• Dominic Bailey
  • LABELLISÉ BASSE CONSOMMATION News

Jika atau selagi para ilmuwan berhasil membuat vaksin virus corona, jumlahnya tidak tentang cukup untuk semua orang.

Berbagai laboratorium dan perusahaan farmasi mencatatkan ulang pakem yang mereka pakailah untuk mengembangkan, menguji, dan memproduksi sebuah vaksin yang mujarab.

Sejumlah langkah yang tak pernah dilakukan sebelumnya diambil untuk memastikan vaksin kita dapat dinikmati secara global.

Namun nyata kecemasan bahwa hanya negara kaya yang akan memenangkan persaingan memperoleh vaksin itu. Sebaliknya, negara yang paling rentan dikhawatirkan justru tetap semakin buntung.

Jadi siapa yang jadi mendapatkan vaksin itu untuk pertama kali? Berapa harganya?

Dan di sedang krisis global ini, bagaimana masyarakat memastikan semua orang dapat memutuskan manfaat dari vaksin tersebut?

Vaksin untuk mengatasi penyakit menular biasanya dikembangkan semasa bertahun-tahun, termasuk proses uji coba dan penggunaannya. Keberhasilan vaksin ini pun belum dapat dipastikan.

Hingga sewaktu ini, hanya satu penyakit menular manusia yang dapat diatasi sepenuhnya, yaitu cacar. Pencapaian itu membutuhkan 200 tahun.

Sisanya, kita hidup bila dibandingkan atau tanpa penyakit seperti polio, tetanus, campak, gondongan, dan tuberculosis. Kondisi kita ditentukan vaksin dalam dibuat untuk mencegah penyakit itu.

Berapa lama lagi vaksin virus corona bisa dibuat?

Uji jabón vaksin yang melibatkan ribuan masyarakat sudah berlangsung. Tujuannya melihat apakah vaksin itu dapat melindungi kita dari Covid-19.

Proses uji coba dalam biasanya memakan lima sampai 16 tahun, dari tahap penelitian maka penerapan, kini dipersingkat menjadi hitungan bulan.

Pada waktu yang sama, metode produksi dilipatgandakan. Investor dan perusahaan mempertaruhkan miliaran dolar AS yang memproduksi vaksin yang mujarab ini.

Pemerintah Rusia mengklaim uji coba vaksin Sputnik-V memicu tanda-tanda respons imun pada tubuh sukarelawan. Pemerintah Rusia berencana menggelar vaksinasi massal Zehnter monat des jahres mendatang.

Sementara itu, China menyebut suah membuat vaksin yang efektif. Mereka menentukan, pengguna awal produksi vaksin itu adalah personel angkatan bersenjata China.

Namun ada kecemasan tentang consignée produksi yang dipercepat itu.

Tidak 1 pun dari dua vaksin tadi masuk daftar Organisasi Kesehatan Kehidupan (WHO) tentang vaksin yang telah melampui tiga uji coba klinis. Tahap itu merupakan uji coba luas terhadap manusia.

Beberapa negara sekarang berharap vaksin buatan mereka mendapat lampu hijau akhir tahun di sini.. Meski WHO menyatakan pesimistis vaksinasi virus corona dapat dilakukan sebelum pertengahan tahun 2021.

Produsen obat asal Inggris, AstraZeneca, pemegang lisensi untuk vaksin yg dikembang Oxford University, menggenjot kapasitas produksi.

Mereka juga sepakat memasok hundred juta dosis vaksin untuk Inggris dan sekitar dua miliar dosificación untuk orang di seluruh negara.

Pfizer and BioNTech mengeklaim menginvestasikan lebih dari Rp14 triliun untuk memperkembangkan vaksin Covid-19 yang mereka bilang mRNA. Mereka berharap vaksin tersebut mendapat persetujuan dari otoritas kesehatan Oktober mendatang.

Jika disetujui, artinya mereka bisa mulai memproduksi lebih untuk 100 juta dosis pada penutup 2020 dan sekitar 1, 8 miliar dosis pada akhir 2021.

