Saturday, August 8, 2020
Home Blog Page 15

Virus corona: Seberapa besar kemungkinan anak-anak terkena Covid-19?

0

Salah satu pesan yang sering disampaikan di tengah wabah virus corona adalah: semakin lanjut usia, semakin besar risiko terinfeksi, kata Rachel Schraer, kata wartawan kesehatan BBC.

Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan anak-anak muda agar tidak merasa menjadi “orang yang tidak akan terkena oleh virus corona atau kalaupun terkena akan baik-baik saja”.

Dr Rosena Allin-Khan, anggota parlemen Inggris yang juga seorang dokter di unit gawat darurat, berkata kepada BBC bahwa penyakit ini “tidak terbatas pada orang tua dan mereka yang sudah punya penyakit sebelumnya”.

Ia menyampaikan pernyataan ini hanya beberapa hari sebelum berita tentang pasien muda yang meninggal dunia karena virus corona di Inggris.

Kematian ini diduga merupakan korban termuda akibat virus corona di Inggris Raya sejauh ini.

Dr Allin-Khan mengatakan ia telah merawat pasien berumur antara 30 hingga 40 tahun yang sebelumnya “bugar dan sehat” dan kini mereka berada di unit perawatan intensif, “berjuang untuk bertahan hidup”.

Apa risikonya pada berbagai usia?

Sejauh ini secara keseluruhan, orang yang lebih tua memang memiliki risiko lebih besar.

Perkiraan terakhir dari Imperial College London, tingkat kematian hampir 10 kali lipat bagi orang berusia 80 tahun ke atas dan lebih rendah bagi yang berumur di bawah 40.

Dan bagi orang tua, ketika mereka dirawat di rumah sakit, lebih besar kemungkinan mereka membutuhkan unit perawatan intensif.

Kurang dari 5% dari usia di bawah 50 tahun perlu dirawat di rumah sakit karena gejala penyakit ini, tetapi angka ini meningkat hingga 24% bagi yang berusia antara 70-79 tahun.

Serupa dengan itu hanya 5% orang di bawah 40 tahun yang harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan penanganan di ruang intensif, sementara untuk orang berumur 60-an, kemungkinan itu 27%, dan angkanya menjadi 43% bagi orang berumur 70-an.

Bagi orang berumur 80 tahun ke atas, kebutuhan untuk menjalani perawatan di rumah sakit meningkat hingga 71% menurut perkiraan kasus-kasus di China dan Italia, dua negara dengan kasus terburuk di dunia saat ini.

Rata-rata usia orang yang harus adalah 63 tahun, menurut audit yang dikerjakan oleh satu lembaga swadaya masyarakat.

Virus tak sama dengan rumus matematika

Angka-angka ini adalah rata-rata, maka di dalamnya tetap ada orang-orang lebih muda yang, sayangnya, menderita parah, dan dalam beberapa kasus harus berakhir dengan kematian.

Di Italia, 0,4% kasus yang menimpa orang usia 40-an, berakhir dengan kematian.

Bandingkan dengan 19,7% pada pasien berusia 80-an.

Sementara itu, di AS, diperkirakan 0,7% kasus yang menimpa orang berusia 40-an berakhir dengan kematian.

Direktur lembaga yang mengkaji alergi dan penyakit menular di AS, Anthony Fauci, mengatakan jumlah keseluruhan kematian “sangat condong ke orang tua dan mereka yang punya penyakit bawaan”.

Namun ia menambahkan bahwa virus bukanlah “rumus matematika”.

“Ada saja kasus orang muda yang juga mengalami gejala sakit parah,” kata Fauci.

WHO mengatakan “sekalipun bukti memperlihatkan orang berumur di atas 60 tahun berada dalam risiko tinggi, ada juga orang muda dan anak-anak juga meninggal dunia”.

Ini menjadi “bukti klinis bahwa anak-anak juga bisa terpapar Covid-19 secara, namun secara umum kondisi mereka tidak separah pasien dewasa”.

Namun tetap saja, anak-anak, terutama bayi, rentan untuk terinfeksi.

Penyakit bawaan

Penyakit bawaan juga memainkan peran.

Misalnya, ada sekitar 4,3 juta orang dewasa di Inggris Raya yang mengidap asma, yang membuat mereka menjadi lebih rentan untuk sakit parah jika terinfeksi virus corona, dan ini menimpa orang segala usia.

Tahun 2013, terakhir kali Kantor Statistik Nasional Inggris menyelenggarakan survei gaya hidup, 21% dari orang berusia 25-44 tahun dilaporkan memiliki penyakit jangka panjang.

Beberapa mungkin punya penyakit bawaan yang mereka tidak sadari.

Hentikan penyebaran

Sementara orang muda lebih kecil kemungkinan sakit parah karena virus ini, tetapi mereka dengan mudah bisa menyebarkan virus ke orang lain.

Mereka bisa jadi tidak punya gejala, atau ringan saja dan tak sadar bahwa mereka sudah terinfeksi.

Dan virus corona lebih mudah tersebar ketimbang virus flu. Setiap orang yang terinfeksi seara rata-rata menyebarkannya kepada dua atau tiga orang, menurut perkiraan para ahli.

Lalu dua hingga tiga orang ini kemudian menyebarkannya kepada dua atau tiga orang lagi, dan begitu seterusnya. Ini berarti sejumlah kecil saja yang terinfeksi, dengan cepat bisa berubah menjadi ratusan atau ribuan.

Maka itulah perlunya jaga jarak untuk memutus rantai penyebaran.

Virus corona: Mengapa ada negara yang warganya mengenakan masker dan ada yang tidak?

0

Ketika Anda bepergian keluar rumah tanpa mengenakan masker di Hong Kong, Seoul atau Tokyo, maka Anda akan mendapat tatapan heran.

Sejak awal mula wabah virus corona, warga di beberapa negara telah sepenuhnya mengenakan masker, dan siapa pun yang kedapatan tidak mengenakannya berisiko menjadi paria sosial.

Akan tetapi, di belahan dunia lain, dari Inggris dan Amerika Serikat hingga Australia dan Singapura, bepergian dengan wajah telanjang masih bisa ditolerir.

Mengapa warga beberapa negara mengenakan masker sementara yang lain menghindarinya? Hal ini bukan hanya berkaitan dengan arahan pemerintah dan saran medis – namun juga tentang budaya dan sejarah.

Namun, saat pandemi ini memburuk apakah hal itu akan berubah?

Kata pemerintah tentang masker

Sejak wabah virus corona bermula, arahan resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah sangat jelas. Hanya ada dua jenis orang yang harus mengenakan masker: mereka yang sakit dan menunjukkan gejala Covid-19, dan mereka yang merawat orang yang terduga terinfeksi virus corona.

Lainnya tidak perlu mengenakan masker, dan ada beberapa alasan mengenai hal itu.

Salah satuya adalah bahwa masker itu dipandang bukan sebagai perlindungan yang bisa diandalkan, mengingat penelitian saat ini menunjukkan virus menyebar melalui tetesan ludah dan kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.

Jadi, masker bisa melindungi Anda, namun hanya dalam situasi tertentu seperti ketika Anda berada dalam jarak dekat dengan orang lain di lokasi di mana seseorang yang terinfeksi kemungkinan bersin atau batuk di dekat wajah Anda.

Ini sebabnya para ahli mengatakan sering mencuci tangan dengan sabun dan air jauh lebih efektif.

Tanpa masker, membutuhkan perhatian khusus untuk menghindari kontaminasi tangan dan itu bisa menimbulkan rasa aman yang keliru.

Namun di beberapa bagian Asia setiap orang sekarang memakai masker dalam kehidupan sehar-hari – ini dipandang lebih aman.

Di China daratan, Hong Kong, Jepang, Thailan dan Taiwan, asumsi luas yang diterima masyrakat bahwa siapa saja bisa menjadi pembawa virus, bahkan orang yang sehat.

Jadi, dalam semangat solidaritas, Anda perlu melindungi orang lain dari diri Anda sendiri.

Beberapa pemerintah mendesak semua warganya untuk mengenakan masker, dan di beberapa bagian di China, Anda bahkan bisa ditahan dan dihukum karena tidak mengenakan masker.

Hak atas foto DominoQQ

Sementara di Indonesia dan Filipina, yang dicurigai memiliki banyak kasus yang tidak dilaporkan, sebagian besar orang-orang di kota besar mulai mengenakan masker untuk melindungi diri dari orang lain.

Bagi negara-negara ini, mengenakan masker adalah norma budaya bahkan sebelum virus corona. Masker telah menjadi bagian dari fesyen – pada suatu masa masker bergambar tokoh kartun Hello Kitty banyak ditemui di pasar jalanan Hong Kong.

Di Asia Timur, banyak orang terbiasa mengenakan masker ketika mereka sakit atau ketika musim demam, karena dianggap tidak sopan jika bersin atau batuk secara terbuka.

Wabah virus SARS pada 2003, yang mempengaruhi beberapa negara di kawasan itu, juga mendorong pentingnya menggunakan masker, terutama di Hong Kong, di mana banyak orang meninggal akibat virus ini.

Jadi, satu perbedaan utama antara masyarakat di Asia dan Barat adalah bahwa mereka telah mengalami penularan sebelumnya – dan ingatannya tentang penyakit menular itu masih segar dan menyakitkan.

Sementara di Asia Tenggara, terutama di kota-kota berpenduduk padat, banyak yang memakai topeng di jalanan hanya karena polusi.

Akan tetapi kebiasaan itu belum menyebar sepenuhnya di seluruh Asia – di Singapura, pemerintah telah mendesak masyarakat untuk tidak mengenakan masker guna memastikan pasokan yang memadai bagi petugas kesehatan dan orang-orang yang memang sangat membutuhkannya.

