Hak atas memotret Getty Images
Image caption Apakah Anda akan melaporkan seseorang yang melanggar aturan demi kebaikan bersama?

anyak negara saat tersebut menerapkan pembatasan sosial tertentu kelanjutan pandemi Covid-19. Jadi, jika Kamu melihat seseorang melanggar ketentuan tersebut, akankah Anda melaporkannya ke bagian berwenang?

Apakah itu bagian dari urusan kita sebagai warga sipil atau lebih sebagai aksi memata-matai tetangga kita? Dan apa bedanya?

Jenny dan Veronika, perut warga Chicago, Amerika Serikat, baru-baru ini menyadari bahwa bar di dekat rumah mereka beroperasi.

Seperti tempat minum alkohol yang diam-diam buka di dalam masa pelarangan minuman keras di Amerika Serikat tahun 1920-an, bar itu beroperasi selama karantina provinsi saat ini.

Jenny dan Veronika memasang raut wajah tak menyenangkan kepada orang-orang dengan mengabaikan aturan ‘lockdown’ di satu diantara kota terdampak Covid-19.

Namun belakangan, saat pejabat negeri kota datang ke rumah mereka untuk menggali informasi tentang pub itu, Jenny dan Veronika pasif seribu bahasa.

“Orang itu memiliki lencana bintang galuh besar seperti seorang polisi. Masa peristiwa itu terjadi, kami membatalkan bahwa kami bukan mata-mata, ” kata Jenny.

Dalam seluruh dunia, sebagian kalangan mengindahkan ketentuan untuk tidak keluar rumah selama pandemi. Namun banyak karakter seperti Jenny dan Veronika mengalami dilema tentang dalam kondisi apa mereka perlu melaporkan pelanggar ketentuan tersebut.

Apakah itu adalah kewajiban warga sipil atau pelanggaran itu semestinya menjadi urusan sang pelanggar sendiri?

Banyak negara dan pemerintah praja mengesahkan aturan yang berisi intimidasi penjara maupun denda terhadap pelanggar aturan karantina wilayah. Sejumlah pemerintahan bahkan memiliki pusat kontak buat menerima laporan dugaan pelanggaran.

Di negara bagian Victoria, Australia, sekelompok orang yang bergabung untuk bermain gim video dilaporkan ke polisi. Adapun, orang-orang di sebuah pesta ‘ilegal’ dijatuhi kompensasi.

Sah atas foto Getty Images
Image caption Di kira-kira negara, pihak berwenang mendesak klub untuk mengawasi tetangga mereka.

Karena total kasus Covid-19 di seluruh New South Wales, Australia meningkat, orang nomor satu di negara bagian itu, Gladys Berejiklian, mendesak masyarakat buat melaporkan pelanggar ke polisi.

Permintaan itu muncul masa semakin menjamur orang mulai berpergian ke pantai di New South Wales. Satu pekan setelahnya, lebih daripada 5. 000 panggilan telepon menyelundup ke nomor kepolisian setempat.

Namun beberapa penelepon tak memahami situasi yang sebenarnya. Polisi misalnya, menerima laporan bahwa pada Facebook terdapat foto-foto sepasang kekasih yang tengah berlibur.

Saat polisi datang ke vila sepasang kekasih itu, mereka menjumpai fakta bahwa foto itu diabadikan satu tahun sebelumnya.

Di Singapura, negara yang peraturannya mendahulukan tanggung jawab kolektif ketimbang kebebasan pribadi, sebuah aplikasi berpengetahuan baru saja diperbarui agar polisi bisa menerima laporan dari awak.

Terdapat 700 informasi yang mereka terima dalam dua hari. Akhirnya, pemerintah setempat menodong publik hanya melaporkan pelanggaran yang mereka saksikan sendiri.

Di luar pusat kontak formal, ribuan orang bergabung dalam wadah daring untuk memperolok orang-orang yang dianggap melanggar ketentuan pembatasan baik.

Grup di Facebook bertajuk ‘Covidiot’ adalah grup terbesar di Singapura dengan total anggota lebih dari 26. 000 akun. Lini masa grup itu dipenuhi foto orang yang mereka pendapat tak patuh pada aturan negeri.

Foto-foto yang itu unggah ke grup itu biasanya dipotret dari jauh.

Hak atas menjepret FACEBOOK
Image caption Contoh unggahan yang memperolok terkira pelanggar aturan karantina wilayah di media sosial.

