Sumber gambar, Dok. Forum Peduli Kawasa Byak

Data gambar,

Sebanyak warga menggelar aksi menentang pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua.

Institusi Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan memulai pembangunan pusat peluncuran roket atau bandar antariksa di Tumbuh, Papua, sebagai langkah mula membangun bandar antariksa internasional. Namun, langkah ini memiliki penolakan dari masyarakat setempat.

Sementara pengamat teknologi dan komunikasi dari ICT Institute berpendapat langkah pembukaan ini baik bagi pengkajian antariksa di Indonesia, tetapi perlu diawali dengan uraian risiko dan penyampaian yang transparan ke masyarakat.

Tanda gambar,

Di uji terbang ini, Elon Musk berambisi mengirim mobil sports Tesla berwarna abang dan manekin berpakaian astronaut ke orbit Planet Mars.

Kenapa LAPAN baru sekarang membangun pusat peluncuran berpandu di Biak?

Kepala Jawatan Kerja Sama, Hubungan Kelompok dan Umum, LAPAN, Chris Dewanto, mengatakan rencana pendirian pusat peluncuran roket dalam Biak, Papua, bukan mula-mula kali diwacanakan.

Kata Chris, sejak 1980an, LAPAN telah memiliki tanah di Desa Saukobye, Distrik Biak Utara seluas 100 hektar yang sudah siap dijadikan tengah peluncuran roket. Rencana tersebut akan direalisasikan tahun ini karena masuk dalam jadwal strategi LAPAN, juga ialah amanat Undang No. 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.

“Diturunkan menjadi rencana induk keantariksaan nasional, kita harus menyiapkan biang antariksa, ” kata Chris kepada BBC News Indonesia, Senin (22/03).

Saat ini LAPAN hanya memiliki tunggal tempat peluncuran roket di Pantai Cilauteureun Cikelet Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Namun, lokasi ini sudah padat penduduk, “Sehingga tidak memungkinan untuk roket-roket dengan lebih besar. ”

“Oleh karena itu, kita menggelar roket sonda, dan nantinya ada roket peluncur planet ke depannya, kita harus menyiapkan lokasi yang lebih pas, lebih strategis, bertambah cocok, lebih sepi, tak ada penduduknya dan seluruh macam, ” kata Chris.

Fasilitas seperti apa yang akan dibangun?

Keterangan gambar,

Gambar rencana pendirian bandar antariksa LAPAN di Biak, Papua.

Tahun ini, LAPAN akan memulai pendirian dengan Analisis Mengenai Pengaruh Lingkungan (AMDAL). Saat ini tanah yang diklaim hak LAPAN masih berupa alas produksi yang masih mampu dialih fungsikan.

Targetnya pendirian ini selesai pada 2023 atau 2024 mendatang.

“Kalau di Biak ini (arahnya) langsung ke pantai. Jadi setelah tempat peluncuran sesuai laut, tidak ada apa-apa. Jadi sudah aman, ” kata Chris.

Lebih sendat Chris mengatakan pembangunan infrastruktur di lahan seluas 100 hektar ini “tidak sungguh-sungguh kompleks”. LAPAN hanya membuat bangunan permanen yang tak terlalu banyak, dan logistik yang bisa berpindah tempat.

Masukan gambar,

Kisah rencana pembangunan bandar antariksa di Biak

“Semua pakai mobile system. Jadi tracking-nya pakai mobile. Nanti bentuknya kayak truk membawa container di dalamnya ada komputer-komputer, ada antena, ” sekapur Chris.

“Saat ini kita sudah diskusi dengan PUPR, soal sarana dan infrastruktur, karena nggak jadi kita mendatangkan roket, akan tetapi tanahnya nggak siap, ataupun jalannya nggak siap. ”

Proyek pusat peluncuran buat roket sonda tingkat besar ini akan dibiayai oleh pemerintah. Peluncuran roket dikerjakan 1-2 kali setahun.

Apakah ini bagian dari rencana SpaceX?

Keterangan gambar,

Elon Musk berpose secara latar belakang pesawat antariksa

Beberapa waktu lalu, Pemimpin Joko Widodo menjajaki Nusantara menjadi tempat investasi dari perusahaan bos perusahaan mobil listrik Tesla, Elon Musk. Salah satunya adalah permohonan terkait dengan pembuatan induk peluncuran roket.

Juru kata LAPAN, Chris Dewanto, tidak menampik hal ini. Akan tetapi, pihak SpaceX belum tertarik untuk membangun tengah peluncuran roket di Indonesia. “Dia (SpaceX) tidak hendak melakukan investasi di dunia peluncuran satelit. (Tapi) mulai membahas soal launch site untuk transportasi manusia sejak kota ke kota, ” katanya.