Ada kepercayaan publik yang substansial pada pemerintah, sehingga orang cenderung mendengar arahan tersebut.

Masker sebagai dorongan sosial

Beberapa orang berpendapat bahwa mengenakan masker di mana-mana, sebagai pengingat akan bahaya virus ini, bisa bertindak sebagai “dorongan perilaku” bagi Anda dan orang lain untuk menjaga kebersihan pribadi lebih baik.

“Mengenakan masker setiap hari sebelum Anda pergi adalah seperti ritual, seperti mengenakan seragam dan dalam ritual Anda, Anda merasa harus hidup sesuai dengan apa yang diseragamkan oleh norma sosial yang dianggap perilaku yang higienis, seperti tidak menyentuh wajah Anda atau menghindari keramaian dan menjaga jarak sosial,” ujar Doald Low, seorang ekonom perilaku dan profesor di Hong Kong University of Science and Technology.

Lantas, ada gagasan bahwa setiap hal kecil diperlukan dalam pertempuran melawan virus.

“Kami tidak dapat mengatakan apakah masker tidak efektif, akan tetapi kami menganggap masker memiliki efek karena perlindungan yang diberikannya kepada petugas kesehatan,” ujar Benjamin Cowling, seorang ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong.

“Jika masker wajah digunakan pada banyak orang di daerah ramai, saya pikir itu akan memiliki efek pada transmisi publik, dan saat ini kami sedang mencari setiap langkah kecil yang kami bisa untuk mengurangi transmisi – itu bertambah.”

Tapi tentu saja ada kelemahannya. Beberapa tempat seperti Jepang, Indonesia dan Thailand menghadapi kekurangan pasokan saat ini, dan Korea Selatan harus membagikan masker.

Ada ketakutan bahwa orang akhirnya akan menggunakan kembali masker – yang tidak higienis – menggunakan masker yang dijual di pasar gelap, atau memakai masker buatan sendiri, yang bisa memiliki kualitas lebih rendah dan pada dasarnya tidak berguna.

Orang-orang yang tidak mengenakan masker di tempat-tempat ini juga mengalami stigma, sampai-sampai mereka dijauhi dan dihalangi ketika masuk ke toko-toko dan gedung-gedung.

Di Hong Kong, beberapa tabloid menunjukkan gambar pada sampul mereka tentang orang Barat yang tidak mengenakan masker dan berkumpul dalam kelompok di distrik kehidupan malam, dan mengkritik ekspatriat dan turis karena tidak mengambil tindakan pencegahan yang cukup.

Tetapi diskriminasi itu berlaku dua arah.

Di negara di mana mengenakan masker bukan bagian dari norma, seperti di dunia Barat, mereka yang menggunakan masker akan dihindari, atau bahkan diserang. Apalagi, kebanyakan penggunanya adalah orang Asia.

Tetapi masyarakat yang melakukan advokasi setiap orang yang memakai masker mungkin ada benarnya, para ahli kini mempertanyakan saran resmi WHO.

Kasus-kasus tak terlacak

Pertama, ada beberapa bukti yang muncul bahwa ada lebih banyak “pembawa virus yang tak terlacak”, atau orang sehat dengan virus yang menunjukkan sedikit atau tanpa gejala, daripada yang diperkirakan para ahli.

Di China, diperkirakan sepertiga dari semua kasus positif tidak menunjukkan gejala, menurut data pemerintah China yang dilaporkan oleh South China Morning Post.

Di kapal pesiar Diamond Princess yang merapat di Yokohama, sekitar setengah dari lebih dari 600 kasus yang positif ditemukan pada mereka yang tidak menunjukkan gejala.

Kasus asimtomatik serupa juga dilaporkan di Islandia, yang mengklaim negara itu menguji warganya dengan proporsi yang lebih banyak daripada negara mana pun.

Keyakinan yang berlaku adalah bahwa karena orang-orang ini tidak menunjukkan gejala, mereka tidak terlalu menular.

Tetapi beberapa orang mempertanyakan ini sekarang. Mungkin jika semua orang memakai masker maka orang yang diam-diam membawa virus itu tidak akan berubah menjadi penyebar?

Sebuah studi kasus yang baru-baru ini diterbitkan di China menemukan bahwa “kasus infeksi yang tidak terlaporkan”, atau yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sangat menular dan dapat menyebabkan hampir 80% kasus virus positif.

Ini hanya satu studi, dan penelitian masa depan tidak diragukan lagi akan menambah nuansa pada keseluruhan gambaran.

Masker wajah mungkin merupakan produk dari sejarah baru-baru ini, pengalaman dengan penularan dan norma budaya.

Tetapi ketika skala pandemi ini meningkat, bersama dengan bukti dan penelitian, perilaku kita mungkin akan berubah.

Laporan tambahan oleh Helier Cheung.

Virus corona: Pemda batasi gelombang mudik antar kota di Jawa untuk menekan penyebaran Covid-19

0

Sejumlah daerah mulai membatasi akses keluar masuk pendatang sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona yang mendekati angka 900 kasus per Jumat (27/03).

Kepala daerah yang telah mengambil langkah termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang meminta warganya untuk tidak pulang kampung, sementara Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengakui pemudik menjadi masalah.

Di antara mereka yang kembali ke kampung halaman termasuk penjual makanan di ibu kota Jakarta, Juli Winarno.

Juli kembali mudik ke kampungnya, Desa Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah setelah selama dua pekan dagangan mi ayam di Jakarta sepi akibat kebijakan bekerja dari rumah.

Menurutnya, hidup di kampung lebih hemat dari pada tetap di Jakarta. Sementara waktu ia akan bertani sambil menunggu pandemi virus corona mereda.

“Kalau di Jakarta terus kan, pengeluaran gede, kalau di kampung bisa diminimalisir,” katanya kepada BBC News Indonesia, Kamis (26/03).

Sebagai pendatang dari Jakarta, kota dengan tingkat kasus paling tinggi di Indonesia, Juli mengatakan mengetahui bahwa ia bakal diperiksa otoritas kesehatan di kampungya sebelum berbaur dengan masyarakat.

“Kita diminta cek kesehatan dulu ke puskesmas dari pihak perangkat desa,” katanya.

Sementara itu, penjual bubur ayam di Jakarta, Hari Cahyono juga mudik ke Pekalongan, Jawa Tengah. Ia pun mudik karena dagangannya sepi.

Namun, belum ada informasi dari kampungnya terkait dengan pemeriksaan kesehatan para perantauan yang kembali ke kampung halaman.

Nggak diperiksa. Kemarin belum ada,” katanya.

Juli dan Hari Cahyono, merupakan dua dari ribuan warga Jawa Tengah yang pulang dari Jakarta, kepulangan yang dikhawatirkan akan mengancam penyebaran virus di kampung mereka.

Diminta bertahan di perantauan

Menanggapi perkembangan terbaru ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengambil langkah memeriksa warganya yang berdatangan dari luar wilayah, termasuk di pintu kedatangan terminal bus.

“Itu setiap bus yang datang dicatat oleh pemkab, oleh dinas perhubungan, dibantu TNI/Polri, termasuk Satpol PP. Nah, dinkesnya langsung periksa di sana,” ujarnya.

Para perantau di Jawa Tengah diwaspadai lantaran salah satu kasus pasien positif corona yang meninggal di Solo, berasal dari Bogor, Jawa Barat.

“Artinya ini sudah ada contoh kecil yang bisa kita sampaikan. Tapi yang sekarang ini, dalam konteks jumlah massa yang banyak ini, kami belum mencatatnya,” kata Ganjar.

Ganjar meminta warga Jawa Tengah di perantauan untuk sementara waktu ini tak mudik ke kampung halaman.

“Karena ada yang perlu dijaga, ya dirinya sendiri, termasuk keluarga di kampung,” katanya.

Secara nasional, wabah virus corona di Indonesia pekan ini meningkat secara signifikan, dengan lebih dari 100 orang per hari.

Jumlah kasus sampai Kamis (26/03), lebih dari 890 dan yang meninggal 78 orang.

Di Jawa Tengah, sampai Rabu (25/03), jumlah pasien positif Covid-19 mencapai 38 orang, empat di antaranya meninggal.

Sementara orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 2.858 orang dengan pasien dalam pengawasan (PDP) 257 orang.

Ganjar mengatakan akan berkomunikasi dengan Pemprov DKI Jakarta, termasuk Jawa Barat untuk memantau mobilisasi pemudik.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil meyakini ODP di wilayahnya meningkat karena banyaknya orang yang mudik.

“Banyak orang mudik yang jadi problem hari ini, ODP melonjak, karena orang-orang yang harusnya tinggal di Jakarta, mempergunakan tidak kerja ini, malah, pulang ke daerahnya, seperti mudik,” katanya.

ODP di Sumedang melonjak karena pemudik dari Jakarta

Salah seorang dari pemudik adalah Anissa Fitriani yang bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan finansial di Bandung.

Namun, sejak diberlakukan kerja di rumah akibat wabah Corona, Anissa memutuskan pulang ke rumahnya di Kabupaten Sumedang. Keputusannya itu juga dilatari ketakutan tertular Covid 19 seiring ditetapkannya Kota Bandung sebagai zona merah wabah Corona.

“Soalnya kalau diam di sana (Bandung) keluar rumah sedikit aja takutnya positif (Corona). Terus, banyak juga orang yang mempengaruhi pikiran. Di sana itu kan ramai, nggak kayak di Sumedang”.

