Sumber gambar, Anadolu Agency

Petunjuk gambar,

Foto arsip. Sejumlah warga Palestina turut serta dalam pawai yang memperingati 31 tarikh pendirian Hamas di Praja Gaza, pada 2018 lulus.

Hamas adalah kawanan terbesar di antara kaum Muslim Palestina lainnya.

Nama Hamas sendiri adalah akronim bahasa Arab yang jika diterjemahkan bermakna Tindakan Perlawanan Islam. Kelompok itu berdiri pada 1987 di permulaan intifada Palestina prima melawan pendudukan Israel di Tepi Barat dan Sabuk Gaza.

Karena itu, dalam piagam pendiriannya, Hamas berkomitmen untuk menghancurkan Israel. Komitmen itu diwujudkan melalui divisi militernya—Brigade Izzedine al-Qassam.

Bakal tetapi, tujuan Hamas bukan semata-semata itu.

Baca juga:

Keterangan gambar,

Hamas menciptakan divisi tentara, Brigade Izzedine al-Qassam.

Golongan tersebut juga melaksanakan rencana kesejahteraan sosial bagi rakyat Palestina. Bahkan, sejak 2005, ketika Israel menarik tentara dan pemukimnya dari Gaza, Hamas terlibat dalam jalan politik Palestina.

Hamas merebut pemilihan umum legislatif dalam 2006, kemudian menguatkan kendalinya di Gaza serta mendepak rivalnya, Gerakan Fatah arahan Presiden Mahmoud Abbas.

Sejak saat itu, kelompok di Gaza telah melakoni tiga pertempuran melawan Israel. Mesir belakangan bergabung dengan menerapkan blokade untuk mengisolasi Hamas dan menekannya agar membatalkan serangan.

Hamas, sebagai sebuah organisasi, atau dalam kaum kasus, divisi bersenjatanya, dicap sebagai kelompok teroris sebab Israel, Amerika Serikat, Asosiasi Eropa, Inggris, dan kaum negara lain.

Bom pati padam muncul

Setelah intifada pertama di Palestina, Hamas muncul sebagai kelompok utama penentang kesepakatan damai yang ditandatangani pada awal 1990-an antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), organisasi yang mewakili sebagian besar anak buah Palestina.

Walau digempur berkali-kali oleh Israel dan dirazia oleh Otorita Palestina (badan pemerintahan utama rakyat Palestina) Hamas punya kekuatan membatalkan atas proses perdamaian dengan melancarkan serangkaian serangan bunuh diri.

Tanda gambar,

Hamas mengaku berada di pulih pengeboman bunuh diri di dalam bus di Yerusalem pada Februari 1996 dengan menewaskan 26 orang.

Di Februari dan Maret 1996, Hamas melancarkan beberapa pengeboman bunuh diri di dalam bus sehingga menewaskan hampir 60 warga Israel. Susunan serangan itu ditempuh jadi pembalasan atas pembunuhan pelaksana bom Hamas, Yahya Ayyash, pada Desember 1995.

Jejeran aksi pengeboman itu dituding sebagai hal yang menyusun Israel menghentikan proses perdamaian dan mengerek Benjamin Netanyahu—penentang kesepakatan damai Oslo—ke ujung kekuasaan tahun itu.

Setelah kesepakatan damai Oslo kandas, Presiden AS Bill Clinton berupaya menghidupkan perdamaian meniti pertemuan di Camp David pada 2000. Upaya itu juga gagal dan intifada kedua menyusul.

Hamas meraih kekuasaan dan pengaruh masa Israel membungkam Otorita Palestina, yang dituduh mensponsori serangan-serangan mematikan.

Hamas lantas mengelola sejumlah klinik dan madrasah bagi warga Palestina yang merasa dikecewakan oleh korupnya Otoritas Palestina yang didominasi faksi Fatah.

Mengucapkan juga:

Keterangan gambar,

Atasan spiritual Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, tewas akibat serangan udara Israel pada 2004.

Banyak warga Palestina menerima gelombang serangan bunuh muncul Hamas pada awal intifada kedua. Mereka memandang proses “martir” sebagai pembalasan pada pendudukan Israel di Tepi Barat—wilayah yang diinginkan kaum Palestina sebagai bagian sebab negara mereka.

Namun, Israel tidak tinggal diam. Dalam Maret dan April 2004, pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmed Yassin dan pengganti abu bakar, Abdul Aziz al-Rantissi, dibunuh melalui serangan rudal dalam Gaza.

Di dalam daerah Palestina, perseteruan antara Hamas dan Fatah merebak sesudah pemimpin Fatah, Yasser Arafat, meninggal dunia pada November tahun tersebut.

Keterangan gambar,

Tokoh Hamas, Ismail Haniyeh (kiri) sempat menjabat sebagai perdana menteri Palestina. Dia berdampingan dengan Kepala Palestina, Mahmoud Abbas (kanan).

