Thursday, September 24, 2020
Home Blog Page 19

Virus corona: Angka kematian akibat Covid-19 di New York tembus 3. 500 orang

0

Hak arah foto Getty Images
Image caption Sejumlah rumah sakit di Kota New York melaporkan kekurangan alat kesehatan.

Negara Bagian New York di Amerika Serikat merekam rekor 630 orang meninggal negeri dalam sehari akibat Covid-19, jadi totalnya mencapai 3. 565 karakter. Sebagian besar korban berada dalam Kota New York.

Negara bagian itu kini mencatat terdapat 113. 000 orang terinfeksi virus corona—mendekati total kasus di Italia yang mencapai lebih dari 124. 000 urusan.

Gubernur Andrew Cuomo mengatakan jumlah kasus dapat memuncak antara empat hingga 14 hari.

“Sebagian dari diri saya ingin beruang di puncak dan mari kita hadapi. Namun ada sebagian lainnya dari diri saya yang mengutarakan baguslah kami tidak berada di puncak, karena kami belum siap, ” paparnya.

Cuomo mengaku negara bagiannya masih langsung mencari ventilator tambahan. Dia berterima kasih kepada China yang mengirimkan 1. 000 ventilator, yang dijadwalkan tiba pada Sabtu (04/04) masa setempat. Negara bagian Oregon hendak mengirim tambahan 140 perangkat itu, katanya.

Secara terbelah, Presiden AS Donald Trump mengucapkan dirinya telah meyakinkan Cuomo bahwa New York akan mendapat sumber daya yang diperlukan.

Akan tetapi, Trumo menegaskan bantuan federal akan difokuskan ke area-area yang paling parah terdampak Covid-19. “Sayangnya akan ada banyak maut. ”

AS saat ini mencatat lebih dari 300. 000 kasus positif corona dan lebih dari 8. 000 orang meninggal dunia akibat virus itu.

Di seluruh dunia, berdasarkan data Universitas Johns Hopkins di AS, lebih dari 60. 000 orang meninggal dunia dan lebih dari 1, 1 juta orang telah terinfeksi.

Apa yang terbaru di New York?

Negara bagian itu melaporkan terdapat 113. 833 kasus positif corona dan 63, 306 di antara mereka berada pada Kota New York.

Gubernur Andrew Cuomo mengatakan total kasus dan kematian kini menyusun pada laju yang lebih lamban di Kota New York, tetapi ada kekhawatiran peningkatan jumlah peristiwa di Long Island dekat tanah air tersebut.

Cuomo memasukkan, Rumah Sakit Javits Center yang memiliki 2. 500 ranjang pada Manhattan akan dilengkapi dengan staf dan peralatan dari pemerintah sentral.

Sebanyak 85. 000 orang, sekitar seperempatnya dari negara bagian lain, sepakat bergabung buat membantu penanganan dampak wabah di New York.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Negara Bagian New York merupakan pusat wabah virus corona pada AS.

Wali Kota New York sudah mengirim pesan kepada delapan juta penduduknya, memohon agar para kesehatan menjadi relawan.

“Semua orang yang belum terlibat di dalam pertarungan ini, kami perlu Anda, ” kata Bill de Blasio, yang memohon bantuan dari “setiap tenaga medis profesional: dokter, perawat, terapis, dan sebagainya”.

De Blasio memperkirakan kota tersebut perlu tambahan 45. 000 pekerja medis untuk membantu penanganan efek wabah virus corona pada April dan Mei.

Sebelumnya, dia mendesak para warga untuk memakai masker—”bisa juga kain atau sesuatu yang Anda buat sendiri, bandana” ketika keluar rumah.

GEJALA serta PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk darah kering terus menerus

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Sejak cuci tangan sampai jaga ruang

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, wafat dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

Apa dengan dikatakan Presiden Trump dalam jumpa pers?

Berbicara di Gedung Putih pada Sabtu (04/04) waktu setempat, Presiden Trump memberikan penilaiannya mengenai apa yang hendak terjadi di AS dalam pekan-pekan mendatang.

Trump mengatakan pekan depan “mungkin menjadi yang tersulit” seraya memperingatkan warga Amerika untuk bersiap atas “banyak kematian”.

Untuk mendukung negara-negara bagian dalam menghadapi Covid-19, Trump menegaskan pemerintahannya akan mengerahkan “militer dalam jumlah luar biasa, ribuan serdadu, pekerja medis, para profesional”.

Para personel militer hendak “segera” mendapat arahan tugas itu, kata Trump. Dia menambahkan, “1. 000 personel militer” akan dikerahkan ke Kota New York.

Hak pada foto Getty Images

Trump juga membahas keputusannya menggunakan Undang-Undang Produksi Pertahanan—sebuah produk hukum yang dibuat pada era Perang Korea yang memberikan wewenang kepada presiden untuk mengendalikan produk dan pasokan produk medis sintetis AS.

Dia mengutarakan dirinya “sangat kecewa” dengan 3M, perusahaan AS pembuat masker. Menurutnya, perusahaan itu “seharusnya mengurus negeri kita” bukannya menjual produk ke pihak lain.

Hendak tetapi dia menola tuduhan bahwa AS melakukan “pembajakan modern” dengan mengalihkan pengiriman 200. 000 kedok yang sudah dipesan Jerman & tengah menuju Berlin untuk dipakai oleh AS.

Soal pertanyaan pelonggaran pembatasan jarak tenteram, Trump mengulangi pesannya.

“Kami perlu membuka negara awak, ” kata Trump tanpa memberikan batas waktu yang jelas. “Obatnya tidak lebih buruk dari masalahnya itu sendiri”.

Dengan jalan apa dengan negara lain?

  • Inggris mencatat rekor moralitas dalam sehari akibat virus corona, 708 orang. Namun, jumlah orang yang positif virus corona mendarat. Total pasien yang meninggal di rumah sakit telah mencapai 4, 313 orang.
  • Carrie Symonds, tunangan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dengan tengah hamil, mengaku dirinya telah menghabiskan beberapa hari di tempat tidur dengan gejala virus corona. Pekan lalu, Boris Johnson terjamin positif mengidap virus corona serta menggelar rapat kabinet menggunakan panggilan video.
  • PM Spanyol, Pedro Sanchez, mengutarakan negaranya “hampir melampaui puncak infeksi” ketika jumlah kematian akibat virus corona menurun dalam dua hari berturut-turut. 809 kematian dalam sehari adalah yang terendah di Spanyol dalam sepekan.
  • Italia mencatat penurunan pertama jumlah pasien di unit jaga intensif selama wabah virus corona melanda. Jumlah terbaru pasien wafat dunia, 681 orang, menambah angka kematian total sebanyak 15. 362 orang.

Virus corona: Kelas menengah ‘rentan miskin’, belum tersentuh bantuan pemerintah

0

Hak atas foto NOVA WAHYUDI/Antara
Image caption Praktisi kelas menengah juga terancam kehilangan pekerjaan di tengah perlambatan ekonomi.

Paket stimulus yang diluncurkan pemerintah bertugas menghadapi ancaman kelesuan ekonomi akibat penyebaran wabah virus corona dinilai ‘melupakan kelas ekonomi menengah & tidak berimbang karena hanya pokok kepada golongan menengah ke lembah dan korporasi’.

Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan dua paket stimulus ekonomi yang bernilai Rp405, 1 triliun bagi masyarakat yang terdampak pandemi virus corona. Di antaranya adalah kartu sembako dan keringanan pembayaran listrik.

Namun Bhima Yudhistira Adhinegara, peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengatakan bahwa di dalam pandemi virus corona seperti saat ini, tidak hanya kelas ekonomi miskin saja yang keuangannya terdampak.

Menurut Bank Dunia pandemi virus corona hendak menambah jumlah penduduk miskin dalam kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, hingga 11 juta orang.

Sementara dalam Jakarta, misalnya, ada puluhan ribu pekerja dan buruh yang mengeluh sudah dirumahkan per Jumat (3/4).

Khawatir PHK dan tidak mendapat THR

Hak atas foto Dhemas Reviyanto/Antara
Image caption Bank Indonesia mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia paling sedikit 2, 3 persen pada tarikh ini yang akan ditopang oleh berbagai stimulus, baik fiskal maupun moneter yang diberikan oleh pemerintah dan bank sentral.

Dini Afiandi dari Tuban, Jawa Timur, warga status menengah memiliki kekhawatiran ekonomi.

Meski Dini tidak dirumahkan, karyawan di perusahaan angkutan truk tersebut mengatakan khawatir dengan kedudukan keuangannya karena pemasukan perusahaan tempatnya bekerja telah berkurang sejak tiga bulan lalu.

Perusahaan tempat Dini bekerja mengandalkan kilang semen sebagai klien utamanya, tetapi pabrik tersebut mengurangi produksinya sehingga banyak sopir truk yang kini dirumahkan dan tidak mendapat gaji, kata Dini.

Dalam tengah penurunan ekonomi akibat pagebluk virus corona, perempuan berusia 21 tahun itu masih pergi ke kantor dan bekerja, meski pemimpin membayar gaji dari kantong pribadinya.

“Kalau sepi langsung kan…. rumah saya juga sedang nyicil, masih angsuran, kerjaan juga kayak gini, biasanya saya mampu membantu cicilan rumah tapi saat ini kan sulit, ” kata Pra.

Dini mengetahui kalau ada kemungkinan ia tidak memiliki Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini, mengingat pesanan untuk truk berkurang dan gaji saat ini mengandalkan kebaikan atasannya.

“Kalau THR sepertinya belum terang, cuma saya juga tidak berharap-berharap banget, kan ini sepi. Yang penting saya masih kerja tersebut saja sudah Alhamdulillah, ” katanya.

“Lebaran tahun tersebut ya sepertinya tidak seheboh zaman, pengeluaran juga tidak harus kulak baju, tidak harus mudik pula. Turut prihatin dengan kondisi sekarang. ”

Di rumahnya, di mana ia tinggal bergabung kedua orangtua dan empat saudaranya, ia juga berjualan es tekak, tabung gas, dan galon air mineral.

Ia berlangganan listrik sebesar 1300VA setiap bulannya, kategori listrik yang tidak mendapat bantuan pemerintah.

“Kalau [berjualan] es kotor kan listriknya harus besar, pake freezer gitu, kalau yang 1300VA tidak dikasih diskon kan kasihan yang berjualan seperti kita, ” ujarnya.

