlah sumber, mengatakan bahwa Mori akan digantikan oleh Saburo Kawabuchi, laki-laki berumur 84 tahun yang pernah menjelma ketua persatuan sepak bola Jepang.

Kawabuchi adalah anggota tim nasional menampar bola Jepang di Olimpiade Tokyo tahun 1964.

Ia juga berperan istimewa dalam meluncurkan liga sepak bola profesional Jepang, J-League, pada 1993.

Mori bukan nama ganjil di panggung politik Jepang.

Ia antara lain pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan menteri perdagangan universal sebelum menjadi perdana menteri pada April 2000 hingga April 2001.

Lembaga presiden Olimpiade Tokyo ia menyimpan sejak 2014.

Pengunduran Mori akan menjelma pukulan besar bagi persiapan pelaksanaan Olimpide Tokyo.

Olimpiade ini sedianya digelar pada pertengahan tahun lalu namun ditunda karena pandemi Covid-19.

Rencananya, pesta olahraga paling akbar di negeri tersebut mulai digelar pada 23 Juli tahun ini.

Namun publik pada dalam negeri, sebagian besar mendesak agar ditunda atau bahkan dibatalkan sama sekali karena pandemi belum sepenuhnya bisa dikendalikan.