• Silvano Hajid
  • BBC News Indonesia

Keterangan tulisan,

Dokter Ani tengah bersiap memasuki zona merah.

Selasa, 26 Januari 2021, kasus positif virus corona di Indonesia telah melewati satu juta orang. Seiring secara angka itu, pemerintah menyebut ada pula tingkat kesembuhan yang terbang.

Sementara Sekjen Persatuan Rumah Melempem Seluruh Indonesia (PERSI), Lia Gardenia Partakusuma, mengatakan okupansi atau tingkat keterisian tempat tidur di sendi sakit di kota-kota besar telah melampaui standar yakni antara 70%-80%. Adapun di daerah-daerah mencapai 90%-100%.

“Di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah itu sulit sekali. Kita temui sejumlah rumah sakit telah 100% hunian untuk ICU & ruang isolasi. Kalau [ranjang] nggak ditambah belakangan ini, oleh sebab itu sudah penuh, ” imbuh Lia.

Berserakan apa makna angka-angka itu bagi pasien, keluarga pasien, serta para tenaga medis?

Tim BBC News Indonesia mendatangi salah kepala rumah sakit rujukan Covid-19 milik pemerintah di wilayah Tanah Kakanda, Jakarta. Di rumah sakit itu, diperkirakan rata-rata puluhan orang bahan pasien mengantre untuk mendapatkan kepala ranjang perawatan.

Suara ketikan keyboard dari tangan seorang petugas yang membalas pesan dari puskesmas dan para dokter se-Jakarta tidak henti-hentinya terdengar pada jam bubar makan siang, ketika kami pegari hari itu.

Bukti foto rontgen serta data kesehatan pasien Covid-19 yang akan dirujuk, mereka teliti kepala per satu.

Sudah 10 bulan, tengah data di RSUD Tanah Raka, Jakarta, tak pernah sepi serta kini mereka terpaksa harus memutuskan dan memilah pasien.

Bukti gambar,

Pusat data rujukan pasien Covid-19 RSUD Tanah Abang, Jakarta tak pernah sunyi

“Antrean (calon pasien) yang sudah masuk datanya hingga Januari 2021 sudah ada 6. 833 pasien, ” sekapur Direktur RSUD Tanah Abang, Savitri Handayana.

Rujukan itu berasal dari sejumlah rumah sakit swasta maupun pemerintah, termasuk Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Jakarta.

“Tidak hanya pada Jakarta, pasien rujukan dari Serpong (Tangerang Selatan) dan Depok (Jawa Barat) juga terdata pernah menghunjam daftar tunggu di rumah melempem ini, ” kata Savitri.

Ia memperhitungkan, “Minimal, satu ranjang telah ditunggu 10 calon pasien, sementara kalau terjadi lonjakan, 20 calon pasien menanti satu ranjang kosong. ”

Itupun tak semua pasien dapat diterima karena terbatasnya ranjang dan tak ada alat bagi pasien dengan kondisi tertentu.

Padahal Savitri sudah menambah daya tempat tidur untuk pasien Covid dengan mengubah fungsi ruangan pada rumah sakit yang ia pimpin.

Savitri mengijinkan kami, Silvano Hajid dan jurnalis video Dwiki Marta, untuk melihat secara langsung situasi di zona merah, tempat para pasien Covid-19 dirawat.

Memasuki zona merah

Keterangan gambar,

Tim BBC Indonesia harus ikut mendaftarkan protokol sesuai standar WHO era meliput di zona merah RS

Agar mampu meliput di zona merah, awak harus mengikuti langkah demi kiprah sesuai aturan. Seperti para gaya kesehatan yang bertugas, kami pula harus memakai alat pelindung muncul (APD) lengkap sesuai standar WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

APD itu pula harus dikenakan di ruang khusus.

Keterangan gambar,

Petugas medis membantu tim BBC Indonesia mengenakan APD sesuai tingkatan dalam aturan

Keterangan gambar,

Peralatan liputan, seperti mic, tak luput dari protokol Covid-19

Bersama seorang dokter bernama Ani Dwi Septyaningsih yang siang itu bertugas, saya mulai melangkah melewati lorong dengan garis hijau yang menandakan daerah aman, kemudian berbelok ke ajaran lift yang sudah disekat rapat dan bergaris merah, tanda kawasan bahaya.

Seketika, kami menyaksikan ruangan berisi tujuh ranjang yang semuanya terisi. Pasien tua dan muda pusat dirawat di bekas ruang melahirkan itu.