Dini meminta pemerintah memperhatikan kekhawatiran pekerja laksana dirinya yang saat ini pemasukannya terancam.

“Kalau beta sebagai kelas menengah sih khawatirnya karena pekerjaan itu ya, terus sepi. [Pemerintah] tidak memperhatikan, itu dikira mampu begitu? Padahal seperti kita begini, kan menyicil rumah, ada kekhawatiran PHK kalau kelas menengah, ” tambahnya.

Menurut Raden Soes Hindharno, juru bicara Kemenaker, era ini pihaknya tengah membahas apakah pandemi virus corona ini bisa dikategorikan sebagai force majeure , sehingga perusahaan yang tidak sanggup membayar THR karyawannya tidak melanggar aturan ketenagakerjaan yang sudah ada.

“Harusnya satu minggu sebelum lebaran perusahaan memberikan gaji ke-13 kepada praktisi, yang jumlahnya satu bulan gaji, kalau tidak diberikan, perusahaan akan diberikan denda. Tapi di era force majeure ini kita memang serba ribet, ini kan kondisi yang darurat atau tidak biasanya, ” ujar Raden.

“Tapi Kemenaker sebagai mediator di tempat hubungan industrial, tetap meminta kepada pengusaha, tapi dengan kesepakatan, [agar pekerja] di hari sundal tentunya tetap mendapatkan hak THR. ”

‘Bagaimana cara bertahan hidup’

Hak atas foto Akbar Nugroho Gumay/Antara
Image caption Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tarikh 2020 akan turun menjadi dua, 3% dan dalam skenario terburuk bahkan bisa mencapai -0, 4% karena pandemi Covid-19.

Salah satu masyarakat kelas menengah lainnya, Fransiska Romana. Warga Sintang, Kalimantan Barat itu mengaku kebingungan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu masa ini lantaran ia dirumahkan sejak Selasa (31/3) dari pekerjaannya jadi staf pengawas pemilu kecamatan.

Fransiska baru bekerja sejak Februari dan rencananya akan dipekerjakan selama sepuluh bulan untuk menolong pemilihan umum kepala daerah.

Namun masa depan pekerjaannya kini tidak jelas setelah Bayaran Pemilihan Umum memutuskan menunda empat tahapan pilkada serentak 2020 di 24 Maret lalu.

“Karena ada keputusan untuk [tahapan pilkada] itu diundur jadi kinerja kami juga diundur sampai kasus [wabah virus] corona ini berakhir. Sehingga dikeluarkanlah keputusan kami itu di- off kan, itu belum ditentukan sampai kapan, ” perkataan Fransiska kepada BBC Indonesia (2/4).

“Kami juga berat apakah kami dapat kompensasi ataupun gaji atau tidak, ini belum diinformasikan, cuma saya dengar jika Maret dapat [gaji dari bekerja di bulan Februari], akan tetapi untuk [April] seharusnya gak dapat karena di- off kan, karena dampak corona. ”

Ia adalah satu dari sekian banyak pekerja pemilihan umum besar daerah di Indonesia yang untuk sementara dinonaktifkan karena penundaan tahapan pilkada.

Untuk masa ini, Fransiska berencana pulang negeri dan bekerja sebagai penyadap karet di kebun karet milik keluarganya yang telah terbengkalai sejak keluarganya pindah ke kota.

Meski demikian, ia tidak berniat pendapatannya meningkat dari menyadap longgar. Perempuan berusia 23 tahun itu adalah tulang punggung di rumahnya, karena ia juga harus membayar untuk kebutuhan orang tuanya yang sudah tua dan tidak sedang bekerja.

“Sekarang sedang bingung sebenarnya, saya masih berpendapat juga bagaimana cara bertahan hidup, ini masih buntu sekarang, sebab mau pulang kampung buat nyerap karet kan, tapi [harga] karet disini turunnya tajam karena banyak pabrik yang menutup juga [per] agenda 31 Maret.

Oleh sebab itu bingung mau mencari pekerjaan barang apa, karena posisi sekarang cari kerjaan susah, orang pasti tidak aktif lowongan pekerjaan di tengah pandemi seperti sekarang, ” katanya.

Meski dapat digolongkan jadi kelas menengah karena memiliki vila dan kebun sendiri, Fransiska mengiakan gajinya sebagai staf pengawas pemilu daerah kurang dari upah kecil regional, sehingga ia mengatakan negeri layak memberikan bantuan bagi asosiasi yang berada di situasi yang sama seperti dirinya.

“[Kami] layak [dapat bantuan], karena kerjaan saya masih ikatan kontrak, [hanya] 10 bulan dan karena sekarang tidak ada kejelasan, Dibilang status menengah mungkin karena tinggal di rumah sendiri, kebutuhan tidak sungguh-sungguh berat, tapi bagi saya wajar-wajar saja kelas menengah mendapat tumpuan.

Kalau di situasi seperti ini mau kelas menengah, kelas bawah juga membutuhkan sandaran, ” ujar Fransiska.

Menurut Kepala Biro Hubungan Klub Kementerian Ketenagakerjaan, Raden Soes Hindharno, telah ada aturan yang menyusun bahwa perubahan besaran upah atau pembayaran upah akibat pandemi Covid-19 dilakukan sesuai dengan kesepakatan jarang pengusaha dengan pekerja atau pekerja.

“Kalau perusahaan suruh gaji penuh, perusahaan pun bakal teriak-teriak atau bahkan bisa pailit. Kalau pekerja tidak mendapat income juga sama, padahal butuh makan keluarganya. Jadi ada kesepakatan [antara pengusaha dan pekerja] seperti masuk setiap 3 hari sekali, atau [pekerja] dirumahkan tapi digaji 50%, ” kata Raden.

Banyak kelas menengah berpotensi turun ke kelas miskin

Presiden Joko Widodo telah mencanangkan dua paket stimulus ekonomi yang bernilai Rp405, 1 triliun, di antaranya adalah penambahan nilai manfaat kartu sembako dari Rp150. 000 menjadi Rp200. 000 per bulan dan pembebasan tarif listrik bagi pelanggan listrik 450VA dan potongan (harga) 50% bagi pelanggan listrik 900VA bersubsidi.

Bhima Yudhistira Adhinegara, peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengatakan bahwa dalam pandemi virus corona seperti sekarang, tidak hanya kelas ekonomi miskin sekadar yang keuangannya terdampak.

Namun juga kelas menengah, serta kelas rentan miskin, atau itu yang sedang menuju ke kategori kelas menengah dari kelas ekonomi bawah.

Kelompok yang berada di tengah ini rentan kembali ke kelas miskin bila ada bencana alam atau urusan penyakit kesehatan dengan skala yang luas seperti pandemi Covid-19 sekarang.

Menurut Bank Dunia, pandemi virus corona akan menaikkan jumlah penduduk miskin di tempat Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, hingga 11 juta orang.

Sementara itu, Sistem Buruh Dunia memperkirakan pandemi ijmal ini mengakibatkan hilangnya 5 sampai 25 juta lapangan pekerjaan, dan pendapatan warga dunia akan berkurang sampai 3, 4 triliun dolar AS.

Di Jakarta, dinas tenaga kerja dan transmigrasi membuka link pelaporan data praktisi /buruh yang sudah di-PHK serta dirumahkan tanpa menerima upah ( unpaid leave) karena wabah Covid-19.

Per 3 April terdata petunjuk 21. 797 pekerja yang dirumahkan dan 3. 611 pekerja yang di-PHK.

Data tersebut akan dilaporkan ke pemerintah induk.

“Kalau kita tahu stimulus yang diberikan itu memang terasa kurang sekali dan tidak sensitif terhadap yang rentan miskin, ” kata Bhima.

“Kalau saya bandingkan itu [stimulus] Rp405 triliun ini tidak ada apa-apanya dibanding Malaysia yang [jumlah stimulus ekonominya] hampir Rp1. 000 triliun, bahkan Malaysia lebih sensitif menangani isu kelas menengah ini dengan menggratiskan internet yang setara Rp2, 2 triliun.

Kita tidak ada address itu, ini kelihatannya pemerintah invalid sensitif dan hanya fokus ke level bawah, lalu langsung loncat ke korporasi. [Pemerintah] menurunkan tarif PPH badan siap 17% secara bertahap, jadi langsung jomplang, tengahnya kosong. ”

Untuk itu, Bhima menyarankan agar pemerintah memberikan transfer kekayaan langsung kepada kelas menengah dengan terdampak kelesuan ekonomi akibat virus corona.

Menurut perhitungannya, dengan membayarkan 80% dari UMR pekerja hotel dan restoran di Bali dan Lombok, misalnya, pengeluaran pemerintah tidak mencapai Rp1 triliun.

“Karena yang dibutuhkan ini adalah bagaimana caranya mereka tidak jatuh ke jurang kekurangan karena hilangnya pendapatan dalam 1-2 bulan terakhir pasca Covid-19.

[Transfer uang langsung] bisa dilakukan pemerintah daerah dan negeri pusat. Dibandingkan dengan program-program yang sebenarnya telah menyasar orang bapet, tapi dananya ditambah, sementara yang rentan miskin ini jumlahnya cukup banyak, dan ini yg harus dipikirkan pemerintah, ” ujar Bhima.

Virus corona: Tablighi Jamaat, kelompok dengan dituding sebarkan Covid-19 di India dan terkait dengan kasus pasti di Indonesia

0

Hak berasaskan foto Getty Images
Image caption Semua peserta Tablighi Jamaat di Delhi dipindahkan ke lokasi karantina.

Kelompok Tablighi Jamaat menjelma sorotan setelah acara yang itu gelar di ibu kota India, Delhi, memunculkan sejumlah klaster Covid-19 di seantero negeri. Namun, ikatan apakah ini dan mengapa itu menyelenggarakan acara besar-besaran di Delhi? Wartawan BBC Hindi, Zubair Ahmed, melaporkan.

Siapakah Tablighi Jamaat?

Organisasi ini didirikan pada 1926 di kawasan Mewat, India melahirkan, oleh seorang ulama Islam terkemuka, Maulana Mohammed Ilyas Kandhlawi.

Tujuannya adalah menanamkan Agama islam “sejati” di antara umat Muslim sedunia. Kala itu, banyak pengikut Muslim di India merasa kalau identitas politik dan agama mereka terancam oleh kekuasaan kolonial Inggris.

Organisasi tersebut kemudian berkembang pesat dalam India yang saat itu belum terbagi menjadi beberapa negara. Perkembangannya terus meningkat setelah India mandiri pada 1947, bahkan ketika Pakistan dan Bangladesh berdiri.