“Kalau di Sumedang udaranya dingin, segar, beda sama di sana. Jadi mungkin banyak terjangkit Corona, jadi milih pulang deh,” kata perempuan berusia 20 tahun itu kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Menurut Anissa, tidak ada larangan untuk mudik ke Sumedang.

Hanya saja, dia harus menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan sebelum pulang.

“Diperiksa kesehatan dulu sebelum pulang. Suhu badan, positif negatifnya diperiksa dulu di kantor. Takutnya bawa virus juga ke rumah, nggak enak. Di Sumedang juga kan takutnya gimana-gimana kalau pulang kampung, jadi di sana (Bandung) dicek dulu,” ujar Anissa.

Sesampainya di Sumedang, Anissa didata oleh aparat setempat dan dimasukkan ke dalam daftar ODP. Anissa disarankan untuk mengisolasi diri. Dinas Kesehatan setempat juga memantau kondisi kesehatannya.

“Akan dicek di sini nanti, soalnya baru datang dari Kota Bandung. Bandung kan masuk zona merah, terus pulang pergi Bandungnya sering, jadi mengisolasi diri, harus diam di rumah,” ungkapnya.

Anissa menjadi satu dari 1702 warga Sumedang yang masuk kategori ODP lantaran datang dari wilayah zona merah Covid 19, seperti Kota Bandung dan Jabodetabek.

Mereka mudik ke kampungnya setelah pemerintah menginstruksikan kerja di rumah dan diam di rumah.

Warga perantau asal Sumedang menyikapi instruksi itu sebagai momen pulang kampung.

Padahal semestinya tetap tinggal di wilayah mereka berada. Akibatnya, jumlah ODP di Sumedang melonjak dari 2 orang menjadi 1.702 orang, per 26 Maret 2020.

Hak atas foto Poker Online

“Kenapa ada lonjakan ODP karena banyak warga Sumedang yang bekerja di luar Sumedang, terutama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, mudik,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dadang Sulaeman saat dihubungi via telepon, Kamis (26/03).

Umumnya, kata Dadang, perantau asal Sumedang bekerja di sektor informal, seperti berdagang dan tukang kayu.

Menghadapi lonjakan pemudik dari zona merah Corona, Dadang mengatakan, pihaknya melakukan sejumlah langkah pemantauan yang dilakukan tim dari kecamatan, mulai dari camat, kapolsek, hingga danramil.

“Pemantauan supaya mereka itu membatasi aktivitasnya,” kata Dadang.

Lebih jauh, Dadang menjelaskan, pihaknya memilah kategori ODP, yakni ODP yang pulang dari zona merah Covid 19 yang tidak mengalami gejala dan ODP yang menunjukkan gejala demam, batuk, dan sesak napas.

“Kalau ODP dengan gejala dilakukan observasi oleh petugas kesehatan,” ujar Dadang.

ODP dengan gejala saat ini berjumlah 157 orang. Sedangkan kasus positif Covid 19 berjumlah 1 orang.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya akan melakukan langkah preventif menyikapi lonjakan angka ODP ini.

“Jadi orang yang seharusnya tinggal di Jakarta mempergunakan waktu tidak kerja ini, malah pulang ke daerahnya seperti mudik. Nah, ini jadi kendala besar sehingga kita akan lakukan sebuah tindakan yang lebih preventif,” ujar Emil, sapaan Ridwan Kamil, saat jumpa pers di Gedung Pakuan, Kamis (26/03).

Emil belum menjelaskan apa langkah preventif yang akan dilakukan, namun sebelumnya, mantan Wali Kota Bandung ini sempat mengeluarkan larangan mudik.

“Jangan mudik, tetap tinggal di wilayah masing-masing untuk menjaga sebaran (virus corona) yang tidak terlalu besar, sampai situasi kondusif,” kata Emil.

Siskamling diaktifkan awasi pemudik

Dari Solo, Kepala Dinas Kesehatan setempat, Siti Wahyuningsih mengaku mendapat laporan adanya pemudik yang nyaris ditolak pulang kampung.

“Kemarin ada laporan dari lurah adanya pemudik yang pulang. Terus, saya bilang enggak apa-apa wong mau pulang ke rumahnya sendiri masak nggak boleh. Terus abis itu, saya mohon untuk isolasi diri,” kata Siti kepada wartawan Fajar Sodiq yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Siti menambahkan bagi perangkat desa yang mendapatkan pemudik dengan gejala Covid-19 untuk segera melapor.

“Kalau ada yang seperti itu nanti dilaporkan kepada kita. Begitu datang timbul gejala isolasi dua minggu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani mengatakan akan mengaktifkan linmas serta siskampling (sistem keamanan lingkungan) di kampung-kampung untuk memantau para pemudik yang datang.

“Bukannya menolak, tapi sifatnya hati-hati, kamu siapa, dari mana, pergi dari mana. Tetap harus di-tracing,” jelasnya.

Lantas, ia pun mencontohkan kejadian di Purwodiningratan adanya pemudik yang mengalami gejala seperti para ODP virus corona.

Selanjutnya pemudik yang pulang dari luar negeri itu akhirnya meninggal dunia.

“Meskipun dia itu belum masuk di rumah sakit ternyata gejalanya juga karena gejala ODP,” ungkapnya.

Ia pun tidak menginginkan hal tersebut tidak terjadi lagi di Solo. Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan pemantauan kepada para pemudik.

“Kita kan nggak bisa menolak mereka datang, kalau ternyata terpapar nantinya yang punya kontak dekat yang berpotensi menambah jumlah. Itu yang kita khawatirkan,” tegasnya

Tutup bandara dan pelabuhan

Data terbaru, pasien positif Covid-19 di Papua berjumlah 3 orang. Sementara, PDP mencapai 33 orang tersebar di enam kabupaten dan kota, dan 728 orang dengan status ODP.

Angka tentang Covid-19 ini kemudian mendorong Pemerintah Papua menutup bandara dan pelabuhan di 29 kabupaten dan kota, guna mencegah penyebaran virus corona.

Penutupan akses transportasi penerbangan dan pelayaran mulai berlaku Kamis (26/03) hingga 14 hari ke depan.

Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan, kebijakan ini diambil berdasarkan kesepakatan rapat kordinasi bersama para bupati dan wali kota.

“Pastinya pembatasan sosial dimaksud melarang sementara waktu orang masuk ke Papua, baik lewat jalur udara maupun laut. Namun transportasi barang boleh masuk, manusia yang tidak boleh,” katanya melalui situs resmi Pemprov Papua.

Selain bandara dan pelabuhan, penutupan akses transportasi pendatang juga dilakukan pada pos lintas batas darat negara (PLBN).

“Sehingga diharapkan upaya penanganan Covid-19 ini diharapkan lebih terarah,” kata Lukas.

Tutup bandara harus izin pemerintah pusat

Bukan hanya Papua, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur juga menutup Bandara Internasional Komodo dan seluruh pelabuhan laut.

Namun kebijakan penutupan bandara ini masih terganjal izin dari Kementerian Perhubungan, kata Kepala BPBD Manggarai Barat, Dominikus Hawan.

“Jadi kita ini baru usul ke Menteri Perhubungan supaya untuk menekan perkembangan covid-19 ini, kita mohon sementara bandara Internasional Komodo ditutup dalam waktu sembilan hari,” katanya.

Artinya, usulan penutupan bandara dan pelabuhan akan berlaku hingga Jumat (03/04) mendatang, jika mendapat izin Kementerian Perhubungan.

Saat ini Kabupaten Manggarai terdapat dua pasien dengan pengawasan (PDP) yang berasal dari luar wilayah, yaitu Jakarta dan Surabaya.

Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP), pada 18 Maret lalu sebanyak tujuh orang, melonjak menjadi 31 orang dalam waktu delapan hari.

Namun, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto menegaskan penutupan bandara merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

“Oleh karenanya penutupan bandar udara harus terlebih dahulu disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk dilakukan evaluasi,” katanya melalui pesan tertulis.

Novie menambahkan, penutupan bandara pada prinsipnya dapat dilakukan selama ada sosialisasi dengan pihak terkait.

“Perlu dilakukan sosialisasi lebih dulu kepada Badan Usaha Angkutan Udara, maupun kepada pengguna jasa penerbangan sebelum diberlakukan,” katanya.

Namun, Juru bicara Pemprov Papua, Gilbert Yakwar mengatakan keputusan penutupan bandara dan pelabuhan di Papua sudah bulat dan final.

“Mungkin belum ada koordinasi (dengan Kemenhub), tapi ini kebijakan internal dari gubernur dengan kesepakatan bersama 29 bupati dan wali kota di Provinsi Papua,” jelasnya.

Virus corona: Pemerintah pusat godok PP untuk atur pelaksanaan karantina wilayah

0

Pokerace99 – Pemerintah pusat tengah menggodok rancangan peraturan pemerintah (PP) yang mengatur pelaksanaan karantina wilayah di tengah wabah Covid-19 yang terus meluas.

Pernyataan yang disampaikan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD tersebut menyusul keputusan beberapa kepala daerah untuk membatasi akses di wilayah masing-masing, termasuk Kota Tegal di Jawa Tengah.

“Jadi (PP) akan mengatur kapan sebuah daerah itu boleh melakukan pembatasan gerakan yang secara umum sering disebut lockdown: apa syaratnya, apa yang dilarang, apa yang boleh dilakukan dan bagaimana prosedurnya. Insya Allah dalam waktu dekat nanti akan keluar peraturan pemerintah agar ada keseragaman,” kata Mahfud dalam keterangan pers secara virtual pada Jumat (27/3).

Mahfud menjelaskan bahwa UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan sudah mengatur karantina wilayah.

