Keterangan gambar,

Polisi menunjukkan barang bukti uang saat rilis pengungkapan sindikat internasional pembelian ventilator di Mabes Polri, Jakarta, Senin (07/09).

Kepolisian Indonesia mengungkap kasus dugaan penipuan pembelian ventilator dan monitor Covid-19 senilai Rp58, 8 miliar yang melibatkan sindikat internasional.

Tiga awak Indonesia berinisial SB, R, & TP telah ditangkap dalam kasus dugaan penipuan ini, sementara seorang warga negara asing berinisial DM masih dinyatakan buron, kata seorang pejabat polisi.

Disebutkan aksi dugaan penipuan ini dilakukan oleh Jaringan global Nigeria-Indonesia, dengan menggunakan modus Business Email Compromise atau membajak email.

Menurut polisi, kasus ini tersibak setelah ada informasi dari NCB Interpol Italia kepada NCB Interpol Indonesia perihal dugaan penipuan pembelian ventilator dan monitor Covid-19.

“Awalnya perusahaan Italia yang bergerak di bagian pelaksanaan kesehatan melakukan transaksi jual beli dengan perusahaan China, ” kata Kabareskrim Polri, Komjen Listyo Sigit Prabowo, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (07/09).

Bagaimana modusnya?

Semula perusahaan asal Italia, Althea Italy, dan perusahaan asal China, Shenzhen Mindray Bio-Medical Electronics, melakukan kontrak jual beli peralatan medis ventilator dan monitor COVID-19, ungkapnya.

Dalam perjalanannya, demikian temuan polisi, ada seseorang yang mengaku sebagai pimpinan dibanding perusahaan Italia tersebut. Dia menginformasikan adanya perubahan nomor rekening untuk pembayaran.

“… Sehingga kemudian atas pesan yang masuk dari email itu kemudian rekening untuk pembayaran diubah menggunakan bank di Indonesia, ” ungkap Sigit.

Keterangan gambar,

Petugas menunjukkan barang bukti uang masa rilis pengungkapan sindikat internasional pembelian ventilator di Mabes Polri, Jakarta, Senin (07/09).

Sigit menjelaskan, tersangka S berlaku sebagai seseorang yang mengaku jadi Direktur CV Shenzhen Mindray Bio Medical Elektronics CO LTD serta membuka rekening penampungan.

Perusahaan ini, taat Sigit, adalah perusahaan fiktif dengan meniru nama perusahaan alat kesehatan tubuh asal China, Shenzhen Mindray Bio-Medical Electronics Co., Ltd.

Adapun tersangka R berperan disebutkan berpura-pura menjadi Komisaris Shenzhen Mindray Bio Medical Elektronics sekaligus berperan membuatkan rekening atas nama perusahaan fiktif tersebut.

Sedangkan tersangka T berperan sebagai pihak yang menyelenggarakan segala kebutuhan adminstrasi perusahaan khayali CV Shenzhen Mindray Bio Medical Elektronics, ungkap Listyo Sigit.

“Satu (pelaku) saudara B, WNA (warga negara asing) saat ini masih pada pencarian oleh tim dari Siber Bareskrim Polri, ” katanya.

Kepolisian kemudian mengamankan uang pada rekening penampungan yang ada di rekening bank Syariah senilai Rp56, 8 miliar, ungkap Sigit.

“Kita berhasil menangkap [tiga orang] pelaku… yaitu dalam Jakarta, Padang dan kemudian pada Bogor, ” tambahnya.

Kerja sama lin negara

Temuan polisi menyebutkan, pihak bank swasta yang menerima transfer kekayaan tersebut menaruh curiga atas terjadinya “transaksi mencurigakan”.

Pada saat yang sepadan, kepolisian Italia juga menaruh syak adanya dugaan penipuan yang dialami perusahaan asal negara itu, logat polisi Indonesia.

Dikatakan Sigit, Interpol Indonesia kemudian mendapatkan informasi adanya perkiraan tindak pidana penipuan dari Interpol Italia.

Disebutkan atas kerja sama kepolisian Indonesia, aparat Italia, dan PPATK akhirnya kasus penipuan ini terbuka.