Dokter Ani lalu mendatangi pasiennya satu-persatu, menanyakan keadaan mereka dengan suara lantang dan nada ceria.

Ia mengaku sudah terlatih menyembunyikan lelahnya ketika sedang bertugas. “Harus penuh energi kalau bertemu pasien, supaya itu juga semangat untuk hidup, ” jelas dokter Ani.

Suaranya sedikit parau saat kami mewawancarainya.

Seorang pasien sesekali batuk, disusul pasien lain. Dalam ruang yang sama, salah satu anak obat salat di atas ranjang dengan tangan yang masih tersambung sedang infus. Masker menutupi wajah itu.

Semua ruangan dengan total kapasitas 47 ranjang penuh terisi.

Di ujung lorong, terdapat ruang ICU yang ditempati seorang pasien usia lanjut. Matanya terpejam tetapi dia kesulitan bernapas. Perkataan napasnya terdengar tidak teratur dan kepayahan menghembuskan udara keluar sejak hidungnya. Alat bantu pernapasan terpatok.

Perut orang perawat datang mencoba membawa pasien itu berbicara. Hanya anggukan dan sepatah kata tak terang yang keluar dari mulutnya.

Keterangan gambar,

Ruang ICU dihuni seorang penderita

Situasi seperti ini lah yang menjadi tanggung jawab para petugas medis selama hampir satu tahun terakhir.

Pada Selasa (26/01), keadaan ketika kami mendatangi rumah rendah ini, angka kasus positif pada Indonesia telah melampaui satu juta orang, dengan angka keterisian vila sakit yang disebut pemerintah menyentuh 70-84% dalam rata-rata data nasional.

Biar sudah 10 bulan menghadapi penderita Covid-19, dokter Ani terus tahu kepada semua orang bahwa situasi yang ia hadapi adalah “abnormal”.

“Pasien-pasien saya mungkin hari ini keadaannya membaik dan bisa diajak berbicara, tetapi besok belum tentu. Besok bisa gawat, secepat itu kejadian bergulir menjadi kematian, ” katanya.

‘Susah bergerak, pengap serta takut’

Silvano Hajid dan Dwiki Marta , Wartawan BBC News Nusantara

Memakai APD lengkap sesuai aturan yang telah ditetapkan WHO tidak perkara mudah. Lengah sedikit, virus tak kasat mata itu bisa menyusup.

Kami menyadari liputan ini berisiko sehingga perhitungannya harus matang termasuk meminimalisasi risiko berada di kawasan merah: ruang perawatan pasien Covid-19.

Keterangan ini berlangsung selama lima tanda, dua jam pertama berlangsung pada zona hijau dan selanjutnya di zona merah.

Dwiki Marta, jurnalis gambar BBC News Indonesia, menuturkan kalau dirinya tidak kuat berlama-lama mengenakan APD.

“Susah bergerak, pengap dan takut. ”

Akan tetapi, menurutnya, lelahnya tak seberapa jika dibandingkan para tenaga medis yang sudah berbulan-bulan kewalahan merawat pasien Covid-19.

Tanda gambar,

Jurnalis video BBC Indonesia Dwiki Marta sedang mengenakan APD dibantu petugas medis

Pada jam ketiga peliputan, misalnya, keringat sudah mengucur dari badan kami. Lengah kami basah karena berlapis dua sarung tangan lateks, diikuti kucuran keringat yang mengalir hingga pokok sepatu bot. Pelindung mata telah berembun, pandangan buram berlangsung maka liputan usai.

Bertemu langsung dengan para-para pasien di ruang perawatan, termasuk ICU, membuat saya, Silvano Hajid, jurnalis multimedia BBC News Indonesia, juga makin menyadari penyakit ini tak kenal usia. Ruang penuh pasien Covid-19 berisi mereka yang berusia muda hingga senja.

Para pasien muda itu sesekali duduk di atas ranjang menenangkan dirinya sudah batuk dan kesulitan bernapas. Selang infus menjulur dari samping wadah tidur mereka.

Keterangan tulisan,

Jurnalis multimedia BBC Indonesia Silvano Hajid bersiap mendatangi zona merah

Protokol kesehatan. Ini menjadi kegiatan yang tak terhindarkan bila mau sebisa mungkin tidak tertular. Awak pun wajib mematuhi deretan aturan dan protokol dalam peliputan ini.

Muncul dari zona merah, berbagai kesibukan pencegahan juga kami lakukan, termasuk isolasi mandiri dan melakukan tes usap PCR.

