Hak atas foto Somsara Rielly/BBC
Image caption Berbagai kebijakan pembatasan tak pelak membatasi akses ke layanan kesehatan bagi kaum rentan, termasuk kelompok LGBT.

Kelompok pembela hak transgender internasional memperingatkan bahwa pembatasan dan karantina wilayah selama pandemi virus corona mengakibatkan layanan kesehatan bagi kelompok transgender terabaikan.

Banyak operasi terpaksa ditunda dan beberapa di antaranya berjuang untuk mendapatkan terapi hormon dan layanan konsultasi.

Operasi ganti kelamin telah ditunda secara global sebagai akibat dari wabah virus corona.

Meskipun perawatan hormon masih tersedia bagi banyak orang di negara-negara Barat, kelompok-kelompok pembela hak transgender di Afrika Timur mewanti-wanti bahwa hal itu mungkin tidak berlaku bagi transgender di benua lain.

“Orang transgender sudah menjadi kelompok yang sangat rentan,” kata Barbra Wangare, Direktur Eksekutif Jaringan Kesehatan & Advokasi Trans Afrika Timur (EATHAN).

“Dan dukungan secara historis tidak pernah menjadi prioritas – bahkan di antara komunitas LGBT. Virus corona akan hanya mengekspos lebih dari kerentanan ini,” imbuhnya.

“Kami mendengar dari orang-orang yang mengatakan mereka takut batal operasi karena kurangnya akses ke perawatan medis. Ini menempatkan mereka dalam keadaan emosional yang sangat rapuh.”

Tekanan mental karena pandemi virus corona

Kelompok transgender diperkirakan berpotensi bunuh diri dua kali lipat lebih banyak ketimbang orang biasa, merujuk pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Lancaster, ‘Suicide in Trans Populations’.

Penelitian ini, yang membahas beberapa studi yang ditinjau oleh rekan sejawat, menunjukkan kurangnya akses kesehatan menambah tekanan khusus pada komunitas trans.

“Banyak transgender di AS mendapati operasi mereka dijadwal ulang karena virus corona,” kata Rodrigo Heng-Lehtinen dari NCTE.

“Banyak yang kehilangan pekerjaan karena virus itu, dan kehilangan asuransi kesehatan mereka karena itu.”

“Semua orang berjuang selama isolasi virus corona,” tambah Mr Heng-Lehtinen.

“Jika Anda adalah bagian dari kelompok yang sudah didiskriminasi, maka opsi bantuan Anda menjadi semakin sedikit.”

BBC telah berbicara kepada dua pria di Kenya dan AS yang telah berganti kelamin, tentang apa makna pembatasan pada saat pandemi virus corona terhadap transisi mereka.

Mauricio Ochieng, 30, Kisumu, Kenya

Untuk mendapatkan injeksi testosteronnya, Mauricio harus menempuh perjalanan 7 jam dengan bus ke Nairobi. Ini adalah perjalanan yang biasa ia tempuh selama lebih dari setahun. Itu sangat berharga.

“Dengan suntikan, tubuh saya mulai berubah, saya terlihat kurang ‘feminin’, suara saya lebih dalam dan saya menumbuhkan janggut,” katanya.

“Saya kehilangan fitur feminin. Saya dalam proses untuk menjadi diri saya sendiri. Saya seorang pria. Saya tidak pernah menjadi perempuan. “

Tumbuh di pedesaan Kenya, sekitar 350 km dari ibu kota Nairobi, Mauricio tahu dia berbeda. Dia memiliki lebih dari 150 sepupu, namun dia merasa tidak bisa terkoneksi dengan mereka.

Hak atas foto Somsara Rielly/BBC
Image caption Mauricio bepergian selama tujuh jam untuk mendapatkan tablet pengontrol hormon

“Saya adalah kambing hitam dalam keluarga saya.”

Dia menyadari bahwa dia bukanlah seorang perempuan, karena tubuhnya. Orang tuanya percaya bahwa dia lesbian.

Itu pun sudah cukup buruk, menurut mereka, namun itulah yang bisa mereka pahami.

