Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk menerapkan kembali pembatasan sosial berskala gembung (PSBB) yang seperti diterapkan di awal pandemi Covid-19.

Dalam tanda pers di Jakarta, Rabu (09/09) malam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan “pihaknya menarik rem darurat, yang itu artinya kita terpaksa kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti di dalam masa awal pandemi dulu. ”

Dengan demikian, “bukan lagi PSBB pertukaran, tapi kita harus melakukan PSBB sebagaimana masa awal dulu, ” katanya. “Dan inilah rem darurat yang harus kita tarik. ”

“Sekali lagi ini soal menyelamatkan masyarakat Jakarta, ” ujarnya.

Menurutnya, apabila ini dibiarkan, maka “rumah sakit tak akan sanggup menampung [pasien covid-19]” dan “efeknya kematian akibat Covid-19 akan tinggi” di Jakarta.

Dikatakannya, langkah ini dikerjakan karena penularan virus corona di Jakarta sudah masuk “kondisi darurat”.

Status darurat itu, demikian Anies, ditandai kenaikan kasus covid-19 di Jakarta, angka kematian akibat virus tersebut, serta kemampuan rumah sakit menampung pasien yang terpapar.

Keterangan gambar,

Warga berdiri di dekat replika peti mati dan papan himbauan perdata COVID-19 yang terpasang di jalur pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (06/09).

“Meskipun kita mendorong peningkatan kapasitas rumah sakit kita, tapi total kasus aktif di Jakarta pertambahannya lebih cepat daripada pertambahan daya tampung untuk pelayanan rumah, elok tempat tidur atau ICU. ”

“Jadi, dari tiga data ini, angka kematian, keterpakaian tempat tidur isolasi, keterpakaian ICU khusus covid, menunjukkan bahwa situasi wabah di Jakarta ada dalam kondisi darurat, ” paparnya.

Keputusan penerapan kembali PSBB ini, menurutnya, berdasarkan kesimpulan dari kerap Gugus tugas penanganan Covid-19 DKI Jakarta pada Rabu sore.

“Maka dengan melihat kedaruratan ini maka tak ada banyak pilihan bagi Jakarta kecuali menarik rem darurat sesegera mungkin, ” ujarnya.

Kebijakan ini hendak mulai berlaku pada Senin, 14 September 2020, kata Anies.

‘Kegiatan perkantoran non esensial harus dilaksanakan lantaran rumah’

“Prinsipnya mulai Senin, 14 September, kegiatan perkantoran yang non pokok diharuskan untuk melaksanakan kegiatan lantaran rumah, ” ungkapnya.

Anies menekankan, tidak kegiatan usahanya yang berhenti, akan tetapi bekerja di kantor yang ditiadakan.

“Kegiatan jalan terus, kegiatan kantor tiang terus, tapi perkantoran [non esensial] di gedungnya, yang tidak diizinkan untuk beroperasi.

Keterangan gambar,

Aparat Satpol PP melakukan pendataan kepada pengendara sepeda motor dan sopir yang tidak menggunakan masker saat berkendara dalam Operasi Tertib Masker di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, Senin (07/09)

“Akan ada 11 bidang esensial yang boleh tetap berjalan dengan operasi minimal. Jadi tidak boleh jalan seperti biasa, lebih dikurangi, ” paparnya.

Pemprov Jakarta akan “mengevaluasi ulang” perkantoran yang selama ini telah diberikan izin berkegiatan.

‘Seluruh tempat hiburan akan ditutup’

Dalam jumpa pers, Anies menyatakan bahwa “seluruh tempat hiburan” akan ditutup.

“Kegiatan yang dikelola Pemprov DKI akan ditutup, seperti [kebun binatang] Ragunan, Ancol, Monas, dan taman-taman kota,

“Dan kegiatan melancarkan tetap berlangsung di rumah, sesuai yang sudah berlangsung selama ini, ” tambahnya.

Rumah makan boleh hidup, tapi tidak boleh makan di lokasi’

Lebih lanjut Anies mengungkapkan, kesibukan usaha makanan, seperti rumah santap, kafe atau restoran diperbolehkan buat tetap beroperasi, namun “tidak dibolehkan untuk menerima pengunjung makan pada lokasi”.

Fakta gambar,

Pengunjung beraktivitas di satu diantara pusat perbelanjaan pada Jakarta, Rabu (09/09).

“Jadi pesanan diambil, pesanan diantar, tapi tidak makan pada lokasi. ”

Alasannya, pemprov DKI menjumpai “di tempat-tempat inilah terjadi hubungan yang mengantarkan kepada penularan. ”

Teks mulai diberlakukan PSBB?

Kebijakan ini hendak mulai berlaku pada Senin, 14 September 2020, kata Anies Baswedan.

Di bagian lain jumpa persnya, Anies menekankan bahwa apa yang tempat sampaikan barulah “prinsip-prinsip awal”. Adapun “detil-detilnya” akan disampaikan pada “hari-hari ke depan”.

“[Ini} sebagai ancang-ancang pada seluruh masyarakat bahwa kita akan menuju PSBB. Ada periode, ada proses supaya kita bisa menyiapkan agar berjalan dengan bagus. ”

“Supaya kita semua bisa mengantisipasi, ” katanya.