Keterangan gambar,

Kasad TNI, Jenderal Andika Perkasa memberikan keterangan dalam jumpa pers di Makodam III Siliwangi, Bulevar Aceh Kota Bandung, Sabtu (11/07).

Penularan Covid-19 di institusi pendidikan tentara Sekolah Calon Perwira TNI Pasukan Darat (Secapa AD) dan Was-was Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD menjadi sorotan. Lebih dari 1. 300 orang dikonfirmasi positif Covid-19 dan berisiko menularkannya pada masyarakat di sekitar madrasah.

Pengamat militer Universitas Padjajaran, Muradi mencurigai penularan yang terjadi dalam institusi pendidikan militer seperti Secapa AD sebagai indikasi adanya ‘pelanggaran’.

“Di Secapa saya terkejut karena dengan kena hampir semua pasis (perwira siswa), artinya ada penularan yang sistematis, ada pembawa virus yang sistematis, ” kata dosen tamu di sejumlah sekolah militer & polisi ini.

Sementara Kepala Staf Pasukan Darat Jenderal TNI Andika Jantan menyatakan telah menerapkan protokol kesehatan tubuh di seluruh lembaga pendidikan militer di Indonesia, sejak Maret morat-marit. Namun, menurutnya, banyak faktor pengantara yang bisa mencetuskan kasus nyata corona di institusi pendidikan tentara.

“Saya tidak akan sok tahu buat menentukan sumbernya itu dari mana karena begitu banyak kemungkinan serta variabel. ”

Yang pasti, menyusul terungkapnya klaster Secapa AD di Bandung, Jawa Barat, 500 warga praja Bandung, Jawa Barat diminta menjalani uji usap ( swab test ) untuk membenarkan tak ada penularan Covid-19 di luar kompleks lembaga pendidikan militer itu. Demikian laporan Yuli Saputra, wartawan di Bandung, Jawa Barat untuk BBC Indonesia.

Tes ini digelar pemerintah Kota Bandung bekerja sebanding dengan bank pemerintah pada Sabtu (11/07).

Dari 500 awak yang dites, 28 orang di antaranya adalah warga kawasan Hegarmanah, kawasan sekitar kompleks Secapa AD.

Sebelumnya, 21 warga Hegarmanah juga telah diminta melakukan tes cepat. Rencananya, Dinas Kesehatan Kota Bandung hendak kembali menggelar rapid tes pada sekitar Secapa AD.

Keterangan gambar,

Menjepret ilustrasi: Kegiatan yang dilakukan anak Sekolah Calon Perwira (Secapa) dalam Kota Bandung.

Klaster Covid 19 Secapa AD menjadi viral di media sosial. Bahkan muncul pesan berantai dalam aplikasi pesan singkat berisi larangan mengunjungi sebuah supermarket di tempat sekitar Secapa AD.

“Sementara ini jangan ke toko itu dulu, karena di Secapa ada 400-an siswa yang positif corona, ” kandungan pesan tersebut.

Nana Jeany Suprayogi, masyarakat Hegarmanah, merasakan langsung dampak sejak munculnya kasus positif Covid-19 di Secapa AD, yang jaraknya kira-kira 1, 5 kilometer dari rumahnya. Ia dan keluarga waswas tertular virus corona. Tapi di sisi lain, keluarganya “dijauhi” kerabat sebab kuatir menularkan virus itu.

“Keluar rumah jadi takut. Tapi, keluar vila juga malah kita yang ditakuti, seolah kita jadi pembawa virus. Udah mah kitanya enggak jelas, enggak ada pengumuman (dari negara setempat) kita harus gimana. Kita juga merasa kekhawatiran orang kepada kondisi kita, dan mereka selalu sepertinya menghindari ketemu kita. Tersebut jadi bikin sedih juga, ” ungkap perempuan 46 tahun itu.

Nana menyebutkan, ada sejumlah warga Hegarmanah yang mengungsi, terutama yang letak di dalam komplek Secapa AD. Masjid di lokasi tersebut serupa kembali ditutup.