Apa tujuan mungkin?

Pendiri Jamaat, Mohammed Ilyas, suatu saat pernah berkata, “Oh umat Muslim jadilah Muslim yang baik”. Perkataan tersebut menjadi inti dari tujuan istimewa Tablighi Jamaat—mengedepankan ajaran Islam di antara umat Muslim.

Para anggotanya mengklaim Tablighi Jamaat adalah organisasi non-politis yang berniat membangun masyarakat Islam berdasarkan moral Quran.

Organisasi itu mengirim delegasi-delegasinya ke berbagai negara selama 40 hari dalam setahun dan terkadang dalam jangka zaman yang lebih pendek.

Para pensyiar dari organisasi itu menjalankan metode syiar agama orang-per-orang, sehingga mereka akan mendatangi rumah-rumah umat Muslim untuk menyampaikan masukan Islam.

Apa yang terjadi di Delhi?

Pertemuan di Delhi merupakan rancangan tahunan yang berlangsung pada 3 Maret, sedangkan kapan berakhirnya ada berbagai versi. Yang jelas, zaman acara itu rampung, banyak orang—termasuk 250 warga negara asing—memilih berdiam di sana.

Ditengarai beberapa diantara mereka mengidap Covid-19, yang kemudian menular ke sesama peserta dan menyebar ke seantero India.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pelacakan hampir 400 kasus Covid-19 berujung pada acara Tablighi Jamaat pada Delhi.

Salah satu anggotanya, Waseem Ahmed, mengatakan kepada BBC Hindi kalau ratusan delegasi meninggalkan lokasi pra karantina wilayah alias lockdown diberlakukan pada 24 Maret. Akan namun, lebih dari 1. 000 kawula, termasuk sejumlah warga negara langka, terlantar karena semua moda transportasi dan penerbangan internasional dihentikan.

Sejak saat itu, kepolisian merazia hostel-hostel tempat warga negeri asing menginap dan mengarantina itu di lokasi lain di Delhi.

Pemerintah India kini berupaya melacak dan menguji orang-orang yang hadir dalam acara tersebut mengingat jumlah kasus Covid-19 dengan terkait dengan pertemuan Tablighi Jamaat terus meningkat. Pada Kamis (02/04), media setempat melaporkan kasus nyata Covid-19 mencapai 389.

Apakah ada WNI yang memasukkan acara Tablighi Jamaat?

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengucapkan sebanyak 731 warga negara Nusantara (WNI) mengikuti acara Tablighi Jamaat di India. Mereka tersebar pada berbagai negara bagian di India.

“Para jemaah tabligh ini memang terdampak dari kecendekiaan lockdown yang diterapkan oleh pemerintah India hingga 14 April, ” kata Direktur Perlindungan WNI & Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI, Judha Nugraha, dalam konferensi pers virtual, Rabu (01/04).

Judha menuturkan, ada 14 perhimpunan Tabligh Indonesia yang terinfeksi Covid-19. “Di mana 10 di antaranya sudah dinyatakan sembuh dan empat lainnya masih dalam perawatan dan kondisinya stabil, ” paparnya.

Seberapa besar Tablighi Jamaat?

Tablighi Jamaat kini adalah gerakan agama yang memiliki pengikut di lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, had Amerika Serikat.

Pola itu punya kantor perwakilan di setiap negara yang ada pengikutnya, namun pusat atau yang dikenal Markaz berada di Delhi.

Markaz menempati sebuah gedung beberapa lantai di Nizamuddin, wilayah permukiman Muslim di Delhi. Pada Markaz terdapat sebuah masjid & asrama-asrama yang dapat menampung 5. 000 orang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Biswa Ijtema di Bangladesh digadang-gadang sebagai acara perkumpulan kedua terbesar umat Muslim sedunia setelah ibadah Haji di Arab Saudi.

Tablighi Jamaat juga menyelenggarakan acara-acara besar di luar negeri.

Di Bangladesh, organisasi itu menggelar kesibukan bertajuk Biswa Ijtema, yang digadang-gadang sebagai acara perkumpulan kedua terbesar umat Muslim sedunia setelah ibadah Haji di Arab Saudi.

Di Indonesia, pada pertengahan Maret lalu, ribuan orang bergabung mengikuti Ijtima Jamaah Tabligh se-Asia di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Belakangan acara itu dibatalkan setelah memiliki desakan aparat.

Pola ini juga punya beberapa pengikut ternama di Asia Selatan.

Beberapa di antaranya merupakan sejumlah anggota tim nasional kriket Pakistan, termasuk Shahid Afridi dan Inzamam ul-Haq.

Mantan Presiden Pakistan, Farooq Legari dan Mohammed Rafiq Tarar juga dipercaya menjadi pengikut. Adapun mantan Presiden India, Dr Zakir Hussain, dikaitkan dengan gerakan ini.

Virus corona: WNI berbondong-bondong kembali ke tanah air, ‘butuh berhari-hari untuk pulang’

0

Hak atas menjepret Jarang
Image caption Pemerintah Indonesia didesak untuk memperketat prosedur kesehatan terhadap TKI yang pulang akibat karantina wilayah pada negara tempat mereka bekerja.

Warga negara Indonesia di luar negeri, terutama tenaga kerja, berbondong-bondong kembali ke negeri di tengah perlambatan ekonomi akibat pagebluk Covid-19. Presiden Joko Widodo meminta aparat pemerintah menerapkan protokol kesehatan secara ketat kepada semua pekerja migran yang pulang dari luar negeri.

Jokowi pertama kali menyampaikan instruksi mengenai pengawasan WNI, khususnya pekerja migran dari Malaysia yang kembali ke Indonesia, dalam pengantar rapat terbatas di Istana Bogor, Selasa (31/03). Ia mengulangnya saat konferensi pers usai meneroka kesiapan rumah sakit darurat pada Pulau Galang, Kepulauan Riau, Rabu (01/04).

“Setiap keadaan ada mobilitas tenaga kerja Nusantara dari Malaysia pulang mudik (ke Indonesia). Ini harus dikontrol, diawasi, dicek, sehingga betul-betul semua di keadaan bersih dan tidak membawa corona masuk ke desa, ” kata Jokowi.

Ia memprediksi akan tersedia jutaan pekerja migran dari Malaysia yang kembali ke Indonesia, atau sekitar 3 ribu pekerja migran setiap harinya.

Total itu belum termasuk dengan Awak Negara Indonesia (WNI) yang berawal dari negara lain.

Presiden menekankan empat hal yakni pertama menjalankan protokol kesehatan secara ketat di pintu-pintu masuk wilayah Indonesia, baik jalur udara, bahar dan darat.

Ke-2, WNI yang tidak memiliki isyarat Covid-19 dizinkan pulang ke wilayah asal dengan status orang di pemantauan (ODP) dan harus mengarahkan protokol isolasi mandiri dengan disiplin ketat.

Ketiga, WNI yang memiliki gejala Covid-19 kudu diisolasi di rumah sakit yang disiapkan, seperti rumah sakit penting di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau.

Keempat, pemerintah menyiapkan bantuan sosial untuk itu.

Bagaimana p rotokol kesehatan bagi WNI dari luar negeri?

Menurut Menteri Luar Jati Retno Marsudi terdapat beberapa adat yang harus dilalui WNI sesuai pekerja migran saat tiba di Indonesia.

Pertama, penelitian kesehatan tambahan di pintu ketibaan.

Kedua, WNI wajib mengisi health alert card atau kartu kesehatan yang disiapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Bagi dengan menunjukan gejala Covid-19 akan dikarantina, bagi yang tidak menunjukkan isyarat maka sangat dianjurkan bahwa itu tetap melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Ke-3, Para WNI diminta menggunakan permintaan #PeduliLindungi yang dapat digunakan buat memantau pergerakan-pergerakan.

Belakang adalah memperkuat dan memberdayakan pintu-pintu masuk agar pengecekan kesehatan & protokol kesehatan bisa dijalankan suntuk.

Butuh berhari-hari untuk kembali

Di balik perintah Jokowi tersebut tersimpan cerita pengalaman praktisi migran yang pulang ke Nusantara dan melalui sistem protokol kesehatan tubuh di pintu masuk Indonesia.

Ada juga cerita pekerja migran yang terpaksa bertahan sebab bekerja secara ilegal di pusat sulitnya mendapatkan makanan dan kenistaan uang simpanan di Malaysia.

Kepada BBC News Nusantara, Bunga (nama samaran) mengaku memerlukan waktu berhari-hari untuk dapat tiba di Jawa Timur.

Bunga bersama suaminya merasa ketakutan dengan kondisi di Malaysia saat ini sehingga ia dan suami memutuskan pulang ke Indonesia.

Malaysia telah melaporkan bertambah dari 2, 900 kasus membangun Covid-19 per Rabu (1/4), 45 di antaranya meninggal.

Dalam Minggu pagi, (29/03) Bunga dan suami menggunakan bus dari Ambang Lumpur menuju Johor Bahru berarakan. Di terminal bus, mereka melalaikan pengecekan suhu tubuh dan hasilnya aman.

Setiba dalam terminal Larkin, Johor Bahru, mereka kembali menggunakan bus menuju ke Pelabuhan Ferry Stulang.

Sepanjang perjalanan, terdapat tiga congkong keamanan polisi yang menghentikan bus yang ditumpangi. Polisi menanyakan bahan dan melihat kelengkapan dokumen.

“Saya bilang jujur suka pulang kampung, dan diberi jalan, ” katanya.

Sesampainya di Pelabuhan Stulang, ternyata kartu kapal ferry ludes terjual karena membeludaknya WNI yang berniat menyeberang ke Batam, Indonesia.

Dia pun memutuskan menginap semalam dalam rumah temannya. Keesokan harinya, itu kembali ke Stulang dan kondisinya tetap sama.

‘Hanya dicek suhu tubuh’

Hak atas memotret Mahfud Budiono
Image caption TKI di Malaysia mendapatkan bantuan dari ormas Indonesia di negara tersebut.

Mereka pun memutuskan mengambil tiket ferry dari calo dengan makna dua kali lipat. WNI yang lain bisa membeli dengan harga maka lima kali lipat.

Setelah mendapat tiket, mereka melihat keributan di antara WNI dengan mengantre dari malam hingga cepat hari.

