Hak untuk foto Wanchalearm Satsaksit
Image caption Wanchalearm Satsaksit diculik pada 4 Juni

Sitanan Satsaksit pantas bicara di telepon dengan muda laki-lakinya, Wanchalearm, ketika ia mengikuti suara seperti tabrakan di ujung sambungan telepon.

Sitanan pikir Wanchalearm tersomplok mobil. Lalu ia di telepon mendengar adiknya berteriak dalam norma Khmer, yang ia tak memafhumi.

Ternyata saat itu adiknya diculik.

Saksi mata mengatakan ada sekelompok pria bersenjata menggelandang Wanchalearm ke dalam sebuah mobil warna hitam.

Ketika Wanchalearm meminta tolong, orang-orang mendekat, akan tetapi para penculik menghalau mereka, morat-marit kabur.

Sitanan yang kebingungan sempat mendengar suara adiknya bergumam tak jelas dari sambungan telepon selama 30 menit. Berantakan telepon itu mati.

Penculikan ini terjadi di Kamboja.

Wanchalearm Satsaksit, 37 tahun, adalah seorang pegiat pro-demokrasi Thailand yang tinggal di Kamboja sejak 2014.

Ia adalah orang kesembilan yang menjadi korban penghilangan paksa dalam kira-kira tahun terakhir lantaran mengkritik negeri Thailand.

Beberapa diantara mereka ditemukan tewas dimutilasi dalam karung.

Hak atas foto Wanchalearm Satsaksit
Image caption Wanchalearm Satsaksit diculik pada 4 Juni

Wanchalearm yang juga dikenal dengan nama Tar ini banyak bicara perkara hak LGBT di Thailand lebih dari 10 tahun lalu.

Pelan-pelan ia melebarkan kritik ke soal demokrasi di Thailand, kata Sunai Phasuk, peneliti senior di Human Rights Watch Asia yang juga teman Wanchalearm.

Wanchalearm meninggalkan Thailand ketika ada tanda ia akan dibungkam sesudah mengkritik kudeta militer tarikh 2014 yang dipimpin Jenderal Prayuth Chan-ocha. Ia kemudian tinggal di Phnom Penh, Kamboja.

Dari Kamboja, ia masih langsung menampilkan dirinya secara daring, menghakimi pemerintah Thailand dengan cara humor.

“Ia melihat dirinya sebagai satiris, mirip dengan pengocok perut politik, ” kata Sunai.

“Ia banyak mengolok-olok junta militer Thailand, meledek Jenderal Prayuth yang saat itu memimpin gerombolan kudeta. Ia meledek para jenderal lain”.

“Dialek dengan digunakannya adalah dialek Thailand timur laut, yang merupakan daerah bapet. Ia sengaja melakukannya untuk menunjukkan orang biasa bisa saja meledek orang berkuasa, ” kata Sunai lagi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Hilangnya Wanchalearm memunculkan amarah di Thailand.

Gurauan Wanchalearm mendapat perhatian.

Bulan Juni 2018, pihak berkuasa Thailand mengeluarkan perintah penahanan Wanchalearm berdasarkan tuduhan pelanggaran Undang-Undang Kesalahan Komputer yang mengkriminalisasi tulisan dengan dianggap menimbulkan keonaran melalui laman Facebook.

Polisi bermaksud membawanya ke Thailand.

Wanchalearm hanya satu dari banyak eksil Thailand yang bicara keras dari negara tetangga. Namun kenyataannya kegiatan ini semakin berbahaya.

Sekurangnya delapan orang pekerja pro-demokrasi telah lenyap sejak kudeta 2014.

Jenazah eksil yang kritis Chatcharn Buppawan and Kraidej Luelert ditemukan terbuka daya perutnya dipenuhi oleh beton di sungai Mekong di perbatasan secara Laos tahun lalu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jakrapob Penkair mengasingkan muncul sejak 2009.

Tentara Thailand mengatakan tak tahu menahu apa yang terjadi.

Jakrapob Penkair, yang menjadi juru bicara pemerintah pada bawah Thaksin Shinawatra, perdana gajah yang pernah digulingkan, juga pernah mendapat ancaman pembunuhan.

