Hak tempat foto ANTARA FOTO/FB Anggoro
Image caption Sebuah keluarga di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, melakukan silaturahmi secara virtual secara keluarga di Kota Depok, Jawa Barat, saat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, Minggu (24/5/2020).

Lebaran tahun ini terasa sangat berat bagi Nindya, pekerja swasta di Jakarta yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Sial, Jawa Timur.

Makna, momen, dan keintiman dari perayaan Idul Fitri tahun ini hilang, menurutnya.

“Sekarang benar-benar sendiri di perantauan. Merayakan Lebaran sendiri dan rasanya seperti tidak ada Lebaran, kaya hari-hari biasa saja, ” sirih Nindya kepada wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau, Minggu (24/05).

Nindya melaksanakan salat Idul Fitri sendirian di kamar kosnya. Sesudah itu, Nindya menghabiskan momen-momen Lebaran dengan bersilaturahmi secara virtual melalaikan video telepon dengan keluarga.

“Ini pengalaman pertama karena tahun sebelumnya pasti pulang daerah dan bareng keluarga salat Id di masjid, lalu silaturahmi ke rumah keluarga. Sedih, sedih banget , ” ujarnya.

Pemerintah memutuskan melarang masyarakat melakukan salat Idul Fitri di masjid ataupun lapangan secara bersama-sama di ruang publik.

Adapu, Majelis Ulama Nusantara (MUI) mengeluarkan fatwa yang memperkenankan salat Idul Fitri di lapangan dan masjid. Syaratnya, salat itu dilakukan di kawasan terkendali atau yang bebas Covid-19.

Salat Idul Fitri, menurut MUI, juga boleh dilaksanakan di vila secara berjamaah, bersama anggota suku atau secara sendiri ( munfarid ), jika pengikut berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali.

Sementara itu, di beberapa daerah, masih ada orang yang melaksanakan salat Id secara berjamaah dalam masjid ataupun lapangan walaupun berkecukupan di zona merah atau merawankan penyebaran Covid-19.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Image caption Umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah di Masjid Besar Al Hidayah, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (24/05).

‘Sedih sekali: Salat Id dan Lebaran sendirian di kos’

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi Nindya, seorang pekerja swasta di Jakarta. Perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur itu kehilangan ayahnya, Maret awut-awutan.

Belakangan, virus corona juga membuatnya tidak bisa bersemuka dengan keluarganya di Malang, buat merayakan Lebaran.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Aji Styawan
Image caption Seorang Panitia menggunakan APD lengkap saat memantau kondisi warga dalam pelaksanaan salat Id dalam Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/05).

Nindya menghabiskan waktu perjamuan Lebaran sendirian di kos. Dia mendengar suara takbir, melaksanakan doa Idul Fitri, dan bersilaturahmi secara keluarga secara virtual di pada kamar.

“Sedih, merasa sepi. Biasanya berkumpul, makan, silih cerita dengan keluarga, salat bersama-sama. Sekarang kegiatanya seperti biasa selalu di kos. Tidak ada memperlawankan, seperti tidak merasakan Lebaran, benar-benar sendiri, di perantauan sendiri, ” ujarnya.

‘Salat Id di rumah mengurangi esensi Lebaran’

Sementara itu, bagi Lukman, pekerja swasta di Jakarta, salat Idul Fitri berjamaah pada masjid atau lapangan adalah ritual penting di setiap perayaan Idul Fitri.

Namun tarikh ini Lukman dan keluarganya menjalaninya di rumah di tengah pandemi virus corona.

“Seumur hidup saya, melaksanakan salat Id itu di masjid atau lapangan berjamaah. Tapi, kali ini maka di rumah, sedih banget . Rasanya itu ada satu elemen penting Lebaran yang sakral hilang. Esensi Lebaran oleh karena itu sangat berkurang, ” kata Lukman yang pulang ke rumahnya pada Bandung, Jawa Barat.

Lukman berkata, di lingkungan tempat tinggalnya juga melaksanakan salat Id di rumah masing-masing. “Rukun tetangga di rumah saya menyepakati buat salat Id di rumah, & masjid-masjid semua meniadakan salat Id, ” katanya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Aji Styawan
Image caption Pemberitahuan penggunaan masker era mengikuti Salat Idul Fitri di Masjid Agung Demak, Jawa Sedang, Minggu (24/05).

Pemerintah larang s alat Id di masjid dan lapangan

Presiden Joko Widodo melalui akun Instagramnya juga turut merasakan beratnya beban yang dihadapi masyarakat dalam merayakan Lebaran.

“Tak ada gelar griya ( open house ), pegangan, atau salat Id di lapangan pada hari Lebaran tahun tersebut. Memang ini berat, tapi kita alami dan hadapi bersama-sama. Hendaknya pandemi ini segera berlalu supaya kita dapat bertemu dan silih melepas rindu, ” tulisnya.

