Keterangan gambar,

Sejumlah penyelam TNI AL menjadikan puing turbin pesawat Sriwijaya Minuman SJ 182 ke atas KRI Rigel-933 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (11/01).

Pesawat Sriwijaya Cairan SJ182 diduga tidak mengalami ledakan sebelum membentur air berdasarkan data-data temuan awal Komite Nasional Kesejahteraan Transportasi (KNKT).

Dalam keterangan tercatat KNKT yang diterima BBC News Indonesia pada Selasa (12/01), motor tersebut masih terekam radar zaman mencapai ketinggian 10. 900 bersantai pada pukul 14. 40 WIB.

Tetapi, pada pukul 14. 36 WIB, tercatat pesawat mulai turun dan data terakhir pesawat pada ketinggian 250 kaki. Terekamnya data datang dengan 250 kaki, menurut KNKT, mengindikasikan bahwa sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim bahan.

“Dari data ini kami menduga bahwa mesin masih dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air, ” sebut Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, yang mendapat data radar (ADS-B) dari Perum LPPNPI (Airnav Indonesia).

Data lapangan lain dengan didapat KNKT dari KRI Rigel adalah sebaran serpihan pesawat mempunyai besaran dengan lebar 100 meter dan panjang 300-400 meter.

“Luas sebaran ini konsisten dengan dugaan kalau pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air” tutur Soerjanto.

Elemen ke-3 yang menguatkan dugaan ini adalah temuan turbin dengan bilah kipas yang mengalami kerusakan.

“Kerusakan pada fan blade menunjukkan bahwa kondisi mesin sedang bekerja saat mengalami benturan. Situasi ini sejalan dengan dugaan sistem pesawat masih berfungsi sampai secara pesawat pada ketinggian 250 kaki” jelas Soerjanto.

Pada perkembangan lain, KNKT menyatakan menerima sandaran alat ping locator dari Singapura untuk mencari bl ack box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air Boeing 737-500 yang jeblok.

Keterangan gambar,

Petugas Basarnas melihat temuan bagian instrumen turbin pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak dari KRI Cucut (886) di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (10/1/2021).

Pernyataan KNKT menyebutkan “peralatan ping locator yang padahal dioperasikan milik KNKT mengalami uzur teknis atau kerusakan alat… Maka dengan pertimbangan tersebut dan biar kotak hitam cepat ditemukan maka bantuan peralatan sangat dibutuhkan. ”

Selain alat itu, Wakil Ketua KNKT, Haryo Satmiko mengklaim pihaknya memiliki peralatan, laboratorium dan personel dengan mumpuni dan terlatih.

Namun demikian, penyelidik penerbangan, Ruth Hana Simatupang, meminta KNKT agar sebanyak-banyaknya mengumpulkan bahan untuk disandingkan dengan fakta dengan ditemukan ketika menganalisa. Kekurangan bukti akan membuat proses penyelidikan semakin lama.

Sejauh ini, Tim Inafis Polri berhasil mengidentifikasi satu jenazah objek pesawat Sriwijaya Air, melalui sidik jari.

B lack box pesawat Sriwijaya Air Boeing 737-500 dengan nomor penerbangan SJ-182 berada di sekitar 140 meter dan 100 meter dari sekitar Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Wakil Ketua KNKT, Haryo Satmiko, mengatakan pencarian peralatan perlu tersebut menggunakan Kapal Baruna Hebat IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Keterangan video,

Kenangan terakhir pilot motor Sriwijaya Air SJ-182

Pesawat tersebut dibekali perangkat teknologi petunjuk sonar yang mampu mendeteksi wujud atau objek di permukaan laut sedalam 2. 500 meter.

Dalam berbagai kasus pencarian black box, prawacana Haryo Satmiko, pihaknya kerap mengandalkan kapal ini.

Keterangan gambar,

Sejumlah prajurit TNI AL pengawak KRI Rigel-933 mengamati robot bawah laut atau ‘Remotely Operated Vehicle (ROV)’ yang diturunkan di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Dengan kemampuan, klaimnya, KNKT mampu meneropong kecelakaan pesawat tanpa bantuan negeri lain.

Kalaupun membutuhkan pertolongan, yang bakal didatangkan adalah investigator dari perusahaan pembuat pesawat dan penyelidik lantaran negara asal penumpang berkewarganegaraan asing.

Pada kasus Sriwijaya Air SJ-182, seluruh penumpang merupakan warga Indonesia. Oleh sebab itu, KNKT hanya akan mengundang investigator dari Boeing di Amerika Konsorsium untuk terlibat.

“Jadi kita bisa dapat bantuan dari mereka (Boeing), ” sambungnya.

Bagaimana kerja KNKT?

Haryo Sujatmiko membaca, KNKT memiliki waktu setahun buat menuntaskan penyelidikan kecelakaan pesawat.

Dalam proses penyelidikan, setidaknya ada lima tahapan yang dilakukan. Mulai dari persiapan, turun ke lapangan, pengumpulan data, analisis, dan membuat kesimpulan atau laporan akhir.

