Hak atas foto EPA
Image caption Sebesar TPS didirikan di luar was-was perawatan pasien Covid-19.

Korea Selatan menerapkan pemilihan umum dengan cara & situasi yang sangat berbeda kalau dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya.

Pada pemilu saat ini, setiap pemilih harus memakai kedok dan berdiri setidaknya satu meter satu sama lain. Di TPS (tempat pemungutan suara), mereka kudu diperiksa suhu tubuhnya, mencuci tangan, dan memakai sarung tangan plastik.

Barulah kemudian itu diberikan kertas suara dan diperbolehkan menuju bilik suara.

Beragam hal ini adalah sebagian langkah yang ditempuh pihak berwenang Korsel dalam menjadikan pemilihan umum DPR di tengah pandemi Covid-19.

Sebesar 300 kursi diperebutkan dalam pemilu DPR kali ini. Sebanyak 35 partai telah mendaftarkan kandidat itu, namun pertarungan sebenarnya disebut-sebut antara Partai Minjoo (Demokratik) dan antitesis utama, Partai Masa Depan Bersepakat yang berhaluan konservatif.

Image caption Pemungutan suara dilakukan menggunakan panduan jarak damai.

Pengerjaan pemerintah dalam menghadapi wabah virus corona mendominasi semua diskusi selama masa sebelum pemilu. Topik ini lebih banyak dibicarakan ketimbang ekonomi dan skandal korupsi melibatkan pekerja presiden.

Pemilu DPR dipandang sebagai tes popularitas pengikut dan partai menjelang pemilu kepala pada 2022 mendatang.

‘Hak kami untuk memilih’

Sejumlah kalangan risau ada kekisruhan dalam pemilu kali itu. Namun, sejauh pemantauan saya di dalam awal-awal pemungutan suara, keadaannya diam.

Para pemilih mengantre di tempat yang ditentukan dengan kalem dan sabar menunggu giliran.

“Saya pikir agak-agak pemilu seharusnya ditunda karena orang-orang tidak mau memilih. Namun, saat ini setelah saya di sini serta melihat banyak orang, saya tak khawatir, ” kata seorang rani yang hendak memberikan suaranya.

Ketakutan terhadap penularan virus corona tampak tidak menggentarkan khalayak.

Lebih dari 11 juta orang, sekitar 26% warga Korsel, telah memberikan suara itu lebih dulu. Sebagian melalui tulisan, namun sebagian lainnya berkunjung ke TPS yang didirikan di berbagai tempat pada Jumat dan Sabtu.

Jumlah suara yang masuk lebih awal mencapai rekor. Ini juga pertama kalinya warga berusia 18 tahun diperbolehkan memakai hak suara.

Kami bertemu sejumlah pemilih muda pada Stasiun Seoul. Mereka dengan bahagia ikut ambil bagian. Pandemi tak membuat mereka risau.

Image caption Pihak berwenang Korsel sejauh ini mampu mengarahkan wabah virus corona.

“Ini hak beta untuk memilh, ” cetus lengah seorang pemilih pertama yang sedangkan berada di antrean.

“Memilih adalah kewajiban kami, ” timpal seorang pemilih pertama yang lain. Dia mengaku sarung tangan plastik sedikit “tidak nyaman” namun barang itu membuatnya merasa aman.

Memilih dari karantina dalam klinik

Korea Daksina tidak pernah menunda pemilu. Bahkan, selama Perang Korea pada 1952 lampau, pemilihan presiden terus berlangsung.

Tantangan terbesar untuk petugas pelaksana pemilu adalah menghindari risiko penularan.

Mereka memutuskan bahwa jika suhu awak seorang pemilih di atas 37, 5 derajat Celsius, yang bersentuhan akan dibawa ke tempat terisolasi dan menjauh dari orang lain.

Para pasien Covid-19 yang sedang dirawat diberikan pilihan untuk memberikan suara mereka menggunakan surat.

Namun, sejumlah TPS juga didirikan di asing kawasan permukiman yang khusus menampung ratusan orang bergejala ringan.

Kami menyaksikan seorang hawa bermasker dengan pakaian pasien vila sakit keluar dari tempat tersebut, kemudian diberikan kertas suara oleh petugas dengan alat pelindung diri lengkap.

TPS itu sengaja ditempatkan di luar bertugas mencegah risiko penularan.