“Kayak teman aku dengan punya bayi di kompleks Secapa, keluarganya udah dipindahin, ” prawacana Nana.

Tapi, hingga Sabtu (11/07), Nana belum melihat ada penerapan Penyekatan Sosial Berskala Mikro, PSBM dalam wilayah Hegarmanah seperti yang disebutkan Wali Kota Bandung, Oded M. Danial beberapa waktu lalu.

Seluruh kanal masuk ke Hegarmanah masih dibuka, kecuali akses menuju Secapa AD yang sedang melaksanakan karantina provinsi.

Tidak seperti Nana, Lili Koswara malah bersikap biasa saja menanggapi kejadian positif Covid 10 Secapa AD.

“Biasa-biasa saja. Kekhawatiran pasti ada, tapi enggak terlalu serius. Semua orang pasti kekhawatiran (tertular) ada, ” jawab Lili enteng.

Apalagi, kata Lili, kondisi di Secapa AD serupa terlihat aman-aman saja. Bahkan zaman kunjungan KSAD TNI, Jenderal Andika Perkasa, warga diperbolehkan masuk ke kompleks Secapa untuk berjualan. Real, kompleks Secapa AD termasuk daerah merah yang sedang melaksanakan karantina wilayah.

“Lihat di Secapa-nya sendiri aman-aman saja. Seperti tadi, ada agenda ramai-ramaian, bahkan yang jualan diperbolehkan ke sana. Makanya, kalau kacau, sebelah mananya. Tapi jaga-jaga harus. Warga yang masuk tetap pakai masker, protokolnya tetap dipakai, ” ujar Lili.

Keterangan gambar,

Penyemprotan disinfektan dalam Makodam III Siliwangi, Jalan Aceh Kota Bandung, Sabtu (11/07).

Lili, Ketua RW 08 Kelurahan Hegarmanah, mengimbau awak untuk tetap beraktivitas seperti berpunya. Ia juga telah meminta sejumlah warga mengikuti tes cepat & uji usap yang difasilitasi pemerintah kota Bandung.

“Ada 18 orang dengan ikut tes. Sepuluh orang rapid tes t , delapan swab . Senin besok juga diminta 20 orang ikut tes di NHI (Sekolah Tinggi Wisata Bandung), tapi baru dapat lima orang. Warga ada yang suka (ikut tes), ada yang enggak. Alasannya karena kerja, ” perkataan Lili Koswara.

Sejauh ini, Lili belum menerima laporan ada warganya yang positif Covid-19.

Penyelidikan epidemiologis terkait urusan positif Covid 19 di Secapa AD telah dilakukan pada agenda 29 Juni dan 7 Juli 2020 berupa uji usap massal dan pelacakan kontak. Namun, sumber penularan masih belum diketahui.

“(Pelacakan kontak) kami sudah lakukan sehingga sejenis dilaporkan ada dua positif Covid-19, langsung kami rapid test seluruh. Ini salah satu usaha. Kita tidak mau ambil risiko. Kita lacak semuanya yang bergaul secara (yang positif) ini, ” logat KSAD Jenderal Andika Perkasa.

Ada tanda pelanggaran

Selain Secapa AD, kasus tentu Covid 19 juga ditemukan di Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD di Kota Cimahi dengan jumlah 101 orang prajurit positif Covid-19, terdiri dibanding 25 orang staf dan bagian Pusdikpom dan 76 orang siswa.

Dalam bulan April sempat pula terjadi penularan Covid-19 di Sekolah Pendirian Perwira (Setukpa) Polri di Sukabumi. Saat itu 300 orang siswa dinyatakan positif corona setelah melaksanakan tes cepat

Munculnya klaster Covid 19 di sekolah-sekolah kedinasan di Jawa Barat menimbulkan pertanyaan mengenai penerapan protokol kesehatan dalam mencegah transmisi virus corona di sekolah kedinasan itu.

KSAD Jenderal Andika Perkasa mengiakan telah menerapkan protokol kesehatan di seluruh lembaga pendidikan militer pada Indonesia, sejak Maret lalu. Tetapi, menurutnya, banyak faktor penyebab yang bisa mencetuskan kasus positif corona di institusi pendidikan militer.