“Antrean desak-desakan, dan didorong dari belakang serta petugas marah-marah. Sudah tidak ada itu namanya jaga jarak. Belakangan loket tiket pun ditutup.

“Mereka pulang itu bukan karena corona tapi takut sebab sudah tidak ada pemasukan namun pengeluaran otomatis terus. Dan lockdown diperpanjang terus, bagaimana mau bertahan? ” kata Bunga.

Lalu sekitar pukul tiga sore, Bunga dan suami naik ferry menuju Batam. Setibanya di Batam, itu hanya menjalani cek suhu tubuh. “Ada tempat steril (bilik disinfektan) tapi tidak disemprot, biasa sekadar hanya cek suhu, ” katanya.

Ia mencari kartu pesawat dari Batam ke Surabaya, namun kehabisan sehingga mereka terpaksa menginap di hotel semalam sebelum esoknya berangkat.

“Saya ke Bandara Hang Nadim Batam, biasa saja tidak begitu saksama, cuma dicek suhu tubuh. Segar di Surabaya saya di semprot di tempat steril. Kita meresap kamar kayak shower , berhenti lalu putar-putar, seluruh basah. ”

  • Adelina: TKI yang meninggal pada Malaysia membuat ‘marah bangsa’
  • TKI di Hong Kong: Angka penganiayaan fisik, seksual serta diskriminasi rasial ‘tinggi’

“Kemudian, kami langsung mengontrak mobil menuju kampung halaman yang membutuhkan waktu tempuh hingga lima jam. ”

“Sampai rumah saya isolasi 14 hari, tidak keluar rumah, kalau ketemu tetangga jarak lima meter. Sama anak begitu jauh, pokoknya tidak pegangan. Asal bisa memandang saja, ” katanya.

Dia pasrah jika ternyata tidak balik ke Malaysia. “Kalau tidak mampu kembali lagi ke Kuala Lumpur saya buka usaha saja di sini, sebab saya ada spesialisasi menjahit, tapi modal belum lulus, ” ujarnya.

Bunga adalah salah satu contoh praktisi migran yang bisa pulang ke Indonesia. Masih banyak pekerja migran Indonesia yang ingin kembali namun tidak bisa. Seperti yang dialami Yuliati, pekerja pabrik di Malaysia.

“Sampai sekarang paspor blacklist , jalan urus terkatung-katung padahal uang telah masuk, sudah satu tahun. Sedia pulang pun macam mana kita pun tidak tahu, ” katanya.

Sah atas foto Antara
Image caption Pengecekan suhu tubuh saja dianggap tidak cukup. Pemerintah didesak melakukan karantina.

Ia sudah tak bekerja hampir tiga bulan serta uang simpanan sudah habis serta hanya berharap bantuan dari klub.

Yuli telah memperoleh tiga kali sumbangan baik berupa beras, minyak goreng, telur & gula. “Tidak boleh keluar vila, tidak boleh kerja. Masa hidup dari sumbangan terus, ingin seluruhnya saya pulang, ” keluhnya.

Nasib yang sama pula dialami oleh Dewi dan Karsinem yang terpaksa bertahan di Malaysia karena tidak ada uang, kebulatan dokumen.

“Iya bakal pulang tapi belum ada uang. Katanya dari kedutaan juga mau bagi sembako tapi sampai saat ini belum sampai sini bantuanya, ” kata Dewi.

‘Protokol kesehatan masih lemah’

Juru Bicara Koalisi Lawan Corona, Nukila Evanty, mengatakan pengalaman Bunga menunjukkan pelaksanaan protokol kesehatan dengan kurang maksimal, terutama pada pintu masuk ke Indonesia.

Menurutnya, pemerintah hanya mengandalkan pemeriksaan suhu tubuh.

“Ini kita lagi darurat kesehatan jadi dibutuhkan langkah yang juga kasar di pintu-pintu masuk, jadi tak hanya cek suhu tubuh, apalagi dengan menganjurkan karantina diri yang tidak bisa diawasi karena dengan terpapar virus corona bisa terlihat sehat, tidak demam, ” katanya.

Ia meminta negeri mengambil langkah luar biasa secara menyediakan tempat-tempat di wilayah kedatangan bagi mereka untuk tinggal setidaknya 7-14 hari sebelum diizinkan kembali ke kampung halaman masing-masing.

“Orang yang sehat dengan masuk Indonesia juga harus dikarantina, sama seperti yang di Natuna dan Pulau Sebaru, di UNDANG-UNDANG sudah diatur harus ada karantina, di rumah sakit kah, klinik kah, area tempat 14 hari mereka menunggu masa inkubasi. Jangan karena itu, banyak penduduk Nusantara khususnya yang di desa-desa jadi terpapar, ” katanya.

Besarnya WNI yang pulang ke Indonesia disebabkan oleh kebijakan Malaysia dan Singapura yang memberlakukan pemisahan gerak dan larangan untuk menyala.

Sekitar 26. 000 WNI dari Malaysia dan Singapura pulang ke Indonesia sepanjang 18 Maret hingga 27 Maret 2020.

Secara total, patuh data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, sampai 30 Maret ada sekitar 33. 000 pekerja migran pulang ke Indonesia.

Sebagian besar pulang karena kebijaksanaan penutupan wilayah di negara wadah mereka tinggal.

Virus corona: Mengapa begitu banyak pelaku medis tertular Covid-19?

0

Hak atas foto Getty Images
Image caption Terdapat angka yang belum pasti tentang total kasus pekerja medis terpapar serta meninggal akibat virus corona di seluruh dunia.

Di seluruh dunia, para-para pekerja medis harus membayar mahal keterlibatan mereka dalam penanganan pandemi Covid-19.

Ribuan pekerja medis tertular virus corona. Jumlah mereka yang wafat akibat terjangkit virus itu pula bertambah setiap hari.

Walau menggunakan alat pelindung diri, dokter, perawat, dan pekerja medis lain terlihat lebih rentan serta juga berisiko mengalami sakit yang serius ketimbang orang biasa.

Pertanyaannya, kok mereka bisa begitu rentan?

Muatan virus dalam pembawaan

Para pakar mengecap jumlah virus yang dihadapi pekerja medis selama pandemi Covid-19 merupakan penyebab utama kerentanan mereka.

Saat masuk ke awak pasien, virus akan menginvasi organ dan melipatgandakan diri. Selama kaum hari setelahnya, jumlah virus tersebut akan terus bertambah.

Muatan virus atau viral load yang besar menyebabkan pasien mengalami penyakit yang lebih parah. Kondisi itu pula yang membuat seorang pasien lebih mudah menularkan virus kepada orang lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dokter dan perawat kerap menghadapi kondisi pasien yang membuat itu begitu rentan terpapar Covid-19.

“Semakin banyak virus di dalam tubuh hamba, semakin mungkin saya menularkannya pada Anda, ” kata Profesor Wendy Barclay dari Departemen Penyakit Menular di Imperial College London.

Dokter dan perawat sering berkontak erat dengan orang-orang yang terpapar dan membawa virus. Berarti, pekerja medis itu berhadapan dengan virus dalam jumlah besr.

Seorang pasien yang melakukan operasi di sebuah rumah rendah di Wuhan, China, menularkan virus ke 14 pekerja medis, makin sebelum dia mengalami demam.

Fakta tersebut dipublikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Sistem imun Anda, meski Anda seseorang yang sehat, bahan kesulitan menghadapi seluruh virus tersebut, ” kata Barclay dalam kalender BBC Newsnight .

“Jumlah virus yang Anda hadapi menentukan keseimbangan konflik antara sistem kekebalan tubuh Anda dan virus itu sendiri. ”

“Jika anda menginfeksi beberapa binatang dengan jumlah virus yang berbeda, misalnya, binatang yang terinfeksi lebih banyak virus merupakan binatang yang mengalami penyakit menyesatkan akut, ” ujar Barclay.

Bagaimana virus corona masuk ke tubuh Anda?

Hak atas foto Getty Images

Virus corona baru, yang nama resminya adalah Sars-CoV-2, bersarang di sistem pernapasan bani adam. Virus ini mudah keluar serta menginfeksi orang lain melalui napas atau batuk.

“Setiap kali kita bernapas atau berbicara, kita mengeluarkan droplet yang berasal dibanding hidung atau tenggorokan, yang berpindah melalui udara, ” kata Barclay.

Sejumlah percikan air liurjatuh ke tanah dan mengontaminasi permukaan tersebut. Inilah mengapa kita diminta untuk saling menjaga tenggang aman dan rajin mencuci lengah.

Belum jelas dengan medis berapa jumlah minimal bagian yang bisa membuat seseorang jeblok sakit.

“Setidaknya hanya butuh tiga partikel untuk menyusun seseorang terinfeksi influenza. Kita belum tahu berapa banyak partikel terpaut Sars-CoV-2, tapi bisa jadi jumlahnya sangat kecil, ” kata Barclay.

Risiko orang-orang di garis depan

Kita masih belum cakap persis seberapa buruk paparan dengan berulang terhadap virus corona sanggup mempengaruhi kesehatan para pekerja medis.

Namun merujuk petunjuk dari wabah SARS tahun 2002 dan 2003, WHO menyebut 21% kasus dalam pandemi itu dialami pekerja medis.

Corak serupa muncul di kalangan praktisi medis yang menangani pasien Covid-19.

Di Italia, lebih dari 6. 200 orang dengan terkonfirmasi positif Covid-19 adalah pekerja medis. Di Spanyol, persentasenya 12%.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di Spanyol, kasus Covid-19 di kalangan praktisi medis mencapai 12% dari keseluruhan kasus.

Pada awal Maret lalu, China memperkirakan sekitar 3. 300 pekerja medis mereka telah tertular virus corona.

Artinya, antara 4-12% kasus Covid-19 dialami dokter, perawat dan orang-orang di garis terdepan penanganan virus tersebut.

Seorang pejabat tinggi bidang kesehatan di pemerintah Inggris berceloteh kepada BBC bahwa lebih dari 50% karyawan rumah sakit tidak dapat bekerja lagi.

Dan jika sistem pengendalian infeksi tak lagi berjalan, rumah melempem barangkali akan menjadi pusat penyebaran virus corona.

Sebesar dokter berkata kepada BBC mengenai upaya mereka sesegera mungkin memulangkan pasien yang tak berkaitan secara Covid-19. Ini mereka sebut jadi upaya melindungi orang-orang yang belum terinfeksi.

