Wakil Bupati Kepulauan Sangihe Helmud Hontong, 58 tahun, adalah kritikus vokal yang menolak proyek tambang emas di Pulau Sangihe.

Sumber gambar, Pemkab Kepulauan Sangihe

Keterangan gambar,

Wakil Bupati Kepulauan Sangihe Helmud Hontong, 58 tahun, adalah kritikus kritis yang menolak proyek profesional emas di Pulau Sangihe.

Kematian Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Helmud Hontong dianggap sebagai “simbol perjuangan yang melipatgandakan semangat warga untuk menolak program pertambangan emas”.

Setelah dua hari BBC News Indonesia menerbitkan berita “Pertambangan emas Pulau Sangihe: Risiko hilangnya burung endemik dengan bangkit dari 100 tarikh ‘kepunahan'”, Wakil Bupati Helmud Hontong meninggal dunia di atas pesawat.

Dua kejadian itu menarik perhatian mulia publik, khususnya warganet.

Diantara mereka ada yang memper kematian wakil bupati secara sikapnya yang menolak pertambangan emas di lebih dari setengah pulau kecil dan terluar utara Indonesia yang berbatasan dengan Filipina tersebut.

Kepada BBC Indonesia, manager tambang perusahaan Tambang Mas Sangihe (TMS) Bob Priyo Husodo, sebelumnya menyebut, terjadi politisasi akan beragam aksi protes yang menolak perusahaan.

“Yang penolakan itu masyarakat pendatang, oleh sebab itu masyarakat desa kami menjemput, ada saksinya dari warga hingga aparatur desa. Kita clear, mereka mendukung, ” katanya.

Sementara itu, perkara luas lahan konsesi 42. 000 hektare dalam perikatan karya itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Ridwan Djamaluddin, menjelaskan “luasnya akan mengecil”.

Baca juga:

Ditambah sedang, kematian Helmud disebut “janggal” karena keluar darah sebab mulut dan hidungnya, jadi beberapa warganet menyebut Helmud sebagai “Munir Jilid II”.

Munir adalah aktivis HAM yang meninggal dalam udara yang membawanya dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda, dalam September 2004.

Helmud kini disebut menjelma menjadi tanda perjuangan warga yang semangatnya berlipat ganda dalam menolak tambang.

Lalu, bagaimana tali merah peristiwa itu?

Keterangan BBC Indonesia dan respons publik

Keterangan gambar,

Seriwang sangihe, atau yang disebut masyarakat lokal jadi manu’ niu, adalah burung yang hanya ada di Pulau Sangihe.

Senin, (07/06), dua hari setelah keterangan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, BBC News Indonesia menatangkan liputan yang berjudul “Pertambangan emas Pulau Sangihe: Risiko hilangnya burung endemik yang bangkit dari 100 tahun ‘kepunahan'”.

Liputan itu mengamati rencana pertambangan emas pada Pulau Sangihe yang berpotensi mengancam burung endemik dengan sempat dianggap “punah” seabad lalu dan “menenggelamkan” tanah tersebut dalam kerusakan.

Rumor itu adalah seriwang sangihe atau Manu’ niu, sejenis masyarakat lokal menyebutnya, dengan sempat dianggap “punah” semasa seratus tahun.

Sampai sekitar 20 tahun lalu, masa mereka terlihat kembali pada Gunung Sahendaruman, di daksina Pulau Sangihe yang meresap dalam wilayah konsesi perusahaan Tambang Mas Sangihe (TMS) sebesar 42. 000 hektare.

“Kalau tambang masuk, burung mati dan punah, alas rusak lalu terjadi terbis, masyarakat kehilangan kehidupan. Saya tidak bisa membayangkan dengan jalan apa kehidupan kami nanti, ” kata Anius Dadoali, yang biasa dipanggil Bu Niu adalah warga lokal yang menemukan seriwang sangihe tarikh 1998.

Keterangan gambar,

Anius Dadoali, yang normal dipanggil Bu Niu ialah warga lokal yang menjumpai seriwang sangihe tahun 1998.

Koordinator Jatam Merah Johansyah mengatakan, izin wilayah sumbangan tersebut berpotensi “menenggelamkan” pulau tersebut.

“Di pulau kecil seperti Sangihe, semuanya terpatok, air tawar terbatas, ekologi terbatas. Kalau setengah pulau jadi wilayah tambang, masuk itu pulau dalam kebobrokan, ” kata Merah.

Abang mengatakan, telah terdapat 55 pulau dari sekitar 13. 000 pulau kecil dalam Indonesia yang dieksploitasi sebab pertambangan dan “tenggelam” pada kerusakan.

Berita itu mendapatkan respons publik di jalan sosial, seperti akun twitter @jatamnas, @andreasharsono, @GUSDURians, serta lainnya.

Maut dan sikap wakil bupati menolak tambang hingga ‘Munir Jilid II’

Dua hari setelah berita tayang, Pengantara Bupati Kepulauan Sangihe Helmud Hontong meninggal dunia dalam atas pesawat saat kunjungan dari Bali menuju Manado, Sulawesi Utara.

Ajudan Helmud, Harmen Rivaldi Kontu, mengutarakan sebelum meninggal, politisi Partai Golkar itu mengeluh tersuntuk.

“Sekitar lima menit itu saya lihat Bapak tepat tersandar. Saya panggil & kore-kore (colek) namun sudah tidak ada respons sedang. Saya langsung panggil pramugari, namun tetap Bapak tidak ada respons. Kemudian muncul darah lewat mulut. Tidak lama kemudian darah muncul dari hidung, ” prawacana Harmen ketika dimintai pengesahan detikcom, Kamis (9/6).

Moralitas Helmud mendapat perhatian umum secara luas, khususnya tempat proses kematian yang disebut “janggal” dan sikap pemangku bupati yang menolak rancangan tambang dengan mengirimkan surat ke pemerintah pusat.

“Analisis emosi pada Twitter yang paling mulia adalah kesedihan akan meninggalnya Wabup dan emosi ketakutan dimana kematian Wabup disebut mengerikan, ” kata Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, aplikasi yang menganalisis jalan sosial.

“Jadi publik mengakui ini sebagai hal sangat negatif tentang praktik pemberian izin kepada perusahaan untuk mengeksploitasi daerah itu, ” katanya.

Beberapa akun Twitter menyebut, janji Helmud memiliki kemiripan dengan aktivis HAM Munir Thalib yang tewas diracun arsenik di pesawat saat menuju Belanda, 17 tahun silam.

Munir adalah Pendiri Imparsial dan aktivis Kontras dengan membela para korban pelanggaran HAM masa lalu.

“Publik bahkan mengecap Wabup Sangihe sebagai Munir Jilid II, bisa dilihat dari respons di Twitter dan juga ketika jenazah pulang mendapat sambutan luar biasa dari warga sana, seolah-olah pahlawan karena sedikit sekadar pejabat yang benar-benar berani bersuara dan membela warganya, ” lanjut Ismail.

Ismail menambahkan, respons warganet bersifat organik serta tidak ada upaya penggerakan bot ataupun buzzer.

“Dan yang menarik, bukan cuma dari kalangan aktivis sekadar, tapi dukungan juga hadir dari kalangan Kpopers & anak muda yang ikut bersuara atas kasus itu, ” kata Ismail.

Kepolisian bergerak

Keterangan gambar,

Jenazah Wabup Sangihe Helmud Hontong saat di ruangan VVIP Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Kamis (10/06).

Kepolisian bergerak melakukan pendalaman untuk mengusut penyebab moralitas Helmud dengan membentuk awak khusus dan melakukan autopsi.

Hasil autopsi sementara, tak ditemukan racun di awak Helmud. Kematian diduga sebab komplikasi penyakit yang menahun.

Namun untuk kesimpulan sebab hasil autopis akan diumumkan sekitar dua pekan aliran.

Sambil menunggu itu, Mabes Polri akan memeriksa orang-orang yang berinteraksi dengan Helmud, termasuk ajudan pribadinya untuk menelusuri jejak komunikasi daripada Bali hingga di dalam pesawat.

Sementara itu Pemimpin Jatam, Merah Johanysah, meminta polisi untuk tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian Helmud.

“Penyebabnya karena penyakit, serta tidak ditemukan racun tersebut kan kesimpulan sebelumnya yang diulang-ulang. Jadi tunggu nanti hasil labnya, jadi tanpa tergesa-gesa, ” kata Merah.

“Dan harus dilakukan penelitian yang lebih luas daripada menginap dimana, siapa dengan ditelepon, siapa di sekitarnya. Pertanyaan publik itu harus dijawab oleh penegak hukum secara jelas dan terang agar tidak ada prasangka. ”

Walaupun pihak kepolisian telah memberikan penjelasan sementara mengenai penyebab kematian itu, gerakan penolakan tambang yang terdiri dari 25 sistem kemasyarakatan, Save Sangihe Island (SSI), meminta pihak kepolisian untuk memberikan penjelasan dengan jelas untuk meredam pemikiran yang berkembang.

“Kami ngerasa berduka dengan kepergian Bapak Hotong yang berjuang untuk Sangihe. Kami minta petugas untuk menjelaskan secara terang benderang sebab kematian Bapak Hontong ke masyarakat Sangihe dan Indonesia, ” ahli bicara kata SSI, Samsared Barahama.

Salim Kancil had Golfried Siregar

Penggunaan kebengisan fisik untuk meredam para pejuang lingkungan pernah berlaku di masa lalu.

Pemimpin Jatam, Merah Johansyah, mempertontonkan kasus pembunuhan Salim Akal keling yang menolak penambangan ramal di Lumajang Jawa Timur.