Pemerintah melarang pelaksanaan salat Id secara bersama-sama di masjid ataupun lapangan, secara merujuk Peraturan Menteri Kesehatan 9/2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan UU 6/2018 tentang Kekarantinaan Wilayah.

“Kegiatan keagamaan yang mengumpulkan orang banyak (seperti Salat Id) tercatat yang dilarang atau dibatasi, ” ujar Menteri Koordinator Bidang Kebijakan, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD.

PP Muhammadiyah, Pemimpin Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta Dewan Masjid Indonesia (DMI) meminta masyarakat mematuhi larangan pemerintah itu.

Wilayah yang melaksanakan s alat Id berj e maah

Hak atas memotret KURUN FOTO/ADENG BUSTOMI
Image caption Ribuan umat muslim mengikuti shalat Idul Fitri dalam Jalan Raya KH Zaenal Musatafa, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (24/05).

Terdapat beberapa daerah yang tentu melaksanakan salat Id berjamaah dalam masjid atau lapangan, walaupun negeri telah berkali-kali menyampaikan larangan tersebut.

Masjid Roudhotul Falah di Jalan Dharmahusada, Surabaya, merupakan salah satunya.

Dari pemantauan Roni Fauzan, wartawan di Surabaya yang melaporkan untuk BBC Indonesia, ratusan jemaah melaksanakan salat Id berjamaah sejak pukul enam. 10 WIB. Terdapat beberapa karakter yang tidak mengenakan masker, serta tidak mematuhi aturan jaga jeda.

Begitu juga dengan masjid lainnya di Surabaya, serupa Masjid Al Kautsar, Masjid At-Taqwa, Masjid Al Mu’id. Di ke-3 rumah ibadah itu, terdapat kira-kira orang yang mengabaikan aturan jaga jarak, sebagaimana dilansir Detikcom .

Lalu, di Masjid Babul Shalihin di Makasar juga tampak beberapa jemaah yang tidak memakai masker dan berdiri saling berendeng dengan jemaah lainnya saat doa Id.

Di daerah Jakarta dan sekitarnya yang menjadi pusat penyebaran virus corona, masih ada masjid yang melaksanakan salat Id berjamaah seperti di Masjid Jami Nurul Islam di Jakarta Selatan, Masjid Jami Miftahul Huda, dan Masjid Jami Annawier Pekojan di Jakarta Barat.

Sementara itu Masjid Istiqlal di Jakarta resmi tidak menggelar salat Id berjamaah.

Beberapa masjid lainnya di wilayah kira-kira Jakarta melaksanakan salat Id berjemaah, di antaranya Masjid Al Hidayah di Bekasi, dan Masjid Al Abror di Tangerang Selatan.

Hak arah foto AFP
Image caption Ribuan orang mengikuti salat Idul Fitri di Masjid Islamic Center, Lhokseumawe, Aceh. Pemerintah tengah sebelumnya mendorong umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri di vila demi mencegah penyebaran virus corona.

Total kasus Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Sabtu (23/05), mencanangkan 949 kasus baru sehingga mutlak menjadi 21. 745 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebesar 1. 351 pasien meninggal negeri. Sedangkan, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang sebanyak 5. 249 orang.

‘Tidak pakai masker kami menjemput pulang’

Salah satu pengurus masjid di kawasan Surabaya Timur yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan, masjidnya tetap melaksanakan salat Idul Fitri.

Namun ia mengklaim telah menekankan kepada jamaah untuk menaati hukum kesehatan yaitu mengenakan masker, membawa sajadah sendiri, tidak berjabat lengah, dan tidak melakukan komunikasi yang berlebihan dengan sesama jamaah.

“Saling menjaga dirilah. Belakang kita umumkan kalau (jemaah) tak bawa masker atau sajadah kita imbau untuk pulang. Kita saling menghormatilah, ” ujar pengurus masjid tersebut.

Hak atas foto ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Image caption Sejumlah warga mengikuti shalat Idul Fitri 1441 H pada Masjid Jami An Nur Kramat, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (23/05).

Tatkala Yani, warga di kawasan Surabaya Selatan, mengungkapkan bahwa dirinya & keluarganya memilih untuk melakukan doa Id di rumah dengan pertimbangan keputusan pemerintah dan anjuran ustazah.

“Ya memang kita harus prihatin, mungkin lebaran era ini tidak sama dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Karena sebelumnya tidak tersedia wabah, tidak ada pandemi Covid-19 ini. Jadi kita bebas salat di luar ya. Itu lebih afdal. ”

“Kan kita juga karena musim pandemi ini, kita menghindari mudarat yang lebih besar. Dan kita serupa punya pemimpin yang wajib kita patuh”, ujarnya.

Pemimpin Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, Eddy Christijanto, menyatakan Pemerintah Kota Surabaya bekerja sepadan dengan TNI-Polri untuk memantau dan mengawasi masjid-mesjid yang melaksanakan Salat Id dalam menjalankan protocol kesehatan tubuh.

