A man with a National League for Democracy flag in Yangon

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Demonstrasi menentang kudeta militer berlangsung pada 40 kota di Myanmar, termasuk Yangon, Sabtu (27/03).

Setidaknya hampir seratus orang di Myanmar dikabarkan tewas saat aparat lokal menindak pedemo yang menentang kudeta militer di negara tersebut, Sabtu (27/03).

Sejumlah kalangan menyebut Sabtu kemarin sebagai hari paling mematikan sejak militer Myanmar merebut kekuasaan sipil, Februari lalu.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, menuding pembunuhan itu menunjukkan bahwa “pemerintahan junta militer Myanmar akan mengorbankan nyawa masyarakat demi kepentingan segelitir orang”.

Adapun Utusan khusus Uni Eropa untuk Myanmar menyatakan, Sabtu kemarin, yg diperingati sebagai Hari Angkatan Bersenjata, akan terukir menjadi hari penuh teror dan aib.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengaku sangat terkejut dengan peristiwa ini.

Keterangan video,

Warga Myanmar memberi semangat kepada para relawan medis yang melarikan pengunjuk rasa yang terluka ke rumah sakit.

Berkaitan yang terjadi?

Tindakan keras yang mematikan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, terjadi saat pengunjuk rasa menentang peringatan Hari Angkatan Bersenjata. Pedemo turun ke jalan-jalan di berbagai kota.

Kelompok aktivis bernama Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP), menyebut setidaknya 91 pedemo tewas Sabtu kemarin. Namun beberapa media massa lokal memperkirakan angka korban tewas lebih tinggi.

“Mereka membunuh kami seperti burung / ayam, bahkan saat kami tengah berada di rumah kami, ” kata warga Myanmar, Thu Ya Zaw, kepada kantor berita Reuters, di kota Myingyan.

“Kami akan terus melancarkan protes, ” ujarnya.

Keterangan gambar,

Sebuah keluarga di Yangon berduka atas kematian anggota keluarga mereka.

Pada Jumat malam sebelumnya, stasiun televisi milik pemerintah menyiarkan pernyataan bahwa “warga Myanmar diharuskan belajar dari tragedi kematian yang buruk sebelumnya serta bahwa mereka terancam ditembak di kepala dan punggung”.

Pasukan keamanan mengerahkan kekuatan untuk mencegah unjuk rasa.

Berbagai foto yang diunggah di media sosial menunjukkan orang-orang dengan luka tembak dan keluarga yang berduka.

Direktur Jaringan Hak Asasi Manusia Myanmar di Inggris, Kyaw Win, berkata kepada BBC bahwa militer negara itu tidak memiliki batasan dan tidak memegang prinsip.

“Ini pembantaian, bukan lagi tindakan keras, ” kata Kyaw Win.

Keterangan gambar,

Barikade untuk menghambat gerakan pengunjuk rasa di Yangon dibakar.

Tindakan keras oleh peluru tajam dilaporkan terjadi di lebih dari forty lokasi di seluruh Myanmar.

Situs berita lokal, Myanmar Now , menyebut jumlah korban tewas mencapai 114 orang. Sementara PBB mengaku menerima laporan tentang “puluhan orang tewas” dan ratusan lainnya yang terluka.

AAPP mengatakan, seorang anak perempuan berusia 13 tahun adalah satu pada antara korban tewas. Dia ditembak mati saat berada di dalam rumahnya.

Keterangan gambar,

Otoritas militer Myanmar sempat memberikan ultimatum kepada warga Myanmar tentang tindakan keras yang bakal mereka terapkan.

Sejumlah saksi lalu sumber mengatakan kepada BBC tentang kematian pengunjuk rasa yang juga terjadi pada kota lainnya, seperti Magway, Mogok, Kyaukpadaung, dan Mayangone.

Kematian juga dilaporkan terjadi di Yangon dan pada jalan-jalan kota terbesar kedua di Myanmar, yaitu Mandalay.

Di Mandalay para pengunjuk rasa membawa bendera Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Mereka juga menunjukkan salam tiga jari, simbol anti-otoriter mereka.

Keterangan gambar,

Lewat pidato yang disiarkan di televisi, Jenderal Min Aung Hlaing mengancam orang-orang yang dia anggap mengganggu keamanan dan stabilitas nasional.

Keterangan gambar,

Tentara Myanmar melakukan parade dalam peringatan Hari Angkatan Bersenjata, Sabtu (27/03).

Pihak militer belum mengeluarkan pernyataan apapun terkait pembunuhan yang terjadi.

Dalam pidato pada seremoni Hari Angkatan Bersenjata yang disiarkan di televisi, pemimpin kudeta, Jenderal Min Aung Hlaing, menyebut tentara ingin “bergandengan tangan dengan seluruh bangsa untuk menjaga demokrasi”.

“Tindakan kekerasan yang mempengaruhi stabilitas dan keamanan untuk menyatakan tuntutan adalah perbuatan yang tidak tepat, ” ujarnya.

Sementara itu, kelompok etnis bersenjata di timur Myanmar mengatakan, sejumlah pesawat tempur militer menjadikan wilayah yg mereka kuasai sebagai focus on.

Serangan terhadap wilayah tersebut dilancarkan beberapa jam setelah kelompok bernama Karen National Union itu mengeklaim telah menyerbu sebuah pos militer dekat perbatasan Thailand.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok itu dengan militer Myanmar. Selama beberapa tahun terakhir, hubungan mereka relatif damai.

Anak-anak juga menjadi korban tewas dan terluka

Moe Myint, BBC Burma

Di seluruh Myanmar, anak-anak turut jadi korban yang terluka dan tewas pada hari paling berdarah sejak kudeta tanggal 1 Februari.

Seorang Ibu dari anak berusia empat belas tahun, bernama Skillet Ei Phyu, berkata yakni dia bergegas menutup sepenuhnya pintu rumah saat mendengar pasukan tentara militer turun ke permukimannya.

Namun dia tidak cukup cepat. Tak lama setelahnya, dia memegangi tubuh putrinya yang berlumuran darah.

“Saya melihatnya pingsan dan awalnya mengira dia terpeleset dan jatuh. Namun kemudian darah muncrat dari dadanya, ” katanya kepada BBC Burma dari Kota Meiktila di Myanmar tengah.

Pembunuhan secara acak ini sangat mengejutkan. Berbekal senjata perang, pasukan keamanan tampaknya bersedia menembak siapa juga yang mereka lihat di jalanan.

Kebrutalan itu menunjukkan mereka mampu mengambil tindakan yang lebih ekstrem ketimbang yang telah kita saksikan sejak kudeta.

Pihak militer maupun gerakan pro-demokrasi belum mau mengendurkan sikap mereka.

Militer mengira dapat meneror masyarakat untuk mencapai “stabilitas dan keamanan”. Namun gerakan jalanan yang dipimpin oleh orang-orang muda bertekad membersihkan Myanmar dari kediktatoran militer untuk selamanya.

Sungguh menyakitkan menghitung jumlah korban tewas, terutama anak-anak.

Kejadian Sabtu kemarin ini membikin jumlah orang yang terbunuh di Myanmar sejak kudeta 1 Februari lalu menjadi lebih dari 400 orang.

Militer menguasai Myanmar setelah mereka tidak mengakui pemilu yang dimenangkan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi.