Hong Kong

Sumber gambar, NurPhoto per Getty Images

Keterangan gambar,

Foto ilustrasi. Praktisi migran Indonesia khawatir larangan pemerintah Hong Kong untuk penerbangan dari Indoonesia situ menyulitkan kondisi mereka

Kebijakan Hong Kong melarang semua penumpang pesawat amblas dari Indonesia ke wilayahnya dikhawatirkan bakal diikuti negara-negara lain jika pemerintah Nusantara tidak memperketat pemeriksaan ( screening ) atas semua calon penumpang dan awak pesawat ke luar negeri.

Masalah screening di Indonesia itu diduga menjadi penyebab terdeteksinya virus Covid pada pengikut pesawat dari Indonesia setiba di Hong Kong.

“Itu kan artinya ada yang tidak pas dalam masalah screening penumpang di Indonesia. Alat screening kita ini belum bisa mampu menscreening para penumpang dengan eksak, baik perjalanan dalam jati maupun luar negeri, ” kata epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, kepada BBC News Indonesia Kamis (24/6).

Dalam berbagai jalan, sejumlah pejabat mulai sebab Kapolri hingga Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, mengatakan bakal memperketat protokol kesehatan tubuh di bandara dan pangkalan guna mencegah penularan Covid-19.

Menurut Kementerian Luar Negeri RI, pemerintah Hong Kong pada 23 Juni 2021 telah mengumumkan bahwa mulai tanggal 25 Juni 2021 akan menetapkan status Indonesia menjadi negeri kategori A1 ( extremely high risk ). Dalam kategori itu, semua penumpang penerbangan daripada Indonesia tidak diperbolehkan mengikuti Hong Kong.

Sedangkan kalangan pekerja migran Indonesia dalam wilayah China itu kacau bahwa kebijakan otorita setempat kian menyulitkan kondisi mereka.

Dipersulit masuk ke negara2 lain

Sinyal bahwa penduduk Indonesia bisa dipersulit ketika memasuki negara-negara lain, menurut Pandu, sudah tahun semrawut diperlihatkan Malaysia terhadap para pekerja migran Indonesia dengan dilarang masuk ke negara tersebut.

Yang terkini adalah saat Hong Kong melarang penerbangan maskapai Garuda Indonesia untuk sementara waktu setelah sejumlah penumpangnya diketahui positif Covid.

“Kalau sekarang dihukum penerbangannya, itu artinya Garuda bisa mendorong supaya pihak kantor kesehatan pelabuhan sungguh-sungguh menerapkan sistem screening penumpang yang seakurat mungkin dengan kualitas yang terbaik, ” kata Pandu.

Bukti gambar,

Petugas kesehatan di Bandara Soekarno-Hatta

Dia juga mengingatkan, pra Hong Kong, sudah semenjak tahun lalu otoritas dalam Jepang, Korea Selatan, & Taiwan juga mendapati penumpang pesawat asal Indonesia nyata mengidap Covid setelah dites PCR setiba di bandara.

Seperti yang diungkapkan siaran pers Kemlu RI, pembatasan tersebut ditempuh pemerintah Hong Kong karena terdapat peningkatan jumlah kasus Covid-19 daripada Indonesia. Menurut Pandu, status ini tidak saja menghambat perjalanan warga Indonesia ke Hong Kong, namun bisa juga ke negara-negara lain.

“Maka kemungkinan buruk itu bisa terjadi. Seharusnya tersebut sejak tahun lalu kita pikirkan bahwa Indonesia penduduknya akan dipersulit, akan dianggap sebagai sumber penularan, namun negara-negara lain sudah bisa mengendalikan pandemi, ” ujarnya.

Maka Pandu menyarankan pada pemerintah untuk segera meyakinkan setiap penumpang dan raga pesawat yang akan ke luar negeri, harus melaksanakan pemeriksaan yang lebih akurat untuk menegaskan mereka banget negatif atau tidak membawa virus.