“Petugas medis kita tetap di Posko terpadu. Tersedia tujuh Posko yang siap 24 jam. Personel keamanan, polisi suntuk, TNI juga maksimal, termasuk Satpol PP dan Linmas kita selalu maksimal, ” ujarnya.

Hak atas menjepret KURUN FOTO
Image caption Di Banda Aceh, beribu-ribu umat Muslim mengikuti salat berjemaah yang digelar di Masjid Baiturrahman.

Pada sisi lain, MUI Jawa Timur tidak melarang umat Muslim buat menyelenggarakan salat Id berjemaah pada masjid atau lapangan. Namun MUI memberikan sejumlah catatan.

“Untuk pelaksanaan salat Idul Fitri bisa kondisional. Apabila diselenggarakan dalam masjid atau di musala, maka perlu ada satu keseriusan untuk menegakkan disiplin protokol Covid-19, ” kata Sekretaris MUI Jatim, Ainul Yaqin.

“Kami mengimbau, di satu sisi kita bisa menegakkan syiar Islam, tapi utama sisi kita tetap menjaga muncul dari bahaya penyebaran Covid, sebab itu juga bagian dari ajaran agama”, tuturnya.

Sebelumnya Pemerintah Jawa Timu mengizinkan pelaksanaan salat Idul Fitri berjemah dalam Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Namun, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Heru Tjahjono, mencabut tulisan izin tersebut.

Surabaya Raya dan Malang Raya dalam Jawa Timur hingga saat tersebut masih memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pada PSBB tahap kedua untuk di Surabaya Raya dan tahap baru di Malang Raya, angka nyata Covid-19 di Jatim mencapai dua. 491 kasus per 20 Mei 2020. Dari jumlah itu, sebesar 243 pasien meninggal dunia.

Hak atas foto AFP
Image caption Sejumlah umat Muslim dalam sebuah permukiman penduduk di Tanah air Gowa, Sulawesi Selatan, mengenakan kedok saat melakukan salat Idul Fitri.

Fatwa MUI: Zona merah, s alat Id di vila

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas menjelaskan melanggar isi dari Fatwa MUI mengenai salat Id di tengah pandemi virus corona.

“Fatwa MUI itu isinya kalau seandainya di daerah kita tidak jadi melaksanakan salat Id di lapangan, maka dilaksanakan di rumah dengan keluarga, dan diatur bagaimana jalan sembayang di rumah, ” katanya.

Mengapa salat Id dianjurkan di rumah? Anwar berceloteh, dalam Islam terdapat lima filosofi utama, yaitu agama Islam tersebut sendiri, jiwa manusia, akal manusia, keturunan dan harta.

“Menyelamatkan diri dan jiwa tersebut hukumnya wajib dan menghindari bala harus didahulukan dibanding mengambil kebaikan. Jadi jangan pergi dan berkumpul-kumpul di tengah virus corona dengan akan mengancam keselamatan kita serta orang lain” katanya.

Anwar juga merasakan kesedihan daripada banyak umat Islam yang melaksanakan Salat Id di rumah, apalagi harus jauh dari keluarga sebab tidak bisa mudik, seperti yang diceritakan Nindya dan Lukman.

“Kesedihan kita akan mendapatkan nilai besar di sisi Allah, menjadi pahala yang besar, sebab kita punya keinginan baik dan terbaik tapi situasi kondisi menegah itu, ” katanya.

Hak atas memotret ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Image caption Umat Islam melakukan shalat Idul Fitri di ruas Jalan Indrapura, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (24/05).

Mengapa s alat Id di lapangan berbahaya?

Dokter spesialis paru yang juga guru tumbuh dari Universitas Indonesia, Faisal Yunus mengatakan kegiatan di ruang umum yang melibatkan banyak orang, laksana salat Id, berpotensi besar meningkatkan secara tajam penyebaran virus corona.

“Kita tidak cakap orang di sebelah kita tersentuh virus, kan ada orang tanpa gejala. Walaupun pakai masker, apalagi yang dipakai masker kain, bukan masker bedah yang perlindungan indah, dan juga maskernya kadang tak benar dipakainya, tidak efektif. ”

“Salat Id barangkali bisa diatur jaraknya berjauhan, tapi sebelum dan sesudah Salat membangun ada bisa sampai ratusan karakter yang mondar-mandir dan pasti berhubungan. Di situlah penyebaran berpotensi terjadi, ” kata Faisal.

Jika yang tertular adalah mereka yang masih muda dan memiliki imun kuat, kata Faisal, kira-kira tidak akan bermasalah.

Namun, ketika virus itu menempel di baju lalu dibawa kembali ke rumah atau bersilaturahmi dengan keluarga yang berusia lanjut atau memiliki penyakit dasar maka akan berbahaya.

“Proses dia berjalan, bertemu banyak orang, tak pakai masker dengan benar, atau ada yang bersin, batuk, serta berbicara, lalu virus terhirup atau menempel ke baju yang bisa bertahan lama, dibawa ke rumah lalu menularkan ke orang gelap yang selama ini melakukan isolasi mandiri. Itu yang ditakutkan, ” katanya.