Hak atas foto Reuters
Image caption Para pelaku medis di Zimbabwe berdemonstrasi & menuding pemerintah tak mampu menjamin perlindungan terhadap mereka.

Perlindungan yang lesu

Risiko paparan ini adalah alasan mengapa pekerja medis di beberapa negara marah atas rendahnya ketersediaan alat pelindung diri.

Di Prancis, para-para dokter menggugat pemerintah yang mereka tuding gagal meningkatkan produksi masker.

Di Zimbabwe, para-para dokter dan perawat turun ke jalan menggugat jumlah alat pelindung diri yang begitu rendah. Demonstrasi itu berlangsung saat Zimbabwe telah memulai periode karantina wilayah semasa tiga pekan untuk membendung penyaluran virus corona.

Pada Inggris, pimpinan organisasi pekerja medis, Neil Dickson, menyebut ketersediaan corong pelindung diri yang rendah menyusun kepercayaan diri perawat dan sinse anjlok.

Walau negeri Inggris menggerakkan tentara untuk menjatah masker kepada pekerja medis, Dickon yakin kebijakan itu membutuhkan masa untuk mengembalikan rasa percaya muncul dokter dan perawat.

“Masalah lainnya adalah bahwa pembuat alat pelindung diri ini lazimnya berada di China dan negara Asia lainnya. ”

“Khusus untuk China, ada tantangan nyata untuk memastikan bahwa suplai barang-barangi tu tersedia dalam kaum waktu ke depan, ” ujar Dickson.

Reportase dilakukan Deborah Cohen, juru bidang kesehatan BBC Newsnight.

Computer virus corona: Indonesia hentikan semua kunjungan dan transit warga negara asing

0

Hak atas foto Antara Foto/WAHYU PUTRO A
Image caption Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, mengatakan sepenuhnya kunjungan dan transit WNA ke Indonesia untuk sementara dihentikan.

Presiden Joko Widodo memutuskan untuk menghentikan sementara semua kunjungan dan transit warga negara asing (WNA) ke Philippines di tengah pandemi Covid-19.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan pengumuman tersebut melalui sambungan konferensi movie seusai rapat bersama Presiden Jokowi, Selasa (31/03). Menurutnya, presiden sudah memutuskan kebijakan yang ada selama ini perlu diperkuat.

“Telah diputuskan bahwa semua kunjungan dan transit warga negara asing ke wilayah Indonesia untuk sementara akan dihentikan, ” kata Retno.

Meski demikian, lanjut Retno, ada pengecualian dari kebijakan tersebut.

WNA yang memiliki Kartu Izin Tinggal Tetap (Kitap), Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas), izin tinggal diplomatik, dan izin tinggal dinas tetap diperbolehkan masuk ke Philippines dengan tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan yang tepat dan berlaku.

Retno mengatakan, kebijakan baru ini akan diundangkan di dalam Peraturan Menteri Hukum dan PORK (Permenkumham).

“Detil kebijakan ini akan kami sampaikan dalam kesempatan yang terpisah dan kebijakan baru ini akan dituangkan di dalam Permenkumham yang baru, ” ujarnya.

Presiden Jokowi sebelumnya meminta arus masuknya WNA ke Indonesia dievaluasi.

“Mengenai perlintasan WNA saya minta kebijakan yang mengatur perlintasan WNA ke indonesia dievaluasi secara reguler, sebagaiselaku, ala, menurut, berkala, untuk antisipasi pergerakan Covid-19 dari berbagai negara yang wujud di dunia, ” ujar Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas melalui sambungan konferensi video, Selasa (31/03).

Hak atas foto Antara Foto/FIKRI YUSUF
Picture caption Suasana Terminal Kedatangan Internasional di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat (20/03). Sebanyak 181. 053 orang penumpang rute internasional tercatat tiba di bandara tersebut pada periode 1-19 Maret 2020, menurun drastis jika dibandingkan catatan periode yang sama dalam 2019 yaitu sebesar 302. 914 orang penumpang.

Pada 17 Maret selanjutnya, pemerintah Indonesia hanya membatasi kunjungan atau transit WNA dengan sejarah perjalanan dari setidaknya delapan negara yang terdampak pandemi virus corona.

Negara-negara yang ditambahkan ke dalam daftar itu termasuk Iran, Italia, Vatikan, Spanyol, Prancis, Jerman, Swiss dan Inggris. Kebijakan tersebut mulai berlaku 20 Maret. Sebelumnya, Indonesia telah melarang pengunjung dari China dan dua wilayah di Korea Selatan (Daegu lalu provinsi Gyeongsangbuk)untuk masuk ke dan transit di Indonesia.

Kala itu, pemerintah juga menghentikan sementara beberapa jenis izin tinggal atau visa.

“Terkait pendatang asing di semua negara, pemerintah Indonesia memutuskan bahwa kebijakan bebas visa kunjungan, visa kunjungan saat kedatangan atau VoA, lalu bebas visa diplomatik dan dinas, ditangguhkan selama satu bulan, inch kata Retno dalam konferensi pers daring Selasa (17/3).

“Oleh karena itu setiap jamaah asing yang akan berkunjung ke Indonesia diharuskan memiliki visa dri perwakilan RI sesuai dengan maksud dan tujuan kunjungan. Pada saat pengajuan visa harus melampirkan surat keterangan sehat yg dikeluarkan dengan otoritas yang berwenang. ”

Berita ini telah diperbarui pada Selasa ( 31 or 0 3) untuk menambahkan kebijakan baru pemerintah Indonesia terkait kunjungan WNA.

Virus corona: Bagaimana kesiapan kamp-kamp pelarian menghadapi wabah Covid-19?

0

Setiap dua detik, seseorang di manapun ia berharta di dunia, secara paksa dipindahkan, menurut PBB. Populasi pengungsi, dengan jumlahnya terus meningkat, sangat rentan terhadap penyebaran penyakit.

Padatnya penghuni & kondisi kamp yang kotor menjadikan saran kesehatan yang bertujuan mengakhiri penyebaran virus corona – melindungi jarak aman dan sering membersihkan tangan – tidak praktis untuk para pengungsi.

Kewaswasan terus meningkat bahwa ketika virus itu mencapai kamp-kamp yang tersebar di dunia, bencana besar akan timbul.

“Virus itu belum menular di sini. Jika menyebar di kamp-kamp, saya pikir 80 persen akan (tertular), karena sangat ramai, ” introduksi seorang pengungsi kepada BBC.

Potensi bencana

Chekufa tinggal bersama suaminya, perut anak perempuan, dan saudara perempuannya di sebuah tenda kecil berukuran sekitar tiga meter kali 4 meter di “Kamp Kutupalong” di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Untuk menghindari aksi represif dengan masif di Myanmar, lebih sejak 700. 000 orang Rohingya berduyun-duyun ke negara tetangga Bangladesh di 2017 lalu. Mereka memberanikan muncul menghadapi hewan liar dan sungai-sungai yang meluap demi kelangsungan hidup.

Tiga tahun lalu, krisis lain muncul dan mereka tidak punya tempat tujuan lain.

“Kami memiliki mulia jamban dan satu kamar mandi untuk 10 keluarga, dan mulia sumur untuk 50 rumah. Dengan jalan apa kami dapat terhindar dari virus dalam situasi ini? ” dia berkata.

Penutupan

Persiapan sedang dikerjakan untuk menjaga agar sedapat barangkali virus tidak masuk.

“Dalam beberapa hari terakhir, kamp telah menjadi sunyi. Pasar, sekolah-sekolah agama dan pusat-pusat pembelajaran segenap tutup, ” kata Chekufa.

“Beberapa orang membeli kedok bedah. Saya juga mendengar tentang beberapa LSM yang memberikan sabun kepada orang-orang dan mengajari mereka cara mencuci tangan dengan betul. ”

PBB memperkirakan lebih dari 6, 6 juta orang tinggal di berbagai penjara di seluruh dunia. Mereka ialah sebagian besar dari populasi pengungsi global, yang diperkirakan mencapai sekitar 26 juta.

Sekitar dua juta orang menetap pada kamp-kamp buatan sendiri yang lazimnya dibuat dari bahan-bahan lokal dengan sangat mendasar.

Bangladesh adalah salah satu negara berpenduduk terpadat di dunia dan makin sebelum pandemi itu, tengah merasai kesulitan memenuhi kebutuhan logistik untuk menampung begitu banyak pengungsi.

Negara itu sekitar ini sudah mencatat lima karakter yang meninggal dunia akibat pandemi virus corona dan Chekufa mau melihat lebih banyak staf medis dikerahkan di kamp-kamp untuk menetapkan para pengungsi.

Awak pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan saat ini tidak ada kasus yang dicurigai sebagai Covid-19 di kamp-kamp pengungsi yang didirikan di Bangladesh.

UNHCR telah menciptakan fasilitas isolasi yang dapat menampung 400 pasien dan saat ini tengah mencari tanah untuk membikin 1. 000 kasur tambahan.

Namun, Kutupalong adalah barak pengungsi terbesar dan terpadat di dunia.

Kekurangan wadah tidur

Rumah sakit dalam distrik Cox’s Bazar memiliki daya yang sangat terbatas untuk memulihkan kondisi medis seperti Covid-19, serta sangat tidak memadai untuk bertemu wabah besar.

“Saat ini ada Unit Perawatan Intensif di Rumah Sakit Sadar dalam Cox’s Bazar yang sedang awak bantu untuk meningkatkan kapasitasnya menjelma 10 tempat tidur, beserta upaya lebih lanjut yang sedang berlaku di fasilitas kesehatan setempat lainnya, ” kata Louise Donovan, tukang bicara UNHCR yang berbasis pada Cox’s Bazar.

UNHCR mendesak petugas kesehatan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran tentang jalan membatasi penyebaran virus corona, tetapi langkah-langkah ini kemungkinan hanya bakal dapat memperlambat penularan virus.

Kamp yang lebih tertib

Sekitar 7. 000 km dibanding Bangladesh, di Bosnia, beberapa pengungsi tampaknya merasa jauh lebih aman tentang kemampuan mereka untuk menyalahi apa yang akan terjadi.

Rozhan (28), kabur sebab Irak bersama suami dan tiga anaknya dan telah tinggal pada kamp pengungsi Bihac selama enam bulan terakhir.

Rumpun itu sedang berusaha untuk mencapai Finlandia, tempat saudara perempuan Rozhan dan beberapa temannya tinggal.

“Kami melarikan diri daripada rumah untuk menyelamatkan hidup awak, melarikan diri dari perang, serta sekarang kami dihadapkan dengan virus corona, ” kata Rozhan pada BBC.

