• Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww.

Keterangan gambar,

Warga lintas iman mewujudkan doa bersama atas tragedi bom di depan Gereja Katedral Makassar di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (29/03).

Peneliti terorisme mengatakan banyak bani muda yang dijaring di dalam kelompok teroris melalui jalan internet dan diiming-imingi tiang pintas ke surga jika melakukan bom bunuh muncul.

Hal itu dikatakan menyusul peristiwa pengeboman pada sebuah gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan pelakunya merupakan seorang pemuda kelahiran tahun 1995.

Negeri diminta lebih gencar menunggui perekrutan teroris melalui internet dan membenahi program deradikalisasi mantan teroris, yang tenggat kini disebut masih kerap melakukan perekrutan anggota perdana, salah satunya melalui jalan sosial.

Sementara itu, Lembaga Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan telah menggandeng bermacam-macam pihak untuk terus mengatasi konten-konten radikal di media sosial.

‘Target khas kelompok teroris’

Besar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan bahwa pelaku pengeboman bunuh muncul di Gereja Katedral Makassar, yang berinisal L adalah seorang pemuda kelahiran 1995.

Ia dan istrinya mencari jalan memasuki gereja sebelum memasang diri, mengakibatkan 20 orang di wilayah gereja tersebut luka-luka.

Boy Rafli mengecap anak-anak muda adalah target khas dari kelompok teroris.

“Jadi inisial L tersebut dengan istrinya adalah termasuk kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas objek dari propaganda jaringan terorisme, ” kata Boy sebagaimana dilaporkan wartawan Darul Amri di Makassar untuk BBC News Indonesia.

Keterangan gambar,

Doa bersama-sama lintas agama di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) (29/03) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diharapkan akan membenarkan para korban.

Kedua pelaku itu disebut polisi bergabung Jamaah Ansharut Daulah atau JAD.

Kelompok itu berafiliasi dengan kelompok yang mengecap diri mereka Negara Islam atau ISIS.

Menanggapi itu, peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, mengucapkan sejak empat tahun belakangan, kelompok terorisme JAD kerap mengincar anak-anak muda.

Dengan diincar, katanya, bukan sebab pesantren, tapi pengguna internet.

“Yang direkrut kebanyakan bujang muda, milenial baru, dengan dianggap masih bersih minus ada pengaruh NU ataupun Muhamadiyah. Mereka-mereka yang cenderung kosong secara keagamaan, biasa secara spiritual.

“Kebanyakan itu [perekrut] memakai media sosial, mereka mempercakapkan tentang jihad dan keterangan mati syahid supaya bisa masuk surga. Mereka tawarkan shortcut to heaven , jalan menyela ke surga, ” prawacana Al Chaidar.

Keterangan gambar,

Petugas kepolisian mengangkat kantong jenazah berisi bagian awak dari terduga pelaku peledak bunuh diri di aliran Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, hari Minggu (28/03).

Menurutnya, pemerintah perlu memasukkan sumber daya untuk melaksanakan pengawasan di internet buat mencegah perekrutan teroris melalui media sosial maupun penggunaan berbagi pesan.

“Saat ini [pengawasan] belum efektif. Masih overload pekerjaan pemerintah. Perlu lebih banyak orang lagi untuk melakukan penjagaan, ” ujarnya.

Terkait itu, Kepala BNPT Kombes Boy Rafli, mengatakan pihaknya bakal terus berupaya untuk mengatasi konten-konten radikal di jalan sosial.

“Ini sinergitasnya dengan semua pemangku kepentingan, bekerjasama dengan TNI, Polisi, BIN, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), semua institusi negara termasuk Kominfo, sudah menjadi agenda utama dalam mengantisipasi sebaran paham radikal, intoleran di dunia tanwujud.

“Itu yang harus dijalankan dengan juga pelibatan unsur masyarakat karena masyarakat menggunakan sarana cyber space dengan tentunya harus waspada secara kondisi di dunia maya” kata Boy Rafli.

Boy menambahkan literasi dan edukasi digital bagi generasi milenial sangat diperlukan agar mereka tidak terlibat dalam putaran radikal.

Siapa yang kerjakan perekrutan?

Al Chaidar mengucapkan yang melakukan perekrutan di antaranya adalah mantan teroris, seperti mereka yang kembali ataupun dideportasi dari Suriah, pula ulama-ulama muda yang disebutnya penganut wahabi takfiri atau anti terhadap mereka yang non-Muslim.

Selain itu, Al Chaidar mengatakan, bekas narapidana yang tidak megalami cara deradikalisasi aktif melakukan perekrutan sekeluarnya dari penjara.

“Hampir 90 persen dari itu (yang dipenjara) tak mau terderadikasliasi. Mereka melakukan rekrutmen yang sangat aktif melalaikan media sosial, ” katanya.

Keterangan gambar,

Petugas menetapkan kantong jenazah berisi arah tubuh dari terduga karakter bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut keterangan, Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), di kurun waktu 2002 mematok 2020, sebanyak 11, 4% dari 825 bekas narapidana teroris, atau lebih lantaran 90 orang, kembali berperan gerakan terorisme selepas sebab penjara.

Dari angka 90-an itu, sebanyak 38 delapan orang memiliki tingkat “militansi yang tinggi”.

Alif Wira, peneliti yang fokus pada kajian terorisme dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan harus ada keberlanjutan dari rencana deradikalisasi pemerintah agar para-para bekas napi tak teristimewa terlibat gerakan terorisme.

“Harus ada peningkatan evaluasi, penyerasian, dan keberlanjutan dari program-program deradikalisasi agar angka 11, 4% ini menjadi 0, ” ujarnya.

Keterangan gambar,

Petugas kepolisian melakukan penyeliaan di sekitar sisa-sisa ledakan dugaan bom bunuh muncul di depan Gereja Katolik Katedral, Makassar, Sulawesi Daksina, Minggu (28/03).

Alif mengutarakan saat ini, selain tidak wajib bagi para napiter, program deradikalisasi belum memiliki barometer terkait program deradikalisasi yang berhasil atau yang disebutnya success matrix.

“Belum ada yang membuat penilaian rencana sebenarnya bagaimana bentuk deradikalisasi yang berhasil? Namun, dengan perlu dicatat ini ialah permasalahan semua negara, ” kata Alif.

Menurut Alif pembuatan ukuran keberhasilan agenda deradikalisasi mesti dilakukan dengan melibatkan sejumlah organisasi yang telah melakukan pendampingan para napi teroris.

Menurutnya, rencana deradikalisasi juga harus dikerjakan sesuai dengan tingkat ektremisme seseorang.

“Ada program yang diarahkan ke mereka dengan secara sukarela ingin mendaftarkan program (ekstremisme rendah) dan ada program yang diarahkan ke mereka yang tidak mau mengikuti (ekstremisme tinggi).

“Menurut saya lebih elok diwajibkan agar semua napiter paling tidak mendapatkan jalan deradikalisasi, ” tambahnya.

Tanda gambar,

Personel Korps Brimob mengikuti berhimpun Patroli Skala Besar TNI-Polri di Lapangan Presisi Ditlantas Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (29/03/2021) pascaaksi terorisme di Makasar.

Sebelumnya, bani muda lain yang terkebat dalam aksi pengeboman pati padam diri adalah Dani Dwi Permana, pelaku bom Marriott di tahun 2009.

Zaman melakukan aksinya, ia gres berusia umurnya 18 tahun.