“Itu memang kita mengenal istilah karantina kewilayahan artinya membatasi perpindahan orang, membatasi kerumunan orang, dan membatasi gerakan orang demi keselamatan bersama,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menginstruksikan penutupan 49 titik akses jalan protokol dalam kota dan penghubung jalan antarkampung. Penutupan akses tersebut merupakan konsekuensi kebijakan karantina wilayah, atau lockdown, yang diambil pemerintahan setempat guna mencegah penyebaran virus corona dan akan mulai efektif pada Senin (30/3).

Pemerintah Kota Tegal di Jawa Tengah berjanji tidak akan mengganggu lalu lintas di jalan nasional di sepanjang jalur pantura saat menerapkan kebijakan penutupan wilayah, atau “lockdown”.

Kebijakan tersebut membatasi siapa saja yang bisa masuk dan keluar Kota Tegal dengan prosedur perizinan yang ketat. Namun demikian , kebijakan lokal ini tak akan mengganggu Jalur Utama Pantura, menurut Dedy. Katanya, pembatasan hanya berlaku di wilayah kota yang dipimpinnya.

‘Demi keselamatan warga’

Dedy menegaskan bahwa ia mengambil kebijakan pembatasan tersebut “demi keselamatan warganya”.

“Namun harus diketahui, jalur utama pantura tetap berfungsi sebagaimana biasanya. Lockdown kita tidak menyentuh jalur utama pantura, tapi hanya jalur yang masuk kota saja,” kata Dedy Supriyono kepada wartawan Agus Maryono yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Jumat ( 27/3).

Ia menegaskan kepada seluruh warga Tegal untuk tak keluar rumah jika tidak memiliki tujuan penting. Otoritas setempat juga akan memeriksa ketat baik warga yang hendak meninggalkan kota maupun yang akan masuk ke wilayah Tegal.

Dedy mengaku sadar akan konsekuensi ekonomi dari kebijakan ini. Oleh karena itu, lanjutnya, Pemkot Tegal akan segera menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi dampak buruk ekonomi terhadap warga kota Tegal.

“Di antaranya kami akan membuat surat edaran berupa pemotongan gaji seluruh PNS di Tegal, untuk nantinya diperuntukan bagi warga miskin yang terdampak. Besarannya sedang kita rumuskan,” kata Dedy.

Selain itu, kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) di Tegal dan Dinas Sosial juga akan mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dampak ekonomi.

Menanggapi kebijakan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan bahwa pembatasan tersebut hanya merupakan “isolasi wilayah”.

“Intinya itu bukan lockdown, hanya isolasi terbatas agar masyarakat tidak bergerak bebas. Sampai tingkat itu saja,” kata Ganjar seperti dikutip kompas.com pada Jumat (27/3).

Sementara itu, tak semua warga menyambut kebijakan lockdownKota Tegal secara optimis. Soni Ds, salah satu warga kota Tegal, mengkritik kebijakan yang dinilai tergesa gesa.

“Kebijakan wali kota Tegal soal lockdown lokal, menurut saya terlalu tergesa gesa, mengingat ada banyak hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan,” kata Soni.

Menurutnya, diseminasi informasi seputar virus corona yg menyentuh langsung ke masyarakat kecil masih sangat kurang. Menurutnya, tak banyak warga yang mendukung kebijakan pembatasan, “karena mereka kurang mengerti soal wabah ini.”

Pembatasan tersebut juga dikhawatirkan mendorong kenaikan harga bahan-bahan pokok.

Daerah mulai berlakukan pembatasan

Tegal bukan satu-satunya teritori yang menerapkan berbagai kebijakan pembatasan di wilayahnya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Beberapa pemerintah provinsi telah meliburkan sekolah dan mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi kontak langsung antarwarga.

Pemerintah Banda Aceh juga telah sepakat untuk menerapkan karantina terbatas, atau partial lockdown, yang akan berfokus pada area di mana pasien dan orang yang berpotensi terpapar atau tengah dalam pemantauan tinggal.

Masa libur sekolah di Banda Aceh juga diperpanjang hingga 1 Juni.

Pemerintah Papua memutuskan menutup bandara dan pelabuhan di 29 kabupaten dan kota, guna mencegah penyebaran virus corona.

Penutupan akses transportasi penerbangan dan pelayaran mulai berlaku Kamis (26/03) dan berlaku selama 14 hari.

“Pastinya pembatasan sosial dimaksud melarang sementara waktu orang masuk ke Papua, baik lewat jalur udara maupun laut. Namun transportasi barang boleh masuk, manusia yang tidak boleh,” kata Gubernur Papua Lukas Enembe seperti dikutip dari situs resmi Pemprov Papua.

Sementara itu, pemerintah Surabaya di Jawa Timur juga melakukan penutupan sebagian jalan protokol di Surabaya, termasuk Jalan Raya Darmo dan Jalan Tunjungan, yang berlaku mulai Jumat (27/3) hingga Minggu (29/3) pada jam-jam yang telah ditentukan.

Kedua jalan protokol tersebut akan ditutup mulai pukul 18.00-23.00 pada hari Jumat (27/3) dan Sabtu (28/3). Kemudian pada pukul 10.00-14.00 pada hari Sabtu (28/3) dan Minggu (29/3).

Hingga Jumat (27/3) sore, angka kasus positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 1.046, 87 di antaranya meninggal.

Malaysia perpanjang ‘lockdown’ karena virus corona, TKI: ‘Makan dikurangi, hanya mie dan nasi’

0

Perintah Kawalan Pergerakan atau semacam karantina wilayah yang diberlakukan di Malaysia sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona, membuat ratusan ribu tenaga kerja asal Indonesia menganggur dan sebagian di antara mereka mengaku khawatir bakal kelaparan.

Di antara para tenaga kerja yang mengatakan khawatir termasuk Lilis, yang selama enam tahun terakhir telah menjadi tulang punggung keluarganya di Indonesia.

Perempuan berusia 30 tahun itu biasa bekerja untuk majikan yang punya usaha kedai di kawasan Taman Tenaga, Cheras, Selangor.

Dua pekan terakhir, ia diliburkan lantaran pemerintah Malaysia memberlakukan Kawalan Pergerakan, dalam upaya meminimalisir penyebaran virus corona. Belakangan kebijakan itu diperpanjang selama dua pekan lagi sampai tanggal 14 April.

“Rata-rata kami di sini di Taman Tenaga, Cheras ini bekerja di kedai makan atau restoran. Jadi kami di sini semua hanya berharap pada gaji sehari-hari.

“Sedangkan imbas dari lockdown ini, kita terpaksa harus cuti atau tinggal di rumah mengikuti arahan pemerintah Malaysia,” keluh Lilis melalui sambungan telepon pada Jumat malam (27/03).

Dengan mengikuti arahan pemerintah Malaysia, maka Lilis tak lagi berpenghasilan padahal ia perlu membeli makan dan membayar sewa kamar. Ia khawatir ancaman kelaparan semakin dekat sebab masa karantina diperpanjang.

Lilis tidak sendiri. Nurwahid biasanya bekerja sebagai petugas kebersihan di Negara Bagian Selangor, tetapi sudah dua minggu ini ia menganggur dan juga akan tetap menganggur selama setidaknya dua minggu berikutnya.

Hak atas foto Dokumentasi Pokerrepublik
Selama ini sekitar 50% dari pendapatannya per bulan ia kirim ke Indonesia untuk menafkahi istri beserta dua orang anak mereka dan juga orang tuanya.

Kini tidak hanya kiriman rutin ke keluarga di Indonesia yang terhenti, tetapi Nurwahid harus berhemat.

“Kadang jarang makan nasi. Yang sering masak indomie sama nasi. Itu juga yang dilakukan oleh kawan-kawan serumah sewaan ini.”

Seruan bantuan sembako lewat pesan video

Apa yang dialami Lilis dan Nurwahid pada umumnya berlaku bagi para tenaga kerja Indonesia lainnya di Malaysia sejak diberlakukan karantina wilayah karena pandemi virus corona ini.

Mereka yang lebih terlindungi mungkin adalah pekerja domestik yang tinggal bersama majikan, setidaknya keperluan makan dan tempat tinggal sudah disediakan.

Adapun mereka yang tidak ditanggung majikan mengaku berisiko kelaparan.

Tenaga kerja yang selama ini menjadi pemberi nafkah keluarga di Indonesia sampai perlu membuat seruan permintaan bantuan sembilan bahan pokok (sembako) melalui video kepada pemerintah Indonesia.

“Kami betul-betul memohon terhadap pemerintah Indonesia, perhatiannya sangat diharapkan, dan bantuannya sangat diharapkan oleh kami, semua pekerja migran Indonesia yang berada di Malaysia.”

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur mengaku sudah mengetahui permintaan bantuan, namun mengaku belum mampu menjangkau semua WNI yang memerlukan uluran tangan.

Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, Agung Cahaya Sumirat, mengatakan KBRI telah menyalurkan bantuan makanan berupa beras, mi dan sarden.

Sejak penyaluran bantuan bahan pokok dimulai Kamis (26/03) hingga Jumat (27/03), sekitar 500 WNI di kawasan Kuala Lumpur dan Selangor.

“KBRI memberikan sejumlah bantuan bahan pokok yang telah dimulai sejak tanggal 26 Maret hingga hari ini dan Insya Allah akan kami lanjutkan sampai batas kemampuan maksimal kami dengan menimbang situasi kawalan pergerakan yang ditetapkan telah diperpanjang oleh pemerintah Malaysia,” jelas Agung Cahaya Sumirat dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Yang kedua, lanjutnya, KBRI juga bekerja sama dengan organisasi massa (ormas) Indonesia yang ada di Malaysia untuk mendorong mereka menggalang bantuan logistik bagi WNI yang mengalami kesulitan.