Dia mengucapkan orang-orang berbicara tentang virus itu, dan mereka khawatir, tetapi tak terlalu pada saat ini. Dia senang dan mendapatkan informasi dengan dia butuhkan.

“Hidup berubah lagi”

Pengungsi lain yang melarikan diri sejak perang adalah Sima yang berumur 19 tahun. Dia di sini bersama seluruh keluarganya yang berisi dari enam orang. Keluarganya zaman tinggal di dekat perbatasan bergolak Pakistan dengan Afghanistan.

“Kami adalah Pashto dan era itu kehidupan ayah saya dalam bahaya. Keluarga saya memutuskan buat pergi dan pindah ke Prancis – kami telah dalam penjelajahan selama tiga tahun terakhir. ”

Keluarganya dalam kejadian karantina diri dan ia mengucapkan mereka memiliki makanan dan logistik pelindung yang cukup. Keluarga tersebut berusaha keras untuk tetap tenang.

“Saya pertama kali mengetahui tentang virus corona sekitar 20 hari yang lalu, serta kehidupan kita sekarang telah berganti lagi – kita perlu beradaptasi dengan keadaan baru ini. ”

Rute darat melalaikan Iran

Banyak pengungsi dari Afghanistan dan Pakistan mengambil rute darat melalui Iran – yang telah sangat terpukul oleh wabah virus corona – untuk mencapai Eropa.

“Jelas ada risiko di antara warga migran, karena mereka transit melalaikan sejumlah negara, yang banyak di antaranya memiliki kasus virus corona, ” kata Peter Van der Auweraert, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Perwakilan Bosnia dan Herzegovina.

Bihac menjadi rumah bagi 7. 500 migran, antara lain 5. 200 berada di pusat-pusat resmi di mana penapisan medis telah ditingkatkan, dan zona isolasi sedang dibuat untuk menangani kasus-kasus virus corona.

Mereka yang tinggal di luar barak ini tidak memiliki perlindungan.

Risiko lebih tinggi di luar kamp

“Risiko terbesar adalah bagi para migran yang tinggal di luar pusat-pusat resmi, baik di akomodasi pribadi atau bangunan yang ditinggalkan. Klan ini tidak dicek dan kanal mereka untuk perawatan medis hampir tidak ada, ” kata Auweraert.

IOM mengatakan jika ada kasus virus corona diantara mereka, hal itu bisa tetap tidak terdeteksi dan karenanya akan menimbulkan risiko bagi migran dengan tinggal bersama mereka dan penduduk setempat.

Penduduk setempat memiliki akses ke perawatan medis yang tidak tersedia bagi mereka yang tinggal di akomodasi rileks. IOM sedang berupaya membangun wahana medis sebanyak mungkin.

Tidak meninggalkan siapa pun

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan sedang bergerak dengan berbagai pemerintah dan badan-badan PBB untuk memberikan bantuan pada orang-orang yang rentan.

Badan PBB itu mengatakan sejauh ini belum menerima informasi mengenai epidemi virus corona di kamp-kamp pengungsi.

Tetapi, bila dan ketika Covid-19 tiba, masing-masing negara sebagian besar harus menanggulangi kondisi itu sendiri.

“Kami mengharapkan setiap negara mengelola para pengungsi dan migran dalam perbatasan mereka dan mereka seharusnya tidak meninggalkan siapa pun, ” kata seorang juru bicara WHO kepada BBC.

Tetapi, negara-negara yang menampung pengungsi paling banyak, sering memiliki sumber gaya paling sedikit untuk membantu itu.

Virus corona: Seberapa besar kemungkinan anak-anak terkena Covid-19?

0

Salah satu pesan yang sering disampaikan di tengah wabah virus corona adalah: semakin lanjut usia, semakin besar risiko terinfeksi, kata Rachel Schraer, kata wartawan kesehatan BBC.

Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan anak-anak muda agar tidak merasa menjadi “orang yang tidak akan terkena oleh virus corona atau kalaupun terkena akan baik-baik saja”.

Dr Rosena Allin-Khan, anggota parlemen Inggris yang juga seorang dokter di unit gawat darurat, berkata kepada BBC bahwa penyakit ini “tidak terbatas pada orang tua dan mereka yang sudah punya penyakit sebelumnya”.

Ia menyampaikan pernyataan ini hanya beberapa hari sebelum berita tentang pasien muda yang meninggal dunia karena virus corona di Inggris.

Kematian ini diduga merupakan korban termuda akibat virus corona di Inggris Raya sejauh ini.

Dr Allin-Khan mengatakan ia telah merawat pasien berumur antara 30 hingga 40 tahun yang sebelumnya “bugar dan sehat” dan kini mereka berada di unit perawatan intensif, “berjuang untuk bertahan hidup”.

Apa risikonya pada berbagai usia?

Sejauh ini secara keseluruhan, orang yang lebih tua memang memiliki risiko lebih besar.

Perkiraan terakhir dari Imperial College London, tingkat kematian hampir 10 kali lipat bagi orang berusia 80 tahun ke atas dan lebih rendah bagi yang berumur di bawah 40.

Dan bagi orang tua, ketika mereka dirawat di rumah sakit, lebih besar kemungkinan mereka membutuhkan unit perawatan intensif.

Kurang dari 5% dari usia di bawah 50 tahun perlu dirawat di rumah sakit karena gejala penyakit ini, tetapi angka ini meningkat hingga 24% bagi yang berusia antara 70-79 tahun.

Serupa dengan itu hanya 5% orang di bawah 40 tahun yang harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan penanganan di ruang intensif, sementara untuk orang berumur 60-an, kemungkinan itu 27%, dan angkanya menjadi 43% bagi orang berumur 70-an.

Bagi orang berumur 80 tahun ke atas, kebutuhan untuk menjalani perawatan di rumah sakit meningkat hingga 71% menurut perkiraan kasus-kasus di China dan Italia, dua negara dengan kasus terburuk di dunia saat ini.

Rata-rata usia orang yang harus adalah 63 tahun, menurut audit yang dikerjakan oleh satu lembaga swadaya masyarakat.

Virus tak sama dengan rumus matematika

Angka-angka ini adalah rata-rata, maka di dalamnya tetap ada orang-orang lebih muda yang, sayangnya, menderita parah, dan dalam beberapa kasus harus berakhir dengan kematian.

Di Italia, 0,4% kasus yang menimpa orang usia 40-an, berakhir dengan kematian.

Bandingkan dengan 19,7% pada pasien berusia 80-an.

Sementara itu, di AS, diperkirakan 0,7% kasus yang menimpa orang berusia 40-an berakhir dengan kematian.

Direktur lembaga yang mengkaji alergi dan penyakit menular di AS, Anthony Fauci, mengatakan jumlah keseluruhan kematian “sangat condong ke orang tua dan mereka yang punya penyakit bawaan”.

Namun ia menambahkan bahwa virus bukanlah “rumus matematika”.

“Ada saja kasus orang muda yang juga mengalami gejala sakit parah,” kata Fauci.

WHO mengatakan “sekalipun bukti memperlihatkan orang berumur di atas 60 tahun berada dalam risiko tinggi, ada juga orang muda dan anak-anak juga meninggal dunia”.

Ini menjadi “bukti klinis bahwa anak-anak juga bisa terpapar Covid-19 secara, namun secara umum kondisi mereka tidak separah pasien dewasa”.

Namun tetap saja, anak-anak, terutama bayi, rentan untuk terinfeksi.

Penyakit bawaan

Penyakit bawaan juga memainkan peran.

Misalnya, ada sekitar 4,3 juta orang dewasa di Inggris Raya yang mengidap asma, yang membuat mereka menjadi lebih rentan untuk sakit parah jika terinfeksi virus corona, dan ini menimpa orang segala usia.

Tahun 2013, terakhir kali Kantor Statistik Nasional Inggris menyelenggarakan survei gaya hidup, 21% dari orang berusia 25-44 tahun dilaporkan memiliki penyakit jangka panjang.

Beberapa mungkin punya penyakit bawaan yang mereka tidak sadari.

Hentikan penyebaran

Sementara orang muda lebih kecil kemungkinan sakit parah karena virus ini, tetapi mereka dengan mudah bisa menyebarkan virus ke orang lain.

Mereka bisa jadi tidak punya gejala, atau ringan saja dan tak sadar bahwa mereka sudah terinfeksi.

Dan virus corona lebih mudah tersebar ketimbang virus flu. Setiap orang yang terinfeksi seara rata-rata menyebarkannya kepada dua atau tiga orang, menurut perkiraan para ahli.

Lalu dua hingga tiga orang ini kemudian menyebarkannya kepada dua atau tiga orang lagi, dan begitu seterusnya. Ini berarti sejumlah kecil saja yang terinfeksi, dengan cepat bisa berubah menjadi ratusan atau ribuan.

Maka itulah perlunya jaga jarak untuk memutus rantai penyebaran.

Virus corona: Mengapa ada negara yang warganya mengenakan masker dan ada yang tidak?

0

Ketika Anda bepergian keluar rumah tanpa mengenakan masker di Hong Kong, Seoul atau Tokyo, maka Anda akan mendapat tatapan heran.

Sejak awal mula wabah virus corona, warga di beberapa negara telah sepenuhnya mengenakan masker, dan siapa pun yang kedapatan tidak mengenakannya berisiko menjadi paria sosial.

Akan tetapi, di belahan dunia lain, dari Inggris dan Amerika Serikat hingga Australia dan Singapura, bepergian dengan wajah telanjang masih bisa ditolerir.

Mengapa warga beberapa negara mengenakan masker sementara yang lain menghindarinya? Hal ini bukan hanya berkaitan dengan arahan pemerintah dan saran medis – namun juga tentang budaya dan sejarah.

Namun, saat pandemi ini memburuk apakah hal itu akan berubah?

Kata pemerintah tentang masker

Sejak wabah virus corona bermula, arahan resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah sangat jelas. Hanya ada dua jenis orang yang harus mengenakan masker: mereka yang sakit dan menunjukkan gejala Covid-19, dan mereka yang merawat orang yang terduga terinfeksi virus corona.

Lainnya tidak perlu mengenakan masker, dan ada beberapa alasan mengenai hal itu.

Salah satuya adalah bahwa masker itu dipandang bukan sebagai perlindungan yang bisa diandalkan, mengingat penelitian saat ini menunjukkan virus menyebar melalui tetesan ludah dan kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.