Ia berteman dengan Wanchalearm.

Jakrapob mengatakan ia kaget akan hilangnya temannya itu karena kritik Wanchalearm tergolong ringan. Dia hampir tak melihat kemungkinan Wanchalearm masih hidup.

“Menurut saya pesannya adalah: bunuhi sekadar orang-orang ini. Mereka orang sungguh, mereka berbeda dengan kita serta harus dibunuh untuk mengembalikan Thailand ke kehidupan normal, ” cakap Jakrapob.

Hilangnya Wanchalearm menimbulkan protes di Bangkok. Demonstran menuduh pemerintah Thailand terlibat, sekali lalu meminta pemerintah Kamboja melakukan analisis penuh.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kalangan demonstran menuding pemerintah Thailand terkebat dalam hilangnya Wanchalearm Satsaksit.

#SaveWanchalearm tahu trending di Twitter Thailand setelah penculikan terjadi.

Tagar “#abolish112” juga dicuitkan lebih lantaran 450. 000 kali. Ini mengacu ke Pasal 113 di hukum pidana Thailand yang menyatakan: “Siapapun yang mencemarkan nama baik, menghina atau mengancam Raja, Ratu, Pewaris Tahta atau Wali akan dihukum penjara tiga sampai 15 tahun”.

Banyak pembangkang dengan hilang dituduh melanggar pasal tersebut.

Banyak pegiat yakin penculikan ini terkait dengan istana, tetapi hukum yang ketat terkait komentar negatif terhadap monarki mendirikan kaitan ini terlalu bahaya untuk diselidiki.

Juru kata pemerintah Thailand Narumon Pinyosinwat mengucapkan kepada BBC: “Kami tak cakap apa yang terjadi padanya.

“Kami tak melakukan apa-apa terkait menginvasi ke negara lain. Mereka punya hukum dan susunan sendiri, ” katanya.

“Yang bisa menjawab adalah pemerintah Kamboja karena mereka tahu barang apa yang terjadi di negara itu terhadap orang ini”.

Hak atas menjepret Getty Images
Image caption PM Kamboja Hun Sen (kanan) memeluk PM Thailand, Prayuth Chan-ocha.

Menjawab pertanyaan oposisi di dewan perwakilan rakyat, Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai, mengatakan Wanchalearm tidak memiliki status suaka politik, maka Thailand harus menunggu Kamboja menyelesaikan pengkajian mereka.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja tak menjawab permintaan untuk berkomentar.

Juru bicara kementerian Kehakiman berkata kepada Voice of Democracy pekan lalu bahwa penyelidikan medium dilakukan untuk memastikan “apakah berita ini benar atau tidak”.

Brad Adams, Direktur Asia Human Rights Watch mengatakan: “Kamboja dan Laos jelas telah memalingkan muka karena kini ada Sembilan eksil Thailand yang diculik dan kemungkinan dibunuh oleh orang-orang tidak dikenal. ”

Negeri Thailand mengejar “imbal beli” secara dua negara tetangga, kata Adams, menuduh Bangkok membuat Thailand tak bisa dimasuki oleh tokoh oposisi Kamboja.

Hak atas foto Wanchalearm Satsaksit
Image caption Cuma sedikit yang masih berharap Wanchalearm ditemukan dalam keadaan hidup.

Sunai Phasuk mengatakan Kamboja harus sepenuhnya menyelidiki apa yang terjadi dengan Wanchalearm jika mereka ingin dipandang jadi negara yang “telah berkembang daripada masyarakat tanpa hukum menuju negara hukum”.

“Kejahatan kaya ini tak boleh terjadi dalam siang hari bolong. Ini ujian buat Kamboja, ” katanya.

Namun Sitanan masih memiliki sedikit harapan bisa melihat Wanchalearm dalam keadaan hidup, dan sedang berupaya memahami mengapa orang berhajat membunuh adiknya itu.

“Saya ingin tahu, kalau seseorang punya pendapat, apakah ia harus dihukum keras? ” katanya.

“Ia tidak merampok siapapun, tidak memperkosa. Ia hanya berputar dengan cara berbeda. Perlukah membunuhnya? ”