Orang tua murid SD Negeri 1 Wesalo mengantar murid ke sekolah pada hari pertama masuk sekolah Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Rabu (17/03).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/JOJON

Data gambar,

Orang tua murid SD Negeri satu Wesalo mengantar murid ke sekolah pada hari baru masuk sekolah Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Rabu (17/03).

Di tengah bergulirnya vaksinasi terhadap lima juta pendidik & tenaga pendidik yang dimulai Februari lalu dan ditargetkan selesai pada akhir Juni, pemerintah Indonesia merencanakan pembukaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli, saat awal ajaran baru.

Kurang sekolah di daerah telah menjalankan simulasi PTM dibanding sekarang.

Seperti di Tunggal, Jawa Tengah, terdapat 23 sekolah dan satu langgar yang telah melakukan PTM, seperti SMP Negeri 13 Solo yang melaksanakannya sejak Senin lalu (22/03).

Dalam Bekasi, Jawa Barat, ada 110 sekolah tingkat SD dan SMP yang melayani PTM, di antaranya SMP Negeri 2 Kota Bekasi.

Epidemiolog lantaran Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, menegaskan PTM mampu dilakukan jika tingkat peristiwa positif ( positivity rate ) infeksi virus corona di sepadan daerah rendah atau kurang dari 5% sehingga masuk dalam kategori zona tenang.

“Itu bagaimana logikanya masa kasus harian masih enam. 000 bahkan pernah 10. 000 sekolah malah dibuka? Angka itu menunjukan positivity rate dan tingkat penularannya masih tinggi. Ini bisa mengerikan, transmisi di kalangan murid akan tinggi, dan menciptakan klaster sekolah, ” kata Yunis kepada BBC News Indonesia, Selasa (23/03).

Tingkat positif di Nusantara berada di angka sekitar 13% yang artinya mempunyai penularan tinggi dan kritis bagi murid jika harus bersekolah.

Baca selalu:

Jawa Barat berada di tingkat pertama penambahan jumlah urusan harian, lalu diikuti Jakarta dan Jawa Tengah.

Solo dan Bekasi berada pada zona jingga dengan resiko penularan sedang, Selasa (23/03).

Sementara itu, pengamat pelajaran menilai PTM bisa dilakukan jika seluruh tenaga pendidik telah divaksin, sarana prasarana sekolah menunjang pelaksanaan adat kesehatan, serta terdapat pengawasan dan evaluasi yang cermat dari pemerintah daerah, instruktur, hingga masyarakat.

Sebelumnya, Gajah Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menargetkan akhir Juni, sekitar lima juta pendidik dan tenaga pendidik menerima vaksin sehingga pada tahun ajaran 2021/2022, sekitar di Juli, pembelajaran tatap depan dapat dilakukan.

Pelaksanaan PTM di zona jingga

Keterangan tulisan,

Siswa SMP Muhammadiyah 1 Solo cukup mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka pada Jumat (19/3).

“Saya senang sekali mampu masuk sekolah kembali karena hampir setahun di panti. Yang dirindukan adalah keramaian di sekolah seperti sepadan teman yang selama itu tidak bertemu, ” ungkap seorang siswa kelas IX SMP Negeri 13 Tunggal usai melaksanakan PTM kepada wartawan Fajar Sodiq dengan melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (23/03).

Tersebut adalah hari kedua periode pertama bagi murid SMP Negeri 13 Solo pada melaksanakan simulasi PTM.

Penelaahan berlangsung dua jam dibanding pukul 07. 00 mematok 09. 00 WIB yang diisi tiga mata pelajaran.

“Secara keseluruhan berjalan membantu dan sesuai dengan protokol kesehatan. Anak-anak berangkat dan pulang dijemput orang sampai umur. Kemudian memakai masker, basuh tangan, cek suhu tubuh, ” kata Kepala Sekolah SMP Negeri 13 Tunggal Kucisti Ike Retnaningtyas.

Ike menambahkan, jumlah murid di satu kelas berjumlah kira-kira 16 orang atau 50% dari jumlah siswa secara jarak antar kursi sekitar satu meter.

Murid dengan tinggal di zona kritis tidak bisa mengikuti PTM dan hingga kini telah 80% guru dari madrasah itu yang menerima vaksin tahap dua, dan sisanya vaksin tahap satu, kata pendahuluan Ike.

Anak murung dalam rumah

Keterangan gambar,

Siswa kelas IX SMP Negeri 9 Solo sedang mengikuti pembelajaran tatap depan. Masing-masing tempat duduk siswa diberi jarak.

Salah satu orang tua murid sebab SMP Negeri 4 Tunggal yang telah melaksanakan PTM sejak Senin lalu, Henry Satya Negara mendukung agenda tersebut.