Jadi, masker bisa melindungi Anda, namun hanya dalam situasi tertentu seperti ketika Anda berada dalam jarak dekat dengan orang lain di lokasi di mana seseorang yang terinfeksi kemungkinan bersin atau batuk di dekat wajah Anda.

Ini sebabnya para ahli mengatakan sering mencuci tangan dengan sabun dan air jauh lebih efektif.

Tanpa masker, membutuhkan perhatian khusus untuk menghindari kontaminasi tangan dan itu bisa menimbulkan rasa aman yang keliru.

Namun di beberapa bagian Asia setiap orang sekarang memakai masker dalam kehidupan sehar-hari – ini dipandang lebih aman.

Di China daratan, Hong Kong, Jepang, Thailan dan Taiwan, asumsi luas yang diterima masyrakat bahwa siapa saja bisa menjadi pembawa virus, bahkan orang yang sehat.

Jadi, dalam semangat solidaritas, Anda perlu melindungi orang lain dari diri Anda sendiri.

Beberapa pemerintah mendesak semua warganya untuk mengenakan masker, dan di beberapa bagian di China, Anda bahkan bisa ditahan dan dihukum karena tidak mengenakan masker.

Hak atas foto DominoQQ

Sementara di Indonesia dan Filipina, yang dicurigai memiliki banyak kasus yang tidak dilaporkan, sebagian besar orang-orang di kota besar mulai mengenakan masker untuk melindungi diri dari orang lain.

Bagi negara-negara ini, mengenakan masker adalah norma budaya bahkan sebelum virus corona. Masker telah menjadi bagian dari fesyen – pada suatu masa masker bergambar tokoh kartun Hello Kitty banyak ditemui di pasar jalanan Hong Kong.

Di Asia Timur, banyak orang terbiasa mengenakan masker ketika mereka sakit atau ketika musim demam, karena dianggap tidak sopan jika bersin atau batuk secara terbuka.

Wabah virus SARS pada 2003, yang mempengaruhi beberapa negara di kawasan itu, juga mendorong pentingnya menggunakan masker, terutama di Hong Kong, di mana banyak orang meninggal akibat virus ini.

Jadi, satu perbedaan utama antara masyarakat di Asia dan Barat adalah bahwa mereka telah mengalami penularan sebelumnya – dan ingatannya tentang penyakit menular itu masih segar dan menyakitkan.

Sementara di Asia Tenggara, terutama di kota-kota berpenduduk padat, banyak yang memakai topeng di jalanan hanya karena polusi.

Akan tetapi kebiasaan itu belum menyebar sepenuhnya di seluruh Asia – di Singapura, pemerintah telah mendesak masyarakat untuk tidak mengenakan masker guna memastikan pasokan yang memadai bagi petugas kesehatan dan orang-orang yang memang sangat membutuhkannya.

Ada kepercayaan publik yang substansial pada pemerintah, sehingga orang cenderung mendengar arahan tersebut.

Masker sebagai dorongan sosial

Beberapa orang berpendapat bahwa mengenakan masker di mana-mana, sebagai pengingat akan bahaya virus ini, bisa bertindak sebagai “dorongan perilaku” bagi Anda dan orang lain untuk menjaga kebersihan pribadi lebih baik.

“Mengenakan masker setiap hari sebelum Anda pergi adalah seperti ritual, seperti mengenakan seragam dan dalam ritual Anda, Anda merasa harus hidup sesuai dengan apa yang diseragamkan oleh norma sosial yang dianggap perilaku yang higienis, seperti tidak menyentuh wajah Anda atau menghindari keramaian dan menjaga jarak sosial,” ujar Doald Low, seorang ekonom perilaku dan profesor di Hong Kong University of Science and Technology.

Lantas, ada gagasan bahwa setiap hal kecil diperlukan dalam pertempuran melawan virus.

“Kami tidak dapat mengatakan apakah masker tidak efektif, akan tetapi kami menganggap masker memiliki efek karena perlindungan yang diberikannya kepada petugas kesehatan,” ujar Benjamin Cowling, seorang ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong.

“Jika masker wajah digunakan pada banyak orang di daerah ramai, saya pikir itu akan memiliki efek pada transmisi publik, dan saat ini kami sedang mencari setiap langkah kecil yang kami bisa untuk mengurangi transmisi – itu bertambah.”

Tapi tentu saja ada kelemahannya. Beberapa tempat seperti Jepang, Indonesia dan Thailand menghadapi kekurangan pasokan saat ini, dan Korea Selatan harus membagikan masker.

Ada ketakutan bahwa orang akhirnya akan menggunakan kembali masker – yang tidak higienis – menggunakan masker yang dijual di pasar gelap, atau memakai masker buatan sendiri, yang bisa memiliki kualitas lebih rendah dan pada dasarnya tidak berguna.

Orang-orang yang tidak mengenakan masker di tempat-tempat ini juga mengalami stigma, sampai-sampai mereka dijauhi dan dihalangi ketika masuk ke toko-toko dan gedung-gedung.

Di Hong Kong, beberapa tabloid menunjukkan gambar pada sampul mereka tentang orang Barat yang tidak mengenakan masker dan berkumpul dalam kelompok di distrik kehidupan malam, dan mengkritik ekspatriat dan turis karena tidak mengambil tindakan pencegahan yang cukup.

Tetapi diskriminasi itu berlaku dua arah.

Di negara di mana mengenakan masker bukan bagian dari norma, seperti di dunia Barat, mereka yang menggunakan masker akan dihindari, atau bahkan diserang. Apalagi, kebanyakan penggunanya adalah orang Asia.

Tetapi masyarakat yang melakukan advokasi setiap orang yang memakai masker mungkin ada benarnya, para ahli kini mempertanyakan saran resmi WHO.

Kasus-kasus tak terlacak

Pertama, ada beberapa bukti yang muncul bahwa ada lebih banyak “pembawa virus yang tak terlacak”, atau orang sehat dengan virus yang menunjukkan sedikit atau tanpa gejala, daripada yang diperkirakan para ahli.

Di China, diperkirakan sepertiga dari semua kasus positif tidak menunjukkan gejala, menurut data pemerintah China yang dilaporkan oleh South China Morning Post.

Di kapal pesiar Diamond Princess yang merapat di Yokohama, sekitar setengah dari lebih dari 600 kasus yang positif ditemukan pada mereka yang tidak menunjukkan gejala.

Kasus asimtomatik serupa juga dilaporkan di Islandia, yang mengklaim negara itu menguji warganya dengan proporsi yang lebih banyak daripada negara mana pun.

Keyakinan yang berlaku adalah bahwa karena orang-orang ini tidak menunjukkan gejala, mereka tidak terlalu menular.

Tetapi beberapa orang mempertanyakan ini sekarang. Mungkin jika semua orang memakai masker maka orang yang diam-diam membawa virus itu tidak akan berubah menjadi penyebar?

Sebuah studi kasus yang baru-baru ini diterbitkan di China menemukan bahwa “kasus infeksi yang tidak terlaporkan”, atau yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sangat menular dan dapat menyebabkan hampir 80% kasus virus positif.

Ini hanya satu studi, dan penelitian masa depan tidak diragukan lagi akan menambah nuansa pada keseluruhan gambaran.

Masker wajah mungkin merupakan produk dari sejarah baru-baru ini, pengalaman dengan penularan dan norma budaya.

Tetapi ketika skala pandemi ini meningkat, bersama dengan bukti dan penelitian, perilaku kita mungkin akan berubah.

Laporan tambahan oleh Helier Cheung.

Virus corona: Pemda batasi gelombang mudik antar kota di Jawa untuk menekan penyebaran Covid-19

0

Sejumlah daerah mulai membatasi akses keluar masuk pendatang sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona yang mendekati angka 900 kasus per Jumat (27/03).

Kepala daerah yang telah mengambil langkah termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang meminta warganya untuk tidak pulang kampung, sementara Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengakui pemudik menjadi masalah.

Di antara mereka yang kembali ke kampung halaman termasuk penjual makanan di ibu kota Jakarta, Juli Winarno.

Juli kembali mudik ke kampungnya, Desa Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah setelah selama dua pekan dagangan mi ayam di Jakarta sepi akibat kebijakan bekerja dari rumah.

Menurutnya, hidup di kampung lebih hemat dari pada tetap di Jakarta. Sementara waktu ia akan bertani sambil menunggu pandemi virus corona mereda.

“Kalau di Jakarta terus kan, pengeluaran gede, kalau di kampung bisa diminimalisir,” katanya kepada BBC News Indonesia, Kamis (26/03).

Sebagai pendatang dari Jakarta, kota dengan tingkat kasus paling tinggi di Indonesia, Juli mengatakan mengetahui bahwa ia bakal diperiksa otoritas kesehatan di kampungya sebelum berbaur dengan masyarakat.

“Kita diminta cek kesehatan dulu ke puskesmas dari pihak perangkat desa,” katanya.

Sementara itu, penjual bubur ayam di Jakarta, Hari Cahyono juga mudik ke Pekalongan, Jawa Tengah. Ia pun mudik karena dagangannya sepi.

Namun, belum ada informasi dari kampungnya terkait dengan pemeriksaan kesehatan para perantauan yang kembali ke kampung halaman.

Nggak diperiksa. Kemarin belum ada,” katanya.

Juli dan Hari Cahyono, merupakan dua dari ribuan warga Jawa Tengah yang pulang dari Jakarta, kepulangan yang dikhawatirkan akan mengancam penyebaran virus di kampung mereka.

Diminta bertahan di perantauan

Menanggapi perkembangan terbaru ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengambil langkah memeriksa warganya yang berdatangan dari luar wilayah, termasuk di pintu kedatangan terminal bus.

“Itu setiap bus yang datang dicatat oleh pemkab, oleh dinas perhubungan, dibantu TNI/Polri, termasuk Satpol PP. Nah, dinkesnya langsung periksa di sana,” ujarnya.

Para perantau di Jawa Tengah diwaspadai lantaran salah satu kasus pasien positif corona yang meninggal di Solo, berasal dari Bogor, Jawa Barat.

“Artinya ini sudah ada contoh kecil yang bisa kita sampaikan. Tapi yang sekarang ini, dalam konteks jumlah massa yang banyak ini, kami belum mencatatnya,” kata Ganjar.

Ganjar meminta warga Jawa Tengah di perantauan untuk sementara waktu ini tak mudik ke kampung halaman.

