Hak untuk foto Getty Images
Image caption PM Ardern penuh dipuji atas langkahnya menangani Covid-19.

Ratusan ribu orang di Selandia Mutakhir kembali bekerja setelah pemerintah melonggarkan pembatasan wilayah salah satu negara yang menerapkan lockdown paling cermat di dunia.

Pekerja pabrik dan bangunan mulai bekerja dan sejumlah restoran juga sudah dibuka.

Banyak toko yang masih tutup dan peraturan jaga jarak sedang tetap diterapkan.

Lockdown sangat ketat menolong menekan jumlah infeksi virus corona di Selandia Baru dengan satu. 100 dan 19 orang meninggal.

Perdana Menteri Jcinda Ardern mengatakan negara itu sudah memenangkan fase pertama pertempuran melayani Covid-19 namun tantangan ke depan adalah menjaga angka infeksi setelah lockdown dilonggarkan.

Hak atas foto Mark Mitchell/Getty
Image caption “Kami membuka kegiatan ekonomi, namun kami tidak membuka kehidupan baik masyarakat, ” kata Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern dalam tanda pers harian.

Selandia Baru mencatat utama kasus baru pada hari Minggu (26/04), dan dengan kondisi tersebut, Ardern mengatakan virus itu “saat ini” dihilangkan.

Namun demikian pemerintah mengingatkan agar tidak berpuas diri, dengan mengatakan peristiwa itu bukanlah berarti berakhirnya secara total kasus-kasus virus corona pertama.

Klaim keberhasilan ini muncul beberapa jam sebelum Selandia Baru melonggarkan kebijakan karantina provinsi ataus lockdown.

Berangkat hari Selasa (28/04) sejumlah kegiatan bisnis, fasilitas kesehatan, dan pelajaran dapat dibuka kembali.

Kebanyakan masyarakat masih akan diminta agar tetap tinggal di sendi setiap saat dan menghindari interaksi sosial.

“Kami mengambil kegiatan ekonomi, tetapi kami tak membuka kehidupan sosial masyarakat, ” kata Ardern dalam keterangan pers harian.

Hak atas foto Mark Tantrum/Getty

Selandia Baru telah melaporkan kurang dari satu. 500 kasus virus corona yang terkonfirmasi dan ada 19 peristiwa kematian.

‘Menghindari dengan terburuk’

Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru, Ashley Bloomfield mengatakan, rendahnya jumlah kasus perdana dalam beberapa hari terakhir “memang memberi kami keyakinan bahwa ana telah mencapai tujuan eliminasi (penghilangan)”.

Dia memperingatkan bahwa “eliminasi” tidak berarti tidak mau ada kasus baru, “tetapi tersebut berarti kita tahu dari mana kasus tersebut berasal”.

Ardern mengatakan, “tidak ada transmisi komunitas luas yang tidak terdeteksi di Selandia Baru”, seraya menambahkan: “Kami telah memenangi pertempuran ini. ”

Hak atas foto Mark Tantrum/Getty
Image caption Selandia Baru telah memberlakukan kebijakan salah-satu yang terketat di dunia di menghadapi Covid-19.

Namun dia mengatakan negara “harus tetap waspada jika kita ingin tetap seperti itu”.

Selandia Baru telah meresmikan kebijakan salah-satu yang terketat dalam dunia dalam menghadapi Covid-19.

Alih-alih “meratakan kurva” kasus-kasus positif sebagaimana dilakukan negara-negara asing, pendekatan Ardern adalah benar-benar meninggalkan penyebaran.

Seluruh warga Selandia Baru ditempatkan dalam karantina wilayah alias lockdown ketika peristiwa di negara ini baru terekam beberapa puluh.

Selain menutup perbatasan dan memberlakukan karantina wilayah, negara itu melakukan karantina terhadap semua orang yang tiba di negara itu, dan melayani pengujian ekstensif dan menggelar penyelidikan kontak.

Ardern mengucapkan hasil analisa pemodelan mengindikasikan bahwa Selandia Baru bisa memiliki lebih dari 1. 000 kasus sehari jika tidak melakukan kebijakan lockdown secara cepat.

Dia mengatakan negaranya tidak akan pernah tahu seberapa buruknya, tetapi kalau “melalui tindakan kumulatif, kami telah mampu menghindari dampak terburuk”.

Hak untuk foto Mark Mitchell/Getty
Image caption “Kami membuka kegiatan ekonomi, tetapi kami tidak menelungkupkan kehidupan sosial masyarakat, ” cakap Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern dalam keterangan pers harian.

Pada pusat malam waktu setempat (12: 00 GMT pada hari Senin 27 April), Selandia Baru akan melonggarkan kebijakan lockdown dari Tingkat 4 ke Tingkat Tiga.

Itu berarti sebagian besar kegiatan bisnis akan dapat dibuka balik – termasuk restoran, tapi dibatasi pelayanan yang dibawa pulang ( takeaways ) – tetapi tidak yang melibatkan kontak tatap muka.

Masyarakat Selandia Baru diperintahkan agar tentu berpegang pada “gelembung” mereka semrawut sekelompok kecil teman dekat ataupun keluarga – dan berdiri sejauh dua meter dari orang-orang di luar.

Pertemuan massal masih dilarang, pusat perbelanjaan tentu tutup, dan sebagian besar anak-anak dilarang ke sekolah. Sementara tapal batas Selandia Baru akan tetap ditutup.