Namun ketika Mauricio berkata kepada mereka bahwa dia adalah seorang pria di tubuh perempuan, mereka mengusirnya dari rumah.

Kala itu Mauricio baru berusia 16 tahun dan dia tak punya tempat tinggal.

Dia beberapa kali mengalami pelecehan seksual. Setahun sesudahnya, dia hamil akibat dari perkosaan tersebut. Orang-orang kemudian menyebutnya seorang “chkora”, julukan bagi seorang pengemis jalanan.

Saat itulah dia kemudian kembali ke rumah ibunya dan berkata, “Saya mohon jangan biarkan saya melahirkan di jalanan seperti anjing.”

Mereka memperbolehkannya kembali ke rumah.

Putri Mauricio lahir pada 2007 silam. Dia kemudian mulai bekerja di pasar lokal, sebagai pedagang sepatu.

Dukungan secara online

Beberapa tahun kemudian, Mauricio mulai berkomunikasi dengan komunitas LGBT di Kenya, kebanyakan secara daring.

Pada 2018 dia memutuskan untuk memulai transisinya. Biaya untuk sekali dosis suntikan testosteron adalah 1200 shiling, atau senilai Rp171 ribu rupiah.

Baginya, merupakan pencapaian tinggi ketika dia melakukan perjalanan selama 14 jam pulang pergi tiap bulan demi mendapatkan perawatan medis. Hingga kini dia masih menabung untuk operasi utama; yakni menghilangkan payudaranya.

Mauricio telah menyiapkan rencana. Dia dan putrinya bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani.

Namun virus corona mulai mewabah di Kenya dan tak lama kemudian pembatasan karantina wilayah diberlakukan.

Hingga kini Mauricio belum mendapatkan injeksi testosteronnya.

“Saya sulit tidur dan mengalami depresi,” tuturnya.

“Apa yang akan terjadi kalau saya tidak bisa mengakses pengobatan saya? Untuk apa kesakitan yang sudah saya alami sebelumnya?”

“Saya adalah trans pria di negara yang transfobia. Jika saya tidak mendapatkan pengobatan, apa yang akan terjadi pada tubuh saya – sekarang sudah mulai berubah. Apakah saya akan terlihat tidak normal? Siapa yang akan berjuang untuk kami agar bisa didengar di tengah kekacauan ini?”

Liam T Papworth, 30 tahun, Chicago, US, membuka identitas sebagai transgender dan direkrut oleh angkatan darat AS

Semestinya, tahun ini Liam akan menjalani phalloplasty – dan menuntaskan operasi ganti kelaminnya menjadi seorang pria.

Phalloplasty pada dasarnya adalah operasi ganti kelamin dari perempuan menjadi pria, di mana orang trans tersebut akan mendapatkan penis,” ujarnya.

Namun, virus corona mengubah rencananya. Dokternya berujar bahwa operasi terpaksa ditunda setidaknya hingga akhir 2021, karena dia dipandang tak lagi sebagai orang yang mendapat prioritas kesehatan.

“Itu kegagalan besar, karena saya telah mempertaruhkan seluruh hidup saya demi operasi ini.

“Saya seharusnya kembali sekolah tapi saya memutuskan untuk menundanya agar saya bisa menjalani operasi ini.

Operasi ini semestinya menjadi operasi yang ketiga dan merupakan prosedur terakhir bagi Liam yang telah memulai transisinya ketika berusia 19 tahun.

Hak atas foto Somsara Rielly/BBC
Image caption Liam Papworth telah menjalani terapi hormon selama 11 tahun

Pada masa kanak-kanak, Liam tidak merasa sebagai seorang anak perempuan. Dia ingat berdebat dengan tantenya pada saat pemakaman ayahnya – berkukuh bahwa dia bisa mengenakan “pakaian laki-laki”, bukannya gaun cantik yang mereka mau kenakan padanya.

Dia memenangi perdebatan itu dan keluarganya membiarkannya mengenakan celana panjang dan kaos.

Usai mendatangi klinik kesehatan khusus LGBT, dan direkomendasikan untuk menjalani tiga sesi terapi psikologi, pada saat usianya menginjak 19 tahun, Liam mendapatkan injeksi testosteron pertamanya.