“Karena ada yang perlu dijaga, ya dirinya sendiri, termasuk keluarga di kampung,” katanya.

Secara nasional, wabah virus corona di Indonesia pekan ini meningkat secara signifikan, dengan lebih dari 100 orang per hari.

Jumlah kasus sampai Kamis (26/03), lebih dari 890 dan yang meninggal 78 orang.

Di Jawa Tengah, sampai Rabu (25/03), jumlah pasien positif Covid-19 mencapai 38 orang, empat di antaranya meninggal.

Sementara orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 2.858 orang dengan pasien dalam pengawasan (PDP) 257 orang.

Ganjar mengatakan akan berkomunikasi dengan Pemprov DKI Jakarta, termasuk Jawa Barat untuk memantau mobilisasi pemudik.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil meyakini ODP di wilayahnya meningkat karena banyaknya orang yang mudik.

“Banyak orang mudik yang jadi problem hari ini, ODP melonjak, karena orang-orang yang harusnya tinggal di Jakarta, mempergunakan tidak kerja ini, malah, pulang ke daerahnya, seperti mudik,” katanya.

ODP di Sumedang melonjak karena pemudik dari Jakarta

Salah seorang dari pemudik adalah Anissa Fitriani yang bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan finansial di Bandung.

Namun, sejak diberlakukan kerja di rumah akibat wabah Corona, Anissa memutuskan pulang ke rumahnya di Kabupaten Sumedang. Keputusannya itu juga dilatari ketakutan tertular Covid 19 seiring ditetapkannya Kota Bandung sebagai zona merah wabah Corona.

“Soalnya kalau diam di sana (Bandung) keluar rumah sedikit aja takutnya positif (Corona). Terus, banyak juga orang yang mempengaruhi pikiran. Di sana itu kan ramai, nggak kayak di Sumedang”.

“Kalau di Sumedang udaranya dingin, segar, beda sama di sana. Jadi mungkin banyak terjangkit Corona, jadi milih pulang deh,” kata perempuan berusia 20 tahun itu kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Menurut Anissa, tidak ada larangan untuk mudik ke Sumedang.

Hanya saja, dia harus menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan sebelum pulang.

“Diperiksa kesehatan dulu sebelum pulang. Suhu badan, positif negatifnya diperiksa dulu di kantor. Takutnya bawa virus juga ke rumah, nggak enak. Di Sumedang juga kan takutnya gimana-gimana kalau pulang kampung, jadi di sana (Bandung) dicek dulu,” ujar Anissa.

Sesampainya di Sumedang, Anissa didata oleh aparat setempat dan dimasukkan ke dalam daftar ODP. Anissa disarankan untuk mengisolasi diri. Dinas Kesehatan setempat juga memantau kondisi kesehatannya.

“Akan dicek di sini nanti, soalnya baru datang dari Kota Bandung. Bandung kan masuk zona merah, terus pulang pergi Bandungnya sering, jadi mengisolasi diri, harus diam di rumah,” ungkapnya.

Anissa menjadi satu dari 1702 warga Sumedang yang masuk kategori ODP lantaran datang dari wilayah zona merah Covid 19, seperti Kota Bandung dan Jabodetabek.

Mereka mudik ke kampungnya setelah pemerintah menginstruksikan kerja di rumah dan diam di rumah.

Warga perantau asal Sumedang menyikapi instruksi itu sebagai momen pulang kampung.

Padahal semestinya tetap tinggal di wilayah mereka berada. Akibatnya, jumlah ODP di Sumedang melonjak dari 2 orang menjadi 1.702 orang, per 26 Maret 2020.

Hak atas foto Poker Online

“Kenapa ada lonjakan ODP karena banyak warga Sumedang yang bekerja di luar Sumedang, terutama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, mudik,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dadang Sulaeman saat dihubungi via telepon, Kamis (26/03).

Umumnya, kata Dadang, perantau asal Sumedang bekerja di sektor informal, seperti berdagang dan tukang kayu.

Menghadapi lonjakan pemudik dari zona merah Corona, Dadang mengatakan, pihaknya melakukan sejumlah langkah pemantauan yang dilakukan tim dari kecamatan, mulai dari camat, kapolsek, hingga danramil.

“Pemantauan supaya mereka itu membatasi aktivitasnya,” kata Dadang.

Lebih jauh, Dadang menjelaskan, pihaknya memilah kategori ODP, yakni ODP yang pulang dari zona merah Covid 19 yang tidak mengalami gejala dan ODP yang menunjukkan gejala demam, batuk, dan sesak napas.

“Kalau ODP dengan gejala dilakukan observasi oleh petugas kesehatan,” ujar Dadang.

ODP dengan gejala saat ini berjumlah 157 orang. Sedangkan kasus positif Covid 19 berjumlah 1 orang.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya akan melakukan langkah preventif menyikapi lonjakan angka ODP ini.

“Jadi orang yang seharusnya tinggal di Jakarta mempergunakan waktu tidak kerja ini, malah pulang ke daerahnya seperti mudik. Nah, ini jadi kendala besar sehingga kita akan lakukan sebuah tindakan yang lebih preventif,” ujar Emil, sapaan Ridwan Kamil, saat jumpa pers di Gedung Pakuan, Kamis (26/03).

Emil belum menjelaskan apa langkah preventif yang akan dilakukan, namun sebelumnya, mantan Wali Kota Bandung ini sempat mengeluarkan larangan mudik.

“Jangan mudik, tetap tinggal di wilayah masing-masing untuk menjaga sebaran (virus corona) yang tidak terlalu besar, sampai situasi kondusif,” kata Emil.

Siskamling diaktifkan awasi pemudik

Dari Solo, Kepala Dinas Kesehatan setempat, Siti Wahyuningsih mengaku mendapat laporan adanya pemudik yang nyaris ditolak pulang kampung.

“Kemarin ada laporan dari lurah adanya pemudik yang pulang. Terus, saya bilang enggak apa-apa wong mau pulang ke rumahnya sendiri masak nggak boleh. Terus abis itu, saya mohon untuk isolasi diri,” kata Siti kepada wartawan Fajar Sodiq yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Siti menambahkan bagi perangkat desa yang mendapatkan pemudik dengan gejala Covid-19 untuk segera melapor.

“Kalau ada yang seperti itu nanti dilaporkan kepada kita. Begitu datang timbul gejala isolasi dua minggu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani mengatakan akan mengaktifkan linmas serta siskampling (sistem keamanan lingkungan) di kampung-kampung untuk memantau para pemudik yang datang.

“Bukannya menolak, tapi sifatnya hati-hati, kamu siapa, dari mana, pergi dari mana. Tetap harus di-tracing,” jelasnya.

Lantas, ia pun mencontohkan kejadian di Purwodiningratan adanya pemudik yang mengalami gejala seperti para ODP virus corona.

Selanjutnya pemudik yang pulang dari luar negeri itu akhirnya meninggal dunia.

“Meskipun dia itu belum masuk di rumah sakit ternyata gejalanya juga karena gejala ODP,” ungkapnya.

Ia pun tidak menginginkan hal tersebut tidak terjadi lagi di Solo. Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan pemantauan kepada para pemudik.

“Kita kan nggak bisa menolak mereka datang, kalau ternyata terpapar nantinya yang punya kontak dekat yang berpotensi menambah jumlah. Itu yang kita khawatirkan,” tegasnya

Tutup bandara dan pelabuhan

Data terbaru, pasien positif Covid-19 di Papua berjumlah 3 orang. Sementara, PDP mencapai 33 orang tersebar di enam kabupaten dan kota, dan 728 orang dengan status ODP.

Angka tentang Covid-19 ini kemudian mendorong Pemerintah Papua menutup bandara dan pelabuhan di 29 kabupaten dan kota, guna mencegah penyebaran virus corona.

Penutupan akses transportasi penerbangan dan pelayaran mulai berlaku Kamis (26/03) hingga 14 hari ke depan.

Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan, kebijakan ini diambil berdasarkan kesepakatan rapat kordinasi bersama para bupati dan wali kota.

“Pastinya pembatasan sosial dimaksud melarang sementara waktu orang masuk ke Papua, baik lewat jalur udara maupun laut. Namun transportasi barang boleh masuk, manusia yang tidak boleh,” katanya melalui situs resmi Pemprov Papua.

Selain bandara dan pelabuhan, penutupan akses transportasi pendatang juga dilakukan pada pos lintas batas darat negara (PLBN).

“Sehingga diharapkan upaya penanganan Covid-19 ini diharapkan lebih terarah,” kata Lukas.

Tutup bandara harus izin pemerintah pusat

Bukan hanya Papua, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur juga menutup Bandara Internasional Komodo dan seluruh pelabuhan laut.

Namun kebijakan penutupan bandara ini masih terganjal izin dari Kementerian Perhubungan, kata Kepala BPBD Manggarai Barat, Dominikus Hawan.

“Jadi kita ini baru usul ke Menteri Perhubungan supaya untuk menekan perkembangan covid-19 ini, kita mohon sementara bandara Internasional Komodo ditutup dalam waktu sembilan hari,” katanya.

Artinya, usulan penutupan bandara dan pelabuhan akan berlaku hingga Jumat (03/04) mendatang, jika mendapat izin Kementerian Perhubungan.

Saat ini Kabupaten Manggarai terdapat dua pasien dengan pengawasan (PDP) yang berasal dari luar wilayah, yaitu Jakarta dan Surabaya.

Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP), pada 18 Maret lalu sebanyak tujuh orang, melonjak menjadi 31 orang dalam waktu delapan hari.

Namun, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto menegaskan penutupan bandara merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

“Oleh karenanya penutupan bandar udara harus terlebih dahulu disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk dilakukan evaluasi,” katanya melalui pesan tertulis.

Novie menambahkan, penutupan bandara pada prinsipnya dapat dilakukan selama ada sosialisasi dengan pihak terkait.

“Perlu dilakukan sosialisasi lebih dulu kepada Badan Usaha Angkutan Udara, maupun kepada pengguna jasa penerbangan sebelum diberlakukan,” katanya.

Namun, Juru bicara Pemprov Papua, Gilbert Yakwar mengatakan keputusan penutupan bandara dan pelabuhan di Papua sudah bulat dan final.

“Mungkin belum ada koordinasi (dengan Kemenhub), tapi ini kebijakan internal dari gubernur dengan kesepakatan bersama 29 bupati dan wali kota di Provinsi Papua,” jelasnya.