Keterangan gambar,

Anak-anak muda dalam Yangon tetap melanjutkan penolakan menentang kudeta militer besar hari setelah apa dengan disebut PBB hari memutar berdarah Rabu (03/02) secara korban 38 orang meninggal.

Anak-anak muda di Myanmar mengatakan mereka “tak mau kembali ke masa gelap di bawah diktator”, dalam aksi protes menyalahi kudeta militer yang disebut pengamat bisa lebih berat dari kerusuhan Indonesia di Mei 1998.

Karakter menentang kudeta militer itu tunjukkan dengan tetap turun ke jalanan pada Jumat (05/03), dua hari sesudah Myanmar menyaksikan hari menyesatkan berdarah, dengan 38 karakter meninggal terkena peluru garang aparat.

Sejak korban sukma mulai berjatuhan pada Minggu (28/02), jumlah total objek meninggal sudah lebih sebab 50 orang.

Gelombang protes besar-besaran mulai muncul kaum hari setelah militer melancarkan kudeta dan menahan Aung San Suu Kyi serta pemimpin sipil lain di 1 Februari.

Petunjuk gambar,

Pemakaman remaja usia 19 tahun, Angel yang meninggal di Rabu (03/02).

Anak-anak bujang ini menyuarakan pesan yang serupa, mereka akan berjuang biar bisa hidup di dunia demokrasi.

Ma Thandar tercatat di antara ribuan budak muda di Yangon yang turun ke jalan. Nama-nama dalam laporan ini tidak nama sebenarnya untuk melestarikan keamanan.

“Alasan saya berbaur adalah karena saya tercatat orang yang menderita dalam bawah diktator sejak aku lahir. Kami telah memiliki demokrasi dan saya tidak bisa membayangkan sejarah berulang. Saya tak bisa membayangkan kembali ke masa gelap. Saya tak mau tingkatan berikutnya hidup seperti saya, ” kata Ma Thandar kepada BBC News Nusantara.

Pemerintahan sipil di Myanmar baru dimulai pada 2011, mengakhiri hampir 50 tarikh pemerintahan militer.

Dalam pemilu pertama Myanmar pada 2015, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai pimpinan Aung San Suu Kyi, menang besar dan demikian pula halnya dalam November 2020 lalu, hasil yang tak diterima oleh kubu militer.

Junta militer Myanmar tidak mengindahkan pekik Perhimpunan Negara Asia Tenggara, ASEAN, dan negara-negara asing untuk menahan diri sesudah puluhan korban jatuh akibat peluru tajam.

Kusukuan benar kuat, kecurigaan antaragama mulia

Keterangan tulisan,

Pemakaman salah seorang korban yang wafat dalam demo pada Rabu (03/02).

Pengamat masalah hubungan internasional Dinna Prapto Raharja mengatakan perkembangan di Myanmar dapat lebih parah dipadankan kerusuhan di Indonesia di Mei 1998.

“Dalam perkembangan terakhir, sudah ada isu bahwa militer sebenarnya sudah tidak solid, sudah terbentuk faksi-faksi, makanya faksi yg kuat memilih untuk lebih keras menggunakan senjata, ” kata Dinna, praktisi dan pengajar Hubungan Internasional daripada Synergy Policies, kepada kuli BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

“Tetapi karena NLD belum berhasil menguasai satupun faksi militer tersebut, risikonya adalah pertumpahan darah dengan saya khawatirkan lebih buruk daripada Indonesia tahun 1998. Mungkin malah lebih membatalkan daripada Indonesia 1965, ” imbuh Dinna yang pernah menjadi wakil Indonesia untuk ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights dari 2016-2018.

Demo reformasi mahasiswa 1998 berkembang menjadi kerusuhan tumbuh di sejumlah kota luhur termasuk Jakarta, Medan dan Solo. Saat itu patuh kepolisian, jumlah korban dengan meninggal di Jakarta saja mencapai 200 orang.

Namun, Dinna mengatakan kondisi dalam Myanmar jauh lebih membatalkan dibandingkan Indonesia dulu.