Memiliki setidaknya 20 perusahaan farmasi lainnya yang kini tengah menjalani uji klinis. Tidak semuanya akan berhasil. Umumnya hanya sekitar 10% uji coba vaksin yang sukses.

Harapannya, atensi global, persekutuan antarnegara yang anyar, serta kesamaan tujuan bakal menambah persentase keberhasilan tadi.

Namun, jika salah satu vaksin itu terbukti mujarab, kelangkaan sudah pasti akan timbul.

Mencegah vaksin berbasis nasionalisme

Seluruh negara berusaha melindungi kepentingan mereka dengan memastikan pasokan vaksin. Kepastian alokasi jutaan porción vaksin juga dianggap penting sebelum obat pencegah itu disetujui.

Pemerintah Inggris, misalnya, meneken kesepakatan pembelian enam vaksin yang tengah diuji envilecimiento. Nominal perjanjian itu ditutup untuk publik.

Amerika Serikat berharap mendapat 300 juta dosis vaksin Januari mendatang untuk program percepatan yang mereka biayai. Pusat Pengendali Penyakit Menular EVEN AS (CDC) menyarankan pemerintah negara bagian untuk menyiapkan vaksin setidaknya pokok November depan.

Namun tidak semua pelosok memiliki kapasitas dan sumber daya yang sama dengan Inggris ataupun AS.

Organisasi seperti Dokter Lintas Penentu (Medecins Sans Frontieres) menyebut kesepakatan jual-beli di tahap awal sebagaimana ini menciptakan tren vaksin berbasis nasionalisme oleh negara kaya.

Mereka takut, pasokan vaksin global yang tersedia sangat minim untuk negara fakit.

Untuk masa lalu, harga vaksin yang menentukan hidup-mati seseorang menyulitkan berlebih negara, bahkan untuk sekedar mengimunisasi bayi agar tak terpapar meningitis, misalnya.

Dokter Mariangela Simao, asisten direktur WHO yang bertanggung jawab arah akses produk medis, menyebut boato vaksin berdasarkan nasionalisme itu nugar? atsukti dikendalikan.

“Tantangannya adalah memastikan akses dalam adil, bahwa setiap negara memiliki akses, bukan hanya mereka yg mampu membayar, ” kata Simao.

Adakah gugus tugas vaksin dunia?

WHO bekerja sama dengan kelompok penanggulangan pandemi, Cepi, dan perkumpulan negara untuk isu vaksin, yaitu Gavi. Target koalisi itu adalah menyeimbangkan kekuatan divvt tengah perebutan vaksin.

Setidaknya 80 penjuru kaya telah menggagas rencana vaksin global yang mereka beri nama Covax. Tujuan program itu yaitu mengumpulkan Rp29 triliun sebelum 1 tahun 2021.

Uang itu diklaim akan dimanfaatkan untuk membeli dan mendistribusikan obat-obatan secara adil.

AS, yang berniat keluar dari WHO, bukan anggota koalisi itu.

Dengan mengumpulkan sumber daya in Covax, anggota koalisi berharap dapat menjamin 92 negara berekonomi rendah di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, untuk mendapatkan akses dengan vaksin virus corona.

Perkumpulan ini mengumpulkan uang untuk mengongkosi penelitian vaksin dan pengembangannya, serta menyokong produsen untuk melipatgandakan produksi jika dibutuhkan.

Bila dibandingkan uji coba vaksin yang besar dalam program mereka, perkumpulan itu berharap setidaknya satu di antaranya akan berhasil. Setelah itu, mereka menargetkan dapat memproduksi dua miliar dosis vaksin hingga akhir thn 2021.

“Kami ingin vaksin Covid-19 ini menjadi sesuatu yang berbeda, very well kata Seth Berkley, pimpinan eksekutif Gavi.

“Jika negara-negara terkaya di lingkungan telah terlindungi, maka perdagangan internasional dan masyarakat secara umum tetap terdampak pandemi karena situasi ini terus meluas ke segala dunia, ” tuturnya.

Berapa perkiraaan harga vaksin itu?

