Keterangan gambar,

Metode penyidikan Djoko Tjandra di Kepolisian dan Kejaksaan akan dilanjutkan kata Bakareskrim, Listyo Sigit.

Buronan selama 11 tahun kasus hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra, ditangkap di Malaysia dan saat ini telah berada di tahanan Mabes Polri, Jakarta dalam rencana penangkapan yang disusun sejak 20 Juli.

Djoko Tjandra tiba dengan mengenakan baju oranye dan masker, dikawal perut anggota kepolisian.

Kabareskrim Komjen Listyo Sigit mengatakan Kapolri membentuk tim khusus yang secara intensif mencari Djoko Tjandra, sampai mendapatkan informasi dia berada di Malaysia.

“Tadi siang tumpuan yang bersangkutan diketahui di Ambang Lumpur. Karena itu sore, ana ke Malaysia dan bekerja pas dengan Kepolisian Malaysia, Djoko Tjandra kami tangkap. Ini merupakan kontrak kami, ” kata Listyo setibanya di Bandara Halim Perdana Sari, Jakarta.

Keterangan gambar,

Djoko Tjandra setibanya di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

“Proses P to P (police to police) berjalan dengan lancar…. Ini komitmen untuk terus melanjutkan proses penyeldiikan. Ana akan tetap transparan dan adil… Proses untuk Djoko Tjandra tersedia proses di kejaksaan, dan dalam kepolisian ada proses tersendiri, ” kata Listyo di Mabes Polri beberapa saat kemudian.

“Kita akan terus melaksanakan proses penyelidikan dan pemeriksaan secara tuntas untuk dapat kita pertanggung jawabkan ke masyarakat, ” tambahnya.

Berada di satu lokasi di Kuala Lumpur , dan skenario penangkapan yang dirancang sejak 20 Juli

Keterangan gambar,

Djoko Tjandra telah buron selama 11 tahun.

Kerja sama dengan kepolisian Malaysia berlangsung selama sekitar seminggu, kata Listyo.

Djoko berada di sebuah tempat di Kuala Lumpur, saat ditangkap, namun Listyo menolak mengungkap kedudukan persisnya.

“Begitu bisa diamankan langsung diserahkan ke kita untuk kita lakukan penangkapan dan langsung kita angkat, ” kata Listyo kepada para wartawan di Mabes Polri

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD, mengutarakan rencana penangkapan Djoko dilakukan semenjak tanggal 20 Juli lalu.

“Saya tidak kaget karena skenario penangkapan sudah dirancang sejak 20 Juli, ” kata Mahfud dan menambahkan bahwa dirinya dilaporkan oleh Listyo.

“Mahkamah Agung harus mengawasi proses selanjutnya, karena secara hukum ketika Djoko Tjandra ditangkap dan besok dia jadi terpidana, seketika itu juga dia bioleh ajukan permohonan PK. Karena kemarin itu PKnya bukan ditolak, tapi tidak dapat diterima.

Artinya belum memenuhi syarat administratif sehingga dia bisa saja ajukan PK lagi. Ini sudah di ranah MA, polisi dan jaksa tak bisa ikut campur. Kalau dia ajukan PK lagi. Mudah-mudahan saja tidak PK. Jalani saja dua tahun dihukum, lalu selesai, ” kata Mahfud kepada Kompas TV.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan di Halim Perdana Kusuma, bahwa penangkapan ini dipimpin oleh Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo.

“Memang ya, dari kemarin sesuai dengan komitmen menangkap pak Djoko Tjandra, malam ini kita buktikan… Sudah dijemput Kabareskrim di Malaysia dan saat ini sedang dalam perjalanan. Pada prinsipnya komitmen kita semua menangkap Djoko Tjandra dan malam ini kita buktikan. Yang memimpin Kabareskrim, ” kata Argo.

Ia menambahkan penangkapan itu dilakukan atas kerja sama dengan kepolisian Malaysia.

Djoko yang dijerat perkara cessie Bank Bali, semenstinya berada di sel sejak 2009, dengan hukuman dua tahun penjara dan denda Rp15 juta. Namun ia melarikan diri ke luar negeri.

Keterangan gambar,

Djoko Tjandra di pengadilan Negri Jakarta Selatan pada Juli 2008.

Senin (27/07), polisi menetapkan Brigjen Prasetijo Utomo, eks pejabat Bareskrim Polri sebagai tersangka dalam kasus Djoko Tjandra, dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

Selain penetapan tersangka ini, Polri juga tengah menyelidiki aliran dana suap yang diperkirakan diterima sejumlah orang dalam pembuatan surat palsu bagi perjalanan Djoko Tjandra, yang buron selama 11 tahun.

Brigjen Prasetijo yang diduga terlibat dalam pemberian surat jalan dan berada dalam satu pesawat dengan Djoko ke Pontianak tanggal 16 Juni lalu, disebut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Awi Setiyono, dalam kondisi sakit dengan tekanan darah naik dalam sidang lanjutan Senin (20/07) lalu.

Keterangan gambar,

Pengajacara Djoko Tjandra yang ditetapkan sebagai tersangka.

Polisi menetapkan pengacara Djoko Tjandra, Anita Dewi Kolopaking sebagai tersangka pada Kamis (30/07).

Dalam pernyataan persnya di Mabes Polri, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan, “Penyidik sudah memeriksa sekitar 23 saksi, 3 di antaranya di Pontianak dan lainnya di Jakarta. Kita juga ada barang bukti yang diamankan berupa surat jalan, surat keterangan pemeriksaan Covid, da atas nama JST dan ADK. ”

Anita disangkakan penggunaan surat jalan palsu berkop Korps Bhayangkara dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.