“Dan KBRI membantu membuatkan surat pengantar perjalanan dengan harapan ketika para petugas ormas ini mendistribusikan barang, tidak dihentikan oleh pihak keamanan Malaysia.”

Di antara ormas yang terjun, lanjutnya, adalah Muhammadiyah dan NU.

Ditambahkan oleh Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, Agung Cahaya Sumirat, KBRI berusaha maksimal memberikan bantuan, tetapi volume pembelian bahan pokok di supermarket Malaysia juga dibatasi, di samping berlaku pula pembatasan pergerakan orang.

Secara resmi, pemerintah Malaysia memerintahkan kepada para majikan dan perusahaan untuk tidak memotong gaji atau bahkan tidak sampai menggaji pekerja yang terpaksa diliburkan.

Namun banyak majikan tidak menggaji karyawan karena usaha mereka juga tutup. Dengan demikian, kata aktivis buruh migran, Abdul Rahman, pada umumnya hanya satu hal yang jadi prioritas bagi tenaga kerja asal Indonesia untuk saat ini.

“Sekarang standarnya teman-teman di Malaysia ini bukan lagi untuk mencari uang yang banyak ataupun untuk mencari penghasilan untuk dikirim ke Indonesia.

“Akan tetapi bagaimana dia bisa bertahan hidup di Malaysia ini dengan ada makan, minum yang berkecukupan,” jelas Abul Rahman.

Hal senada juga disampaikan oleh direktur Pusat Penyelesaian Permasalahan WNI (P3WNI) Malaysia, Dato’ M Zainul Arifin, yang baru-baru ini menemui sejumlah pekerja bangunan di Perak.

“TKI di Malaysia tidak takut virus corona tetapi takut dengan ancaman virus kelaparan. Sebab kebijakan lockdown berdampak besar terhadap penghasilan TKI. Karena kita tahu tak semua TKI di Malaysia itu punya majikan dan resmi,” ungkapnya.

Oleh karenanya ia menyerukan kepada Presiden Joko Widodo dan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) untuk memperhatikan mereka. “Jadi kita merayu kepada presiden dan perusahaan PJTKI untuk membantu meringankan beban TKI di Malaysia, paling tidak bisa bertahan hidup hingga kebijakan lockdown dicabut.”

Pemerintah Indonesia sendiri juga tengah berusaha mengendalikan penyebaran virus corona, di tengah naiknya pengangguran secara tiba-tiba sebagaimana terjadi di negara-negara lain karena pandemi ini.

Data Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan setidaknya 2.161 kasus positif Covid-19 dan 26 kematian di negara tersebut.

Virus corona: Amerika Serikat melampaui China dengan kasus terbesar di dunia

0

Kasus virus corona di Amerika Serikat kini dipastikan paling tinggi di dunia, dengan lebih dari 86.000 orang positif terinfeksi Covid-19.

Merujuk data Universitas Johns Hopkins, AS melampaui China yang mencatat 81.782 kasus dan Italia yang melaporkan 80.589 kasus. Kedua negara itu sebelumnya merupakan pusat pandemi virus corona.

Tetapi dengan 1.200 kematian terkait-Covid-19, jumlah kematian AS masih jauh dibawah China (3.291) dan Italia (8.215).

Tonggak sejarah yang suram ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump meramalkan negaranya akan kembali bekerja “cukup cepat”, setelah negara itu melaporkan adanya 3,3 juta warga yang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu.

Lebih dari 1.100 orang yang terjangkit Covid-19 meninggal di AS.

Apa yang dikatakan Presiden Trump?

Hak atas foto Pokergalaxy

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington, Kamis malam (26/03), Trump mengatakan: “Mereka harus kembali bekerja, negara kita harus kembali, negara kita didasarkan pada itu dan saya pikir itu akan terjadi dengan cepat.

“Kita dapat memanfaatkan bagian dari negara kita, kita mungkin mengambil bagian besar dari negara kita yang tidak begitu terdampak dan kita dapat melakukannya dengan cara itu.”

Dia menambahakan: “Banyak orang yang salah mengartikan ketika saya mengatakan kembali, mereka akan mempraktikan jarak sosial sebanyak yang Anda bisa dan mencuci tangan serta tidak menjabat tangan dan semua hal yang kita bicarakan.”

Virus corona: Apa yang terjadi di ruang intensif yang menangani pasien Covid-19?

Ketika AS menyalip China dalam hal kasus virus corona terbanyak, Trump meragukan angka yang dirilis Beijing, mengatakan kepada wartawan: “Anda tidak tahu jumlahnya di China”.

Namun dalam cuitannya kemudian ia mengatakan telah melakukan “percakapan yang sangat baik” dengan Presiden China Xi Jinping.

“China telah melalui banyak hal dan telah memahami virus ini. Kami bekerja sama secara erat. Sangat saya hargai,” kata Trump.

Wakil Presiden Mike Pence mengatakan tes virus corona saat ini dapat dilakukan di 50 negara bagian dan lebih dari 552.000 tes telah dilakukan sejauh ini.

Bisakah presiden memerintahkan semua orang kembali bekerja?

Tidak. Awal bulan ini, Trump menetapkan periode 15 hari untuk memperlambat penyebaran virus corona dengan mendesak semua orang Amerika untuk mengurangi interaksi publik secara drastis selama periode tersebut.

Namun imbauan ini bersifat sukarela dan tidak ada kewajiban untuk melakukannya.

Padahal, dalam konstitusi AS jelas bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk menjaga ketertiban dan keamanan publik, yang menurut para pakar adalah tanggung jawab gubernur negara bagian untuk memutuskan pembatasan terkait penyebaran virus.

Saat ini, 21 negara bagian AS telah memerintahkan warganya untuk tinggal di rumah mereka untuk mengatasi pandemi.

Presiden AS telah mengeluarkan kebijakan federal untuk menangani wabah, seperti Undang-Undang Stafford, yang memungkinkan pemerintah AS untuk mengelontorkan puluhan miliar dolar untuk bantuan darurat.

Trump juga telah mengajukan Undang-Undang Produksi Pertahanan, yang akan memungkinkannya untuk menasionalisasi manufaktur guna menghasilkan pasokan medis.

Virus corona: Benarkah ada warga Belanda terjangkit Covid-19 yang tak teridentifikasi di Jawa Timur?

0

Cek fakta: Benarkah ada warga Belanda positif terinfeksi virus corona dan tidak teridentifikasi saat ia berada di Jawa Timur?

Seorang warga negara Belanda bernama Joey Schouten mengaku dinyatakan terjangkit virus corona, dua bulan setelah menyelesaikan proses pemeriksaan medis di satu rumah sakit di Blitar dan dua rumah sakit di Malang.

Kepada BBC Indonesia, pihak rumah sakit membantah Joey mengidap Covid-19.

Sementara itu Joey enggan memberi bukti atas klaimnya karena khawatir dipersoalkan pemerintah Indonesia.

Adapun, seorang warga Malang yang menjadi wali Joey pada proses rawat inap pada Januari lalu menyatakan ragu bahwa kawannya tersebut terinfeksi covid-19.

Berikut ini hasil penelusuran wartawan BBC News Indonesia, Abraham Utama.

Apa yang dinyatakan Joey Schouten?

Hak atas foto Istimewa TogelCC

Ketika dihubungi via telepon dari Jakarta, Kamis (26/03), Joey mengatakan bahwa pada akhir Januari 2020 dia memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di Blitar, Jawa Timur, karena merasa tidak sehat.

Joey tidak menyebut apa nama rumah sakit itu. Namun kawan Joey, yang enggan disebut identitasnya berkata rumah sakit yang dimaksud adalah Budi Rahayu.

“Mereka melakukan pemeriksaan dasar, tapi tidak bisa menangani saya karena tidak memiliki peralatan yang lengkap. Mereka merujuk saya ke Malang, ke RSI Aisyiyah,” kata Joey.

Joey menyebut RSI Aisyiyah juga tidak bisa menanganinya, walau sudah mengambil darah, tes swab, dan uji urin terhadapnya.

Dari situ, Joey mengaku lalu pindah ke Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar Malang.

“Di sana petugas medis melakukan hampir semua tes, termasuk x-ray. Mereka bilang saya terjangkit virus, tapi mereka tidak beritahu itu virus apa,” ujarnya.

Joey mengaku sempat menjalani rawat inap di RSUD Saiful Anwar sebelum akhirnya pulang ke rumah yang ditinggalinya selama beberapa bulan terakhir di Blitar, Jawa Timur.

Dua pekan setelah itu, klaim Joey, dia lantas pulang ke kampung halamannya di Helmond, Belanda.

“Kesehatan saya membaik Saat itu saya tidak tahu banyak tentang corona karena itu masih sangat baru. Dari Belanda, saya berpergian ke Spanyol,” ujarnya.

“Di Spanyol berita virus corona ada di mana-mana. Saya jadi bertanya-tanya apakah virus yang saya idap itu corona.”

“Saya menghubungkan gejala yang saya rasakan dan bahwa saya sebelum ke Jawa Timur, saya sempat ke Singapura saat Imlek. Semua itu seperti mengarah ke satu kesimpulan,” klaim dia.

Dari mana Joey mendapat kabar positif corona?

Dari Spanyol, kata Joey, dia mengontak kawannya di Malang untuk mengecek ke rumah sakit yang pernah didatanginya.

Selang beberapa hari, dia mengaku mendapat pesan di aplikasi Whatsapp dari tenaga medis di RSI Aisyiyah.

Rekam gambar pesan Whatsapp itu ditayangkan koran Belanda, Eindhovens Dagblad.