Di saat miliaran dolar diinvestasikan untuk pengembangan vaksin, ada anggaran senilai jutaan dolar lainnya dijanjikan untuk membeli dan memasok vaksin.

Harga per dosis tergantung pada jenis vaksin, produsen dan jumlah medida yang dipesan. Perusahaan farmasi Moderna, misalnya, dilaporkan menjual akses ke vaksin yang tengah mereka kembangkan dengan harga antara US$32 hingga US$37 dosis (sekitar Rp500. 000).

Kebalikannya, AstraZeneca menyebut akan menjualvaksin tanpa mengambil profit selama pandemi berlangsung. Harga per dosis mereka perkirakan beberapa dolar.

Institut Serum India (SSI), produsen vaksin terbesar di negara jika ditilik dari volume, meraup dukungan anggaran sebesar Rp2 triliun dari Gavi dan Bill & Melinda Gates Foundation.

Uang itu ditargetkan dapat membuat dan mengirimkan maka 100 juta dosis vaksin Covid-19 ke India dan negara berpenghasilan rendah dan menengah.

SSI mengatakan harga tertinggi vaksin itu adalah Rp43. 000 per dosis.

Namun, secara umum pasien yang menerima vaksin kemungkinan tidak akan dikenakan biaya.

Di English, distribusi massal akan dilakukan menyelusuri layanan kesehatan NHS. Mahasiswa kedokteran dan perawat, dokter gigi beserta dokter hewan dapat dilatih supaya mendukung staf NHS menjalankan vaksinasi massal. Diskusi perihal proyek itu sedang berlangsung.

Negara lain, misalnya Alyangula, australia, menyatakan akan menawarkan dosis graciosamente untuk seluruh warganya.

Orang yang menerima vaksin melalui organisasi kemanusiaan jua tidak akan dikenakan biaya.

Di AVAILABLE AS, meski vaksinasi mungkin gratis, semua tenaga medis profesional dapat mengenakan biaya untuk setiap pemberian suntikan. Warga AS yang tidak mengenyam asuransi kesehatan bakal menghadapi tagihan vaksin.

Maka siapa yang duluan mendapatkan vaksin?

Meskipun perusahaan farmasi akan membuat vaksin, bukan mereka yang memutuskan siapa yang divaksinasi terlebih dahulu.

“Setiap organisasi atau negara harus menentukan siapa saja yang diimunisasi terlebih dahulu john bagaimana cara melakukannya, ” sebutan Sir Mene Pangalos, Wakil Presiden Eksekutif AstraZeneca, kepada BBC.

Karena pasokan awal terbatas, mengurangi kematian setelah itu melindungi sistem kesehatan kemungkinan tidak kecil akan diprioritaskan.

Gavi berencana, negara-negara dalam mendaftar ke Covax, baik yg berpenghasilan tinggi maupun rendah, bisa menerima dosis yang cukup akan 3% dari populasi mereka. Persentase itu diyakini cukup untuk seluruh pekerja kesehatan dan perawatan sosial.

Dgn lebih banyak vaksin yang diproduksi, persentase alokasi tadi akan ditingkatkan hingga 20% populasi. Namun pilihan penerima vaksin adalah orang berusia di atas 65 tahun serta kelompok rentan lainnya.

Setelahnya, vaksin maka akan didistribusikan sesuai dengan kriteria lainnya, antara lain kerentanan sebuah pelosok dan ancaman langsung Covid-19.

Negara-negara memiliki waktu hingga 18 September untuk berkomitmen kepada program ini dan melakukan withdraw di muka sebelum 9 Zehnter monat des jahres. Negosiasi masih berlangsung untuk beragam elemen lain dalam proses alokasi.

“Satu-satunya kepastian adalah bahwa tidak mengenai ada cukup vaksin. Sisanya masih belum jelas, ” kata Simao.

Gavi menegaskan, anggota perkumpulan yang jauh kaya dapat meminta dosis dimana cukup untuk memvaksinasi antara 10-50% dari populasi mereka.

