Keterangan tulisan,

Warga menjalani swab test di Kecamatan Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (26/09).

Pakar kesehatan tubuh meminta pemerintah Indonesia “agresif” menyimpan tes cepat antigen, yang sudah disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk digunakan secara darurat di negara-negara dengan jumlah tes polymerase chain reaction (PCR) yang sedikit.

Saat ini, pemerintah mengatakan masih meminta WHO mempertimbangkan Indonesia sebagai salah satu negara penerima ulangan cepat antigen dengan harga melimpah, yang rencananya akan disediakan sebab organisasi itu.

Belum ada rencana terang mengenai berapa banyak alat tes antigen yang akan dibeli negeri secara mandiri tanpa subsidi, meski Indonesia disebut sebagai salah utama negara dengan jumlah tes Covid-19 yang rendah di dunia.

‘Belum menentukan’

Juru Bicara Satgas Pengerjaan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan pemerintah Indonesia telah berkomunikasi dengan WHO, terkait rencana badan itu menyediakan 120 juta tes cepat antigen dengan harga terjangkau bagi negeri2 berpenghasilan kecil hingga menengah.

Informasi gambar,

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah sudah berbicara dengan perwakilan WHO di Indonesia.

“Kami telah berkomunikasi dengan perwakilan WHO yang ada di Indonesia, dan kami selalu mohon untuk bisa dapat dipertimbangkan untuk bisa mendapatkan bantuan sejak WHO untuk tes cepat ini, agar kita bisa mendeteksi lebih cepat dari kasus atau kelompok yang menderita Covid, ” prawacana Wiku dalam konferensi pers Kamis (01/10).

Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebelumnya mengatakan tes antigen, dengan bisa mengeluarkan hasil dalam masa 15 sampai 30 menit, dihargai sekitar US$5 atau Rp74. 000 per unitnya, sehingga jauh bertambah murah dari tes PCR.

Dua ulangan antigen, merek Abbott (Amerika Serikat) and SD Biosensor (Korea Selatan), rencananya akan didistribusikan WHO ke sejumlah negara atas kerja sama dengan berbagai lembaga, seperti Bill & Melinda Gates Foundation.

Ketika ditanya lebih lanjut apakah pemerintah berencana membeli tes antigen secara sendiri tanpa subsidi WHO, serta berapa banyak tes antigen yang hendak diadakan pemerintah, Wiku, dalam penjelasan tertulisnya, mengatakan pemerintah belum menetapkan hal tersebut.

Ia menambahkan pemerintah hendak meninjau produk-produk tes antigen dengan ada, termasuk yang tengah dikembangkan Universitas Padjajaran, Bandung.

Informasi gambar,

Alat deteksi antigen Covid 19, CePAD.

Ketua Sub-Bidang Sokongan Logistik Medis Satgas Penanganan Covid-19, Brigjen Agung Hermawanto, mengatakan Lembaga Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya sudah pernah membeli sekitar 250. 000 alat tes cepat antigen merek SD BioSensor.

Merek itu, katanya sudah mendapat izin edar dalam Indonesia, dan sudah pernah didistribusikan BNPB ke sejumlah daerah yang kesulitan melakukan tes, salah satunya ke Nias.

Keterangan gambar,

Lab. Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bioinformatika Unpad yang memproduksi ulangan CEPAD.

‘Lebih agresif, proaktif’

Menanggapi itu, Wakil Penasihat Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr. Tonang Dwi Aryanto, mengatakan pemerintah menetapkan “agresif dalam membeli tes antigen”, mengingat capaian tes Covid-19 Indonesia yang masih rendah.

Ia juga merujuk rilis Kementerian Keuangan Rabu (30/09) lalu untuk memperkuat argumennya kalau Indonesia seharusnya bisa membeli ulangan antigen secara mandiri.

“Bicara mengenai hajat, ya karena ini butuh sungguh menurut saya harus dilakukan. Toh kita tahu bahwa serapan anggaran Covid untuk bidang kesehatan baru 25%.

“Mengapa tidak kita gunakan untuk mengambil rapid test antigen? Menurut hamba kita harus dalam posisi untuk segera mengadakan, tidak harus menunggu n y uwun seribu harga murah, jika fine ya beli karena kita butuh… Agresif la h , istilahnya, proaktif untuk berusaha mengadakan, ” ujarnya.

Keterangan tulisan,

Tes antigen dikenal lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi.

Ia juga memberi rekomendasi pada negeri untuk memperlakukan siapa pun yang hasil tes antigennya reaktif sebagai pasien Covid-19.

Saat ini, Indonesia gres melakukan tes terhadap sekitar dua juta orang dari total kira-kira 270 juta penduduk, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan total tes terendah di dunia, situasi yang diakui pula oleh Kepala Bappenas Suharso Monoarfa September morat-marit.

Real, tanpa jumlah tes yang cukup, Tonang mengatakan data yang ada semestinya belum bisa digunakan jadi basis pemerintah mengambil kebijakan.

Meski begitu, Tonang menekankan, standar utama pengetesan Covid-19 tetaplah PCR, dan pemerintah harus sebisa mungkin meningkatkan kapasitasnya dalam melakukan tes jenis itu.

‘Hati-hati’

Di sisi lain, pakar biologi molekuler, Achmad Rusdjan Utomo, menyarankan negeri untuk terlebih dulu memverifikasi efektivitas alat tes antigen yang direkomendasikan WHO.

Keterangan gambar,

Pakar menyarankan pemerintah buat tetap menguji ulang alat-alat tes antigen yang telah direkomendasikan WHO.

“Coba tunjuk dong Universitas Padjajaran atau Libangkes, coba kita [uji] ulang, nggak perlu banyak, menyesatkan pakai 30 sampel positif dan negatif, bener nggak [tesnya efektif] seperti yang diklaim.

“Ini kan konsep kehati-hatian ya, ” ujarnya.

Ia juga menambahkan ketika sudah membangun tes antigen itu, pemerintah menetapkan memastikan masyarakat tidak membeli cara tes itu secara mandiri, sama dengan yang marak terjadi pada tes rapid antibodi.

Hal itu, katanya, mau menyebabkan hasil tes tak terekam oleh pemerintah sehingga tak menolong upaya pengendalian wabah.

Apa beda rapid test antigen dan antibodi?

Penasihat Senior Eksekutif Jenderal WHO untuk Gender & Kepemudaan, Diah Saminarsih, menjelaskan tes antigen dapat mendeteksi protein virus corona saat virus di awak seseorang berada di tingkat menyesatkan menular.

“Tes itu tepatnya bisa digunakan sebagai alat deteksi dini, ” katanya.

Keterangan gambar,

Rapid test antibodi dikenal tak efektif mendeteksi saat-saat kausa seseorang terinfeksi virus corona.

Sementara, tes rapid antibodi mendeteksi antibodi seseorang setelah beberapa waktu melawan virus, serta tak efektif mendeteksi saat-saat pokok seseorang terinfeksi virus corona.

Sementara itu, PCR, yang disebut sebagai pengampu pengetesan Covid-19, bisa mendeteksi material genetik virus yang jumlahnya kecil, sehingga seseorang dapat terus memiliki hasil positif Covid-19 setelah virus dalam tubuhnya sudah tidak memiliki daya menginfeksi.