Wajarkah melaporkan orang asing ke pihak berwenang?

Etiskah melaporkan atau tidak melaporkan seseorang yang melanggar ketentuan dasar?

Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang di swalayan hingga taman publik, bergelut dengan pertanyaan tersebut, kata pakar filsafat moral dalam University of Sydney, Hannah Tierney.

“Saya memahami nafsu untuk saling berbincang, terutama dalam situasi seperti ini. Tapi sampai vaksin atau pengobatan Covid-19 ditemukan, satu-satunya cara agar kita pasti aman adalah menjalankan prinsip jaga jarak. ”

“Bahkan sebagian kecil dari kita dengan tidak mematuhi itu dapat mengecewakan upaya keras yang dilakukan orang lain, ” ujar Tierney.

Menurutnya, akan muncul perasaan yang sangat mengganggu melihat karakter lain tidak menjalankan apa dengan semestinya mereka lakukan.

Hak atas memotret EPA
Image caption Kepolisian Australia mengatakan telah menerima ribuan informasi tentang dugaan pengingkaran ‘lockdown’.

Minzheng Hou, peneliti psikologi dalam National University of Singapore, serta sejawatnya Lile Jia, meneliti faktor yang mendorong seseorang melaporkan saudara atau keluarga yang diduga melaksanakan kejahatan.

Mereka menjumpai bahwa sebuah kesadaran bersama mendasari keputusan itu.

“Bukan berarti semua orang-orang tercela tersebut duduk di rumah, bosan menjalani karantina lantas mereka membuat orang lain berada dalam masalah, ” kata Jia.

“Kerap kali, mereka yang melaporkan kelalaian orang lain adalah orang dengan ingin berbuat terbaik bagi kelompoknya. ”

Seperti rencana ‘liburan’ sepasang kekasih di Australia di atas, ada kemungkinan orang-orang membuat tuduhan yang tidak langsung jika mereka tidak mengetahui kejadian secara utuh.

Itulah salah satu alasan Jenny & Veronika memutuskan tidak melaporkan bar di lingkungan mereka kepada otoritas Chicago. Mereka tidak benar-benar tahu yang terjadi.

Ahli filsafat moral, Hannah Tierney, menyuarakan ambiguitas tentang benar dan lupa dalam melaporkan seseorang ke petugas ini juga bisa berimplikasi di hal-hal yang tak diinginkan, tercatat terhadap pihak yang berwenang.

Dari New York mematok Sydney, angka kejahatan menunjukan denda yang tidak seimbang bagi warga permukiman miskin.

“Saya khawatir dampak pada orang-orang sensitif dan yang terpinggirkan dalam pola ini, di mana polisi diberikan hak mengambil diskresi, ” kata Tierney.

Media playback tidak tersedia di perangkat Anda

“Apakah Anda baru saja batuk di pendahuluan saya? ” – Sebuah perbincangan di kereta kota Sydney, Australia.

Ambiguitas tentang apa yang boleh dan dilarang juga memicu debat panas dalam Inggris. Kepolisian meminta laporan pelanggaran ‘lockdown’ walau ada ruang suram dalam peraturan itu.

Kepolisian Inggris bekerja dalam konsep ‘pemolisian berdasarkan persetujuan’.

Konsep hukum itu menyatakan, petugas hanya bisa mendapatkan kewenangan luar biasa untuk menangkap dan membekukan seseorang karena publik menghendakinya.

Setelah perdebatan selama kaum pekan mengenai boleh tidaknya seseorang berjalan keliling desa–sesuatu yang ditolak masyarakat pedesaan, otoritas kepolisian Inggris menyatakan aktivitas itu bukan pelanggaran hukum.

Namun seberapa efektif dorongan agar publik mengadukan kesalahan orang lain, terutama era munculnya solidaritas bersama di era pandemi seperti ini?

Ambil contoh New York, praja yang merupakan episentrum pandemi Covid-19 di AS. Pusat kontak perlawanan kota itu kelimpungan pada hari-hari pertamanya, bahkan mereka menerima penelepon yang bergurau hingga yang menyampaikan olok-olok.

Tierney tersua, mengelola kepatuhan publik dan pemberdayaan sosial dalam satu waktu yang sama adalah hal rumit untuk pemerintah.

“Menghukum karakter yang melanggar hukum adalah satu diantara cara menumbuhkan kepatuhan, tapi tersebut semestinya bukan satu-satunya strategi yang Anda miliki, ” ujar Tierney.