Namun Joey menolak memberikan nomor yang mengabarinya soal status positif corona yang diklaim ia derita.

“Saya berusaha menghubungi nomor itu, tapi nomor itu sudah tidak aktif. Mereka sepertinya berusaha menutup semuanya,” klaim Joey.

“Perasaan saya berkata saya memang positif corona, apalagi salah satu rumah sakit bilang bahwa saya mengidap virus yang mereka tidak ketahui jenisnya.”

“Gejala yang saya alami juga persis dengan yang dialami pasien pengidap corona. Saya juga pergi ke Singapura yang didatangi banyak turis dari China.”

“Saya punya bukti bahwa saya dirawat di RSI Aisyiyah. Mereka bilang tidak pernah merawat atau melihat saya. Pernyataan mereka tidak benar,” klaimnya.

Namun Joey juga menolak memberikan bukti itu kepada BBC Indonesia untuk memperkuat pernyataannya.

“Cerita ini awalnya hanya diketahui keluarga saya, sekarang seluruh Belanda dan Indonesia tahu,” tuturnya.

“Saya tidak berniat berkonfrontasi dengan rumah sakit. Saya tidak mau dapat masalah. Mungkin lebih baik saya tidak membicarakannya lagi,” kata Joey.

Bantahan rumah sakit

RSUD Saiful Anwar mengakui bahwa mereka pernah menerima pasien dengan nama Joey Schouten.

Namun, kata juru bicara rumah sakit itu, Rusyandini Perdana, Joey tidak mengidap virus corona.

“Joey Schouten terdaftar sebagai pasien karena penyakit lain tanggal 23 Januari 2020. Setelah mendapat perawatan, tanggal 25 Januari dia diperbolehkan pulang,” ujar Rusyandini.

Sementara itu melalui unggahan di akun Instagram mereka, RSI Aisyiyah menyatakan tidak pernah merawat Joey. Mereka menyatakan klaim yang diutarakan Joey sebagai berita bohong.

‘Ada kejanggalan’

Seorang perempuan berdomisili di Malang mengaku menjadi wali Joey dalam proses rawat inap di Rumah Sakit Saiful Anwar.

Namun perempuan yang mengaku mengenal Joey sejak dua tahun lalu itu meminta identitasnya dirahasiakan.

“Tanggal 21 Maret, saat berita tentang Joey muncul, dia kirim pesan ke aku lewat Snapchat. Dia bilang kena corona,” ujarnya via telepon.

“Aku bertanya-tanya, apakah itu benar atau dia hanya cari alasan untuk bisa ngobrol. Aku lihat di statusnya, dia bilang ‘Mom, I’m famous dan ada emoji tertawa dengan air mata.”

“Apakah benar dia bangga karena positif corona? Aku merasa ada sesuatu yang salah,” kata dia.

Lagipula, sepengetahuan perempuan itu, Joey tidak pernah memeriksakan diri atau dirawat di RSI Aisyiyah.

Kejanggalannya, menurut dia, mengapa pernyataan bahwa Joey positif corona justru dikeluarkan RSI Aisyiyah.

Perempuan ini lantas menunjukkan bukti percakapannya dengan orang yang menemani Joey berobat selama di Blitar.

Surat rujukan yang diterima Joey di Blitar, kata dia, langsung mengarahkan warga Belanda itu ke Rumah Sakit Saiful Anwar, bukan RSI Aisyiyah.

Apakah kawan-kawan Joey di Jawa Timur menunjukkan gejala corona?

Tidak, kata perempuan sekaligus wali Joey selama perawatan di RS Saiful Anwar.

“Setelah ada berita Joey positif, aku ke RS Saiful Anwar, aku takut banget karena itu rumah sakit rujukan untuk penanganan corona,” tuturnya.

“Aku minta dites karena dekat dengan orang yang dinyatakan positif. Tapi petugas di sana tidak mau periksa karena aku baik-baik saja,” ujarnya.

Sejak akhir Januari hingga berita ini diturunkan, perempuan itu mengaku tidak pernah jatuh sakit atau mengalami batuk kering, flu berat, atau sesak nafas, gejala Covid-19.

Keluarga yang tinggal bersamanya pun tak menunjukkan gejala tertular corona, jika benar Joey mengidap virus tersebut.

“Pasien corona itu biasanya sedih karena sakit dan ingin identitasnya tak diketahui publik. Kenapa dia malah menyebarluaskan keadaannya dan sebangga itu. Apakah itu masuk akal?” tuturnya.

Siapa Joey?

Dalam profil akunnya di Facebook, Joey mengaku bekerja di perusahaan desain bernama Deco Creations di Belanda.

Joey mencantumkan Rijn Ijssel College Arnhem sebagai kampus tempatnya pernah menuntut ilmu desain grafis.

Joey juga menyebut Blitar sebagai domisilinya, meski berasal dari Helmond.

Menurut kawan perempuannya di Malang, Joey tinggal di Blitar selama hampir dua tahun terakhir.

“Dia tidak cocok disebut pelancong asal Belanda karena menetap lama di Blitar,” kata dia.

Sejak mengklaim tak cepat teridentifikasi mengidap virus corona di Indonesia, Joey menjadi pemberitaan di berbagai media massa Belanda.

Ia juga diwawancarai secara khusus oleh SLAM!, sebuah stasiun radio berbasis di Naarden, Belanda bagian utara.

Joey memiliki akun Instagram yang dikunci, khusus untuk akun yang ia terima sebagai kawannya.

Dalam akun itu, Joey mengunggah berbagai foto selama ia berada di Indonesia, tidak hanya Malang dan Blitar, tapi juga Bali.

Pada akun itu pula, ia memperlihatkan kegiatannya bersama sejumlah rekannya di Blitar yang merupakan warga lokal.

Virus corona: ‘Perang Covid-19’ Vietnam dengan mengerahkan semua warga ikut melacak

0

Vietnam mendapat pujian karena mampu menekan rendah jumlah kasus Covid-19, meskipun negara itu berbatasan langsung dengan China – pusat awal pandemi berasal.

Namun di balik keberhasilan ini, ternyata warga Vietnam yang diduga membawa virus corona dipaksa untuk menjalani karantina di fasilitas pemerintah.

Ketika Lan Anh (bukan nama sebenarnya) kembali ke rumahnya pada 22 Maret usai mengunjungi kerabat di Australia selama dua minggu, ia dibawa ke fasilitas karantina milik pemerintah yang didirikan di Universitas Nasional di Kota Ho Chi Minh.

Perempuan itu mengatakan ke BBC Vietnam tentang kondisi yang dia temui dan jalani di sana.

Toilet kotor, tempat tidur berkarat dan jaring laba-laba

“Toiletnya hitam dengan kotoran dan wastafelnya penuh dengan genangan air,” kata Lan Anh.

“Untungnya, tidak ada bau busuk, tapi sangat kotor. Lalu, tempat tidur berkarat – semuanya berdebu. Ada jaring laba-laba di mana-mana,” lanjutnya.

Pada malam pertama, kebanyakan orang hanya diberi satu tikar, tanpa bantal dan selimut.

“Hanya ada satu kipas angin di langit-langit kamar. Karena cuaca yang begitu panas dan lembab, seorang di kamar saya suhu badannya tinggi, mereka hampir harus dipantau.”

Perlengkapan di tempat karantina itu sudah disuplai kembali, kata Lan Anh.

Tapi dia prihatin dengan fasilitas yang buruk yang bisa memperkeruh ketakutan orang bahwa mereka – atau orang di sekitar mereka – dapat terinfeksi Covid-19 karena di tempat karantina lain telah ada kasus virus corona.

“Kami tidak butuh kenyamanan, tapi kebersihan itu perlu. Toilet, wastafel, dan kamar mandi kotor itu menampung virus dan penyakit-penyakit lain. Jika ada wabah di sini, kondisi sanitasi akan memperburuk keadaan.”

‘Solusi berbiaya rendah’

Pemerintah Vietnam telah menyatakan ‘perang’ terhadap virus corona dengan cara memobilisasi tenaga medis, pasukan keamanan, dan masyarakat untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

Tetapi, strategi yang diterapkan pemerintah Vietnam berbeda jauh dengan cara pengujian massal yang berhasil dilakukan oleh negara-negara kaya di Asia, seperti Korea Selatan.

Di Vietnam, negara padat berpenduduk 96 juta jiwa, Partai Komunis memutuskan untuk melacak virus corona secara agresif.

Menyadari bahwa hampir semua kasus – sebesar 141 kasus pada 25 Maret dan tidak ada korban jiwa – berasal dari orang yang tiba dari luar negeri, pemerintah mensyaratkan para pelancong untuk harus dikarantina selama 14 hari setelah kedatangan mereka.

Mereka yang diketahui memiliki virus corona diisolasi dan siapapun yang pernah kontak dilacak dan dites.

‘Melacak wisatawan asing’

Di antara para pelancong itu terdapat tiga wisatawan asal Inggris yang dilacak ke tempat tinggal mereka di Ho Long Bay, beberapa hari setelah mereka tiba di Vietnam awal bulan Maret ini.

Pemeriksaan itu terjadi karena seorang perempuan di penerbangan yang sama teruji positif Covid-19.

Polisi pun dikerahkan ke penginapan tiga orang Inggris itu guna memastikan mereka, yang berusia 20-an, tidak melarikan diri.

Usai ketiga warga negara Inggris itu dibawa untuk dikarantina, penjaga penginapan membakar kasur dan barang-barang lain yang bersentuhan dengan mereka.

Setelah setengah hari usai dites, ketiga wisatawan itu dipastikan tidak tertular.

