• Muhammad Irham
  • BBC News Indonesia

Keterangan gambar,

Foto ilustrasi: Seorang PSK (pekerja seks komersial) di lokalisasi Tenggang, Surabaya, 9 Mei 2014.

Pada zaman pandemi ini, banyak orang kehilangan pekerjaan, tak terkecuali pekerja syahwat komersial (PSK) di Indonesia.

Sebuah organisasi pemerhati pekerja seks memperhitungkan lebih dari 277. 000 orang yang berkecimpung dalam profesi itu di Indonesia terdampak pandemi dan kehilangan pendapatan hingga 70%.

Kondisi itu membuat sejumlah PSK beralih profesi demi bertahan hidup, termasuk berbisnis kuliner. Wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham, menemui salah seorang PSK yang berjualan ayam geprek.

Kawasan padat penduduk itu tak jauh dari bekas lokalisasi di ibu kota Jakarta. Lorong-lorong dengan lebar dua bahu orang dewasa terkurung tembok-tembok rumah kontrakan.

Pada saat pejalan kaki bertemu muka sepeda motor yang melintas, oleh karena itu dia harus merapatkan tubuh ke tembok.

Gang-gangnya seperti labirin, bisa mengelirukan siapa saja yang baru kali ke sana. Banyak daripada gang-gang tersebut berujung buntu.

Di lupa satu kuldesak itulah, Maya bertempat tinggal. Maya—bukan nama sebenarnya—adalah seorang rani yang menjadi pekerja seks selama 16 tahun.

Keterangan gambar,

Spanduk pengumuman yang terpasang dalam antara gang

Rumah yang disewa perempuan 32 tahun ini sedikit lebih gede dari rumah lainnya karena mempunyai dua ruangan dan dapur dalam belakang. Di depan pintu ada etalase kecil yang terisi dagangan makanan ringan.

“Yang tinggal di (daerah) sini hampir semuanya PS (pekerja seks), ada yang sudah memiliki anak, ada juga yang sampai umur tapi kerjanya sekarang sebagai penengah saja, ” katanya saat ditemui BBC News Indonesia.

Di rumahnya, Maya tinggal bersama kekasihnya yang main sebagai agen judi togel. Itu saling tahu profesi masing-masing.

Keterangan gambar,

Imajiner mengantar paket pesanan makanan

‘Colong-colongan dengan razia’

Semenjak memasuki masa pandemi, tamu dengan biasa kencan dengan Maya berkurang drastis. Sebelumnya, ia bisa berkencan dengan empat laki-laki dalam mulia malam dan mengantongi uang tenggat Rp1 juta.

“Pas pandemi ini, utama juga kadang-kadang enggak [ada]. Tamu kan jarang datang ke sini, terus menawar juga agak murah-murah sekarang.

“Kadang-kadang Rp150. 000, kala Rp100. 000, buat [sewa] kamar juga Rp40. 000. Kita kebagian berapa kalau Rp100. 000? ” tanya Maya dengan nada retoris.

Untuk bertahan hidup, Maya kadang nekad mencari tamu mematok ke pinggiran jalan dengan jalan duduk di warung kelontong yang masih buka. Bermain petak umpet dan adu lari dengan pasukan Satpol PP adalah tantangannya.

“Kita colong-colongan sama razia… Masa pandemi, razia dua-tiga kali datangnya dalam semalam, ” kata Maya.

Bukan hanya itu, kebutuhan hidup dengan terus berjalan juga disiasati dengan utang dari warung ke lepau.

“Dari warung sini, warung sana. Jika punya uang kita bayar. Jika enggak ya utang lagi, dimaki-maki sedikit sih , tapi enggak apa-apa yang istimewa bisa hidup dulu, ” cerita Maya.

Keterangan gambar,

Ayam geprek buatan Maya yang dijual untuk daerah sekitarnya atau biar online

Berusaha ganti profesi

Namun, sebulan terakhir itu Maya merintis usaha kuliner.

“Ayam geprek, terus lumpia basah, seblak, es krim buat anak-anak, pangsit dibungkus-bungkus. ” Modalnya ia pinjam lantaran teman dan anak kekasihnya.