Kemudian, dugaan pembunuhan pelopor Walhi Sumatera Utara Golfried Siregar yang menangani urusan hukum perizinan pembukaan wilayah hutan Batang Toru pada Tapanuli untuk proyek Penyemangat Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dan kasus pembalakan liar di Kabupaten Karo, serta beberapa kasus lain.

Sepanjang tahun lalu, Jatam mencatat terjadi 45 konflik tambang yang mengakibatkan 69 orang dikriminalisasi & lebih dari 700. 000 hektare lahan rusak.

“Tambang itu masuk dengan besar cara saja, yaitu secara cara koruptif dan kekerasan dari yang lunak ancaman hingga kekerasan fisik kriminalisasi atau pembunuhan, ” katanya.

Oasis dan menguatnya semangat penolakan

Kematian Helmud kini dianggap sebagai “simbol perjuangan yang menggandakan kekuatan warga Sangihe di dalam menolak tambang”.

“Kematian itu menjadi simbol perjuangan, petitih oasis dan semangat anyar bagi masyarakat terlepas apapun hasilnya. Masyarakat semakin kuat menolak pertambangan apalagi semakin terang dugaan-dugaan pelanggaran dalam terbitnya izin tambang tersebut, ” kata Merah Johansyah.

Keterangan gambar,

Zona izin usaha PT TMS di Pulau Sangihe.

Selaras dengan itu, juru kata SSI Samsared Barahama, mengatakan almarhum Helmud adalah “sosok pemimpin yang merakyat”.

“Ia dekat dengan masyarakat, & sangat peduli ketika ada kondisi sosial masyarakat yang terganggu, jadi ketika tempat melihat ada masalah-masalah baik dia langsung bereaksi. Pak Wabup bersama-sama dengan anak buah menolak tambang dan ini merupakan sebuah langkah berbudi dari seorang wabup meskipun dalam keterbatasnaya dia memindahkan surat” katanya.

Sehingga moralitas Helmud, kata Samsared, menjadi pemicu dan semangat warga Sangihe untuk terus berjuang menolak tambang, salah satunya adalah dengan menggugat persetujuan eksploitasi ke pengadilan.

“Masyarakat terdampak melalui kuasa lembaga akan mengajukan gugatan class action terhadap IUP yang dikeluarkan Menteri ESDM ke PTUN Jakarta dalam waktu sesegera mungkin. Harapan awak IUP dibatalkan dan PT TMS tidak beroperasi di Pulau Sangihe, ” cakap Samsared.

Selain itu, SSI dan warga lingkar terowongan juga diundang untuk bersemuka dengan Dewan Pertimbangan Presiden di Jakarta untuk membahas dugaan pelanggaran IUP serta dampak kerusakan yang mau ditimbulkan jika pertambangan jalan.

Tanggapan perusahaan dan pemerintah pusat

Manager tambang kongsi Tambang Mas Sangihe (TMS) Bob Priyo Husodo mengecap “telah terjadi politisasi arah beragam aksi protes yang menolak perusahaan”.

“Yang protes itu masyarakat pendatang, maka masyarakat desa kami undang, ada saksinya dari warga hingga aparatur desa. Kita clear, mereka mendukung, ” katanya.

Bob juga mengatakan, kini perusahaan tengah pokok pada membebasan lahan.

“Situasi di desa kami [lingkar tambang] aman memang, itu ada yang mempolitisir. Tapi sudah lah, prinsipnya kami akan fokus di pembebasan lahan, kami menentang satu per satu [warga] untuk pembebasan lahan. Semuanya positif, dukungan masyarakat mengalir, ” logat Bob.

Sementara itu, terkait luas lahan konsesi 42. 000 hektare dalam perikatan karya itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Ridwan Djamaluddin, menjelaskan “luasnya akan mengecil”.

“Misalnya dari luas daerah 100 hektare kemudian diteliti dan tinggal misalnya 25 hektare, di situ kerjanya, jadi akan ada pertimbangan-pertimbangan teknis, ” kata Ridwan.

Ia juga menyoroti adanya dugaan oknum dari pertambangan emas tanpa izin dengan terganggu saat pemerintah mencari jalan memformalkan kegiatan pertambangan.

“Sudah ada 200 lubang tangan di Sangihe, apakah tidak patut kita menduga masa pemerintah mau memformalkan kesibukan pertambangan, ada pihak asing yang terganggu kepentingannya.

“Lebih baik diusahakan menggunakan regulasi dan praktik pertambangan yang benar daripada kita membiarkan orang melakukan kegiatan pertambangan tanpa izin, ” katanya.

Pemerintah pusat, kata Ridwan, berjanji akan melakukan perlindungan ketat agar pertambangan aurum tak mengakibatkan kerusakan dunia seperti pencemaran sumber tirta dan wilayah pesisir.

“Percayalah kami bukan orang perusak. Anda, mereka, dan saya itu hidup di Dunia yang sama, jadi cita-cita kita ingin agar Bumi ini sama-sama terjaga, ” janji dia.