Sejauh ini, KNKT berkecukupan di tahap kedua, yakni mengerahkan data sebanyak mungkin dari pelbagai pihak untuk disandingkan dengan temuan dari black box .

Data yang hingga kini telah dikantongi, menurut Haryo, di antaranya rekaman pembicaraan antara pilot Sriwijaya Air dengan petugas lalu lin udara. Hal lain berupa puing-puing pesawat Sriwijaya.

Potongan bangkai pesawat tersebut nantinya diteliti apakah ledakan berlaku di udara atau di dalam air.

Keterangan gambar,

Robot bawah laut atau ‘Remotely Operated Vehicle (ROV)’ diturunkan lantaran KRI Rigel-933 untuk melakukan pekerjaan korban dan puing dari motor Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Adapun pengumpulan data sejak maskapai, baru dilakukan Senin (11/01).

“Datanya mulai dari sisi pesawat, kru, sumber daya manusia, ” imbuhnya.

Dia juga menambahkan, jika black box sudah ditemukan dan berhasil diangkat, proses selanjutnya adalah mengunggah informasi yang terekam di Flight Data Recorder (FDR) dan Voice Data Recorder (VDR).

“Kalau sudah lengkap semua keterangan, terakhir menyesuaikan dengan black box , jantungnya sejak semua data karena black box enggak akan bisa berbohong. ”

“Untuk membaca informasi black box ditambah dengan analisa perlu waktu setahun. ”

KNKT diminta agar mengumpulkan data sebanyak mungkin

Pengkritik penerbangan, Ruth Hana Simatupang, mengusulkan KNKT agar mengumpulkan sebanyak-banyaknya keterangan untuk disandingkan dengan informasi yang terekam dalam di FDR dan VDR.

Sebab data yang minim mendirikan proses penyelidikan semakin lama.

Informasi gambar,

Lena, Ibu dari Dinda Amelia yang ialah penumpang Sriwijaya Air SJ182 menangis saat melihat foto anaknya dalam gawai usai mengikuti pertemuan secara Basarnas Pontianak di Posko Fakta Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Sundal, Kalimantan Barat, Minggu (10/1/2021).

Ruth merujuk pada investigasi kasus jatuhnya pesawat Silk Air MI-185 di Sungai Musi pada 1997. Proses penyelidikan, katanya, memakan waktu hingga dua tahun karena kekurangan data.

“Pada waktu tersebut, tidak dapat suatu data yang mendukung pesawat itu jatuh di Sungai Musi karena kesengajaan ataupun salah satu alat pesawat yang rusak. Itu enggak berani menyimpulkan serta banyak spekulasi beredar di sungguh, ” kata Ruth yang selalu mantan investigator KNKT ini.

“Makanya arah paling sulit itu kalau kita kekurangan data. Karena analisis merupakan olahan data dan fakta saling berkaitan. ”

“Misalnya data apakah komponen mesin pesawat itu semuanya buatan Boeing atau bukan? Kalau ternyata dari Prancis atau dari Jerman, nah artinya harus memanggil investigator daripada mereka. ”

“Jadi banyak pihak yang harus diperhitungkan nantinya. ”

Ruth pula meminta publik tidak menekan kegiatan KNKT agar segera membuka penyebabkan kecelakaan. Sebab hal itu akan memengaruhi kerja para investigator.

“Bekerja di bawah tekanan tidak baik. Biarkan mereka mengolah data dengan diam, enggak usah diburu-buru. ”

Apa saja temuan dari lokasi kecelakaan pesawat?

Pada Senin (11/01) Basarnas menyebut sejumlah temuan dalam pencarian pesawat dan pengikut Sriwijaya Air SJ-182.

Keterangan gambar,

Anggota keluarga memperlihatkan foto pernikahan Arneta Fauziah lupa seorang korban kecelakaan Sriwijaya Tirta PK-CLC rute Jakarta – Pontianak (kiri) di Perumahan Taman Lopang Indah, Serang, Banten, Senin (11/1/2021).

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Purnawirawan Baik Puruhito, mengatakan temuan itu berupa 10 kantong berisi potongan atau bagian kecil dari badan udara dan 16 potong berukuran luhur.

Selain itu, Basarnas juga telah mengumpulkan 18 kantong jenazah yang menyimpan bagian tubuh.

“Untuk 18 kantong jenazah dan enam pakaian sudah awak serahkan ke DVI (Disaster Victim Identification) Polri dan sedang diproses untuk diidentifikasi, ” ujarnya.

Adapun Awak Inafis Polri berhasil mengidentifikasi benar jari jenazah atas nama Okky Bisma.

“Ante post mortem telah kerja keadaan ini, tim lakukan rekonsiliasi atau pencocokan data ante dan post hasil rekonsiliasi tersebut pada sore ini, tim dapat identifikasi salah satu korban kecelakaan, yaitu akan nama Okky Bisma, ” sekapur Kepala Biro Penerangan Mabes Polri, Rusdi Hartono kepada wartawan, Senin (11/01).