“Aku juga bersyukur bisa makan di sini, bisa makan di usaha itu. Biar pun usaha masih kecil-kecilan kadang-kadang hari ini sepi, besok enggak tahu, namanya jualan ada sepinya ada enggaknya, ” katanya.

Semasa berjualan, ia mulai jarang buat mencari tamu, kecuali dagangannya sedangkan sepi pembeli. “Kita masih ke depan (jalan) juga, tapi jarang. Seminggu itu aku bisa utama kali, ” kata Maya.

Pilihan menjadi pekerja seks

Maya mengaku menjadi praktisi seks sejak usia 15 tarikh. Saat itu, perempuan asal Jawa Barat ini diiming-imingi seorang saudara bekerja di sebuah restoran dalam Jakarta.

Keterangan gambar,

Imajiner seorang pekerja seks yang mencari jalan beralih profesi menjadi penjual makanan

Tapi dengan dia hadapi justru melayani tamu-tamu di warung remang-remang. Awalnya dia menolak, tapi lama kelamaan diteruskan karena uang mudah didapat.

Dari sini ia bisa rutin mengirim uang ke kampung halaman dan mengambil rumah untuk keluarganya.

“Akhirnya perjuanganku jadi kakak enggak sia-sia. Aku bisa beli rumah buat orang primitif. Biar pun aku SD doang , tapi adik-adik aku pada tinggi-tinggi sekolahnya. Gara-gara cari uang di sini, ” tutur Maya diselingi derai air mata.

Ia menceritakan kehidupan keluarganya, sebelum bekerja sebagai pekerja seks. Hidup di pinggiran kampung di Jawa Barat dengan rumah sewa satu ruangan yang digunakan untuk tidur bersama-sama. “Adik-adik pada digigitin tikus kakinya, ” katanya.

“Sekarang alhamdulilah adikku pada nyaman tidur. Ketawanya di dalam lepas, enggak kayak dulu-dulu. Dulu juga beli es krim dalam enggak bisa, ” lanjut Maya.

Bahan gambar,

Maya cukup mempersiapkan dagangannya di dapur.

Kemunculan pekerja seks baru

Maya yang belasan tahun berkecimpung sebagai pekerja seks berusaha buat alih profesi menjadi pedagangan makanan.

Tetapi, kata dia, tak sedikit perempuan dari luar Jakarta mencoba mempertandingkan nasib menjadi pekerja seks pada ibu kota pada masa pandemi.

Pada BBC News Indonesia, seorang praktisi seks yang baru sebulan tinggal di daerah ini, Rere—bukan nama sebenarnya—mengatakan, “Mau tidak mau, kami tidak ada uang untuk makan”.

Rere mengaku diajak teman dari kampungnya di Jawa Tengah untuk berlaku di Jakarta sebagai pemasar buatan (SPG). “Enggak tahunya sampai sini, SPG juga bisa, plus-plus selalu bisa, ” kata ibu mulia anak ini sambil menutup wajahnya tertawa geli.

Saat ini Rere menikmati kesulitan karena uang hasil kegiatan malamnya dibawa kabur temannya itu. Sementara, warung tempat ia membongkar-bongkar tamu tak bisa dibuka mematok pagi hari karena aturan penyekatan sosial.

“Kemarin kan saya coba dalam situ, tutup satu Minggu bertambah, makanya bingung. Kerja malam selalu susah setengah mati, ” logat Rere yang kini menumpang susunan di antara rumah kontrakan.

Keterangan gambar,

Pekerja seks masa pandemi: Kami tidak memegang kekayaan sama sekali

Tak terjamah jangkauan bansos

Organisasi Perubahan Sosial (OPSi) adalah lembaga pemerhati kesehatan & sosial pekerja seks. Lembaga itu memperkirakan terdapat 277. 000 praktisi seks di seluruh Indonesia terdampak pandemi.

“Ekonomi teman-teman pekerja seks rani ini turun sekitar 70% selama masa pandemi Covid. Padahal dalam belakang pekerja seks ini ada anaknya, ada keluarganya, ada orang tuanya yang harus dihidupin, ” kata Koordinator Nasional OPSi, Liana Andriyani kepada BBC News Indonesia, Sabtu (26/12).