“Di Myanmar belum terbangun kemufakatan nasional tentang identitas negeri, masih sangat kuat kesukuannya dan partai-partainya pun berbasis suku, kecurigaan antar pegangan masih sangat tinggi, dan ada negara-negara asing dengan investasinya diuntungkan oleh kubu militer, katanya lagi.

Negeri totaliter, ekonomi buruk

Keterangan tulisan,

Demonstran memakai topi plastik untuk melindungi mereka dari tembakan alat.

Dalam satu video yang dikirimkan ke BBC News Indonesia oleh seorang demonstran di Myanmar, terlihat anak-anak muda menggunakan tripleks sedikit sebagai perisai dan pokok plastik yang biasa digunakan pekerja bangunan dalam bertemu aparat.

Aparat menggunakan pelor karet, gas air gegabah, dan peluru tajam pada membubarkan massa.

U Aung Tun, yang mengirimkan gambar tersebut, sempat dikejar alat namun berhasil kembali ke rumahnya dengan selamat.

“Kami tak mau berada dalam bawah kediktatoran. Sebagian gembung generasi kami dan dengan berada di atas saya, tahu persis bagaimana buruknya. Inilah peluang terakhir kami. Bila kami berhenti saat ini, hidup akan kacau balau, ” kata U Aung Tun yang tinggal dalam Yangon.

Cecep Yadi, WNI yang tinggal di tengah kota Yangon, menyaksikan pertunjukan ini setiap hari dalam beberapa pekan terakhir.

“Saya berkomunikasi dengan teman-teman kami yang warga Myanmar dan ikut berdemonstrasi, semuanya meluluskan jawaban yang hampir serupa, mereka ingin demokrasi, itu tidak mau lagi tumbuh bernegara di bawah diktator militer, ” cerita Cevep.

“Melihat antusiasme dan karakter para demonstran di Myanmar, membuat saya merasa salut dengan orang Myanmar, pertama generasi mudanya. Mereka bertemu kudeta yang sedang terjadi dengan tetap mengutamakan gabungan dan kemanusiaan. Mereka melaksanakan demonstrasi, orasi di tiang secara besar-besaran, tapi berusaha tertib dan damai, ” imbuhnya.

Tekanan yang dirasakan anak-anak muda ini tahu diamati oleh Eni Fadil, Direktur Perhimpunan pengembangan jalan Nusantara, yang berkunjung ke Myanmar sekitar dua tarikh lalu.

“Teman-teman jurnalis bujang yang saya temui mengucapkan mereka sangat ingin mampu bekerja dengan aman dan bebas. Pemerintah dan abdi sudah mengontrol media secara kekuasaan mereka sejak periode sebelum kudeta. Kemerdekaan pers benar-benar di titik yang terendah. Itu saat kami berkunjung pada 2019.

“Apalagi sekarang, sejak kudeta final ini, ” kata Eni.

Tanda gambar,

Puluhan korban meninggal namun massa tetap turun ke berkepanjangan pada Jumat (05/02).

Tengah pengamat hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, mengatakan suasana di bawah tekanan dengan perekonomian buruk membuat anak-anak muda semakin terdorong buat melakukan protes.

“Saya tidak terkejut dengan perkembangan kalau banyak anak muda yang terlibat dalam gerakan pembangkangan sipil di Myanmar. Sesungguhnya protes mahasiswa pernah acap muncul sebagai bentuk kekecewaan mereka karena negara dengan totaliter tetapi ekonominya membatalkan, pekerjaan tidak tersedia, keluaran sulit mendapatkan pekerjaan.

“Kita masih ingat kejadian itu sebagai gerakan 8888 di tahun 1988 yang ditumpas sangat keji sekaligus diakhiri dengan kudeta berdarah, ” kata Dinna.

Data gambar,

Anak-anak muda yang terdiri sejak para dokter, mahasiswa serta kelompok lain turun ke jalan.