Menjenguk lantaran kejauhan

Keterangan gambar,

Sulistina tak bisa mendampingi ayahnya di ruang perawatan

Bagi keluarga anak obat, situasi juga tidaklah mudah. Di tengah kecemasan yang melanda, mereka tak bisa mendampingi orang terkasih yang tengah dirawat karena virus corona.

Kami bertemu Sulistina siang tersebut. Ia duduk di ruang tunggu yang disediakan rumah sakit pada bagian luar bangunan.

Ia baru sekadar menitipkan barang kepada petugas untuk ayahnya, Muhamad Samil, yang pusat dirawat.

Hanya melalui panggilan video dalam telepon genggamnya, Sulistina berbicara secara ayahnya.

“Kemarin sudah dirontgen sama jolok darah, kan? ” tanyanya.

Ayahnya menyambut, “Ya, ambil darah sudah besar kali. ”

“Ambil darah sudah perut kali? Oh ya mudah-mudahan paru-parunya tidak apa-apa, ” timpal Sulistina.

Tetapi Samil bilang, ia belum cakap karena belum melihat hasil rontgen.

Sulistina pun lalu hanya bisa berkata, “Ya makanya nanti ditanya, siapa tahu sudah keluar hasilnya, tanya ke dokter. ”

Samil tertular Covid-19 saat ia tengah dalam kala pemulihan setelah operasi tulang. Sebelumnya, Sulistina lah yang terus menyelenggarakan sang ayah pasca-operasi itu, termasuk memapahnya berjalan.

Keterangan tulisan,

Sulistina memantau kedudukan ayahnya melalui panggilan video saja

Namun, kali ini Sulistina harus merelakan ayahnya dirawat orang lain.

“Ayah saya kudu mandiri sekarang karena biasanya kami yang bantu dia berjalan, tapi karena Covid-19, saya tidak bisa melakukan apa-apa. ”

Lalu bagaimana Samil bisa tertular virus corona?

Kami menyongsong Samil di ruang perawatan arah izin rumah sakit, izin dirinya, dan izin putrinya, Sulistina. Era itu Samil tengah berbaring di ranjang paling ujung.

Ia bangun perlahan untuk duduk dan menggerakan kakinya ke lantai. Tangannya meraih alat bantu jalan. Dia melatih diri untuk berjalan menuju kamar makbul yang jaraknya sekitar tiga meter dari ranjangnya.

“Saya harus bisa maujud, karena perawat juga sibuk secara pasien lainnya, tidak mungkin kami mengandalkan bantuan perawat terus-terusan, ” jelas Samil.

Keterangan tulisan,

Samil, 74 tarikh, dinyatakan positif setelah dua orang anaknya diketahui tertular Covid-19

Koper ukuran pantas dan sedikit terbuka berisi pakaian untuk beberapa hari ke pendahuluan masih ada di atas ranjang tempat Samil berbaring sebelumnya. Dia baru menginap semalam di vila sakit itu.

Samil ingat betul, dalam 22 Desember 2020 sebelum dia menjalani operasi tulang, ia kudu tes usap PCR terlebih dahulu. Kala itu dia dinyatakan minus.

Sebulan berselang, lelaki usia 74 tahun ini mengetahui dua orang anaknya positif Covid-19.

“Setelah itu saya tes (Covid-19) dan dinyatakan positif, hamba tidak bisa menduga dari mana saya bisa tertular, ” tutup Samil.

Samil, Sulistina, dokter Ani adalah perwakilan dari penuturan-penuturan yang belakangan kerap kami dengar, dan mungkin juga Anda.

Orang-orang depan yang tertular, rumah sakit dengan penuh, kebingungan mencari tempat perawatan di tengah kondisi kritis pasien, tenaga medis yang kelelahan, beserta sederet pengalaman lain yang berseliweran di telinga kita, juga di grup-grup percakapan di telepon genggam dan media sosial.

Penuturan tersebut nyata seiring dengan meningkatnya jumlah urusan positif, yang mencapai belasan seperseribu per hari di seluruh Indonesia, sebagaimana diumumkan pemerintah saban hari.

Keterangan gambar,

Para tenaga medis di bagian ICU

Di kesibukannya, dokter Ani melontarkan kepala harapan, yakni semua kembali umum seperti dulu saat belum berlaku pandemi.

“Saya ingin bekerja tanpa APD, tanpa masker, dan tidak ketakutan bertemu pasien, ” katanya.

“Sekarang penuh rumah sakit dijadikan rumah kecil rujukan pasien Covid-19. Jika itu terus terjadi, pasien yang bukan Covid-19 pun akan kesulitan memiliki fasilitas kesehatan, ” tutupnya.