Dia berkata, misalnya, di dalam Secapa AD, para siswa sulit menerapkan aturan kesehatan secara ketat lantaran status dalam satu barak. Ada 29 barak untuk menampung 1198 perwira siswa.

“Ini merupakan pelajaran bagi ana. Kita sudah lakukan beberapa pertimbangan, termasuk semakin sering lakukan penyemprotan disinfektan, tidak hanya di luar, tapi juga ke dalam ruangan. Itulah salah satu cara, meskipun dengan cara itu pun kita tidak bisa menjamin bahwa kita tidak akan pernah kena urusan Covid, ” ungkapnya.

Keterangan gambar,

Foto ilustrasi: Hingga kini sumber penularan belum diketahui.

Tapi, pengamat militer, Muradi menilai ada indikasi pelanggaran terkait munculnya kasus positif di lembaga pelajaran militer.

“Ada sesuatu yang dilanggar, ” kata Muradi melalui sambungan telepon, Sabtu (11/07).

Sesuatu yang dilanggar itu, kata Muradi, adalah arahan presiden untuk melaksanakan bekerja di sendi dan belajar di rumah yang diterapkan selama pandemi Covid 19.

“Kan dari awal sudah ditegaskan kalau semua itu dalam posisi work from home dan studying from home . Saya mengemong di Sesko AD, Sesko TNI memang pakai Zoom. Jadi aku agak terkejkut di Secapa masih terjadi begitu (belajar tatap muka). ”

“Makanya, kalau tiba-tiba semakin gembung (kasus positif corona), ada dengan salah dalam tata kelola petunjuk dan pembinaan dalam konteks pelajaran. ”

“Di Secapa saya kaget karena yang kena hampir semua pasis (perwira siswa), artinya ada penularan yang sistematis, ada carier yang sistematis, ” kata dosen tamu di sejumlah sekolah militer serta polisi ini.

“Kalau buat saya faktual ada yang salah, apakah lalu itu modelnya inisiatif, di asing yang sudah diarahkan oleh kepala, Panglima, atau Kapolri. ”

Muradi memperhitungkan, ada dua hal yang membuat pelanggaran tersebut, yakni keterbatasan sumber daya manusia atau infrastruktur yang tidak memadai untuk menggelar penelaahan daring di Secapa AD dan Pusdikpom TNI AD.

“Saya menduga ada dua, pertama soal kemampuan sumber daya manusia untuk mengoperasikan melancarkan dari rumah, yang kedua kesiapan infrastruktur. Makanya, mereka memaksa pascalebaran bertemu. ”

“Kalau hitung pandeminya 14 hari tambah 14 hari, sudah satu bulan mereka berkumpul, berarti pertengahan Juni sudah masuk, kumpul lagi dan sebagainya, ” introduksi Muradi.

Kemampuan sumber daya manusia dengan dimaksud Muradi adalah keterbatasan para-para siswa Secapa AD menyerap bahan pendidikan secara daring.

Di lain pihak, mereka tidak memiliki daya tawar untuk menolak pembelajaran tatap muka. Menurut Muradi, persaingan untuk menjadi seorang perwira berlangsung sangat sendat, baik di institusi TNI ataupun Polri.

“Secapa ini bintara yang mau jadi perwira. Mereka betul-betul ditempa, upayanya begitu luar biasa. Jika tiba-tiba sudah puluhan tahun oleh sebab itu bintara, kemudan ada kesempatan sekolah, saya akan perjuangkan betul. Makin di TNI ada bottle neck , yang lulus sedikit. ”

“Saya memahami psikologis mereka. Kalau ditakut-takuti, yang tidak pegari akan dicoret, ganti yang mutakhir, mau apa? ”

“Kan antre. Mereka harus mengalahkan sekian ribu calon untuk lolos menjadi sekitar 900 orang calon perwira. Ini pertaruhan luar biasa. Ketimbang dicoret penukar yang baru, mulai dari hampa lagi, ” tutur dosen ilmu politik program pascasarjana Universitas Padjajaran ini.