Setelah itu, dia tak lagi mengalami menstruasi dan dia merasa lebih nyaman dengan tubuhnya sendiri.

Namun menjalani transisi merupakan perjuangan panjang penuh dengan birokrasi yang membuat frustasi, akunya.

Operasi ganti kelamin bervariasi di tiap negara bagian di Amerika Serikat, dan dokter bisa membatalkan operasi hanya karena kondisi asuransi medis pasiennya.

Pada 2016, ketika berusia 25 tahun, dia menjalani bilateral mastectomy – kedua payudaranya dihilangkan dan dia baru keluar dari rumah sakit setelah menjalani operasi selama 12 jam.

Terbebaskan

Masih sedikit tidak sadar karena pengaruh obat bius, Liam mengaku kepada teman baiknya dan ibunya bahwa dia merasa bahagia dan tenang.

Hidupnya berubah. Liam akhirnya bisa berenang dengan celana kolor, tanpa baju.

Dia menuntaskan triathlon, mengikuti lomba lari sejauh 15 kilometer. Baginya itu membuatnya merasa bebas.

Kendati kebijakan Gedung Putih yang dikeluarkan pada 2017 silam melarang transgender bergabung di militer, sejumlah pengadilan yang lebih rendah memberikan pengecualian pada larangan tersebut, yang berarti bahwa pada tanggal 23 Februari 2018, Liam menjadi transgender pertama yang secara terbuka mendaftar ke tentara AS.

Hak atas foto AFP
Image caption Larangan orang-orang transgender bergabung ke militer ini mendapat penolakan para pegiat HAM, praktisi hukum dan aktivis pendukung kesetaraan hak transgender.

Nama Liam tidak dirilis ke media pada saat itu. Dia dipulangkan dengan alasan medis pada tahun yang sama – setelah cedera parah.

Pada 2019, peraturan berubah lagi, ketika Mahkamah Agung AS mencabut perintah ini. Liam merasa dia tidak bisa bergabung kembali.

Saat itulah Liam memutuskan untuk melanjutkan ke tahap transisi berikutnya.

Pada Oktober 2019, ia menjalani histerektomi laparoskopi total, operasi dimana kedua indung telurnya diangkat.

Prosedur ini lebih rumit – Liam harus menghentikan injeksi testosteron selama berminggu-minggu sebelumnya. Operasi itu berarti dia juga tidak memproduksi estrogen. Liam mengalami depresi, seringkali tidak mampu mengendalikan amarahnya, merasa bahwa semua rencana hidupnya tertunda.

Phalloplasty

Namun harapan masih ada, dia hanya beberapa bulan lagi dari prosedur terakhir: phalloplasty.

“Itu sangat berarti bagi saya. Saya bisa mengabaikan yang lain. Saya benar-benar bisa melanjutkan hidup,” katanya, “dan saya tidak perlu berjuang mati-matian hanya untuk menjadi diri saya sendiri.”

Namun ada masalah administrasi. Awalnya rumah sakit mengatakan asuransi Liam tidak mencakup phalloplasty.

Setelah proses panjang panggilan, daftar tunggu dan janji temu, Liam meminta dukungan dari politisi Republikan di negara bagian Illinois, Greg Harris.

Dia secara pribadi menelepon perusahaan asuransi untuk memastikan Liam memenuhi syarat untuk prosedur ini. Tetapi sekarang perusahaan asuransi mengatakan karena pandemi berarti dia harus mengajukan permohonan kembali ketika tanggal baru untuk operasi ditetapkan.

“Hak medis kelompok trans tidak pernah menjadi prioritas di dunia medis,” kata Liam, “Yang bisa sangat membuat frustrasi.

“Ya, virus corona adalah krisis kesehatan global. Tetapi kesehatan mental orang-orang trans juga.

“Saya mengerti bahwa tentu saja penyedia layanan kesehatan harus melakukan panggilan yang sulit dan memprioritaskan selama ini. Akan menyenangkan untuk menjadi prioritas, sekali saja.”