Mereka pun kemudian dibawa ke rumah sakit yang tak dipakai lagi di Ninh Bình, Vietnam utara, dan diperintahkan untuk isolasi diri selama 12 hari ke depan.

Salah satu wisatawan, Alice Parker, mengatakan rumah sakit tempat mereka tinggal awalnya digunakan sebagai rumah sakit jiwa dan menjadi “sangat menakutkan di malam hari”.

“Kami memiliki toilet tapi tidak ada shower. Kami juga punya ember untuk mandi dan mencuci pakaian kami,” katanya.

“Kami sebenarnya cukup beruntung karena kami pernah mendengar orang dalam kondisi yang lebih parah.”

Gelombang infeksi kedua virus corona

Vietnam berupaya menghindari ‘lockdown’ atau penutupan wilayah seperti yang dilakukan negara-negara Eropa, namun mengkarantina mereka yang terkena virus.

Ada lebih dari 21.000 orang di daerah-daerah yang dikarantina dan sekitar 30.000 orang melakukan isolasi sendiri, menurut laporan Asia News Network pada 25 Maret.

Hak atas foto JayatogelGelombang kedua infeksi dari luar negeri telah mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah ketat.

Mulai Minggu (22/03), Vietnam melarang izin masuk untuk semua warga negara asing, termasuk warga asli Vietnam dan anggota keluarganya, kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemerintah telah memerintahkan untuk mengikuti siapa saja yang memasuki negara itu sejak 8 Maret.

“Dalam fase baru ini, kemungkinan penyebaran ke masyarakat sangat tinggi, jadi perlu langkah-langkah kuat untuk mencegah wabah sebelum memuncak,” kata Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc dikutip oleh media Vietnam.

‘Mobilisasi’

Sejauh ini, upaya Vietnam menekan penyebaran virus corona tetap rendah mendapat pujian.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), respons cepat pemerintah mengatasi keadaan darurat sangat penting dalam mengendalikan krisis pada tahap awal.

“Vietnam adalah masyarakat mobilisasi,” kata Carl Thayer, profesor emeritus di Universitas New South Wales Canberra, kepada Financial Times.

“Ini [Vietnam] adalah negara dengan satu partai; memiliki pasukan keamanan publik yang besar, militer dan partai itu sendiri; dan pemerintah sigap dalam merespons bencana alam.”

Namun, mencoba memobilisasi orang juga berarti bahwa orang itu didorong juga untuk mengawasi tetangganya, dan ketakutan untuk dipaksa karantina mungkin telah mendorong jumlah orang yang terinfeksi untuk bersembunyi, kata editor BBC Vietnam, Giang Nguyen.

Masyarakat informan

Para tetangga sering mengadukan kasus-kasus dugaan virus corona dan banyak yang khawatir pemerintah akan campur tangan dalam privasi mereka yang tinggal di daerah karantina.

Sementara itu, media yang dikontrol negara juga hanya menyampaikan pesan patriotik ke masyarakat terkait Covid-19.

Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc meminta orang-orang untuk mendukung apa yang disebut “perang panjang di musim semi”, – sebuah imbauan pada musim semi 1975 tentang serangan militer yang sukses terhadap pasukan Amerika Serikat.

Pemerintah mengatakan Vietnam harus mempersiapkan kemungkinan munculnya “ribuan” kasus dalam beberapa bulan mendatang.

Rumah sakit Bach Mai di Hanoi, yang pernah dibom oleh Amerika saat Perang Vietnam, kini telah dinyatakan sebagai pusat infeksi Covid-19 setelah sejumlah dokter dan pasien terinfeksi.

Sekarang, sekitar 500 staf medis rumah sakit itu sedang menjalani tes darurat untuk melihat apakah mereka aman dari virus.

Virus corona: Kuliah daring tentang kebahagiaan diburu warga yang terisolasi selama pandemi

0

Ketika sepertiga populasi dunia hidup dalam karantina atau “lockdown”, banyak dari mereka kembali ke sains untuk mendapatkan jawaban tentang bagaimana menjadi bahagia di masa sulit yang akibat pandemi.

Buktinya, pada 26 Maret malam, sekitar 1,3 juta orang telah terdaftar dalam modul daringdi Universitas Yale, Amerika Serikat, yang berjudul “Ilmu Kesejahteraan Hidup”.

Modul tentang kebahagiaan mungkin bukan mata pelajaran pertama yang muncul di kepala Anda ketika berpikir untuk belajar tentang sains, namun ternyata saat ini ada keinginan publik yang tak terbantahkan- terutama sejak wabah Covid-19 merebak.

Dari awal Desember hingga 26 Maret, jumlah peserta yang mendaftar dari Amerika Serikat melonjak tajam sampai 295%, menurut Universitas Yale.

Selain Amerika, jumlah siswa terbanyak juga berasal dari Kanada, Inggris dan India. Lusinan negara dan wilayah tempat pelajar berasal mencatat peningkatan pendaftar dua kali lipat dalam rentan waktu yang sama. Bahkan, lembar pendaftaran telah dibaca hingga 13 juta kali.

Profesor Laurie Santos, yang mengajar kursus online dan kelas di tingkat universitas, mengatakan mata pelajaran tentang kebahagiaan sangat populer saat pertama kali ditawarkan ke mahasiswa – menjadi kelas terbesar yang pernah ada dalam sejarah Universitas Yale selama 300 tahun. Hampir seperempat dari seluruh jumlah mahasiswa mengambil mata kuliah tersebut, katanya kepada BBC.

“Besarnya minat mahasiswa itu membuat saya sadar bahwa ada pasar untuk pelajaran itu bagi orang lain di luar kampus,” kata Santos. Ketika platform pendidikan online, Coursera, menerbitkan versi digital pada 2018, kursus itu menjadi salah satu kelas yang terbesar.

“Yang sangat gila adalah dalam tiga minggu terakhir – dari Maret 2018 hingga akhir Februari 2020, kami memiliki sekitar 500 ribu pelajar. Tetapi hanya dalam tiga minggu terakhir, jumlahnya meningkat dua kali lipat.”

“Kami memiliki 300 ribu [pendaftar] selama akhir pekan,” tambahnya, dengan siswa yang berasal dari beragam lapisan masyarakat, dari penyedia layanan kesehatan hingga petugas penjara.

Lonjakan siswa baru mungkin disebabkan oleh naluri manusia untuk mencari solusi dan cara dalam mengatasi masalah di waktu krisis – dan juga berkat waktu ekstra yang dimiliki mereka yang terjebak di dalam ruangan.

“Ini adalah cara untuk mengatasi kesehatan mental Anda, dan melakukannya dengan cara berbasis bukti,” kata Santos.

Kiat untuk menjadi bahagia di kondisi sekarang

Ahli ilmu saraf yang Emiliana Simon-Thomas mengajar ilmu kebahagiaan di kursus edX dan telah diikuti oleh lebih dari setengah juta siswa di seluruh dunia, menyampaikan tiga tips utama menjadi bahagia:

1. Kesadaran diri

“Hanya butuh lima menit untuk merasakan sensasi di tubuhmu, sensasi di sekitarmu…benar-benar rasakan di saat kamu masuk dalam, berusaha untuk tidak menyerah pada pandangan konstan ke depan dan ke belakang.”

2. Terhubung dengan orang lain

“Menghabiskan waktu secara sengaja berbincang dengan orang lain tentang pengalaman Anda, tentang pengalaman mereka, dan jika Anda bisa, cerita kejadian yang baik. Sulit memang untuk tidak merasa khawatir, namun kamu bisa tanya seseorang – apa yang Anda nikmati hari ini? Apakah dengan mandi pakai air panas? Pembicaraan apa yang menarik dan video apa yang Anda tonton yang benar-benar menyentuh dan menginspirasi?'”

3. Berlatih untuk bersyukur

“Coba untuk menuliskan kejadian-kejadian baik dan siapa yang ada dalam cerita itu. Terkadang mereka bukan pasangan atau tetangga Anda, tetapi seseorang yang tidak Anda kenal, yang mungkin telah memanen buah yang Anda makan. Benar-benar gali ke dalam perasaan kita tentang kemanusiaan saat ini, itu sangat penting dan cara kita untuk mengenali potensi [kita] untuk mengatasi tantangan ini sebagai komunitas.”

Jadi, bagaimana cara kerjanya?

Meskipun tampak aneh untuk menggunakan pendekatan ilmiah dalam mencapai kebahagiaan, ternyata proses analisis studinya sangat mudah: para peneliti menyurvei orang-orang yang bahagia dan mempelajari perilaku mereka, lalu menguji apakah mereka yang tidak bahagia dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka dengan melakukan hal yang sama.

Pada dasarnya, banyak pandangan dasar manusia tentang sesuatu yang membuat kita bahagia adalah salah, Santos menjelaskan.

“Kita berpikir kebahagian dan tidak itu berasal dari keadaan seperti jumlah uang yang didapatkan, dan harta benda. Mahasiswa saya berpikir nilai yang tinggi dan sempurna adalah kebahagiaan. Tetapi hasil penelitian menunjukan hal yang berbeda.”

Mengajarkan kebahagiaan adalah mengajarkan orang untuk tidak “menggandakan teori-teori buruk”.

Dalam pandemi virus corona saat ini, katanya, apa yang mungkin terpikirkan oleh kita adalah apa yang perlu kita beli, katakanlah seperti perabot baru ,untuk merasa bahagia – dan ketika itu tidak berhasil, Anda memutuskan untuk membeli barang lain yang lebih baik.

“Kami mengoreksi intuisi orang agar menyadari hal-hal yang benar-benar membuat kehidupan yang baik.”

