Keterangan gambar,

Petugas memproses hasil sampel tes usap antigen karyawan di laboratorium mini di kantor Badan Perlindungan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Jakarta, Jumat (16/10/2020).

Pemerintah Indonesia diminta buat tidak terburu-buru melakukan vaksinasi Covid-19 pada November mendatang di tengah ketidakpastian efektivitas dan keamanan vaksin tersebut.

Berdasarkan pengamatan epidemiolog serta pakar biologi molekuler, uji klinis vaksin virus corona di kira-kira negara masih berlangsung atau belum selesai sehingga data keamanan serta efektivitasnya masih diragukan.

Adapun Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) telah berangkat ke China untuk melangsungkan inspeksi ke lokasi produksi vaksin di China dengan tujuan buat percepatan akses vaksin yang aman, berkhasiat, dan bermutu.

Sementara Kementerian Kesehatan tubuh bakal menjelaskan kepastian vaksin tersebut pada Senin (19/10).

Sejumlah negara seperti Turki, Brasil, Uni Emirat Arab, Bangladesh, dan Nusantara masih melangsungkan uji klinis periode tiga vaksin Covid-19.

Khusus di Nusantara yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, sejauh ini tidak ada laporan buntut samping yang berat atau serius di antara ribuan relawan yang menerima vaksin Sinovac buatan China tersebut.

Hasil sementara itu, menurut pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo, serupa dengan data uji klinis fase satu dan dua yang berlangsung di negara-negara lain.

Namun serupa itu, katanya, bukan berarti bisa langsung disuntikkan kepada masyarakat, sebab dasar program vaksinasi harus menjamin ketenteraman dan efektivitas.

“Memang dari uji klinis fase satu dan dua sejauh ini belum ada kasus maut, tapi bagaimana efektivitasnya? Dari bahan yang saya lihat sejauh itu belum melihat ada data efektivitas yang terpublikasi secara publik. Sejauh ini data efektivitas belum tersedia, ” ujar Ahmad Rusdan Handoyo kepada Quin Pasaribu yang mengadukan untuk BBC News Indonesia, Minggu (18/10).

Keterangan gambar,

Tim medis melakukan pengerjaan terhadap pasien dalam persiapan simulasi vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Abiansemal I, Badung, Bali, Senin (5/10/2020). Kementerian Kesehatan melakukan kunjungan dan survei untuk melihat kesiapan puskesmas tersebut sebagai lokasi layanan vaksinasi COVID-19 serta menggelar simulasi di dalam Selasa (6/10).

Pun, jika dengan data tatkala menunjukkan vaksin bikinan Sinovac, CanSino, dan Sinopharm itu dianggap efektif harus diteliti kembali apakah banget bisa mencegah terjadinya “gejala berat setelah terinfeksi”.

“Efektivitas itu bukan hanya antibodi terbentuk. Tapi apakah bisa mencegah infeksi. Sebab kalau benar tidak efektif, yang dikhawatirkan keyakinan masyarakat terhadap vaksin hilang, ” tukasnya.

Karena itulah, Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagai lembaga dominasi yang memberi izin edar obat di Indonesia harus “berhati-hati sekali” dalam memberi lampu hijau vaksinasi Covid-19 lantaran data yang itu pegang kemungkinan tidak lengkap.

“Otoritas BPOM, mereka harus hati-hati karena petunjuk yang separuh itu apakah bisa menjamin? ” ungkapnya.

‘Ini bukan kejadian kalau tidak dilakukan vaksinasi akan mati’

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengatakan pemerintah tak perlu tergesa-gesa melakukan vaksinasi di Indonesia pada November mendatang.

Sebab had saat ini belum ada masukan ilmiah yang menunjukkan keamanan serta efektivitas vaksin Covid-19.

Kalaupun sudah dipakai oleh beberapa negara dengan kedudukan “darurat” bukan berarti bisa diterapkan di Indonesia, kata Pandu.

Baginya, tak ada kondisi genting yang meminta vaksinasi.

“Ini bukan keadaan kalau tidak dilakukan vaksinasi akan mati, tapi bisa ditunda, ” ujar Membuktikan Riono kepada BBC News Nusantara.