“Mengantar dan menyambut anak harus on time , dan harus pengampu sendiri. Dan di kendaraan ada tulisan (nama anak) seperti di bandara. Nanti ada petugas sekolah yang akan memanggil anak tersebut. Tidak boleh keluar kalau orang tuanya belum ada di sekolah, ” kata pendahuluan Henry.

Henry mengizinkan anaknya kembali ke sekolah karena metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama setahun itu telah membuat anak jenuh.

“Saya lihat kalau di rumah itu, anak terkesan murung, di kamar langsung, ” kata Henry.

Dia pun tidak takut secara potensi penularan Covid-19 karena percaya dengan kemampuan madrasah melaksanakan protokol kesehatan.

Selain di Solo, PTM serupa berlangsung di Kota Bekasi, seperti SMP Negeri 2 Kota Bekasi yang melakukan PTM sejak Senin kemarin.

Pelaksanaan PTM diikuti 50% atau maksimal 18 murid dengan jam belajar lantaran 08. 00 hingga 10. 00 WIB.

Simulasi pemanasan sebelum PTM bulan Juli

Keterangan gambar,

Siswa SMP Negeri 13 Solo mengikuti simulasi Penelaahan Tatap Muka (PTM) dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 di Solo, Jawa Pusat, Kamis (18/03).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Etty Retnowati, mengatakan pelaksanaan PTM sekolah bersifat simulasi.

“Ini untuk pemanasan membiasakan bujang bangun, mandi pagi, pakai seragam, dan sarapan. Tersebut sulit karena anak-ank sudah setahun tidak sekolah, ” kata Etty.

Etty menambahkan terdapat 23 sekolah & satu madrasah yang melakukan PTM dari sekitar 72 sekolah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Solo, Siti Wahyuningsing mengatakan, saat in guru yang telah divaksin di Solo mencapai 5. 700 guru dari mutlak sekitar 10. 000 orang.

“Untuk guru sudah divaksin di Solo jadi belakang ketika Juli tatap membuang, kekebalannya sudah muncul sebab sudah beberapa waktu yang lalu, ” kata Siti.

Di wilayah lain, Pemprov DKI Jakarta berencana menggelar sejumlah sekolah untuk dijadikan percontohan PTM. Terdapat sekitar 50 hingga 100 madrasah dari SD hingga SMA yang kemungkinan melaksanakan PTM.

“Logikanya dimana? ”

Keterangan gambar,

Siswa membaca Al Quran era pembelajaran tatap muka (PTM) di SDI Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (22/03).

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, menanggung program PTM mengingat hasil negatif yang ditimbulkan pengoperasian PJJ.

Namun, pelaksanaan tersebut tidak bisa dilakukan era tingkat penyebaran virus corona masih tinggi, katanya.

“Ini bagaimana logikanya ya? Pada saat kasus kita hariannya masih 6. 000 bahkan maka 10. 000, mau sekolah, logikanya di mana? Tersebut kan artinya positivity rate , level penularannya masih tinggi, ” kata Yunis.

Menurut Yunis, sebelum mengizinkan sekolah dibuka, pemerintah harus terlebih awal memutus jaring penyebaran Covid-19, dengan cara meningkatkan ulangan, penelusuran kontak, serta penyekatan sosial.

“Guru divaksin tersebut tidak lantas aman, Sinovac itu efikasinya 65, 3%, artinya 34, 7% tutor masih bisa terinfeksi, apalagi muridnya yang tidak divaksin.

Potensi penularan mulai dibanding rumah, di perjalanan, dalam sekolah, pulang sekolah, ” kata Yunis.

“Di China yang sudah hijau, positivity rate di bawah 5%, melaksanakan protokol ketat serta mahal, saja masih berburai, apalagi kemungkinan di Nusantara, ” katanya.

Lantas apa solusinya? Menurut Yunis, suatu daerah bisa melaksanakan PTM jika level infeksi harian berada di bawah 5% dan menyelundup dalam zona hijau porakporanda penularan Covid rendah.

“Kalau 5% hingga 10% tersebut sedang, bisa PTM akan tetapi dengan syarat protokol kesehatan tubuh ketat seperti semua kudu diswab atau antigen untuk memitigasi resiko. Sanitasi cara, thermo gun , dan hand sanitizer .

“Tapi kalau dalam atas 10% itu luhur, tidak boleh PTM. Awut-awutan, anak diberikan vaksin Pfizer yang bisa untuk leler enam tahun ke berasaskan. Kasihan anaknya kalau kudu sekolah tapi belum diimuniasi, ” ujarnya.

Jangan sampai sekolah jadi klaster Covid-19

Keterangan gambar,

Guru mengawasi anak saat ujian sekolah dalam SDN 1 Narimbang Agung, Lebak, Banten, Selasa (23/03).

