Sumber gambar, China News Service via Getty Images

Petunjuk gambar,

Vaksin Sinopharm

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan pengesahan darurat bagi vaksin Covid Sinopharm buatan perusahaan negeri China.

Ini kala pertama vaksin produksi negeri non-Barat yang mendapat persetujuan WHO.

Vaksin ini sudah diberikan kepada jutaan orang di China dan tempat-tempat lain.

WHO sebelumnya cuma menyetujui vaksin buatan Pfizer, AstraZeneca, Johnson & Johnson dan Moderna.

Namun pihak regulator sebanyak negara – terutama pada Afrika, Amerika Latin serta Asia – telah lebih dulu menyetujui vaksin-vaksin buatan China untuk penggunaan gawat.

Dengan sedikitnya data dengan dirilis secara internasional semenjak awal, efektivitas vaksin-vaksin pokok China belum langsung diperkirakan.

Namun WHO pada Jumat (07/05) menyatakan bahwa pihaknya telah mengesahkan “keamanan, kemujaraban, dan kualitas” vaksin Sinopharm.

Keterangan gambar,

Penyuntikan vaksin Sinopharm di Karachi, Pakistan

Bagi WHO, penambahan vaksin itu “berpotensi mempercepat akses vaksin Covid-19 bagi negeri2 yang berupaya melindungi para tenaga kesehatan dan populasi yang berisiko”

Organisasi Kesehatan tubuh Dunia itu merekomendasikan vaksin tersebut diberikan dalam besar dosis kepada orang berusia 18 tahun ke pada.

Keputusan atas vaksin China lainnya, yaitu Sinovac, mau muncul beberapa hari kelak, sementara vaksin Sputnik rekaan Rusia masih dalam penghargaan.

Mengapa dukungan WHO tersebut penting?

Lampu hijau lantaran organisasi itu merupakan arahan bagi pihak regulator pada mancanegara untuk memastikan vaksin yang dimaksud aman serta efektif.

Direktur-Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kalau pihaknya akan mempercayakan negeri2 “untuk mempercepat persetujuan yang telah mereka buat. ”

Ini juga berarti bahwa vaksin itu bisa digunakan di dalam program global, Covax, dengan didirikan tahun lalu buat menjamin akses vaksin dengan berkeadilan di kalangan negara-negara maju dan miskin.

Kesimpulan untuk memasukkan vaksin China itu dalam daftar penerapan darurat diharapkan memberi percepatan yang signifikan atas rencana Covax, yang selama tersebut kesulitan dengan masalah sediaan.

Sebelum dapat persetujuan daripada WHO, vaksin Sinopharm telah dipakai secara luas, yaitu sekitar 65 juta dosis, menurut sejumlah laporan.

Selain China, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Hungaria ialah negara-negara lain yang telah memakai Sinopharm.

Keputusan mengizinkan Sinopharm bagi penggunaan kritis itu dikeluarkan oleh ikatan penasihat teknis WHO, dengan mengkaji data klinis terbaru dan praktik pembuatan vaksinnya.

Dikatakan tingkat kemanjuran vaksin untuk kasus Covid-19 yang bergejala dan rawat inap diperkirakan 79%.

WHO mencatat bahwa sedikit orang dewasa di arah usia 60 tahun yang dilibatkan dalam uji klinis, sehingga tingkat efikasinya belum dapat dipastikan untuk golongan usia tersebut.

Tetapi WHO menyebut tidak ada asas untuk mengira bahwa vaksin itu akan memiliki efek berbeda bagi penerima dengan berusia lanjut.

Sampai informasi ini diturunkan WHO belum memberi putusan atas vaksin asal China lainnya, Sinovac. Para pakar Jumat lulus mengaku masih menunggu fakta tambahan sebelum memberi rekomendasi.

Namun jutaan dosis vaksin Sinovac sudah dikirim ke sejumlah negara dan memiliki izin penggunaan darurat oleh pihak berwenang setempat.

Keterangan video,

What do we know about the Chinese vaccines?

Salah kepala kelebihan vaksin-vaksin asal China itu adalah mereka bisa disimpan di lemari pendingin dengan suhu 2-8 nilai celcius, seperti vaksin AstraZeneca.

Menurut WHO, penyimpanan yang mudah itu membuat vaksin Sinopharm “sangat cocok dalam lingkungan dengan sumber yang terbatas. ”

Bagaimana cara kerja vaksin asal China?

Dua vaksin asal China itu berbeda dengan lain, terutama Pfizer serta Moderna.

Dikembangkan dengan cara yang lebih tradisional, suntikan itu menggunakan virus yang tidak aktif, yang berarti menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk mengekspos pola kekebalan tubuh tanpa mengambil risiko respons penyakit dengan serius.

Sebagai pedoman, BioNtech/Pfizer dan Moderna ialah tipe vaksin mRNA. Itu berarti bagian dari kode genetik virus corona disuntikkan ke tubuh, melatih bentuk kekebalan untuk meresponsnya.

Sedangkan AstraZeneca asal Inggris ialah tipe vaksin yang berbeda, yaitu versi virus flu biasa dari simpanse dimodifikasi untuk mengandung materi genetik yang sama dengan virus corona. Setelah disuntikkan, vaksin itu mengajarkan sistem kekuatan tubuh bagaimana melawan virus yang sebenarnya.

BioNTech/Pfizer and Moderna memiliki tingkat efikasi sekitar 90% atau bertambah, sedangkan AstraZeneca sekitar 76%.

April lalu, seorang pejabat pengendalian penyakit di China sempat mengatakan tingkat efikasi vaksin buatan negaranya kecil, walau akhirnya dia mengutarakan bahwa komentarnya itu disalahrtikan.