“Karena vaksin bukan solusi jangka rendah. Kita tunda sampai benar-benar damai juga tidak apa-apa, kenapa kudu terburu-buru? Kita harus pastikan tenteram dan efektif, ” sambungnya.

Keterangan gambar,

Masyarakat melintas di depan mural menyimpan pesan ajakan menggunakan masker di kawasan Pancoran, Jakarta, Minggu (18/10/2020).

Pemerintah, menurutnya, harus tetap mengutamakan penelusuran, pengetesan, dan perawatan dalam menghadapi pandemi Covid-19 seperti yang dijalankan Korea Selatan, China, dan Singapura.

“Untuk atasi pandemi bukan vaksinasi, itu cara berpikir yang salah besar. Untuk atasi pandemi dengan pengawasan dan perubahan perilaku. ”

IDI: ‘Kami menolong rencana pemerintah’

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai tenaga kesehatan yang bakal memberikan vaksin dan penerima vaksin Covid-19 menyatakan akan mendukung dasar pemerintah itu selama telah mendapat persetujuan dari BPOM.

“Harapan kami vaksin yang digunakan memenuhi standar kesejahteraan dan efektivitas serta tersedia pada jumlah yang cukup sehingga bisa membantu membentuk kekebalan individu & populasi, ” ujar Juru bicara IDI, Halik Malik kepada BBC.

Hanya saja, kata dia, sejauh tersebut belum ada perencanaan detail sebab Kementerian Kesehatan mengenai program vaksinasi Covid-19 mulai dari jumlah bahan penerima vaksin hingga lokasi dengan di tuju.

“Mikro planning belum tersedia, itu yang nanti menggambarkan rincian lokasi, kemudian tim yang hendak turun, jumlah, sasaran logistik dengan diperlukan dan seterusnya. ”

Akan tetapi, para tenaga kesehatan telah dilatih tentang bagaimana pemberikan vaksin itu.

160 juta orang akan menjadi bahan penerima vaksin

Menko Perekonomian yang pula Ketua Komite Penanganan Covid-19 & Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto, mengatakan total ada 160 juta orang yang akan menjadi sasaran penerima vaksin virus corona.

Vaksinasi itu akan dipercepat mulai November secara membeli vaksin buatan Sinovac, CanSino, dan Sinopharm.

Keterangan tulisan,

Pesepeda melintas dalam dekat dinding bermural di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (18/10/2020). Mural di sepanjang dinding viaduk Gubeng itu sebagai sarana imbauan kepada masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19.

Cansino dilaporkan menyanggupi 100. 000 vaksin pada November tahun ini dan sekitar 15-20 juta untuk tahun 2021.

Sedangkan Sinopharm dikenal mampu mengirim 15 juta vaksin tahun ini, di mana lima juta dosis akan mulai sampai pada November 2020.

Sementara Sinovac mampu menyuplai hingga tiga juta dosisi vaksin pada akhir Desember 2020 dengan komitmen pengiriman 1, 5 juta dosis pada minggu pertama bulan depan, kemudian 1, 5 juta dosis lagi pada Desember awal.

Direktur Jenderal Pencehahan dan Pengoperasian Penyakit Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, berkata pemberian vaksin tersebut hendak merujuk pada data uji klinis fase tiga yang diperoleh sebab China, Turki, Brasil, dan Bangladesh.

“Kita akan transfer data-data itu semua yang nantinya akan diberikan ke BPOM. Tanggal 15 Oktober BPOM berangkat ke China untuk memperoleh data dari BPOM China, ” ujar Achmad Yurianto seperti dilansir CNBC Indonesia, Selasa (13/10).

Adapun mas vaksin akan diprioritaskan kepada paramedis, TNI/Polri sebanyak 3, 4 juta orang. Lalu perangkat pemerintahan berangkat dari kecamatan, desa, RT/RW sebanyak 5, 6 juta orang.

Kemudian gaya pendidik mulai dari PAUD datang perguruan tinggi sebanyak 4, 3 juta orang dan peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran sebanyak 86 juta orang.