Apa langkah selanjutnya?

Keterangan gambar,

Falcon Heavy diluncurkan di Florida, AS, Selasa (06/02) waktu setempat.

Proyek pembangunan di Tumbuh ini akan menjadi kelakuan awal untuk menarik investasi pembangunan pusat peluncuran peluru internasional.

Disebut Chris, era ini Turki dan klub dari sejumlah negara telah tertarik untuk berinvestasi mendirikan bandar antariksa internasional dengan kemungkinan di Biak.

“Itu sedang kita jajaki. Belum ada hal defitinitf pada atas kertas, proposalnya belum ada. Baru intensi sekadar, ” katanya.

Kenapa beberapa masyarakat Biak menolak?

Keterangan gambar,

Sejumlah warga di Biak menolak pembangunan bos antariksa LAPAN

Koordinator Konvensi Peduli Kawasa Byak, Maichel Awom, mengklaim rencana pembangunan ini dilakukan secara sepihak. Menurutnya, masyarakat khawatir pendirian nantinya akan menggusur asosiasi, mengundang konflik horizontal dan merusak lingkungan.

“Karena belum ada kajian-kajian, sosialisasi melanda dampak dari pembangunan tersebut, ” kata Maichel Awom kepada BBC News Indonesia, Senin (22/03).

Penolakan ini bukan pertama kali, tapi sudah dilakukan pada 2006. Sejak lama LAPAN beriktikad untuk membangun fasiltias peluncuran roket, tapi langkah tersebut dinilai sebagai “langkah sepihak”.

“Sehingga di dalam tersebut, kalau pemerintah mau wujud ini buka ruang duduk dengan semua masyarakat biak, baik dewan adat, semua komponen, baru kita cakap. Tidak bisa ambil keputusan sepihak, ” tambah Maichel.

Keterangan video,

Mr Musk was delighted with how much the test outing achieved

Apa simpulan LAPAN?

Sejauh ini LAPAN tidak melihat adanya penolakan yang dilandasi alasan dengan kuat dari sebagian awak. “Kalau ada penolakan dengan politis saya tidak berhak menanggapi itu, ” sekapur Chris.

Sejauh ini Chris mengklaim pemerintah daerah telah setuju pada rencana pendirian fasilitas peluncuran roket, tercatat DPRD setempat.

Sementara tersebut, Kepala Balai Kendali Satelit, Pengamatan Antariksa dan. Suasana, dan Penginderaan Jauh di Biak, Dian Yudistira mengatakan, pihaknya sudah “sosialisasi sebesar 3 kali kepada kelompok. ”

“Memang ada kaum bapak yang belum menunjang, mungkin harus ada penghampiran dari pemda setempat, ” kata Yudistira.

Seberapa mulia risiko keberadaan pusat peluncur roket?

Keterangan gambar,

Dua roket pendorong Falcon Heavy mendarat di pesisir Florida sebelah selatan tempat peluncuran Kennedy

Umumnya, bandar antariksa internasional harus mempunyai tempat yang cukup mulia. Sebagai gambaran, Pusat Antariksa Tanegashima di Jepang dengan memiliki luas 8, 64 kilometer persegi.

Pengamat teknologi sekaligus Direktur Eksekutif Nusantara ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan jarak aman tengah peluncuran roket itu ke pemukiman masyarakat sejauh 30 kilometer.

Ia menilai Biak menjadi tempat yang strategis sebagai lokasi pembangunan pusat peluncuran roket. Lokasinya di khatulistiwa yang mempersingkat langkah orbit, juga dekat dengan laut sebagai tempat pembuangan sisa roket.

Akan namun, semua itu harus dikaji terkait standard keselamatan untuk lingkungan sekitar, termasuk manusia. Hasil kajian ini, kata pendahuluan dia, perlu disampaikan kepada masyarakat.

“Dibutuhkan satu lingkungan yang dasar kosong. Agar ketika objek yang hal yang tak diinginkan terjadi, ini tidak menimbulkan dampak ke lingkungan, dampak ke manusia, ” kata Heru kepada BBC News Indonesia, Senin (22/03).

Dampak yang tidak diinginkan itu antara lain kala roket meledak di tanah, atau terjadi persoalan masa dalam perjalanan menuju angkasa. “Harus dikaji secara mendalam dampaknya seperti apa, lalu kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bangaimana mengatasinya? Mitigasi seperti apa? Hangat menyimpulkan akan di kian, ” lanjut Heru.