WNI jangan dulu tinggalkan Hong Kong

Juru kata Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, menyarankan semua WNI di Hong Kong jangan dulu meninggalkan provinsi itu.

“Pada intinya di dalam kondisi sekarang memang tak direkomendasikan untuk meninggalkan Hong Kong karena mereka mau mengalami kesulitan untuk kembali lagi ke Hong Kong, ” ujar Faizasyah pada BBC News Indonesia (24/6).

Pihakya memaklumi bila tersedia pekerja migran Indonesia yang tengah menjalani cuti ataupun keperluan lain di kampung halaman dan akibat kebijaksanaan pemerintah Hong Kong membuat mereka sulit kembali ke sana.

Faizasyah mengimbau supaya pekerja migran itu segera menghubungi pihak atau penyalur yang mempekerjakan mereka jadi hak-hak mereka tidak dirugikan.

“Kami juga telah mengeluarkan pemberitahuan kepada WNI di Hong Kong, intinya merupakan apabila ada hal-hal yang memerluka klarifikasi atau penjelasan lebih lanjut mereka mampu berhubungan dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong, ” ujar Faizasyah.

Sebelumnya laman resmi Kemlu RI menyatakan bahwa kebijakan pemerintah Hong Kong tersebut tidak diterapkan ke Nusantara saja. Sebelumnya, Filipina, India, Nepal, dan Pakistan dengan telah masuk kategori A1 terlebih dahulu.

“Kebijakan ini bersifat sementara dan mau dikaji ulang secara periodik, ” ujar Kemlu.

Praktisi migran Indonesia was-was

Sringatin, seorang pekerja migran dengan sudah 19 tahun menyala di Hong Kong, bergandengan rekan-rekannya merasa was-was bakal munculnya larangan penerbangan dibanding Indonesia. Terutama bagi dengan ingin pulang sementara zaman atau yang sudah kadung berada di kampung kaca untuk cuti.

“Kami sudah khawatir sejak adanya pembatasan penerbangan pesawat Garuda daripada Indonesia ke Hong Kong bulan Juni ini serta itu membuat kami was-was jangan-jangan nanti diperpanjang atau ada maskapai lain dengan dilarang masuk ke Hong Kong, ” kata Sringatin, yang juga Ketua Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) kepada BBC News Indonesia.

Menurutnya, larangan itu sahih mengganggu rencana teman-temannya, khususnya pekerja di sektor rumah tangga, karena mereka sudah booking hotel untuk karantina.

Selain itu, mereka sudah kebacut mengatur jadwal dengan majikannya terkait keberangkatan kembali ke Hong Kong. “Termasuk selalu jika mereka sudah melaksanakan tes PCR, maka mau tidak mau mereka kudu melakukan tes yang kedua, ” ujarnya.

Sringatin juga mengungkapkan bahwa kedudukan rata-rata para pekerja migran Indonesia di Hong Kong selama pandemi, terutama di sektor rumah tangga, saat ini bertambah berat.

Selain perubahan jatah waktu istirahat & beban kerja yang berserang, mereka juga menghadapi stigmatisasi yang cukup kuat sejak pemerintah Hong Kong.

“Tentu itu membawa opini umum, seakan-akan PRT migran tersebut pembawa virus dan serupa sebagai calon penyebar virus corona. Itu yang membuahkan ada larangan-larangan berkumpul, larangan untuk libur, bahkan tersedia kewajiban tes dalam masa tertentu yang diberlakukan untuk PRT migran, ” perkataan Sringatin, yang juga pemimpin Jaringan Buruh Migran Nusantara di Hong Kong.

Oleh sebab itu, menurut nya, para pekerja migran di Hong Kong saat ini mengalami stres atas tiga hal di tengah pandemi.

“Yaitu stres secara keuangan, stres secara mental, & juga secara fisik, sebab tekanan-tekanan dari keluarga tuan maupun keluarga di wilayah halaman dan juga aturan-aturan di Hong Kong yang menambah stres buruh migran. ”