Kemudian, tergantung pada peserta didik untuk mempraktikan hal-hal itu. “Kami mencoba membantu sedikit tentang itu – semua tugas-tugas di kelas mempraktikkan intervensi ini, dan kami tahu itu meningkatkan kebahagian mereka.”

Ahli saraf Emiliana Simon-Thomas, Direktur Sains dari The Greater Good Science Center (GGSC) Universitas California Berkeley, mengatakan “Masalah terbesar dalam krisis ini adalah dengan tidak mengetahui kapan krisis ini berakhir.”

Hak atas foto Keluaran HK
Image caption Seorang ibu dan dua anaknya tengah bercanda di masa isolasi.

Sistem saraf manusia dirancang secara evolusioner untuk menemukan pola-pola dalam lingkungan sosial dan menciptakan asosiasi, dia menjelaskan, namun dengan situasi yang berkembang pesat seperti Covid-19, mustahil untuk memenuhi keinginan itu.

Orang-orang dalam situasi sekarang cenderung melihat ke belakang mencari solusi atau merenungkan kemungkinan akan masa depan. Apakah saya akan kembali bekerja? Apakah saya bisa sakit? Bisakah saya membantu keluarga jika mereka sakit?

“Walaupun kedua kemampuan itu sangat adaptif dalam memecahkan masalah yang mendesak atau mengancam secara langsung, mereka sangat berbahaya dalam situasi seperti yang kita hadapi [virus corona] di mana ancamannya ambigu, dan durasinya tidak diketahui.”

Pandemik virus corona ini sangat menantang karena biasanya ketika orang mengatasi masalah akan ketidakpastian dan kecemasan, mereka bisa mengunjungi orang tua atau pergi ke pub dengan teman-teman – karena bukan masalah kesehatan fisik.

Jadi seperti apa peningkatan kebahagian dalam kondisi ‘lockdown’?

“Kabar baiknya adalah ini bukan flu tahun 1918 [flu Spanyol],” kata Prof Santos. “Kami memiliki teknologi yang memungkinkan kami terhubung dengan orang-orang – mungkin tidak dalam kehidupan nyata tetapi dalam waktu nyata. Kami dapat melihat ekspresi, mendengar mereka tertawa, hadir dalam kehidupan orang-orang.”

Dia menyarankan agar orang-orang menemukan cara untuk meningkatkan kebahagian, seperti panggilan video dengan orang-orang tersayang sambil membuat makan malam, karena interaksi penting seperti itu sering menjadi yang dirindukan dalam isolasi.

Merayakan ulang tahun melalui video chat.

Sepanjang krisis global saat ini, orang-orang tetap berkumpul bersama, menemukan cara untuk terhubung meskipun terhambat oleh karantina dan jarak. Video-video warga Italia yang bernyanyi bersama dari balkon mereka masing-masing menjadi viral dalam beberapa minggu terakhir. Lalu, ada juga cerita-cerita tentang para keluarga yang tetap melakukan perayaan walaupun terpisah jarak, dan menjadi berita utama.

“Terdapat berbagai cara dalam membingkai sesuatu bisa sangat kuat memengaruhi emosi kita ketika kita menghadapi krisis ini,” tambah Prof Santos.

“Terlepas dari betapa cemasnya perasaan, kita bisa mengendalikan narasinya dan membingkai krisis ini – kita bisa berpikir situasi sekarang sangat menyedihkan atau kita bisa menjadikan itu sebagai tantangan yang dihadapi oleh keluarga secara bersama-sama.”

Virus corona di Pakistan: ‘Kami tidak bisa melihatnya, tapi semua orang ketakutan’

0

Ketika Saadat Khan kembali ke rumahnya di desa di Utara Pakistan setelah melaksanakan umrah di Arab Saudi awal pekan ini, dia sambut dengan riuh rendah.

Menurut putra dari pria berusia 50 tahun ini, Haq Nawaz, sekitar 600 orang datang ke pesta sambutan itu.

“Kami memasak nasi, daging dan ayam,” tuturnya kepada BBC.

“Seluruh desa” datang dan menyelamatinya, tambahnya.

Selamatan atas ritual agama menjadi suatu tradisi di Pakistan.

Hanya beberapa hari kemudian, Khan menjadi orang pertama di negara itu yang meninggal karena virus corona dan desanya kini berada dalam karantina ketat.

Sekitar 46 orang di desa itu telah diuji sejauh ini, dan 39 di antaranya dinyatakan positif. Dua rekan yang pulang bersamanya dari Arab Saudi juga terinfeksi virus corona.

Kematian Khan menegaskan tantangan yang dihadapi dalam menangani penyebaran virus corona di negara berkembang seperti Pakistan, di mana kebanyakan keluarga besar tinggal bersama, sering kali dalam kondisi padat penduduk dan sistem kesehatan yang buruk.

Seorang pakar kesehatan memperingatkan bahwa negara itu menghadapi “marabahaya” jika tindakan pencegahan yang cukup tidak dilaksanakan.

Ada sekitar 1.000 kasus Covid-19 terkonfirmasi di Pakistan, delapan di antaranya meninggal dunia.

Hak atas foto Supplied
Image caption Khan (kanan) terlihat bersama dua jemaah umrah yang lain.

Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang kembali dari bepergian ke Iran, negara di Timur Tengah yang paling terdampak, namun muncul kekhawatiran tentang bagaimana virus itu menyebar.

Profesor Javed Akram, wakil rektor di University of Health Sciences di Lahore, mengatakan kepada BBC “penularan domestik” di Pakistan sekarang menjadi perhatian utamanya.

Akram menambahkan bahwa jumlah sebenarnya kasus di negara itu, seperti tempat lain di dunia, kemungkinan jauh lebih tinggi daripada yang telah dicatat, karena kurangnya kapasitas pengujian.

Sejauh ini, sekitar 6.000 tes telah dilakukan, sementara populasi Pakistan lebih dari 207 juta.

Kota pelabuhan Karachi yang padat adalah pusat bisnis Pakistan, dan telah menjadi rumah bagi meningkatnya infeksi virus corona. Di antara pasien positif virus corona adalah Saeed Ghani, menteri pendidikan untuk Provinsi Sindh.

Berbicara kepada BBC via telpon ketika dalam isolasi, Ghani mengatakan belum jelas bagaimana dia terinfeksi dan dia tak mengalami gejala apa pun.

Hak atas foto Social media
Image caption Jumlah kasus yang terkonfirmasi kian melonjak di Pakistan.

Dia mengatakan para pejabat sadar bahwa angka-angka yang dilaporkan belum tentu merupakan cerminan akurat dari kenyataan di lapangan, dan yang menyebabkan pemerintah lokal Sindh menerapkan karantina ketat awal pekan ini.

Semua perjalanan tidak penting di luar rumah telah dilarang, sementara hanya toko makanan dan medis yang diizinkan untuk tetap buka. Langkah-langkah serupa sekarang juga dilakukan di seluruh negeri.

Perdana Menteri Imran Khan, tampaknya tidak sejalan dengan pemerintah setempat. Dia sebelumnya mengatakan “lockdown” atau karantina wilayah tidak akan berkelanjutan di Pakistan, karena akan menyebabkan terlalu banyak kerugian bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Setelah pemerintah provinsi melanjutkan dan memperkenalkan langkah-langkah yang sama dengan lockdown, Khan berusaha menjelaskan bahwa dia hanya menentang apa yang dia sebut sebagai “jam malam,” sementara juga menguraikan beberapa langkah untuk melindungi warga miskin, yang bergantung pada upah harian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tidak seperti negara-negara Muslim lainnya, pemerintahannya belum memerintahkan untuk mengakhiri salat berjamaah pada hari Jumat.

Bagi Profesor Akram, menerapkan langkah-langkah pencegahan di Pakistan adalah suatu hal yang penting, seperti yang dia sebut sebagai “kurasi perawatan bukanlah opsi yang tepat”.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Muncul kekhawatiran tentang bagaimana virus itu mewabah di Pakistan.

Mengingat negara yang lebih kaya seperti Italia pun berjuang keras untuk menangani wabah, fasilitas kesehatan yang lebih “primitif” di Pakistan akan kewalahan, ujarnya.

Menekankan tantangan yang dihadapi oleh petugas kesehatan di negara itu, satu banding tujuh dari kasus yang terkonfirmasi di Pakistan sejauh ini adalah petugas kesehatan muda.

Dr Usama Riaz, yang berusia 26 tahun, bekerja di utara Gilgit-Baltistan, memeriksa orang-orang yang kembali dari Iran ketika dia akhirnya terinfeksi Covid-19 dan meninggal dunia.

Petugas medis mengkritik minimnya alat perlindungan diri bagi mereka. Salah satu kolega Riaz mengatakan kepada BBC bahwa kini mereka sudah diberi alat perlindungan diri, namun dia khawatir dokter di area lain belum mendapatkannya.

Hak atas foto Data HK
Image caption Dokter muda Usama Riaz meninggal akhir pekan lalu.

“Hidup dan mati ada di tangan Tuhan,” kata dia.

“Tapi bekerja tanpa alat perlindungan diri adalah bunuh diri”.

Para pejabat mengatakan pihaknya berupaya untuk menambah sumber daya petugas kesehatan.

Kembali ke desa Saadat Khan, korban jiwa pertama virus corona di Paksitan, warga mulai bersiap menghadapi krisis ini.

Salah satu keluarga Khan, yang juga dinyatakan positif meksipun tidak memiliki gejala apapun, mengatakan kepada BBC bahwa dia tidak memahami bagaimana penyakit itu bisa sangat mematikan, sangat cepat.

“Kami tidak dapat melihatnya, namun semua orang takut terhadapnya.”