Mahmoud Abbas, yang menjadi pemimpin Fatah, menilai gempuran roket Hamas kontraproduktif.

Kala Hamas menang telak dalam pemilihan umum legislatif pada 2006, perseteruan itu semakin nyata. Hamas menolak berperan dalam kesepakatan damai Palestina-Israel sebelumnya, menolak mengakui pengesahan Israel, dan menepis suruhan untuk mengakhiri aksi kebengisan.

Piagam 1988

Prasasti Hamas menyatakan Palestina—termasuk negeri Israel saat ini—sebagai wilayah Islam serta menolak kemufakatan damai dengan negara Yahudi.

Dokumen itu juga berulang kali menyerang orang-orang Yahudi sebagai sebuah bangsa, jadi mendatangkan tuduhan bahwa aliran Hamas anti-Semitik.

Pada 2017, Hamas merilis dokumen kebijaksanaan terbaru yang menghaluskan sebanyak sikap terdahulu dan memakai bahasa yang terukur.

Di dalam dokumen itu, Hamas tentu tidak mengakui Israel, namun menerima secara formal pendirian negara Palestina secara interim di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur—yang dikenal sebagai garis sebelum 1967.

Dokumen itu pun mendahulukan bahwa perjuangan Hamas bukan terhadap Yahudi, tapi terhadap “agresor Zionis yang menyelenggarakan pendudukan”.

Israel berkata grup tersebut “berupaya membodohi dunia”.

Rangkaian sanksi

Gerak-gerik pemerintahan pimpinan Hamas langsung diganjar dengan rangkaian sanksi ekonomi dan diplomatik oleh Israel dan sekutu-sekutunya dalam Barat.

Setelah Hamas mendepak pasukan loyalis Fatah dari Gaza pada 2007, Israel memperketat blokade pada teritori tersebut. Serangan roket Palestina dan gempuran udara Israel berlanjut.

Data gambar,

Hamas mengambil alih kekuasaan pada Gaza dari pasukan loyalis Mahmoud Abbas dalam pertikaian berdarah pada 2007.

Israel menuding Hamas bertanggung tanggungan atas semua serangan yang dilesatkan dari Jalur Gaza. Israel lantas melancarkan tiga operasi militer besar di Gaza yang diikuti pertambahan pertempuran lintas perbatasan.

Dalam Desember 2008, militer Israel menggelar operasi militer ‘Cast Lead’ dengan dalih meninggalkan serangan-serangan roket Palestina. Bertambah dari 1. 300 orang Palestina dan 13 orang Israel tewas dalam pukulan 22 hari itu.

Israel memakai alasan yang cocok saat menggelar operasi tentara ‘Pilar Pertahanan’ pada November 2012, dengan terlebih dahulu melakukan serangan udara dengan menewaskan Ahmed Jabari, komandan Brigade Qassam.

Sebanyak 170 orang Palestina—sebagian besar awak sipil—dan enam orang Israel tewas dalam delapan keadaan serangan.

Dalam konteks militer, kekuatan Hamas dilemahkan akibat dua operasi tersebut. Namun, organisasi itu bertahan anugerah dukungan rakyat Palestina.

Keterangan tulisan,

Hamas dan kelompok lainnya di Gaza kerap melesatkan roket ke arah kota-kota Israel.

Gempuran roket dari Gaza balik meningkat pada pertengahan Juni 2014, ketika Israel membekukan banyak anggota Hamas di sepanjang Tepi Barat waktu mencari tiga remaja Israel.

Pada awal Juli, Hamas mengklaim bertanggung jawas pada penembakan sejumlah roket ke Israel untuk kali prima dalam dua tahun. Keadaan berikutnya militer Israel menerapkan operasi ‘Perlindungan Batas’ jawab menghancurkan roket-roket dan bermacam-macam terowongan lintas perbatasan yang dipakai warga Palestina.

Sediktinya 2. 251 orang Palestina—termasuk 1. 462 warga sipil—tewas dalam serangan 50 hari itu. Di pihak Israel, sebanyak 67 serdadu dan enam warga sipil tewas.

Keterangan tulisan,

Pertikaian Israel dan kelompok Palestina pada Gaza pada 2014 membina penghuni kawasan itu menderita.

Sejak 2014, ada sebesar letupan kekerasan yang sudah dengan gencatan senjata. Mesir, Qatar, dan PBB tampil sebagai penengah sehingga aktivitas kekerasan tersebut tidak bereskalasi menjadi perang berskala lengkap.

Walau dilanda blokade, Hamas tetap berkuasa di Gaza dan terus menambah persenjataan roketnya. Beberapa upaya untuk mengadakan rekonsiliasi dengan Fatah juga gagal.

Sementara itu, situasi kemanusiaan dua juta warga Palestina di Gaza semakin buruk. Perekonomian pada Jalur Gaza telah ambruk, dan terjadi kekurangan air, listrik, dan obat-obatan.