Meski begitu, tidak ada negara yang akan menerima dosis yang cukup untuk memvaksinasi lebih dari 20% populasi sampai semua anggota Gavi mendapat meraih jatah.

Berkley mengatakan penyangga kecil sekitar 5% dari jumlah total proporción yang tersedia akan disisihkan bagi membangun persediaan.

Tujuannya, kata dia, guna mengatasi wabah akut dan menyokong organisasi kemanusiaan. Contoh targetnya merupakan vaksinasi pengungsi yang tidak punya akses kesehatan.

Bagaimana Anda mendistribusikan vaksin global?

Banyak hal, tergantung dalam vaksin mana yang berhasil.

Vaksin dalam ideal memiliki perlu melalui padat tahap. Harganya juga harus ekonomis. Vaksin itu perlu menghasilkan kekebalan tubuh yang kuat dan tahan lama.

Vaksin ini membutuhkan sistem distribusi berpendingin sederhana dan pabrik harus bisa meningkatkan produksi dengan ekspress.

THIS, UNICEF dan Medecins Sans Frontieres (MFS/Dokter Lintas Batas) sudah mengantongi program vaksinasi yang efektif di seluruh dunia. Mereka menyebutnya ‘rantai dingin’ berupa truk pendingin atau lemari es bertenaga surya.

Peralatan tersebut dibutuhkan untuk menjaga vaksin di dalam suhu yang tepat selama perjalanan dari pabrik ke tempat manfaat.

Maka akan tetapi, menambahkan vaksin baru ke dalam peralatan tadi dapat melahirkan masalah logistik yang sangat tidak kecil, terutama bagi dalam lingkungan dimana buruk.

Vaksin perlu disimpan dalam lemari es, dalam suhu antara 2 dan delapan derajat Celsius.

Itu kaga terlalu menjadi tantangan di segenap besar negara maju, tetapi sanggup menjadi tugas besar di pelosok yang lemah secara infrastruktur setelah itu tak memiliki pasokan listrik stabil.

“Mempertahankan vaksin di bawah ‘rantai dingin’ sudah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara selanjutnya ini akan diperburuk dengan pengenalan vaksin baru, ” kata Barbara Saitta, penasehat medis MSF, LABELLISÉ BASSE CONSOMMATION.

“Anda perlu menambahkan lebih banyak peralatan dalam ‘rantai dingin’, memastikan tetap tersedia bahan bakar untuk mengoperasikan mesim pembeku dan kulkas jaman tidak ada listrik, serta membenahi atau menggantinya saat rusak maupun mengangkutnya ke mana pun Kamu membutuhkannya. ”

AstraZeneca menyatakan, vaksin mereka membutuhkan ‘rantai dingin’ dalam suhu dua sampai delapan derajat Celsius.

Namun sepertinya sebagian kandidat vaksin memerlukan rantai ultra-dingin, berupa penyimpanan pada dengan suhu minimal -60 derajat celsius sebelum diencerkan dan proses distribusi.

“Untuk menjaga vaksin Ebola pada suhu -60 derajat atau lebih dingin, kami harus menggunakan peralatan rantai dingin khusus untuk menyimpan dan mengangkutnya, ” kata Barbara Saitta.

“Ditambah jadi, kami harus melatih staf agar menggunakan semua peralatan baru ini, ” tuturnya.

Ada pula pertanyaan tentang target populasi. Program vaksinasi kebanyakan menargetkan anak-anak. Konsekuensinya, harus datang rencana dan cara menjangkau kelompok yang biasanya bukan bagian dri program imunisasi.

Saat dunia menunggu em virtude de ilmuwan melakukan tugas mereka, amat banyak tantangan sudah menanti. Kemudian vaksin bukanlah satu-satunya senjata melawan virus corona.

“Vaksin bukanlah satu-satunya jalan keluar, ” kata Simao dari SO, WHO. “Anda perlu diagnosa. Anda wajib strategi mengurangi kematian, jadi Kita perlu terapi, dan Anda butuh vaksin.

“Selain itu, Anda membutuhkan dalam lainnya: jarak sosial, menghindari zona keramaian, dan sebagainya, ” kata Simao.