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, mendukung PTM Juli kelak.

“Karena PJJ membuka fakta bahwa kualitas murid menjadi menurun, kekerasan pada anak meningkat, paparan terhadap gadget meningkat dari kecanduan maka kena sakit jiwa, ” kata Ubaid.

Namun, pengoperasian PTM harus dilakukan dengan persiapan matang dan pengamalan protokol kesehatan yang saksama.

“Juli itu sebentar teristimewa, tapi masih banyak madrasah yang sarana prasarananya belum siap, seperti sanitasinya membatalkan. Pemantauan kami, satu sebab tiga toilet sekolah itu tidak layak. Lalu wadah cuci tangan tidak ada, ” kata Ubaid.

Kemudian, hingga saat ini, masih banyak tenaga pendidik yang belum divaksin, kata Ubaid.

“Sekolah juga masih ada yang belum melakukan pemetaan siswa dan guru laksana tinggal dimana, bagaimana ke sekolah, pernah bertemu secara kasus positif, peta itu harus dilakukan jangan datang sekolah jadi klaster Covid-19, ” kata Ubaid.

Pemerintah harus memberikan alokasi uang operasional kepada sekolah untuk mempersiapkan hal tersebut.

“Dampak positif PTM itu, kualitas bisa baik, angka kebengisan anak tidak ada lagi, pembelajaran berjalan efektif. Tapi negatifnya jika tidak dipersiapkan matang, akan ada klaster baru di sekolah, ” katanya.

Target Juli PTM terlaksana

Keterangan tulisan,

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) berbincang dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat meninjau vaksinasi COVID-19 massal bagi pedagang dalam Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta, Rabu (17/02).

Presiden Joko Widodo berniat pelaksanaan vaksin kepada para-para tenaga pendidik selesai secara cepat sehingga PTM dapat dilakukan di awal prinsip baru, Juli mendatang.

“Sehingga di bulan Juli saat mulai ajaran baru semuanya bisa berjalan normal balik, saya kira targetnya itu, ” ujar Jokowi saat meninjau vaksinasi di SMA Negeri 70 Jakarta, Rabu (24/02).

Senada dengan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kultur Nadiem Makarim menargetkan vaksinasi terhadap 5, 5 juta pengajar selesai pada simpulan Juni.

“Setelah mayoritas pendidik dan tenaga kependidikan divaksin dosis kedua dan selambatnya tahun ajaran baru, oleh sebab itu satuan pendidikan diwajibkan menyerahkan opsi layanan pembelajaran tatap muka secara terbatas, ” kata Nadiem dalam Kerap Kerja dengan Komisi X DPR, Kamis (18/03).

Berdasarkan data hingga November tarikh lalu, lebih dari 500 ribu satuan pendidikan dengan telah mengajukan izin melangsungkan PTM.

Alasan PTM dilakukan

Keterangan gambar,

Menteri Pendidikan dan Kultur Nadiem Makarim mengikuti kerap kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Kongres, Senayan, Jakarta, Kamis (18/03).

Nadiem menjelaskan alasan dilakukannya PTM pada Juli mendatang. Pertama, Covid-19 memiliki resiko yang lebih tinggi menginfeksi tenaga pendidikan, sementara infeksi pada anak umumnya tidak bergejala.

Kedua, resiko transmisi Covid-19 lebih besar masa anak di beraktivitas di luar sekolah, bukan zaman PTM di dalam posisi.

Ketiga, Nadiem menyoroti kemajuan pendidikan Indonesia yang primitif jauh dengan negara asing yang terdampak Covid-19 serupa.

“Kita lihat statistik yang cukup mengkhawatirkan saya. Lantaran semua 23 negara dalam kawasan Asia Timur dan Pasifik, Bapak, Ibu, kita, adalah 85% dari semua negara tersebut sudah buka sekolahnya. Kita tertinggal. Kita dalam 15% dari negeri itu yang masih melangsungkan cuma partially open .

Tapi keterangan kalau 15% bukan partially open, tapi kebanyakan mati. Jadinya ini adalah suatu hal yang, keputusan kita adalah kita mau ketinggalan seberapa jauh dari negara lain. Ini di Asia ya, ” kata Nadiem.

Nadiem mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki tingkat transmisi Covid yang lebih berat telah membuka 40% sekolahnya untuk PTM.

“Jadi tersebut benar-benar keputusan kita sebagai pembuat kebijakan dan kesimpulan pemerintah dan semua lembaga yang peduli ke anak-anak kita bahwa kita kudu secepat mungkin mengembalikan bujang untuk melakukan tatap depan, ” ujarnya.