Muradi meyatakan KSAD yang bertanggung jawab atas izin pembelajaran tatap muka.

“KSAD, dia yang menandatangani, menyerahkan rekomendasi dan izin untuk (pembelajaran tatap muka). Langkah Andika nisbi baik dengan mendatangi, mengunjungi Secapa dan Pusdikpom TNI AD. Tersebut suatu bentuk pengakuan dia bersalah, ” kata Muradi.

Keterangan gambar,

Menjepret ilustrasi kegiatan peserta didik di Secapa TNI AD, Bandung, Jawa Barat.

Sementara KSAD Jenderal Andika Perkasa menuturkan, aktivitas di sekolah kedinasan seperti Secapa AD juga dipengaruhi sebab kebijakan pemerintah daerah di era pandemi Covid 19.

“Aktivitas di semua lembaga pendidikan itu bergantung dalam situasi yang diterapkan oleh negeri daerah. Ada daerah yang sedang PSBB, ada yang sudah tidak, ada yang sekarang pembatasan sosial berskala mikro dan seterusnya, ” ujar Andika.

Sedangkan mengenai sumber transmisi KSAD menyatakan banyak sekali kemungkinan dan variabel sehingga sumber penularan sulit ditemukan.

Lingkungan Secapa AD, patuh Andika, tidak hanya dihuni sebab siswa dan staf saja, tapi juga tinggal keluarga staf yang punya aktivitas di luar kompleks Secapa AD.

Di samping itu, siswa perwira memiliki hak pesiar mulia hari dalam seminggu yang memungkinkannya berinteraksi dengan masyarakat di asing Secapa AD.

“Saya tidak akan sok tahu untuk menentukan sumbernya tersebut dari mana karena begitu penuh kemungkinan dan variabel, ” logat KSAD.

Berawal dari bisul

Terungkapnya kasus membangun di Secapa AD itu disebut KSAD sebagai kasus yang “diawali ketidaksengajaan. ”

Dua minggu lalu tepatnya tanggal 27 Juni 2020, besar orang perwira siswa Secapa AD di Kota Bandung berobat ke Rumah Sakit Dustira di Praja Cimahi. Satu orang siswa mengalami demam karena bisul di tubuhnya, sedangkan seorang lagi mengalami provokasi di tulang belakangnya.

Sesuai protokol zaman pandemi Covid-19, kedua siswa itu harus menjalani uji usap. Besar prajurit TNI AD itu lantas dinyatakan positif Covid-19.

Andika mengklaim, semenjak mendapat laporan kasus positif perdana itu, dia langsung memerintahkan tes cepat massal bagi siswa, pekerja dan pelatih. Dia berkata saat itu mengirimkan 1400 alat ulangan. Hasilnya uji massal itu, 187 orang dinyatakan reaktif.

Keterangan gambar,

Menjepret ilustrasi peserta didik di Secapa TNI AD, Bandung.

Untuk hasil yang bertambah akurat, mereka menggelar uji belai. Dari pemeriksaan itu ditemukan 1. 280 kasus positif Covid-19.

“Dari jumlah itu 991 adalah perwira anak, sedangkan sisanya, adalah staf anggota dari Secapa AD beserta keluarganya. Ada enam orang anggota tanggungan di antara 289 itu, ” kata Andika saat jumpa pers di Makodam III Siliwangi, Hidup Aceh Kota Bandung, Sabtu (11/07).

Awalnya, ada 30 orang yang dirawat di RS Dustira. Yang melakukan rawat inap kini tinggal 17 orang dan satu di antaranya telah dinyatakan negatif.

Sementara seribu lebih orang lainnya diminta menjalani isolasi di lingkungan Secapa AD. Medan pendidikan itu ditutup untuk karantina sejak dinyatakan sebagai klaster Covid-19.

“Semua masuk kategori ringan, bahkan tak ada kategori sedang, apalagi berat, ” ungkap Andika, mantan Pangkostrad.