Keterangan gambar,

Anggota Tim Ikatan Pencari Fakta penembakan Intan Hebat, Bambang Purwoko, dirawat setelah ditembak kelompok tak dikenal.

Tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah untuk mengungkap kematian seorang zahid di Papua disebut ditembaki sekelompok orang di Distrik Hipadita, Kabupaten Intan Jaya, Jumat (09/10).

Seorang anggota tim pencari fakta serta dua personel TNI disebut terluka akibat penembakan tersebut.

TNI menuding gerombolan kriminal bersenjata merupakan pelaku penembakan tersebut.

Namun Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) meminta aparat keamanan tak mengeluarkan tuduhan kepada kelompok tertentu sebelum menyelidiki penembakan itu secara mendalam.

Tuduhan yang tidak didukung keterangan dan bukti kuat, menurut PGI, justru akan kontraproduktif terhadap target situasi damai di Papua.

Penembakan, kata Juru Bicara Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Kolonel IGN Suriastawa, terjadi pukul 15. 30 WIT. Saat itu, tim TGPF tengah dalam perjalanan sejak Hitadipa menuju Sugapa.

Jumat pagi sebetulnya, tim pencari fakta yang dikawal polisi dan tentara bersenjata sempurna melakukan tahap olah tempat perkara kasus penembakan pendeta Yeremia Zanambani.

Pendeta Yeremia, yang juga berstatus Ketua Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia Hitadipa, tewas ditembak, 19 September lalu.

Korban luka

Suriastawa, sebagaimana dilaporkan Kompas. com, menyebut anggota awak pencari fakta yang terluka akibat penembakan petang tadi adalah Jelas Purwoko. Dia berkata, dosen Universitas Gadjah Mada ini mengalami luka tembak di pergelangan kaki kiri dan tangan kiri.

Sementara tentara yang terluka adalah Sersan Satu Faisal Akbar dan Prajurit Satu Ginanjar. Faisal mengalami luka tembak di bagian pinggang, sedangkan Ginanjar pada telapak tangan kiri.

Ketiganya dalam suasana sadar dan kini tengah melaksanakan perawatan di Rumah Sakit Ijmal Daerah Sugapa, Intan Jaya.

Juru Bicara PGI, Philip Situmorang, menyebut salah satu pengurus lembaganya berada dalam iring-iringan tim pencari fakta yang ditembaki itu.

Johny Nelson Simanjuntak, anggota Komisi Hukum PGI itu, disebut tidak mengalami luka apapun.

Meski begitu, PGI mendorong abdi keamanan menyelidiki penembakan itu pra menuduh kelompok tertentu bertanggung jawab atas tersebut.

“Dari informasi yang awak dapatkan, belum diketahui pihak mana yang menembak. Itulah kenapa ana sangat berhati-hati mengeluarkan pernyataan karena itu bisa menyinggung kelompok-kelompok dalam Papua, ” kata Philip pada BBC Indonesia via telepon.

“Cari serta selidiki siapa yang melakukan jadi pernyataan yang keluar sesuai fakta, ” tuturnya.

Keterangan gambar,

TGPF Intan Hebat dibentuk Menko Polhukam, Mahfud MD.

Sementara tersebut, Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua menilai beragam tuduhan terhadap KKB adalah narasi lama yang digunakan pemerintah untuk menyudutkan masyarakat Papua.

Socratez Yoman, pendeta di salah satu induk gereja di Papua itu, mendesak pemerintah membuat pernyataan yang menyejukkan & mendamaikan masyarakat.

“Sudah saatnya negara berakhir membuat narasi yang tidak menyelenggarakan kesejukan dan kedamaian, ” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

“Narasi yang menyudutkan masyarakat Papua sudah berlaku selama 58 tahun. Harus ada pendekatan baru, cara yang bersusila, ” kata Socratez terkait tuduhan TNI terhadap kelompok kriminal bersenjata.

TGPF kasus penembakan di Intan Jaya dibentuk Menko Polhukam Mafhud MD. Tim yang dipimpin mantan jenderal polisi Benny Mamoto ini ditargetkan menyelesaikan tugas dalam dua pekank.

Tumpuan yang dibebankan kepada mereka adalah mengungkap pelaku penembakan yang membunuh Pendeta Yeremia, seorang warga sipil, dan dua tentara.

Mafhud berkata, jalan pidana terhadap para pelaku nantinya akan berlangsung di kepolisian.

Selain Benny Mamoto dan perwakilan PGI, awak pencari fakta ini antara asing diisi oleh rektor Universitas Sepah raja Apolo Safanpo, mantan hakim Mahkamah Konstitusi I Dewa Gede Palguna, dan mantan pejabat tinggi Papua, Constan Karma.

Perwakilan Badan Intelijen Negeri, Kejaksaan Agung, Lembaga Perlindungan Saksi, dan Korban, serta TNI serupa ditempatkan di tim ini.