Sumber gambar, ANTARA

Keterangan gambar,

Vaksinator mengambil larutan vaksin COVID-19 sebelum dikasih kepada warga lanjut leler di Sport Jabar Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/03).

Pemerintah diminta kembali mengedukasi publik tentang pentingnya imunisasi virus corona, karena keputusan MUI dengan menetapkan vaksin AstraZeneca suci – namun boleh digunakan dalam keadaan darurat – dikhawatirkan bakal mengurangi pikiran sebagian orang pada vaksin Covid-19.

Keluarnya masukan haram vaksin AstraZeneca sebab Majelis Ulama Indonesia (MUI) disebut epidemiolog, bakal mengajak keyakinan seseorang untuk memperoleh vaksin Covid-19.

Karena tersebut pemerintah Indonesia diminta balik mengedukasi publik tentang pentingnya imunisasi virus corona.

Ahli bicara vaksinasi Covid-19 sebab Kementerian Kesehatan menyatakan vaksin ini sudah melalui transformasi yang menyeluruh, berulang kala dimurnikan pada setiap titik proses pembuatannya sehingga masyarakat jangan ragu untuk menyambut vaksin.

Sementara MUI mengklaim fatwa tersebut dikeluarkan demi melindungi pengikut Muslim di Indonesia.

Epidemiolog dari Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI), Masdalina Pane, menilai fatwa Majelis Ulama Indonesia dengan menyebut vaksin Covid-19 rekaan AstraZeneca haram, akan mengajak kepercayaan publik terhadap kalender vaksinasi.

Paling tidak, introduksi dia, bakal mengurangi minat sejumlah orang di tengah tingginya antusiasme masyarakat mendapatkan imunisasi virus corona.

Karena itulah ia meminta negeri agar kembali mengedukasi bangsa dan melakukan tindakan bujukan agar bersedia disuntik vaksin tanpa adanya paksaan.

“Saya yakin akan mengurangi selera, tapi fungsi pemerintah buat meningkatkan minat masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi yang sampai hari ini berbondong-bondong karakter datang, ” ujar Masdalina Pane kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (21/03).

Indonesia sebagai negara secara jumlah umat Muslim terbesar, kata dia, patut mengingat kehalalan suatu obat atau vaksin.

Namun demikian, dia menilai MUI tidak sepatutnya mengeluarkan fatwa halal-haram terhadap suatu merek vaksin tertentu. Sebab jika nanti ada vaksin berbeda tiba, oleh karena itu akan keluar fatwa gres yang membuat masyarakat berat.

Dia menyarankan MUI agar cukup mengeluarkan satu ajaran untuk seluruh vaksin Covid-19.

Keterangan tulisan,

Seorang awak lanjut usia (lansia) menyambut suntikan vaksin COVID-19 dalam Lippo Village, Kelapa Besar, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (19/3/2021).

“Fatwanya satu selalu bahwa vaksin Covid-19 apapun mereknya kalau ada kandungan haram, halal karena status darurat, ” tegasnya.

“Sebab kalau ada fatwa segar lagi, ribut terus belakang. ”

“Semakin banyak statement yang dikeluarkan pemerintah kian membuat masyarakat jadi ragu. ”

Seperti apa jalan audit vaksin AstraZeneca oleh MUI?

Ketua Komisi Ajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hasanuddin Abdul Fatah, mengucapkan pihaknya menerima laporan vaksin AstraZeneca mengandung tripsin babi berdasarkan hasil audit Lembaga Pengkajian Pengawasan Obat-obatan dan Kosmetik (LPPOM) MUI dalam pertengahan Maret lalu.

Keterangan itu merujuk pada pengujian di laboratorium LPPOM dan meneliti dokumen pembuatan vaksin dari AstraZeneca.

Di masukan itu tertera, bahan rajin vaksin adalah rekombinan adenovirus. Yakni monovalen vaksin yang terdiri dari satu rekombinan vektor ‘replication-deficient chimpanzee adenovirus (ChAdOx1)’, yang menjadikan kode untuk glikoprotein S daripada Sars-Cov-2, disebut juga ChAdOx1-S (recombinant).

Kemudian, saat pembuatan, dalam penyiapan inang virus, sel inang yang digunakan berasal dari diploid pribadi. Persisnya sel yang diambil dari jaringan ginjal bayi manusia puluhan tahun berarakan.

Sel tersebut ditumbuhkan di dalam media Fetal Bovine Serum, yang disuplementasi dengan masam amino, sumber karbon, 1 tambahan lain serta antibiotik.

“Pada tahap penyiapan inang virus ini terdapat penggunaan bahan dari babi bersifat tripsin yang berasal dibanding pankreas babi. Bahan ini digunakan untuk memisahkan sel inang dari microcarrier-nya, ” sebut LPPOM dalam penjelasan yang tertera dalam keputusan Fatwa MUI.

Keterangan gambar,

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada ketua RT di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (17/3/2021).