Selain itu, pekerja seks khusus perempuan ini juga kurang terjangkau bantuan sosial selama zaman pandemi. Kata Liana, kebanyakan itu ber-KTP di luar kota.

“Kan lainnya masih bisa akses bantuan sejak pemerintah, kalau pekerja seks nggak. Rata-rata pendatang, terus syarat untuk akses bansos kan lewat RT dan dari pemerintah harus memiliki rekening, nggak semua teman-teman punya rekening, ” tambah Liana.

Keterangan gambar,

Memotret ilustrasi: Seorang pekerja seks menguntungkan (PSK) di lokalisasi Jarak, Surabaya, 25 Mei 2014.

Liana pun meminta negeri untuk memperhatikan kelompok marjinal tersebut. “(Pemerintah) mengakui keberadaan pekerja seks ini juga bukan berarti membenarkan atau seperti apa. Mengakui dasar ada kelompok-kelompok yang mereka tak jamah, ” katanya.

Meskipun tak terjangkau bantuan dari pemerintah, sejumlah PSK, seperti Rere dan Maya, sedang berjuang untuk hidup mandiri, sehingga bisa meninggalkan profesi yang mereka geluti selama bertahun-tahun. “Kalau tersedia kerjaan, teman ada bantu, suruhan usaha. Siapa tahu dikasih bantuan usaha, kerjaan yang menetap. Jangan sampai lah terjun lagi, ” kata Rere.

Adapun Maya bercita-cita mau membuka rumah makan sehingga tak lagi menjadi PSK.

Bukti gambar,

Foto ilustrasi: Menutup wajahnya, seorang PSK dalam kawasan ‘lampu merah’ Dolly, Surabaya, 19 Juni 2014.

“Aku ingin meluaskan jalan ini kalau ada rezeki. Saya ingin buka kayak di pinggir-pinggir jalan buka ruko, kayaknya damai, enak, kita bisa masak, bisa apa. Cita-cita aku ingin punya rumah makan sunda. Aku enggak bakal di sini lagi, ” tandas Maya.

Sebagian bisnis hiburan belum boleh sibak

Seiring berjalannya waktu dan pemerintah mulai melonggarkan kebijakan pembatasan jarak sosial, sebesar sektor usaha mulai dibuka secara ketentuan protokol kesehatan. Usaha kunjungan, wisata, ritel, restoran, hingga perhotelan mulai beroperasi.

Namun dari sederet zona bisnis yang dibuka dengan ketentuan protokol kesehatan itu, bisnis per malam masih ditutup khusus Jakarta. Usaha hiburan ini di antaranya, karaoke, bar, diskotik, klub suangi, pertunjukan musik, dan griya memijit.

Data video,

Wawancara istimewa Mia Khalifa, mantan bintang film porno: ‘Saya merasa dimanipulasi’

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Asphija), Hana Suryani, mengucapkan tak punya data terkait praktisi di sektor ini, tapi mengutarakan “ratusan ribu orang” telah kehilangan pekerjaan.

Hana yang menolak usaha per ini dikaitkan dengan “hal-hal negatif”, mengatakan terdapat perlakuan diskriminasi dibandingkan sektor usaha lainnya. “Diskriminasi tentu. Diskriminasi itu ada di dalam otak mereka yang selalu ngomong hiburan itu adalah sarang akan menyebabkan klaster, ” katanya.

Asphija mencatat terdapat 29 kota di Indonesia sudah tiba membuka usaha hiburan, namun Jakarta belum.

Kepada media, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan belum memperkenankan hiburan malam beroperasi meskipun Jakarta sudah status PSBB transisi. Menurutnya, kegiatan hiburan malam ini berpotensi menjadi kluster penularan covid-19.

“Jenis-jenis kesibukan yang memiliki risiko penularan luhur karena pesertanya berdekatan, mengalami relasi fisik erat atau intensitas mulia, ” kata Anies beberapa masa lalu.