Sumber gambar, ANTARA FOTO/SEVIANTO PAKIDING

Keterangan gambar,

Jenazah guru sekolah dasar Oktovianus Rayo yang meninggal akibat ditembak oleh kelompok bersenjata tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Papua, Sabtu (10/04).

Pasukan Polri-TNI dan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TNPPB) diminta menghentikan tembak-menembak sementara sesudah warga sipil kembali jadi korban konflik yang terus meluas di Papua.

Pasukan tambahan TNI-Polri sudah tiba di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua, Kamis (15/04), menyusul rentetan kekerasan yg menewaskan tiga orang warga sipil pendatang dalam dua pekan ini.

Seorang tukang ojek dan dua jamaah guru di wilayah tersebut ditembak mati oleh kelompok bersenjata yang menyebut sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, TPNPB.

Sebelumnya kekerasan sering terjadi di Papua yang memakan korban warga sipil Papua, para pendatang, anggota TNI-Polri dan pasukan TPNPB.

Baca juga:

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, Cahyo Pamungkas, meminta kedua pihak yang bertikai agar menahan diri supaya warga sipil bukan terus menjadi korban konflik bersenjata.

“Melakukan jeda kemanusiaan, kedua pihak menghentikan tembak menembak, agar masyarakat sipil tidak terus menjadi korban, ” kata Cahyo kepada wartawan BBC News Philippines, Heyder Affan, Kamis (15/04).

Keterangan gambar,

Natalina Pamean (kanan), istri Oktovianus Rayo, guru sekolah yg ditembak mati oleh kelompok bersenjata di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, menangis sesudah peti jenazah suaminya tiba di Timika, Papua, Sabtu (10/04).

Pasukan Polri-TNI dan TNPB harus membuat kesepakatan agar tidak melakukan pergerakan dan penyerangan, tambahnya.

“Hentikan kekerasan dan kemudian memberikan akses kepada warga sipil di pengungsian supaya meraih pelayanan, ” ujar Cahyo.

Menurutnya ini adalah langkah paling realistis di tengah sikap saling tidak percaya “yang makin tinggi” masa dua pihak dan “kekerasan yang meluas”.

“Stop tembak menembak dulu. Tanpa [jeda kemanusiaan] itu tidak mungkin ada langkah lain untuk menghindari korban pada kalangan warga sipil, inch katanya.

Sikap senada juga disuarakan Ketua Majelis Rakyat Papua Timotius Murib, yang menyatakan bahwa “tanpa jeda kemanusiaan, konflik [di Papua] akan semakin meluas dari hari ke hari”.

“Dan akan banyak warga sipil yang menjadi korban. Bisa orang Papua, dapat juga non Papua. Ya kira harus kita cegah bersama-sama, ” kata Timotius kepada wartawan di Papua, Yulia Lantipo kepada BBC News Indonesia, Kamis (15/04).

Mengapa polisi menambah pasukan?

Polda Papua telah menempatkan pasukan tambahan di Kabupaten Puncak, dan mengklaim berhasil menguasai kembali lokasi pada sekitar bandar udara setempat, yang dilaporkan sempat dikuasai kelompok bersenjata TNPB.

Rabu (14/04), pasukan Polri lalu TNI “sudah tiba” pada Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua, dan dalam Kamis (15/04) mereka proses “penguatan dan pengejaran” terhadap “kelompok kriminal bersenjata”.

“Mereka (TNPB) sudah lari dri sekitar bandara, ” kata Juru bicara Polda Papua, Kombes Ahmad Mustofa Kamal kepada wartawan di Papua, Yuliana Lantipo untuk BBC News Indonesia, Kamis (14/04).

Disebutkan, pasukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu menguasai sekitar bandara.

Polisi menyebut mereka menguasai perbukitan pada kanan-kiri bandara setempat.

Keterangan gambar,

Seorang sopir ojek bernama Udin ditembak mati Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TNPB) di Kampung Eromaga, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, Papua, Rabu (14/04).

Keberadaan bandara ini dianggap penting dikarenakan pesawat yang membawa bahan pangan untuk dipasok di wilayah itu.

Penambahan pasukan Polri-TNI itu di Kabupaten Puncak menyusul penembakan dua orang guru, Oktovianus Rayo dan Yonatan Benden — masing-masing guru SD Jambul dan SMP Negeri I Beoga.

Menurut polisi, kelompok kriminal bersenjata juga membakar sejumlah ruangan di tiga sekolah, yaitu SD Jambul, SMP Negeri I dan SMA Negeri I Beoga.

Baca juga:

Dan, dalam Rabu (14/04), sopir ojek bernama Udin ditembak mati TNPB di Kampung Eromaga, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, Papua.

Aksi kekerasan ini dilaporkan membuat belasan jamaah warga pendatang mengungsi pada dekat kantor instansi militer dan polisi setempat.

Warga pendatang di beberapa distrik disebutkan pula tidak berani melakukan aktivitasnya dan sebagian dilaporkan mengungsi.

Apa tanggapan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat, TNPPB?

Juru Bicara TNPPB, Sebby Sambom, contohnya dikutip sejumlah media, mengeklaim bahwa pihaknya “bertanggungjawab” arah penembakan dua orang master dan tukang ojek di Kabupaten Puncak, Papua.

“Yang bertanggung jawab atas penembakan tukang ojek di Eromaga adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sayap militer OPM, ” kata Sebby, Kamis (15/04).

Keterangan gambar,

Anggota Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka berpose dalam foto yang dikirim juru bicara kelompok itu, Sebby Sambom.

Tukang ojek itu ditembak mati karena dianggap “mata-mata TNI dan Polri”, katanya.