Kurang dari 72 jam setelah militer mengabulkan kudeta pada tanggal 1 Februari lalu, orang Myanmar menumpahkan kemarahan dan frustasi terhadap militer melalui media sosial paling populer, Facebook.

Pembangkangan sipil mulai muncul di dunia siber & menyatukan semua kalangan, tiba dari dokter, perawat, instruktur, aparat sipil negara serta bahkan polisi.

Aksi penentangan kemudian segera berpindah sejak media sosial ke jalanan.

Lebih dari dua minggu setelah kudeta, demonstrasi anti-kudeta terus berkembang, sampai hari berdarah pertama pada Minggu, 28 Februari lalu.

Militer tidak hanya menggunakan peluru karet, meriam air & gas air mata buat membubarkan massa, namun serupa peluru tajam. Rabu (03/03) lalu, Myanmar menyaksikan keadaan paling berdarah dengan objek meninggal 38 orang dan secara total korban wafat lebih dari 50 orang.

Mereka yang berada dalam jantung protes ini adalah Generasi Z, mereka dengan lahir pada akhir 1990-an dan 2012. Generasi yang menolak kembali ke masa militer setelah sempat merasakan singkat demokrasi.

Myanmar kembali ke pemerintahan sipil dalam 2011, setelah hampir 50 tahun berada di lembah militer.

Pemilihan umum baru pada 2015 dimenangkan oleh Partai Liga Nasional buat Demokrasi, NLD pimpinan Aung San Suu Kyi. NLD kembali menang besar dalam pemilu November lalu, namun ditentang oleh militer.

Keterangan gambar,

Demonstrasi di ibu kota Naypyitaw, Jumat (05/03).

Siapa Generasi Z Myanmar?

Sejarawan Myanmar, Thant Myint-U, menulis baru-baru ini pada Financial Times bahwa tertib militer dan Aung San Suu Kyi serta kelompok NLD patut disalahkan.

Dia mengatakan generasi muda akan dapat mengubah arah negara.

Keterangan tulisan,

Demonstrasi membabitkan berbagai kalangan di Myanmar.

Generasi Z Myanmar mencakup demografi yang cukup merata, termasuk para dokter, perawat, seniman, banjir, para guru dan para aktivis asing.

Mereka memiliki aspirasi bertentangan. Para demonstran juga mendapatkan dukungan dari selebritas tercatat para aktor, musisi dan blogger.

Sementara warga Burma yang tinggal di luar negeri juga memainkan kontribusi penting dalam mendukung protes melalui media sosial.

Kenangan buruk demonstrasi 1988

Keterangan gambar,

Demonstran di Mandalay pada Jumat (05/02) lestari turun ke jalan, meskipun aparat menggunakan peluru pandai.

Keberanian yang ditunjukkan para-para demonstran ini muncul meskipun ada kenangan buruk di kekerasan selama kudeta militer pada 1988.

Para pengunjuk rasa menyadari bahwa tentara dapat melakukan penahanan semena-mena dan militer bahkan dilaporkan merencanakan untuk menerapkan “hukum keamanan siber”, sehingga merepotkan demonstran mengatur protes meniti internet.

Sejak timbulnya target pada Minggu (28/02), tentara menggunakan kendaraan lapis baja di Yangon dan sejak itu jumlah demonstran di jalan-jalan agak berkurang.

Para-para pakar mengatakan, gerakan yang terjadi di Myanmar sekarang ini serupa dengan penentangan pada 1988.

Namun kemarahan saja tidak cukup.

Penyelidik politik Min Zin, hangat berusia 14 tahun era bergabung dalam protes tahun 1988. Ia saat itu tinggal di pengasingan & menjadi pengamat.

Baru-baru ini, Zin mengatakan kepada New York Times bahwa “tekanan publik saja tidak hendak membuka jalan bagi transisi politik”.

“Tanpa strategi yang dipikirkan mendalam untuk menyentuh tujuan konkret, cepat atau lambat, kami akan selalu berakhir dengan menghadapi represi, di bawah bentuk tadbir militer, ” katanya.