Keterangan gambar,

Penasihat Keamanan Nasional Israel Meir Ben-Shabbat diantar oleh pejabat UEA ketika hendak menaiki pesawat di Abu Dhabi pada Selasa (01/09).

Pesawat komersial pertama dari Israel ke Uni Emirat Arab (UEA) yang pada Senin (31/08) mendarat di Abu Dhabi kini telah kembali dari ibu kota UEA itu dalam penerbangan langsung yang menandai langkah besar untuk menormalkan hubungan setelah pengumuman kesepakatan damai.

Dalam sebuah tweet dalam bahasa Ibrani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji kedatangan penerbangan itu sebagai contoh “perdamaian untuk perdamaian” – menyiratkan ketidakpercayaannya pada gagasan bahwa perdamaian antara Israel dan negara-negara Arab hanya bisa terjadi dengan adanya perdagangan tanah yang diduduki.

Sebagai imbalan atas hubungan resmi dengan UEA, Netanyahu setuju untuk menangguhkan rencana kontroversial untuk mencaplok bagian Tepi Barat yang diduduki – tanah yang diklaim oleh Palestina untuk masa depan negara mereka sendiri.

Meski disambut oleh banyak komunitas internasional, pengakuan UEA atas Israel tanpa prasyarat pembentukan negara Palestina dikecam oleh Palestina sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

Keterangan gambar,

Seorang pria warga UEA mengenakan masker berlogo bendera negaranya, Israel dan AS, saat rombongan pesawat komersial langsung pertama dari Israel tiba di Abu Dhabi, 31 Agustus 2020.

“Perdamaian bukanlah omong kosong untuk digunakan menormalkan kejahatan dan penindasan,” kata salah seorang sosok penting di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat pada Senin (31/08).

“Perdamaian adalah hasil dari keadilan. Perdamaian tidak diwujudkan dengan jalan menafikan hak Palestina untuk berdiri,” tambahnya.

Pesawat El Al Israel melakukan penerbangan bersejarah dengan perjalanan tiga jam, membawa delegasi pejabat Israel dan Amerika Serikat.

Penerbangan tersebut diizinkan melintasi wilayah udara Arab Saudi, yang biasanya diblokir untuk lalu lintas udara Israel.

UEA menjadi negara Arab ketiga di Timur Tengah yang mengakui Israel sejak pendiriannya pada tahun 1948.

Keterangan gambar,

Pesawat El Al ditandai kata “damai” dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani.

Pada hari Sabtu, UEA mencabut undang-undang yang memboikot Israel, yang telah berlaku sejak 1972, dan awal bulan ini kedua negara membuka layanan telepon langsung untuk pertama kalinya.

Kesepakatan untuk menormalisasi hubungan – yang ditengahi oleh AS – diumumkan secara mengejutkan pada 13 Agustus lalu.

Keterangan gambar,

Jared Kushner (tengah) adalah salah satu anggota delegasi.

Penerbangan LY971 – yang mewakili kode panggilan internasional UEA – membawa delegasi, yang termasuk menantu Donald Trump dan penasihat senior Jared Kushner dan Penasihat Keamanan Nasional Israel Meir Ben-Shabbat.

Kushner memimpin pembicaraan rahasia yang menghasilkan perjanjian Israel-UEA.

Setelah mendarat di Abu Dhabi, Kushner menyebut kesepakatan antara kedua negara sebagai “terobosan bersejarah”.

Tim gabungan bertemu perwakilan Emirat untuk mengembangkan kerja sama antara Israel dan UEA. Penerbangan kembali akan diberi nomor LY972, yang merupakan kode panggilan internasional Israel.

Dalam sebuah tweet dalam bahasa Ibrani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji kedatangan penerbangan itu sebagai contoh “perdamaian untuk perdamaian” – menyiratkan ketidakpercayaannya pada gagasan bahwa perdamaian antara Israel dan negara-negara Arab hanya bisa terjadi dengan adanya perdagangan tanah yang diduduki.

Sebagai imbalan atas hubungan resmi dengan UEA, Netanyahu setuju untuk menangguhkan rencana kontroversial untuk mencaplok bagian Tepi Barat yang diduduki – tanah yang diklaim oleh Palestina untuk masa depan negara mereka sendiri.

Pada Senin (31/08) Kushner mengatakan pesan yang ingin ia sampaikan kepada Palestina pada intinya adalah “pesan harapan” dan kini tawaran diberikan kepada jajaran kepemimpinan Palestina.

“Perdamaian akan siap bagi mereka dan peluang akan siap bagi mereka begitu mereka siap merangkulnya.”

Keterangan gambar,

Palestina mengkritik penerbangan langsung antara Israel-Uni Emirat Arab.

Meski disambut oleh banyak komunitas internasional, pengakuan UEA atas Israel tanpa prasyarat pembentukan negara Palestina dikecam oleh Palestina sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

“Perdamaian bukanlah omong kosong untuk digunakan menormalkan kejahatan dan penindasan,” kata salah seorang sosok penting di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat pada Senin (31/08).

“Perdamaian adalah hasil dari keadilan. Perdamaian tidak diwujudkan dengan jalan menafikan hak Palestina untuk berdiri,” tambahnya.

Keterangan video,

Jared Kushner: “This is a dramatic breakthrough that will make the Middle East safer”

Sebelum UEA, Mesir dan Yordania adalah dua negara Arab lainnya di Timur Tengah yang secara resmi mengakui Israel, setelah menandatangani perjanjian perdamaian masing-masing pada tahun 1978 dan 1994.

Mauritania, anggota Liga Arab di barat laut Afrika, menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 1999 tetapi memutuskan hubungan pada 2010.

Semakin banyak negara Arab’ ikuti langkah UEA

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu mengklaim para pejabatnya sedang melakukan serangkaian perundingan dengan negara-negara Arab untuk meningkatkan hubungan dengan Israel.

Keterangan gambar,

Oman tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel, tapi pejabat senior saling berhubungan.

Di tempat terpisah, penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS), Robert O’Brien, mengatakan semakin banyak negara Arab dan negara Muslim yang mengikuti langkah UEA membuka hubungan resmi dengan Israel.

O’Brien dan beberapa pejabat AS akan mendampingi delegasi Perdana Menteri (PM) Netanyahu yang terbang dengan pesawat komersial pertama ke Uni Emirat Arab hari Senin ini.

“Kami yakin, negara Muslim dan Arab lainnya akan mengikuti langkah UEA untuk membawa pemulihan hubungan dengan Israel,” kata O’Brien kepada jurnalis setelah berbincang dengan Netanyahu.

Dia tidak menyebutkan negara yang dimaksud, tapi pejabat Israel sebelumnya menyinggung negara Oman, Bahrain dan Sudan.