Dua orang guru yang ditembak mati di Beoga, menurut Sebby, juga “mata-mata TNI/Polri yang telah lama diidentifikasi”.

Tuduhan ini dibantah Juru bicara Kepolisian Kota Papua, Kombes Ahmad Mustofa Kamal, yang menyebutnya sebagai propaganda untuk menutupi kekeliruan TNPB yang menembak mati warga sipil tidak bersenjata.

“Mereka memang berkualifikasi sebagai seorang guru. Pak Udin juga seorang tukang ojek, ” kata Ahmad Mustofa.

Sejauh ini TPNPB tidak menanggapi tuduhan polisi yakni mereka berada di balik pembakaran beberapa ruangan sekolah di Kabupaten Puncak.

Saatnya ‘jeda kemanusiaan’, Polri-TNI lalu OPM diminta hentikan saling tembak

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, Cahyo Pamungkas, mengatakan, konflik kekerasan di Papua “bergeser serta meluas” hingga ke Kabupaten Puncak.

Dia menyebut rentetan kekerasan di Papua “seperti spiral yang meluas” lalu “memakan banyak korban pada kalangan masyarakat sipil”.

Cahyo mencontohkan kasus-kasus kekerasan yg menimpa pendeta, pelajar, serta belakangan guru serta tukang ojek di Kabupaten Puncak.

Keterangan gambar,

Sebanyak 500-an prajurit yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Yonif Para Raider 432/Waspada Setia Jaya tiba di Kota Jayapura, 6 Sept 2020.

“Ini yang disebut sebagai spiral kekerasan, ” kata Cahyo kepada BBC News Indonesia, Kamis (15/04).

“Di satu sisi orang per orang aparat melakukan e by tra judicial killing terhadap orang Papua, tapi sisi lain kelompok TPNPB juga melakukan extra judicial killing terhadap warga yang tidak merupakan orang Papua, ” jelasnya.

Dia menganalisa, hal ini terjadi sebagai konsekuensi “pendekatan keamanan” yang ditempuh pada Papua.

Baca juga:

Dikarenakan itulah, “Polri-TNI dan TPNPB sudah saatnya melakukan jeda kemanusiaan, hentikan saling tembak, kemudian memberikan akses kepada warga sipil di pengungsian untuk mendapatkan pelayanan”.

Menurutnya ini adalah satu-satunya sarana dalam jangka pendek buat mengakhiri sementara “spiral kekerasan” di Papua. “Kalau tersebut tidak dilakukan, tidak maka akan ada perubahan apa-apa [di Papua]”.

Keterangan gambar,

Sejumlah personel Brimob dikerahkan untuk melengkapi pengejaran terhadap pelaku penembakan para pekerja proyek pembangunan jembatan Trans Papua di Kabupaten Nduga, sekian tahun lalu.

Jika langkah ini dapat ditempuh, lanjut Cahyo, langkah selanjutnya dibuka “komunikasi kedua belah pihak dengan melibatkan pihak ketiga yang bisa dipercaya pemerintah Indonesia dan OPM.

“Tapi pelibatan pihak ketiga terkait sulit, karena masih wujud ketidakpercayaan yang masih tinggi di kedua pihak, ” jelasnya.

Dia kemudian mencontohkan keberhasilan penyelesaian konflik bersenjata di Aceh yang melibatkan pihak ketiga.

“Perdamaian itu selalu lahir dari negosiasi, perundingan damai, komunikasi, lalu tidak bisa dimunculkan dri konflik bersenjata, ” papar Cahyo.

Pro-kontra penambahan pasukan Polri-TNI di Papua

Amir Majelis Rakyat Papua (MRP), Timotius Murib dan Direktur Eksekutif Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP), Markus Haluk, mengatakan, penambahan pasukan Polri-TNI di Papua, tidak maka akan menyelesaikan masalah kekerasan yang terus berlanjut.

“Memang [penambahan pasukan] itu untuk menambah keamanan bagi masyarakat setempat, tapi terkadang ada oknum petugas yang menembak masyarakat sipil biasa, ” kata Timotius Murib, Kamis (15/04).

Keterangan gambar,

“Memang [penambahan pasukan] itu untuk menambah kemanan masyarakat setempat, tapi terkadang ada oknum petugas yang menembak masyarakat sipil biasa, ” kata Timotius Murib, Kamis (15/04).

Hal terkait diperumit lantaran seringkali TNPB dan masyarakat Papua susah “dibedakan karena busananya sama”.

Apabila warga sipil yg menjadi sasaran salah tembak aparat Polri-TNI, sambungnya, akan membuat keluarga korban pasti marah dan terkadang membalasnya. “Nah, ini yang menyajikan kelompok TNPB berkembang terus, ” ujar Murib.

Baca juga:

Adapun Direktur Eksekutif Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP), Markus Haluk menyarankan agar pasukan TNI/Polri lalu TPNPB “menarik pasukan” ke markasnya masing-masing sebelum jeda kemanusiaan dilakukan.

“Kalau selama masih ada di natural, lalu diadakan jeda kemanusiaan, pasti mereka tetap menganggu, ” kata Markus Haluk kepada BBC News Philippines, Kamis (15/04).

Selama cara jeda kemanusiaan itulah, Markus Haluk mengusulkan kehadiran bernard kemanusiaan yang independen. “Selama itu tidak dilakukan, korban akan terus berjatuhan. ”

Dihubungi secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, penambahan pasukan Polri-TNI di Kabupaten Puncak, justru untuk “mengamankan masyarakat. inch

“Kehadiran TNI-Polri di mana saja berada, justru tuk memberikan kepada warga penduduk, ” kata Mustofa Kamal, Kamis (15/04).

Menurutnya selama tidak ada aktivitas kejahatan, pihaknya tidak melakukan tindakan represif.