“Awalnya saya berpikir tidak bisa memilih dan saya kecewa, ” ujarnya kepada kantor berita Reuters . “Namun sejenis saya mendengar kami bisa mengangkat, saya berterima kasih atas jalan ini, ” lanjutnya.

Hak atas menjepret AFP
Image caption Orang-orang yang mengidap Covid-19 diperbolehkan memilih, namun para petugas pemilu wajib mengenakan APD lengkap.

Sebelumnya, topik bahasan utama di Korsel ialah bagaimana mengatur 60. 000 orang di dalam karantina yang cerai-berai di berbagai penjuru negeri untuk menuju TPS.

Tantangan itu dijawab melalui serangkaian perintah.

Para pemilih yang berada di karantina diperbolehkan menyerahkan hak suara mereka dalam kurun waktu tertentu dan TPS tertentu. Mereka dapat keluar rumah sejak pukul 17. 20 sampai 19. 00 pada hari pencoblosan. Itu hanya boleh berjalan kaki atau memakai kendaraan pribadi ke TPS, tapi tidak boleh menggunakan pemindahan umum.

Setibanya dalam rumah, mereka harus menghuungi petugas kesehatan. Jika ini tidak dipatuhi, kami diberitahu bahwa polisi mau dikerahkan untuk mencari mereka.

Sejumlah orang sudah menyalahi aturan karantina di Korsel kamar lalu, sehingga itu sebabnya amtenar mengawasi pelaksanaan pemilu ini secara ketat.

Ratusan ribu p etugas dikerahkan

Pihak berkuasa Korsel mengerahkan 550. 000 petugas untuk menyiapkan TPS sekaligus memastikan semuanya berjalan lancar pada keadaan pencoblosan.

Para aparat itu pula yang mendisinfektan 14. 000 TPS serta menandai jalur antrean sehingga sesama pemilih tidak berdiri berdekatan satu sama asing.

Beragam tugas ini memerlukan waktu dan upaya tulang, namun sepertinya banyak orang bahagia demi demokrasi.

Image caption Suhu tubuh para-para pemilih diperiksa di TPS.

“Semuanya prinsip keseriusan situasi dan menunjukkan sikap warga negara yang dewasa secara menyemangati para petugas pemilu, kiranya mengeluh, ” kata kepala negeri Yongsan di Seoul,, Sung Jang-hyun, kepada BBC.

Pelantang suara dan baku sikut

Bagaimanapun, virus corona berdampak pada pelaksanaan kampanye.

Di Korsel, masa pemilu sering ingar-bingar. Truk berisi pelantang pandangan meluncur di sekitar kawasan serta para politisi dan pekerja mereka berteriak-teriak.

Tetapi, tahun ini, kampanye dengan bermasker telah menggantikan pawai massal. Jabat tangan pun digantikan dengan pokok sikut dan kepalan tangan.

Bahkan, suatu waktu, Dr Jung dari Pusat Pengendalian Aib Korea mendesak para politisi buat “senyum dengan mata” saja.

Cara berkampanye di tengah pandemi Covid-19 tidak menghentikan itu.

Seorang pembelot Korea Utara, Thae Yong-ho, berkampanye buat menduduki kursi parlemen Korsel. Tempat memutuskan membuat video rap. “Drop the beat” adalah kata-kata pembukanya.

Virus corona juga mengubah konten kampanye. Pada Januari lalu, tema kampanye didominasi sebab perlambatan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan perundingan yang mandek dengan Korut.

Kini, inti utamanya adalah cara penanganan Covid-19.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pelaksanaan manuver di tengah pandemi Covid-19.

Para pejabat Kementerian Kesehatan mampu mengendalikan total kasus pada Februari dan Maret dengan sigap dan efektif melalaikan pelacakan dan pengujian orang-orang dengan mungkin tertul

Total orang yang tertular memuncak di dalam Februari, ketika sekitar 900 orang terinfeksi dalam sehari.

Kini jumlah kasus baru bola lampu hari turun di bawah 50 dan lebih dari 7. 000 orang pulih dari Covid-19.

Fakta ini memberikan keinginan terhadap Partai Demokratik pimpinan Pemimpin Moon Jae-in.

Dalam sisi lain, Partai Masa Ajaran Bersatu selaku kubu oposisi, mengapresiasi ribuan tenaga kesehatan di batas depan.

Ada kerisauan bahwa menggelar pemilu bisa memicu gelombang kedua penularan di Korsel.

Namun, sejauh itu, Korsel bersikukuh membuktikan bahwa pemilu tidak mustahil dilakukan di sedang pandemi.