Akan tetapi laporan itu dibantah AstraZeneca yang menegaskan vaksinnya tidak bersentuhan dengan produk bani babi atau hewani lainnya.

Namun MUI, kata Hasanuddin, tetap berpegang pada laporan LPPOM. Hasil uji vaksin ini pun, klaimnya telah diketahui Menteri Kesehatan & Badan Pengawas Obat serta Makanan (BPOM).

“Kami membenarkan pada LPPOM yang sudah belasan tahun bekerja sama dengan MUI, ” imbuhnya.

“Malah BPOM menguatkan (kajian LPPOM) memang ada (kandungan tripsin babi). ”

Sekalipun vaksin buatan AstraZeneca suci, tapi MUI tetap mengakui untuk digunakan karena situasi yang mendesak atau genting.

Alasan selanjutnya, adanya data dari ahli yang kompeten dan tepercaya tentang adanya bahaya atau risiko mematikan jika tidak dilakukan vaksinasi Covid-19.

Hal lain, pemerintah tidak memiliki keleluasaan menunjuk jenis vaksin Covid-19 menetapi keterbatasan vaksin yang ada di Indonesia maupun ijmal.

Dengan pertimbangan di akan MUI, ujar Hasanuddin, meminta masyarakat agar tidak ragu disuntik vaksin AstraZeneca.

“Jangan ragu. Bahkan wajib berpartisipasi melaksanakan vaksinasi demi menggembala nyawa orang banyak. Tanpa dilihat haramnya saja, setara kayak vaksin meningitis buat haji yang dulu suci tapi boleh digunakan. ”

“Seperti daging babi di Al-Quran jelas haram, tapi dalam kondisi darurat dapat dikonsumsi. ”

Keterangan gambar,

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada masyarakat di wilayah Ubud, Gianyar, Bali, Selasa (16/3/2021).

Hasanuddin juga memasukkan, fatwa halal-haram akan kembali dikeluarkan jika ada vaksin baru masuk ke Nusantara. Hal itu, klaimnya, demi melindungi umat Muslim.

“Pastilah diaudit lagi, difatwakan sedang halal atau haram. ”

Apa kata Kementerian Kesehatan?

Juru bicara vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi, meminta masyarakat jangan ragu buat menerima vaksin AstraZeneca yang telah disetujui di bertambah dari 70 negara pada seluruh dunia termasuk Arab Saudi dan banyak Mahkamah Islam di seluruh negeri yang menyatakan vaksin ini diperbolehkan digunakan.

Nadia selalu mengatakan, vaksin ini telah melalui transformasi yang lengkap, berulang kali dimurnikan pada setiap titik proses pembuatannya.

Sehingga produk akhirnya bersih dan baik digunakan bani adam di mana pun, termasuk umat Muslim di Nusantara.

“Jadi tidak ada kausa masyarakat untuk ragu-ragu mendaftarkan program vaksinasi, ” perkataan Nadia di situs Kementerian Kesehatan, Sabtu (20/03).

Penjatahan vaksin AstraZeneca sebanyak 1, 1 juta dosis hendak mulai dilakukan paling lama pekan ini setelah mengantongi izin darurat dari Awak Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Jumat pasar lalu.

Vaksin tersebut sebelumnya sempat ditunda izin penggunaannya karena kejadian efek samping berupa pembekuan darah dalam sejumlah negara di Eropa.

Keterangan tulisan,

Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin serta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat memberikan informasi kepada wartawan usai meninjau program vaksinasi drive thru di halaman GOR Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/3/2021).

Seperti apa tanggapan masyarakat?

Yuda Hariansyah dari Provinsi Aceh, berceloteh fatwa haram yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) semakin membuatnya menolak divaksin virus corona, selain tanda utama karena sejak mungil tak pernah diimunisasi.

“Saya tidak mau kalau tersebut (vaksin) haram. ”

Di sekitar tempat tinggalnya, dia bercerita, masih ada karakter Aceh yang setengah membenarkan pada Covid-19 karena bersirkulasi informasi vaksin virus corona merupakan kepentingan bisnis industri farmasi.

“Di Aceh kalau bahas Covid-19 orang malah memperolok-olok. ‘ Alah enggak tersedia Covid ini, enggak ada’. ”

Warga Depok, Falhan Niam Akbar, mengatakan masukan haram vaksin AstraZeneca sangat memengaruhinya sebagai orang Muslim kendati ada syarat yaitu kondisi darurat yang bisa membolehkannya.

Dia berharap pemerintah membuka kepada publik tentang kedaruratan vaksin Sinovac, apakah ketersediaannya masih cukup ataupun tidak.

“Kalau sama sekali tidak ada lagi vaksin (Sinovac) ya mau tak mau dalam rangka faedah, boleh (divaksin dengan AstraZeneca). Cuma saya belum tahu sejauh mana kedaruratan itu apa betul sama sekali tidak ada (vaksin Sinovac)? ”